
Ken melangkahkan kakinya dengan pelan sembari menuntun sepeda hitamnya yang tak ia goes lagi. Langkah kakinya terhenti dan memarkirkan sepeda hitamnya di pekarangan rumah.
Sejak tadi tatapannya terlihat kosong dan pikirannya yang memikirkan Weva. Apa ia telah salah telah memperlakukan Weva seperti itu.
Ken hanya berniat untuk membantu Weva, bukan untuk menyakitinya. Toh, yang dari dulu meminta bantuan adalah Weva bukanlah Ken.
"Keken!" Girang Laila sembari berlari mendekati Ken yang nampak mengeluh lelah dan beralih untuk memeluk putranya itu.
"Keken dari mana aja? Hem?" tanya Laila khawatir sambil mengelus pipi Ken.
Ken tak menjawab, melaingkan ia mendecakkan bibirnya dan beralih untuk duduk di teras rumah membuat Laila mengkerutkan dahinya heran.
"Loh, Keken?" Herannya menyentuh bahu Ken dan mengusapnya lembut.
"Keken kenapa?"
Suasana menjadi sunyi. Ken tak berniat untuk menjawab pertanyaan Mamanya membuat Mamanya itu kembali mengelus rambut Ken yang nampak basah, ini sudah jelas karena keringat.
"Ken kenapa?"
Tak ada jawaban.
"Oh iya Ken, ini dari sahabat kamu," ujarnya sembari menjulurkan handsfree berwarna hitam putih ke arah Ken.
Ken menatap cepat handsfree yang Mamanya itu berikan, Ken sangat kenal dengan handsfree ini. Handsfree ini adalah handsfree yang telah ia berikan untuk Weva agar Ken dapat mendengar apa pun yang Weva katakan dimana pun weva berada.
"Loh ini kan ?"
"Iya, ini sahabat kamu yang ngasih katanya buat Ken."
Ken terdiam. Jadi, Weva benar-benar berhenti untuk menurunkan berat badannya. Ken kembali menghembuskan nafas panjang dan mengeluh kesal membuat Laila kembali terheran.
"Kenapa, sih Ken? Kayaknya banyak masalah gitu? Hem? Kenapa?"
"Nggak ada apa-apa."
"Nggak apa-apa gimana? Muka kamu yang ganteng itu malah cemberut terus Keken bilangnya nggak ada apa-apa."
"Ken harus, dong jujur sama Mama."
Ken menoleh menatap Laila yang nampak tersenyum begitu sangat cantik. Apa perlu ia menjelaskan masalah ini kepada Laila.
"Ken! Kenapa sayang? Ngomong aja sama Mama! Mama bakalan siap dengar semua apa yang Ken omongin."
Ken menghela nafas berat.
"Mama." Sedih Ken lalu menyandarkan kepalanya ke dada Laila yang seketika tertawa mendapati sikap manja Ken yang tiba-tiba saja kambuh.
"Kenapa Keken, anak sayang Mama sama Bapak? Hem, kenapa?"
"Ken mau beli apa?"
"Permen?"
"Balon?"
Ken menjauhkan kepalanya dan menatap wajah Mamanya itu dengan wajah Ken yang terlihat bingung.
"Kok, balon, sih, Ma?"
"Yah, terus apa, dong? Mau makan ice cream?"
Ken mendecakkan bibirnya. Memangnya ia anak kecil yang sedih karena tidak dapat permen dan balon atau pun ice cream.
__ADS_1
"Ah, Mama bercanda melulu, nih. Udah ah, Ken mau ke kamar aja!"
"Aduh, du du. Maaf Keken!" ujar Laila cepat dan kembali menarik kepala Ken lalu menyadarkan kepalanya ke dada.
Ken memejamkan kedua matanya sambil memeluk tubuh Mamanya itu sembari tangan Laila yang terus mengelus kepala Ken.
"Ken kenapa, sayang?"
"Hari ini Ken buat seseorang marah, Ma."
"Marah? Ken buat seseorang marah?"
Ken mengangguk.
"Loh, siapa?"
"Sahabat Ken."
"Yang gendut itu," tebak Laila.
"Namanya Weva, Ma," tegur Ken lalu ia bangkit dan duduk dengan tegak.
"Iya, Iya. Sorry, deh."
Laila tersenyum lalu kembali mencoba mengelus kepala Ken dan membawanya dalam dekapan Laila lagi.
"Keken emangnya kenapa sama Weva? Em, berantem?"
