
Weva dan Ken kini sedang berjalan bersama namun, tetap saja bagaimana pun setiap harinya mereka selalu bersama, Ken selalu ada di depan dan Weva selalu berlari kecil mengikuti langkah Ken.
Pria yang punya kaki panjang itu selalu melangkah jauh. Weva harus melangkah tiga kali untuk menyamakan dengan satu langkah Ken.
"Hari ini lo harus lari!"
"Siap!" teriak Weva dengan semangat membara seakan telah siap untuk menghancurkan para musuhnya.
Sesampainya Ken langsung duduk di atas motor vespa dan melempar helm ke arah Weva yang langsung menangkapnya dengan kedua mata yang membulat.
Weva tersenyum gembira. Giginya terlihat jelas. Baginya ini luar biasa. Weva bisa menangkap helm itu walau pun Ken tak meneriakinya.
"Weva luar biasa. Umwaaa." Weva mengecup permukaan helm itu dan mengelusnya dengan lembut.
"Heh!!!" teriak Ken membuat Weva menoleh.
"Cepetan naik!"
"Siap bos!!!"
Ken yang hendak menancapkan gas itu terdiam menatap dari jauh sosok pak Ahmad yang terlihat merangkul Brilyan.
Ken menghela nafas. Pria otak cerdas itu sepertinya telah mengambil hati Papanya. Bukan hanya Papanya yang melakukanya, tapi para guru-guru lain juga sering melakukan hal seperti itu.
"Ken!" panggil Weva yang langsung memukul pelan bagian tas Ken.
Ken melirik.
"Ken kenapa?"
"Badan lo gendut," jawab Ken lalu menancapkan gas meninggalkan area parkiran sementara wajah Weva memasang wajah datar.
Disaat seperti ini Weva kembali mendapat kalimat indah dari Ken.
...****************...
Pukul 5:00
Suara kendaraan beroda empat dan dua serta beberapa kendaraan lainnya terdengar mengiringi langkah lari Weva yang penuh dengan kelelahan.
Weva menghentikan langkahnya lalu terdiam sembari menopang lututnya yang terasa pegal.
"Ayo Weva, semangat!"
"Weva harus bisa!"
Weva menghela nafas dan setelahnya Weva kembali bangkit dan melanjutkan larinya yang berat itu.
Bruak!!!
Tubuh Weva ambruk di aspal ketika pergelangan kakinya terkilir membuatnya meringis kesakitan. Weva meremas pergelangan kakinya dengan kedua matanya yang terpejam erat berusaha untuk menahan rasa sakit yang menyelimuti pergelangan kaki kanannya.
"Siapa yang nyuruh lo duduk?" tanya Ken setelah menghentikan sepedanya tepat di hadapan Weva yang masih meringis.
Weva melirik sinis lalu berusaha untuk menahan ringisannya.
"Kaki Weva keseleo."
"Alasan lo, bilang aja kalau lo itu mau duduk, Iya kan?"
"Siapa yang mau duduk, sih? Weva emang beneran keseleo."
Ken tersenyum sinis membuat ujung bibirnya terangkat sembari menuruni sepeda hitam yang telah ia gunakan.
"Cepetan berdiri! Lo nggak bakalan langsing kalau lo cuman duduk."
"Tapi-"
Ken meraih pergelangan tangan Weva dan menariknya kuat membuat Weva meringis kesakitan.
"Drama banget, sih lo," kesalnya sembari terus menarik Weva dengan tarikan paksaan dan mengabaikan Weva yang masih meringis.
"Lepasin!!!"
__ADS_1
Bruak!!!
Tubuh Ken terhempas ke aspal setelah dengan kuat Weva memberontak dan menghempas tangan Ken yang sedari tadi memegang pergelangan tangannya. Weva meringis ketika kaki kananya menyentuh permukaan aspal membuat Ken yang masih syok dirinya terhempas ke aspal itu langsung menoleh menatap pergelangan kaki kanan Weva yang nampaknya sedang apa-apa .
"Kok, lo malah dorong gue, sih?" Kesal Ken setalah ia berhasil bangkit dan berdiri di hadapan Weva.
"Kaki Weva ini sakit," aduhnya.
"Gue nggak percaya sama lo. Soalnya lo itu banyak alasan dan alasan lo itu nggak bisa dipercaya."
Ken menatap tajam kedua sorot mata Weva yang ikut menatapnya. Tak lama Ken kembali meraih pergelangan tangan Weva dan menariknya.
"Aw aw, Ken!!!" jerit Weva ketika ia merasakan sakit pada pergelangan kakinya yang melangkah di permukaan aspal.
Bruk!!!
Tubuh Weva terjatuh ke aspal dengan lututnya yang menghantam keras aspal yang seketika terluka.
"Lo kok drama banget sih, Weva? Udah lah nggak usah lebay. Katanya lo mau langsing jadi nggak usah malas!"
Rahang Weva seketika menegang dengan rasa kesalnya Weva bangkit dan mendorong Ken cukup keras. Kali ini Weva benar-benar muak.
"Cukup!!!" teriak Weva penuh amarah.
"Cukup!" ujarnya lagi diiringi tatapan tajamnya yang menatap Ken.
"Weva udah nggak tahan tahu nggak dikayak giniin sama Ken!!!" teriaknya.
Ken membulatkan kedua matanya seakan tak menyangka jika Weva berteriak untuknya.
"Oh, jadi ceritanya lo marah sama gue?" tanya Ken sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Weva terdiam dengan air matanya yang sudah mengalir membasahi pipinya. Lagi dan lagi ia menangis.
