Princess Endut

Princess Endut
186. Ken Terlalu Menganggu


__ADS_3

Johan tak pernah melakukan hal itu. Jangankan untuk memujinya, Johan bahkan hanya datang untuk menanyakan bagaimana prestasinya di sekolah.


"Ya, sudah simpan di meja! Bapak mau masuk dulu sebentar."


Ken mengangguk. Ia menoleh menatap kepergian Bapaknya menuju dapur. Ken kembali menoleh menatap Brilyan yang terlihat sejak tadi menatapnya.


"Ngapain lo ngeliatin gue?"


Brilyan menghela nafas panjang. Ia menunduk menatap buku yang ia tulis beberapa rumus di sana. Brilyan dan Weva terperanjat kaget saat Ken meletakkan nampan berisi dua cangkir teh hangat itu ke atas meja dengan agak keras.


"Tuh, minum! Awas aja kalau nggak dihabisin!"


"Terima kasih, Ken," ujar Weva yang mengerakkan tangannya berniat untuk meraih cangkir teh yang telah ia taburi dengan garam.


"Eh! Ini bukan punya lo!" tegurnya yang lebih dulu memegang cangkir itu sebelum diambil oleh Weva.


"Ini punya Brilyan."


Ken meletakkan cangkir teh itu ke atas meja tepat di hadapan Brilyan yang mendadak menatap curiga. Ken ikut melirik membuat mereka kini beradu pandang.


"Kenapa lo ngeliatin gue kayak gitu?"


Brilyan tak menjawab apa-apa. Ia kembali menunduk seakan tak tertarik untuk meladeni Ken.


Ken menghela nafas bosan. Ia duduk di hadapan mereka yang kini terlihat sibuk saling bertukar pikiran mengenai apa yang mereka pikirkan tentang salah satu soal yang telah pak Ahmad berikan.


Brilyan menggerakkan pulpen menunjuk beberapa persegi, menghitung dan menentukan jawabannya dengan begitu mudah sementara di satu sisi Weva terlihat menopang dagu sambil fokus menatap wajah Brilyan yang begitu serius mejelaskan.


Ken mendengus kesal dan tak sadar membuatnya memukul meja membuat suara keras itu terdengar memecahkan diskusi mereka. Brilyan dan Weva menoleh menatap Ken dengan tatapan bingung.


"Lo nggak bosan apa belajar melulu?"


Weva menggeleng sementara wajah Brilyan terlihat datar memandangi Ken.


"Gimana kalau kita bahas yang lain aja!" ajaknya membuat Weva tersenyum seakan tertarik dengan apa yang Ken katakan namun, Brilyan kembali menjelaskan tentang sebuah rumus membuat Weva kembali menatap ke arah Brilyan.


Sudut bibir Ken terangkat memandang sinis dan kesal pada pria kurus kering ini. Ken yang sedang berpikir keras untuk menganggu mereka beralih tersenyum. Ia meraih toples berisik keripik pisang dan bangkit dari kursi.

__ADS_1


"Misi! Misi!" halau Ken yang langsung duduk di tengah-tengah antara Brilyan dan Weva yang menoleh dengan wajah bingung.


Ken menggerakkan pinggulnya, mendorong Brilyan agar memberi ruang untuknya duduk di samping Weva. Brilyan hanya terdiam. Ia menatap Ken yang juga ikut menatapnya dengan wajah usil.


"Apa?"


Brilyan hanya terdiam, ia tak menjawab apa-apa hingga ia kembali menunduk setelah dengan sengaja Ken memasukkan keripik pisang ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan gerakan pelan menghasilkan suara kriuk yang begitu berisik.


Brilyan kembali berbicara dan menjelaskan jawaban yang telah ia rangkum itu kepada Weva membuat Ken ikut manggut-manggut berpura-pura mengerti di tengah-tengah.


"Pinter lo. Kenapa nggak jadi guru aja sekalian," potong Ken yang berhasil membuat Brilyan memandang sejenak ke arah Ken yang mengangkat sebelah alisnya.


"Baik kita lanjut soal nomor dua," ujar Brilyan yang tak menanggapi ujaran Ken.


Ken mendengus kesal. Ia memasukkan keripik pisang itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya seperti biasa dengan pandangannya yang menatap ke arah depan.