"Nggak," bantahnya.
"Loh, terus kenapa?"
"Cuman adu mulut aja."
"Hah?" Kaget Laila membuat Ken bangkit dengan tatapan terkejutnya.
"Iya," jawabnya polos.
"Astaga!"
"Kenapa, Ma?"
"Kamu sama Weva adu mulut ?"
"Iya," jawab Ken dengan wajah pasang kebingungan.
"Cium*n begitu?" tanya Laila dengan wajah syok sembari menggerakkan kedua tangannya memberikan kode ciuman di depan Ken.
Ken terbelalak kaget dengan wajah yang ikut syok melihat ujung jari-jari yang dibentuk menjadi kerucut nampak sedang adegan cium*n tepat di depan kedua matanya yang membulat.
"Siapa yang cium*n, Ma?" tanya pak Ahmad yang muncul dari balik pintu masuk membuat Ken dan Laila menoleh.
Pak Ahmad berlari mendekati Ken dan Laila lalu duduk ditengah-tengah keduanya dengan tatapan penuh curiga.
"Siapa yang cium*n?" tanya Pak Ahmad lagi.
Laila tersenyum lalu segera mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga pak Ahmad yang kini membulatkan matanya.
Pak Ahmad membuka mulutnya kaget. Kedua matanya melirik menatap Ken yang terheran. Pak Ahmad menutup mulutnya itu membuat Ken semakin terheran.
"Kenapa, sih?"
Tak berselang lama wajah pak Ahmad yang terkejut itu langsung tersenyum penuh ejek.
__ADS_1
"Cieeeee, Keken," goda Pak Ahmad sambil mencolek lengan anaknya itu.
"Apa, sih Bapak?"
"Cieeee."
"Apa, sih Pak? Aneh banget. Cie apaan? Mama, Mama bisikin apa ke Bapak?"
"Cieeee, keken," goda pak ahmad lagi sembari kembali mencolek lengan Ken membuat Ken jadi tertawa.
Ken tak bermaksud untuk tertawa, tapi jujur saja wajah Bapaknya begitu sangat lucu.
"Apa, sih, pak? Ih malah ketawa lagi. Aneh si Bapak, nih."
"Cieeee, Keken. Udah, ah jujur aja sama Bapak!"
"Jujur apa, sih, pak?"
"Ah, si Keken pura-pura nggak tahu lagi."
"Yah, Ken nggak ngerti."
"Ehem, Keken udah cium*n, yah?"
"Ih, kata siapa?" kaget Ken yang begitu sangat syok.
"Lah, bukannya Keken sendiri yang bilang ke Mama," ujar Laila.
"Nggak!" bantah Ken cepat.
"Cieee, bohong ni yeh." Colek pak Ahmad lagi dengan tatapan penuh goda membuat Ken tertawa kecil.
"Tuh, kan ketawa. Jadi bener, dong."
"Nggak! Muka Bapak lucu makanya Ken ketawa."
"Aduh, si Keken. Nggak usah bohong sama Bapak."
Pak Ahmad menoleh ke arah area halaman rumah dan kembali menatap ke arah Ken yang memasang wajah bingung.
"Hust! Bapak janji, kok nggak bakalan ngasih tahu orang. Suer, deh."
"Apaan sih, pak?"
"Iya keken, nggak apa-apa kok. Mama nggak marah, kok, Iya kan, Pa?"
"Iya, bapak juga nggak marah, kok sama Keken."
"Ah, apaan, sih?" Kesal Ken lalu bangkit dan berlari meninggalkan Laila dan Pak Ahmad yang menoleh menatap kepergian Ken.
"Ken!" panggil Pak Ahmad.
"Loh, kok marah, sih?" Heran Laila memandangi kepergian Ken yang berlari masuk ke dalam rumah.
Bruak!!!
Ken dengan keras menghempas pintu menghasilkan suara hempasan yang cukup keras membuat kedua orang tuanya tersentak kaget.
"Pelan-pelan, Keken nanti tangan Keken kejepit!" tegur Laila.
"Iya, nanti nggak bisa cium*n lagi," tambah pak Ahmad membuat Laila tertawa kecil.
Keduanya kini tertawa dan saling bertatapan membuat suasana keduanya menjadi hening.
__ADS_1
"Ehem, kayaknya kita udah lama juga, nih nggak cium-"
"Hust!" tegur Laila lalu tertawa sambil mendaratkan satu pukulan ke lengan suaminya.