"Heh, gendut! Lo itu nggak usah sok lebay pakai nangis segala! Lo mau langsing, kan?"
"Yaaaaa, Ken!!! Weva ini gendut dan selamanya tetap gendut!!!"
"Weva tahu Ken itu sempurna!!! Weva itu tahu Ken itu anak kesayangan dan Ken nggak bakalan ngerti apa yang Weva rasain selama ini!!!"
"Ken itu nggak punya hati!!!" Tunjuknya kesal.
"Ken itu bertindak semau Ken tanpa Ken peduli perasaan Weva," ujarnya penuh tekanan.
Ken hanya mampu terdiam mendengar ujaran dan sesekali teriakan yang Weva lontarkan untuknya.
"Ok, Weva terima Ken. Di hari pertama Weva terima Ken nyuruh Weva buat bawain tas Ken, ngerjain tugas sekolah Ken dan Weva terima Ken nyuruh Weva bersihin lantai."
"Weva nggak masalah."
"Weva nggak masalah Ken memperlakukan Weva sebagai pembantu."
"Di hari kedua. Weva nggak masalah kalau Ken nyuruh Pinky buat ngejer Weva."
"Pernah nggak Ken pikir apa yang bakalan Weva rasain kalau seandainya Pinky yang galak itu ngegigit Weva?"
"Pernah nggak?"
Ken terdiam, tak ada jawaban dari Ken.
"Nggak, kan?!!"
"Karena Ken nggak punya hati!!!"
"Ken itu ibarat batu yang keras, berusaha untuk menolong orang dengan kekerasannya yang matang, tapi lupa dengan siapa Ken bersama."
"We-we-weva ini ibarat sampah yang berusaha untuk menjadi barang antik dan Ken yang ibarat sebuah batu yang memberikan janji kepada sampah ini agar sampah ini bisa menjadi barang antik."
"Tapi, Ken pernah nggak mikir kalau selama ini Ken nekan Weva dengan sikap keras Ken sampai-sampai sampah ini nggak bisa gerak!!!"
Weva menghembuskan nafas panjang dari mulutnya yang telah menyuarakan kemarahan dan kekesalan yang ia simpan selama ini.
"Weva ini capek!!!"
__ADS_1
"Weva capek!!!"
Ken menghela nafas pendek. Ia menoleh ke kanan dan kiri menatap jalanan kali ini terlihat sunyi.
"Udah marah-marahnya?" tanya Ken setelah Weva diam.
Weva tak menjawab.
"Cepetan lari!" pinta Ken sembari kembali ke sepedanya.
"Weva nggak mau."
"Wev!!!" teriak Ken membuat Weva tersentak.
"Lo niat nggak sih langsing?"
"Weva niat, tapi nggak gini caranya, Ken!!! Weva ini bukan anjing yang bisa Ken suruh dan nurut gitu aja setiap waktu Ken suruh!!!"
Ken memejamkan erat kedua matanya dan tak berselang lama ia mengangguk. Gadis gendut ini kambuh lagi marah-marahnya.
"Terus mau lo apa?" tanya Ken dengan wajah bosannya.
"Weva berhenti sampai di sini."
"Hah?"
"Weva nggak mau lagi nurunin berat badan Weva. lagi pula Weva yakin Weva nggak bisa langsingan badan Weva."
"Eh, gendut! Ini itu belum sesuai perjanjian dan perjanjian kita sampai 7 hari," ujarnya mengingatkan.
"Terserah Ken!!! Terserah!!!" teriak Weva.
"Gara-gara Weva yang mau langsing sekarang Weva berantem sama Mommy dan Weva sekarang udah kehilangan sahabat Weva yang dari dulu selalu ada buat Weva."
"Dan sekarang We-"
"Wev," potong Ken.
"Stop Ken!!!"
"Wev, lo nggak boleh, dong kayak gini-"
"Ken! Weva itu-"
"Lo kalau misalnya ada masalah sama yang lain jangan-"
"Tapi, Ken nggak bakalan ngerti!!!" potong Ken.
"Yah lo jangan masukin ke gue, dong! Lo marahnya ke dia tapi imbasnya ke gue."
"Ken!!!" teriak Weva penuh amarah membuat Ken bungkam seketika.
Ia tersentak kaget setelah kembali mendapat teriakan dari Weva.
"Weva berhenti sampai disini," ujar Weva penuh tekanan.
"Weva berhenti," ujarnya lagi.
Seketika suasana menjadi sunyi dengan tatapan Ken yang masih tak percaya menatap Weva yang telah sesak nafas.
"Weva berhenti sampai disini" ulangnya lagi lalu, melangkah sembari meringis kesakitan meninggalkan Ken yang hanya mampu terdiam.
Ken menatap kaki Weva yang nampak berjalan pincang. Ken telah salah paham dengan semua ini. Ken menyangka jika Weva hanya mencari alasan agar ia bisa duduk di pinggir jalan dan Ken tak percaya jika yang sebenarnya terjadi adalah pergelangan kaki Weva benar-benar terkilir.
"Wev!!! Weva!!!"
"Berhenti sekarang!!!"
"Weva berhenti gue bilang!!!" panggil Ken tapi Weva tak menghentikan langkahnya yang semakin menjauh.
"Aaaaaaa!!!" teriak Ken lalu dengan kesalnya ia menendang sepeda yang berada di sampingnya dengan cukup keras.
Rasanya Ken sangat kesal, yah sangat-sangat kesal hingga membuatnya duduk di pinggir jalan dengan tatapan sedihnya dan sesekali mengacak-acak rambutnya dengan kesal.
__ADS_1