Suara berisik dari kunyahan mulut Ken membuat Brilyan dan Weva saling berpandangan lalu beralih menatap Ken. Ken yang sadar akan hal itu ikut menoleh menatap Brilyan dan Weva secara bergantian.


"Kenapa? Kok, malah diem? Hem? Udah lanjut aja belajarnya!"


"Apa? Gue nggak ngomong apa-apa dari tadi. Gue cuman makan, iya kan si otak cerdas?" jelas Ken yang kini beralih meminta tanggapan dari Brilyan yang terlihat menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.


"Gue nggak salah, dong. Gue cuman makan. Makan itu juga kebutuhan. Kalau gue nggak makan nanti gue mati gimana?" jelas Ken yang kembali memasukkan keripik ke dalam mulutnya membuat Weva menutup telinganya kesal.


"Aduh, Ken! Bisa nggak, sih Ken itu nggak makan di sini? Berisik tau nggak."


"Besok itu udah lombanya. Ken mau Klorin sama Brilyan kalah dalam perlombaan?"


"Kalau Ken ganggu terus kita berdua nggak bisa konsentrasi terus kita juga nggak bisa belajar dengan baik," oceh Weva membuat Ken diam.


Ken mengerjapkannya kedua matanya beberapa kali seakan tak percaya pada apa yang Weva katakan. Ken tertawa kecil lalu mengangguk.


"Oh, sorry, ya. Kayaknya gue ganggu banget di sini," ujar Ken yang kini bangkit dari kursi membuat Weva mendongak menatap kepergian Ken.


Weva kini terdiam. Ia menyentuh bibirnya yang telah banyak bicara itu. Apa ia telah salah bicara dan membuat Ken sakit hati. Jujur saja wajah Ken terlihat begitu kecewa. Tapi ini tidak salah bukan. Besok adalah acara perlombaan itu dan ia dan Brilyan harus belajar.


"Loh, Ken mau kemana?" tanya Laila yang menyentuh pundak Ken membuat Ken menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Mau ke dalam."


Laila mengangguk. Ia menoleh menatap Brilyan yang terlihat begitu serius menulis pada bukunya.


"Namanya Brilyan, dia anak yang pintar di sekolah," ujar pak Ahmad yang melangkah melintasi Laila.


Ia meletakkan beberapa buku di atas meja dan duduk di kursi yang berada di depan Brilyan dan Weva. Weva mendongak menatap Laila yang terlihat memasang wajah datar. Weva ingin tersenyum dan menyapa Laila tapi ia tau bahwa saat ini Laila tak mengenalinya.


"Brilyan?" tanya Laila.


Pak Ahmad tersenyum lalu mengangguk. Brilyan menghentikan gerakan tangannya yang sejak tadi sibuk menulis. Ia mendongak menatap Laila yang menatapnya begitu serius.


Laila melangkah mendekati Brilyan. Ia menyentuh pipi pria yang sejak tadi menatap bingung dengan apa yang Laila lakukan.


"Nanti makan malamnya di sini, ya!"


"Makan malam?" tanya Ken tak menyangka.


"Wah, ide bangus. Brilyan! Klorin sebelum pulang kita makan malam bersama, ya!" sahut pak Ahmad yang juga setuju.


Brilyan tersenyum dan mengangguk saat menatap pak Ahmad lalu ia melirik menatap Laila yang masih menatapnya begitu serius.


"Ma!"


Laila menoleh menatap pak Ahmad yang memanggilnya. Ia menggerakkan bola matanya seakan memberi kode agar ia masuk. Laila mengangguk. Ia kembali menatap Brilyan sejenak dan melangkah pergi.


Ken menghela nafas pendek. Ia ikut melangkah masuk dan bersandar di dinding sambil mengintip.


"Ayo diminum dulu tehnya! Biar makin semangat belajarnya."


Weva dan Brilyan mengangguk. Mereka meraih gelas itu secara bersamaan dan meminumnya membuat Ken melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk menahan tawanya.


"Satu!"


"Dua!"


Ken mulai menghitung sambil mengangkat jemari tangannya. Setelah ini hal yang paling menyenangkan akan terjadi.

__ADS_1


__ADS_2