Princess Endut

Princess Endut
37. Saku Baju


__ADS_3

"Lepasin gue!!!" jerit Wiwi ketika kedua tangannya ditarik oleh Kevin dan Roy cukup kuat menjauhi kerumunan.


Semua orang kini hanya mampu melongo menatap kejadian hal tersebut yang menurut mereka cukup nekat dan berbahaya. Apakah pria berandal tidak takut jika kejadian ini bisa saja diketahui oleh pak kepala sekolah.


Semuanya kini melirik menatap beberapa salah satu pria berandal yang nampak sibuk menutup kamera CCTV yang terpasang di sudut bangunan serta kamera CCTV yang tidak jauh dari tangga.


Nekat sekali mereka!


Weva hanya mampu menelan ludah secara paksa menatap Wiwi yang sudah agak menjauh darinya. Kasian sekali sahabat kurus nya itu.


"Heh, liat sini!"


Mendengar suara Ken membuat Weva menoleh dan mendongak menatap takut pada sorotan mata Ken yang nampak siap menikamnya di detik ini juga.


Tuhan mengapa engkau menciptakan sorotan mata tajam setajam mata Ken ini, sungguh Weva ini tidak kuat.


"Oh iya, gue denger-denger katanya lo orang kaya, ya?" tanya Ken yang masih menopang pinggang.


"Anak sultan," tambah ken lagi


"Huuuu!!!" Seru semuanya dengan serentak membuat weva sedikit tertunduk.


Dari mana pria pembully ini tahu jika ia memang anak sultan. Tahu dari mana dia?


"Cih, sultan dari mana?" bisik Firda yang masih serius menatap kejadian itu.


"Hust!" tegur Fhina membuat Firda kini berhenti bicara. Ia tak mau mendengar sesuatu dari orang lain. Ia ingin menikmati pembullyan ini dengan baik.


"Ayo ngomong! Kenapa malah diam aja?"


Weva masih tertunduk, ia tak berani untuk menatap Ken.


"Atau selain lo gendut lo bisu juga sama kayak-"


Bruak


Weva menoleh menatap Beno yang nampak terjatuh ke lantai setelah di dorong ke dalam lingkaran kerumunan oleh salah satu anggota geng berandal.


Ken tersenyum sinis. Ia melangkah lalu berlutut di hadapan Beno yang berusaha bangkit sambil sesekali merapikan kaca matanya.


Ken mengenggam erat rambut Beno dan menariknya membuat kepala Beno mendongak ke atas.


"Atau lo juga kayak cowok bisu ini," sambung Ken.


Ken melepaskan genggamannya lalu menarik kerah baju Beno dan menariknya naik agar Beno segera berdiri.


"Minggir lo!!!" teriak Ken lalu mendorong Beno yang kembali ke tempat dimana terakhir ia berdiri.


Ken menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Weva yang kini mampu merasakan terpantau oleh sebuah tatapan tajam yang tengah memperhatikannya sejak tadi.

__ADS_1


"Gila, gendut banget lo," ujar Ken sembari menggeleng pelan.


Semuanya tertawa terpingkal-pingkal setelah mendengar ujaran Ken. Ini hiburan yang cukup mengasikkan bagi mereka semua.


"Beneran nggak, sih kalau lo itu anak sultan?" tanya Ken yang kedua kalinya


Weva terdiam, ia masih membisu tak tahu harus mengatakan apa mengenai pertanyaan Ken. 


"Anak orang utan kali," sahut salah satu pria yang tengah berdiri di atas kursi sembari menutup kamera CCTV.


Semuanya kembali tertawa bahkan Ken yang sedari tadi memberi kesan galak agar Weva takut kini malah ikut tertawa. 


Weva mengeluh hebat menatap Ken yang tertawa. Pria ini sepertinya tidak waras, pria ini benar-benar sudah gila.


"Lo anak sultan, kan? Jadi..."


Weva terbelalak ketika Ken dengan santainya merangkul bahu lebarnya membuat Weva tersentak kaget dengan kedua matanya yang membulat.


Rasanya nafas Weva di detik ini juga langsung terhenti dengan detak jantungnya yang memompa darahnya cukup kencang.  


"Ahhhh, andai gue di situ," Sedih Harni yang masih melakukan live di Instagramnya.


