
...🥀🥀...
...Bukan waktu yang menentukan kebahagiaan, tapi usaha. ...
...~Princess Endut~...
...•...
...•...
...Jangan lupa untuk memberikan vote dan komen. ...
...•...
...•...
...Tandai jika ada kesalahan penulisan. ...
...•...
...•...
...🥀🥀🥀 ...
Suasana di hari Minggu pagi ini nampak begitu cerah seakan menyambut kedatangan weva yang tengah berdiri di depan tempat gym Ken yang sudah sejak tadi masih tertutup rapat, yah entah mengapa Ken menyuruhnya datang lebih awal sementara Ken masih berada didalam sana tanpa weva tau apa yang Ken perbuat didalam.
__ADS_1
Tak lama ken melangkah keluar sembari mengenggam sebuah buku catatan berwarna hitam di tangannya. Yap, buku catatan yang sama Ken gunakan untuk menulis berat badan weva kemarin.Â
Rambut Ken nampak bergerak-gerak naik turung ketika ia bergerak menuruni anakan tangga tempat gym nya. Cahaya matahari menerpa lembut wajah Ken yang nampak terpampang jelas membuat weva terdiam untuk beberapa waktu.
Pakaian hitam dengan topi hitam merek pasaran dengan handset hitam yang salah satunya berada di telinga Ken menambah kerennya pada sosok seorang Ken Satya negara.
Untuk waktu yang masih bergerak ini seakan tal terhitung oleh weva. Di detik ini Ken mampu membuat weva terpatung dengan tatapan nya yang terus terpusat ke sosok Ken yang tanpa weva sadari sudah melangkah lebih dekat dengannya.
"Weva nggak tau kenapa Ken terlihat berbeda jika berjarak jauh dari weva, Ken jika seperti ini terlihat lebih...".
"Heh ! Ngapain Lo ngeliatin gue ?" Tanya Ken setibanya ia di depan weva membuat weva tersentak kaget. Â
"Enggak kok" ujarnya cepat.
Weva mendecap kesal, yah realita tak seindah ekspektasi nya kepada Ken. Pria pemanjat tower tangki air itu memang menyebalkan. Oh sadarlah weva ! Brilyan lebihel mengangumkan dari siapa pun.  Â
"Eh enak Ajah siapa juga yang naksir sama ken , ingat yah Brilyan tetap nomor satu di hati weva".
"Cih, si kurus kering itu" ujar Ken lalu tertawa cekikan membuat weva mendecap kesal.
"Ingat yah Ken ! Brilyan itu orangnya sempurna yang ganteng, cerdas, baik, sopan, lembuuuuut" ujarnya berusaha memperjelas di telinga Ken.
Ken yang mendengar hal tersebut segera mengangkat ujung bibirnya dan tertawa jahat.
"Kurus kering yah kan !" Ejek Ken.
__ADS_1
"Dia itu nggak ku....".
"Hust !" Potong Ken sembari mengangkat jari telunjuknya, ini benar-benar peringatan dari ken membuat weva bungkam.   Â
"Nggak ada protes !" Tegas Ken.
Tak lama ken segera menaiki motor Vespanya dan memasang Helm ke kepala nya sementara weva hanya terdiam di samping Ken bahkan di saat motor Vespa itu telah menyala.
"Eh gendut ! Ngapain Lo diem disitu ? Cepetan naik !".
"Naik ke mana ?".
"Ke punggung gue, yah ke motor lah. Masi nanya lagi Lo !".
"Loh emang kita mau kemana ?".
"Ke surga, yah ke rumah gue lah terus kemana lagi, cepetan naik !".
"Tapi kan...".
"Naik nggak Lo atau gue tinggal terus Lo jalan kaki sampai ke rumah gue ! ".
"Iya, iya jangan ! jangan ! Weva naik kok" ujar weva cepat lalu segera duduk ke jok motor Vespa ken.
Motor Vespa berwarna biru itu kini melaju diiringi suara ciri khas dari motor Vespa pada umumnya. Suasana pagi ini nampak sangat cerah, yah dari langit yang indah ini weva mampu merasakan jika hari kedua percobaan menurungkan berat badannya nampaknya akan baik-baik saja dan tak akan melelahkan seperti kemarin.  Â
__ADS_1
Yah weva harap begitu, semoga saja.