Princess Endut

Princess Endut
113. Bahagia


__ADS_3

"Br-br-brilyan?" ujar Weva yang begitu gugup.


Bibir Weva terbuka dengan tatapan syoknya yang tak menyangka jika Brilyan datang kepadanya. Tapi apa benar Brilyan datang untuk Weva atau Brilyan hanya sekedar numpang lewat saja tapi, mengapa Brilyan menatap Weva begitu serius.


Brilyan terdiam sembari menatap Weva yang masih diam.


"Weva?" tanya Brilyan sembari menunjuk Weva yang kini mengangguk cepat mengiyakan petanyaan Brilyan. 


"Aku mau ngomong sesuatu," ujar Brilyan dengan nada dingin.


"Ngo-ngo-ngomong apa?"


Brilyan menghembuskan nafas panjang seakan berat untuk mengatakan sesuatu kepada Weva yang kini menatapnya begitu serius.


"Aku-"


"Buset, dah! Eh, gendut!!!" teriak siswi yang kini berdiri di pintu keluar toilet tepat di belakang Weva.


Weva yang mendengar teriakan siswi yang tak lain adalah siswi yang memukul-mukul pintu WC disaat ia berusaha untuk menenangkan pikirannya tadi. Siswi yang juga tanpa sengaja kentut di hadapan Weva. Weva dengan cepat melangkah mundur memberikan jalan untuk siswi yang kini menatap Weva dengan tatapan begitu tajam.


"Lu, yah dimana aja selalu ngahalangin jalan lu! Polisi tidur lu selalu ada dimana-mana?" cerocos siswi itu bagai sambaran.


Weva hanya mampu terdiam sembari sesekali ia berusaha mencuri pandang untuk menatap Brilyan yang saat ini terlihat menatap serius ke arah siswi yang masih mengamuk tak jelas dengan logat betawinya.  


Preeeuuuut!!!


"Aduh!" ringisnya lagi setelah suara kentut terdengar disusul bau menyengat yang berhasil membuat Weva dan Brilyan menutup hidungnya cepat.  


"Noh, kan gue sakit perut lagi," keluhnya begitu kesakitan.


Siswi itu mengerang dan mengangkat pandangannya menatap Weva dan Brilyan yang kini masih menutup hidungnya.


"Heh! Lu berdua nggak usah sok benci gitu ama bau kentut gue. Ah kayak nggak pernah kentut aja lu berdua," kesalnya lalu segera berlari masuk ke dalam toilet menyisakan Brilyan dan Weva yang kini saling melirik tak nyaman. Jujur saja bau kentut ini di luar dugaan keduanya.


Kini tersisa Weva dan Brilyan membuat Weva tersenyum kecil. Rasanya ia ingin melompat ke udara dan berteriak sekencang-kencangnya, tapi ia takut kalau Brilyan akan jijik dengannya.


"Aku mau ngomong."


"Ah?"


"Aku mau ngomong sama kamu. Boleh?"

__ADS_1


Kedua bibir Weva terbuka. Rasanya begitu sulit untuk mengendalikannya. Ia benar-benar tak percaya Brilyan akan mengatakan hal ini.


...****************...


Suasana Cendrawasih Internasional School kini begitu berisik dengan suara canda tawa dan teriakan-teriakan manja para gadis yang nampak dijahili oleh beberapa murid pria saat melintas di koridor. Hal ini menunjukkan jika jam istirahat masih berlangsung.


Berbeda dengan apa yang Weva rasakan saat ini dimana saat ini Weva bisa merasakan suasana yang begitu sangat hening dan sunyi walau bisa ia akui jika banyak siswa dan siswi yang berada di ruangan ber-AC.


Perpustakaan. Yap kini Weva dan Brilyan duduk berhadapan di sebuah meja khusus untuk membaca di area perpustakaan. Entah mengapa Brilyan mengajak Weva kemari untuk membicarakan sesuatu kepada Weva. Weva hanya mengikut lagi pula ini tak apa asal ia bisa bersama dengan Brilyan si pria impiannya.


Weva terdiam menatap Brilyan sembari tersenyum begitu manis sementara Brilyan kini tertunduk dan diam. Cukup lama pria impian Weva itu diam seperti orang bisu.


"Wev," ujar Brilyan yang menatap Weva pelan.


"Iya,"  jawab Weva cepat.


"Kamu-"


"Iya," jawab Weva lagi memotong ujaran Brilyan.


"Kamu beneran mau nurunin berat badan kamu biar bisa aku kejar?"


Senyum Weva sirna setelah mendengar ujaran Brilyan yang diluar dugaannya. Weva tak pernah menyangka jika Brilyan akan bertanya seperti itu.


"Bukannya dulu kamu bilang gitu, yah?" tanya Brilyan memotong ujaran Weva.