Nafas weva terasa berhenti di detik ini juga. Rasanya dengan rangkulan ini Weva mampu merasakan kehangatan tubuh Ken yang kemarin membuatnya tertampar dengan wangi tubuh Ken.


Kemarin wangi tubuh Ken sekarang tubuh hangatnya. Besok apa lagi, Tuhan? Oh Tuhan cobaan apa ini? Rasanya Weva ingin menghempas kepalanya ke dinding sekolah agar otaknya tidak berpikir bodoh seperti ini.


Tolong berpikir jernih, Weva!


"We-we-we-weva nggak bawa duit," jawab Weva jujur dengan terbata-bata.


"Ah ma-ma-masa, sih?"


Semuanya kembali tertawa setelah Ken ikut berbicara gagap mengikuti Weva.


"Ternyata selain gendut lo juga gagap, ya?"


"Em, nggak. Weva nggak gagap."


"Oh, ya?"


Weva mengangguk cepat sambil sesekali menatap jari tangan Ken yang masih berada di bahunya.


"Tapi lo bawa duit, kan?"


"Nggak."


"Bohong lo, ya?" Tatap Ken penuh curiga.


Weva mengangguk berusaha meyakinkan jika ia tak berbohong. Weva memang jujur, ya karena Weva memang jarang membawa uang tunai melaingkan uang jajannya yang selalu ia bawa tersimpan di kartu ATM.

__ADS_1


"Lo kalau nggak mau kasi gue duit gue bakalan periksa di saku baju lo."


Kedua mata Weva membulat. Apa maksud pria ini?


"Gue akan periksa dan gue yang akan ambil sendiri," bisik Ken membuat Weva merinding.


Apa yang pria gila ini katakan?


Mengambil sendiri? Ken yang akan mengambil sendiri? Apakah itu berarti?


Weva tertunduk membuatnya menatap saku bajunya dengan tatapan syoknya.


Jika Ken memasukkan jari-jarinya ke saku baju Weva itu berarti Ken akan menyentuh...


Oh Tuhan!!!


Weva menutup mulutnya cepat ketika pikiran bodoh itu muncul di pikirannya yang masih suci ini.


Ken secara tidak langsung akan menyentuh dua buah...Ah Tuhan! Ini memalukan!!!


Ken tersenyum menatap senang dengan mimik wajah Weva yang terlihat langsung sangat syok dan...


"Aaaaaaaaaaaaaa!!!!" jerit Weva lalu segera menghempas tangan Ken dan segera berlari meniggalkan kerumunan bersamaan dengan suara gemuruh tawa para siswa dan siswi yang masih setia melihat kejadian itu.


Ken tersenyum menatap kepergian gadis gendut itu. Rasanya membully gadis bertubuh penuh dengan lemak itu sangat mengasikkan.


Roy dan Kevin menoleh menatap kepergian gadis gendut itu yang masih berlari bahkan ia sampai menabrak beberapa siswi yang langsung terpental ke lantai dengan keras.


"Dia kabur, Ken," ujar Roy sambil menunjuk.


"Gue kejar?"


"Nggak usah," jawab Ken yang terlihat melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Ken memaingkan lidahnya di dalam rongga mulutnya sambil tersenyum simpul menatap Weva yang sudah semakin jauh darinya dan juga para kerumunan yang terlihat masih tertawa.


Ok mangsa nya telah kabur, tak apa mari kita coba besok!


"Cabut!!!" teriak Ken yang langsung berpaling dan melangkah pergi meninggalkan para kerumunan.


Melihat hal itu semua anggota geng berandal itu melangkah mengikuti Ken yang terlihat memimpin barisan.


Kevin dan Roy melepaskan pegangannya pada kedua tangan Wiwi yang kini langsung meringis sambil mengusap kedua tangannya secara bergantian.


Wiwi mendengus kesal menatap gerombolan pria yang tidak punya hati itu. Setelah menyakiti mereka pergi begitu saja.


"Heh!!!" teriak Wiwi membuat Ken dan para gerombolannya itu berhenti melangkah.


Mereka semua menoleh menatap Wiwi yang langsung terdiam dengan kedua matanya yang terbelalak kaget. Oh, mereka sangat menyeramkan dan hal itu membuat nyali Wiwi menciut.

__ADS_1


"Weva tunggu!!!" teriak Wiwi yang langsung berlari pergi menyusul kepergian Weva.


__ADS_2