
"Hah? Cuman gara-gara murid baru terus lo lari kayak gini? Sehat lo?" cerocos Fhina sambil menunjuk kepala gadis itu yang langsung menyentuh kepalanya.
"Maaf kak tapi kata temen-temen yang lain murid barunya cantik."
Firda yang mendengar hal tersebut langsung mengangkat ujung bibirnya seakan menganggap perkataan gadis ini adalah sebuah lelucon.
Gadis itu beranjak pergi setelah Fhina menggerakkan jari tangannya menyuruh gadis itu untuk segera pergi dari sini.
"Mut-mut, kira-kira siapa, yah murid baru itu?" tanya Harni dengan wajah penasarannya.
Ia menatap Firda dan Fhina yang juga terlihat penasaran. Mereka terlihat diam hingga tak lama salah satu dari mereka kembali bicara.
"Gue penasaran, deh secantik apa, sih murid baru itu sampai bikin heboh satu sekolah?"
"Iya, Fhimut. Firdmut juga penasaran," tambah Firda.
"Ehm, dari pada lama-lama mending kita berangkat liat muka murid baru yang katanya cantik itu!" Fhina.
"Betul, tuh. Harmut kayaknya penasaran, siapa sih yang udah buat sekolah kita ini sampai heboh kayak gini."
"Yah, udah. Cus Mut-mut!"
"Yes, mut-mut," jawab Firda dan Harni kompak setelah Fhina mengajak.
"Brwangkat!" ujarnya sembari menghempaskan kipasnya secara bersamaan membuat kipas itu melebar dan melangkah begitu centil.
"Eh, tunggu! Tunggu!" tahan Harni membuat Fhina dan Firda menoleh.
"Apa lagi, sih?" geram Firda.
"Kita live lagi, hehehe." girang Harni sembari mengangkat handphonenya.
Firda dan Fhina menghela nafas panjang.
"Aduh, cuman mau ngelive aja ribet banget, sih?"
"Tau, nih si Harni," tambah Firda.
"Sabar, dong!" ujar Harni yang kini sedang terlihat sibuk mengesek-gesekannya layar handphonenya.
Setelahnya mereka kini melangkah kembali dengan melenggak-lenggokkan pinggangnya menuju kerumunan tepat di depan kantor kepala sekolah.
Dari kejauhan sudah nampak puluhan ribuan siswa yang mengintip di jendela. Bahkan ada yang sampai memanjat di jendela hanya untuk melihat paras cantik murid baru itu. Lain lagi dengan salah satu siswa yang terlihat duduk di atas punggung sahabatnya berusaha melihat paras murid baru itu lewat fantilasi bagian atas jendela.
"Waduh, banyak banget!" kaget Fhina yang menghentikan langkahnya.
"Alah, mereka itu kerumunan kayak gini pasti karena belum liat muka si murid baru itu. Nih, ya kalau dia udah liat mukanya pasti mereka bakalan bubar," ungkap Firda yakin.
"Permisi! permisi! Orang cantik mau lewat!!!" teriak Harni ke arah siswa yang tengah asik mengintip.
Tak ada respon dari mereka seakan tak menganggap geng Sangmut ada di tempat ini. Ini sebuah penghinaan dari mereka semua. Biasanya jika mereka melihat atau mendengar suara anggota geng Sangmut pasti semuanya salah tingkah tapi mengapa kali ini mereka semua seakan tak peduli atau mengenali anggota geng sangmut yang terkenal cantik.
"Kok, nggak direspon, sih mut?" tanya Harni pada ketiga sahabatnya yang juga kebingungan.
"Heh! Heh!" geriak Firda tapi tetap saja tak ada yang menoleh dan mereka lebih fokus mengintip ke jendela.
"Heh, geng Sangmut, nih yang teriak masa lo semua nggak ngerespon?!!" teriak Firda.
Tetap tak ada jawaban dari mereka.
Fhina yang melihat hal tersebut dengan perlahan menyentuh salah satu pundak siswa yang tengah menggendong sahabatnya untuk melihat wajah paras murid baru itu dari balik celah atas jendela.
__ADS_1
Ia menusuk-nusuk lengan pria itu dengan wajahnya yang terlihat menahan rasa jijik.
"Heh, ngapain sih manjat-manjat gitu?" tanya Fhina yang kini berdiri di hadapan semua kerumunan yang berada di depan kantor.
"Itu ada murid baru katanya cantik," jawabnya.
"Ih, apaan, sih lebay banget lo sampai manjat-manjat gitu," kesal Fhina.
"Iya, nih lebay banget," tambah Harni.
"Turun nggak lo!" ancam Firda.
"Emang kenapa? Yeeee," ejek siswa itu yang nampaknya tak lelah untuk menggendong sahabatnya yang kini duduk di atas punggungnya.