Weva mengangguk dengan perlahan dengan tatapannya yang hanya mampu menunduk. Entah mengapa tapi, rasanya Weva merasa malu jika mendengar hal itu. Apa ini salah? Weva hanya ingin mengungkapkan rasa hatinya. Sungguh sulit jika hanya terus-terusan disimpan.


"Emmm, kata orang-orang kamu minta bantuan sama murid pindahan itu, yah?"


"Orang-orang?"


"Yah, aku sempat dengar dari anak-anak sekolah kalau kamu minta bantuan buat nurunnn berat badan kamu sama murid baru itu."


Weva tersenyum membuat giginya sedikit terlihat namun, tak lama senyumnya menghilang. Weva berusaha untuk tidak terlalu tersenyum lebar.


"Weva nggak bisa nurunin berat badan Weva," ujarnya dengan nada begitu sedih.


Suasana kini menjadi sunyi dan hening menyisakan tatapan serius oleh Brilyan yang masih menatap Weva yang nampak tertunduk.


"Weva udah coba buat nurunin berat badan Weva, tapi tetap aja rasanya susah. Lagi pula Weva nggak yakin bisa di kejar oleh Brilyan."

__ADS_1


"Kenapa?"


Weva dengan cepat menatap Brilyan yang terlihat begitu serius menatapnya. Weva mengkerutkan dahinya seakan tak mengerti dengan apa yang Brilyan katakan.


Brilyan tertunduk membisu sembari memaingkan ujung buku catatan hitamnya. Brilyan menoleh menatap ke arah rak buku perpustakaan hingga tak berselang lama Brilyan menarik nafas panjang lalu menghembukannya secara pelan. Tak lama Brilyan bangkit dari kursi hitam khusus untuk pengunjung perpustakaan membuat Weva ikut menatap pergerakan Brilyan.  


"Emmm, Aku harap kamu bisa langsing dan setelah itu aku akan menepati janji aku untuk mengejar kamu," ujar Brilyan lalu melangkah pergi meninggalkan Weva yang terpatung di kursinya.


Kedua mata Weva membulat sempurna dengan bibirnya yang sedikit terbuka seakan tak menyangka jika Brilyan mengatakan hal itu kepadanya.


Senyum Weva merekah sembari menyentuh dadanya yang kini merasakan detakan jantung yang mengguncang dadanya begitu cepat.


"Apa ini serius?"


"Hah? Apa ini serius?" tanya Weva lagi dengan wajahnya yang terlihat pucat secara tiba-tiba.


"Berarti Brilyan, Brilyan juga suka sa-sama Weva karena Brilyan juga berharap biar Weva langsing dan Brilyan bakalan ngejar Weva."


Suasana kini kembali sunyi dengan Weva yang kini mendadak terdiam sembari menyentuh kedua pipinya yang kini terasa hangat dan berusaha untuk memikirkan kembali ujaran yang Brilyan katakan tadi.


"Aaaaaaaaa, Yes! Yes! Yes Aaaaaaaaa!!!" teriak Weva begitu kencang sembari melompat-lompat kegirangan.


Lompatan dan teriakannya itu mendadak terhenti ketika dengan jelas ia menatap siswa dan siswi yang sedari tadi sibuk membaca kini nampak melongo menatap Weva keherangan.


Kedua bibirnya yang terbuka itu dengan cepat Weva tutup. Ia mendongak menatap kedua tangannya yang berada di atas. Dengan cepat Weva menurunkan kedua tangannya dan merapikan seragam sekolahnya.


"Hehehe, maaf," cengenges Weva lalu beranjak pergi.


Para penghuni perpustakaan itu mengerakkan kepalanya menatap Weva yang terus melangkah sambil cengengesan.


Bruak!!!


Weva tersentak setelah menabrak rak buku membuat kedua tangannya dengan cepat memeluk rak buku itu agar tidak jatuh.


Weva kembali menoleh. Ia mengelus lembut rak buku itu dan kembali tersenyum ke arah siswa dan siswi yang masih diam menatapnya.


Weva berbalik badan dan segera berlari pergi meninggalkan perpustakaan.


Weva berlari begitu cepat dengan rasa bahagia yang tak karuan menyelimuti dirinya saat ini. Bahkan saking bahagia yang ia rasakan sampai-sampai ia mudah untuk berlari dan mengabaikan teriakan-teriakan murid-murid lain yang nyaris Weva tabrak dengan tubuh gendutnya. 


Lari Weva terhenti dengan nafas ngos-ngosan yang ia keluarkan dari mulutnya yang dibiarkan terus terbuka. Weva mendongak menatap ke arah papan yang berada di atas tower tangki dimana Ken selalu berada di atas sana.

__ADS_1


"Ken!!!" teriak Weva dengan senyumnya yang merekah bahagia.


__ADS_2