"Ih, ngelunjak lo. Awas lo, yah! Lo jangan minta foto lagi lo, yah sama gue!" ancam Fhina.
"Sabar, mut, sabar!" bisik Firda.
Tetap saja tak ada respon dari siswa itu bahkan dengan yang lainnya pun tak memberikan respon apa-apa.
"Ih, kesal banget sih, gue," kesal Fhina.
"Udah sabar!" bisik Firda.
"Gimana Ger?" tanya salah satu pria yang tak mendapat ruang untuk mengintip dan hanya mampu mengendong sahabatnya yang kini duduk di punggungnya.
"Tunggu!"
Siswa yang di atas itu semakin mencari celah dan berusaha lebih lagi untuk melihat wajah gadis itu ketika ia mampu melihat bagian rambut dengan lekuk tubuhnya.
"Ceh, gila!"
"Kenapa Ger?"
"Langsing banget!!!" teriaknya.
"Hah? Langsing?" tanya para siswa yang mendengar hal tersebut.
"Woy, murid barunya langsing!!!" teriak salah satu siswa yang berdiri di tengah-tengah kerumunan membuat semua orang berteriak histeris.
Fhina menutup kedua teliganya. Wajahnya begitu kesal menahan amarah.
"Apaan sih cuman langsing gitu aja heboh? Lebay tau nggak."
Para siswa yang berdiri paling belakang ikut berteriak memberikan info pada siswa paling belakang hingga informasi itu tersebar luas.
"Woy, murid barunya langsing!!!" teriak siswa yang berlari melewati pintu-pintu ruangan seakan memberi taukan info ini pada siswa dan siswi lainnya yang berada di lantai dua dan tiga.
"Katanya murid barunya langsing," bisik Wiwi setelah mendengar teriakan itu.
"Terus kenapa?" tanya Ken yang tak tertarik.
Proses mengintip itu masih berlangsung dengan suara yang sunyi. Kali ini mereka semua benar-benar menantikan info selanjutnya.
"Gimana?"
__ADS_1
"Liat mukanya!"
"Ck, sabar ngapa lu!" kesal siswa itu sembari terus mengintip.
"Yah, pasti jelek lah!" sahut Fhina membuat semua orang menoleh.
Fhina yang mendapati tatapan itu langsung terkejut. Bayangkan semua orang tertuju melihatnya.
"Apa? Emang bener, kok," bela Fhina.
"Huuuu!!!" Sorak mereka semua.
"Apa lo?" sahut Firda menambahkan.
"Iya, nih dasar lebay. Pasti murid baru itu gakmut!" Cerocos Harni yang sengaja memoyongkan bibirnyam
"Apaan tuh?" tanya siswa dengan kompak.
"Nggak imut!"
"Huuuuu!!!" sorak mereka lagi tak terima.
Dari sini ia mampu melihat bagian belakang gadis itu yang nampak duduk di sebuah kursi tepat di hadapan meja kepala sekolah.
"Ayo dong balik badan!" bisik siswa itu berharap tak sabaran.
Tak lama gadis itu bergerak sedikit hanya merapikan rambutnya yang sudah terlihat indah itu.
"Ayo, dong balik badan!" bisiknya lagi penuh harap.
Gadis itu menoleh dan melirik siswa itu yang hanya terlihat sebelah matanya saja. Gadis itu tersenyum dengan manis dan kembali berbalik badan.
"Maa sya Allah, cantik sekali!!! Maa sya Allah lailahailallawlah Allahuakbar!!! Allahu malakasuntu wabika amantu-"
Bruak!!!
Tubuh pria itu jatuh terhempas ke lantai dan menindih tubuh Fhina. Semuanya nampak terkejut terutama Fhina yang melihat pria di atas tubuhnya sedang kejang-kejang di tempat membuat semua orang terbelalak kaget.
"Aaaaaaaaa!!!" jerit Fhina sangat syok.
"Ger! Ger!" panggil sahabatnya sembari mengguncang tubuh pria yang masih kejang-kejang itu.
Firda dan Harni yang melihat Fhina ditindih itu dengan cepat mendorong pria itu agar tak menindih tubuh Fhina.
"Fhimut nggak apa-apakan?" tanya Harni yang kini berhasil membantu Fhina berdiri.
"Heh!!!" teriak pak Ahmad sembari melayangkan ganggang sapunya ke segala arah dan berhasil mengenai beberapa siswa yang kini berlari berhamburan.
Kedua mata pak Ahmad terbelalak menatap salah satu siswi yang nampak kejang-kejang di lantai.
"Loh, itu kenapa?"
"Kejang-kejang pak."
"Kok bisa?"
"Itu pas udah liat muka si murid baru, pak," jawab sahabatnya.
"Wadduh, cepetan bawa ke UKS!"
__ADS_1