
Sial! Ia ketangkap basah.
...****************...
Ken memasukkan koin pada lubang khusus tepatnya di depan camera yang ukurannya tidak terlalu besar sementara Weva terlihat melompat-lompat tak sabar.
"Lo bisa diam nggak, sih?" kesal Ken membuat Weva dengan cepat menghentikan lompatannya dan mendongak menatap Ken yang memasang wajah marah.
Cekrek!!!
Ken dan Weva menoleh menatap ke arah kamera setelah suara cepretan diiringi cahaya bliss yang menyambarnya begitu saja.
Weva dan Ken kembali saling berpandangan dengan wajah mereka yang terlihat kebingungan.
Cekrek!!!
"Lah? Itu udah mulai?" Tunjuk Ken ke arah kamera.
"Loh? Kok, Ken nggak bilang-bilang?"
Cekrek!!!
"Gue nggak ngapa-ngapain!" bela Ken.
"Terus itu apa?"
"Yah, mana gue tau."
Cekrek!!!
"Matiin!!!" teriak Weva lalu berlari ke arah kamera.
Baru saja Weva berlari salah satu kaki Weva malah tersandung dan membuatnya nyaris terjatuh hingga suara cepretan kembali terdengar.
Cekrek!!!
Bruak!!!
Tubuh Weva terjatuh ke permukaan papan membuat orang-orang yang sedang berlalu lalang di depan bilik photo booth itu menoleh.
Ken berlari dan berlutut menghampiri Weva yang masih bertiarap di sana.
"Wev! Lo nggak apa-apa, kan?"
"Weva nggak- Ah, fotonya udah keluar!" sedih Weva ketika melihat hasil foto yang telah keluar dari salah satu lubang.
Ken bangkit dan meraih hasil foto itu membuatnya tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana bisa ia tak tertawa jika hasil fotonya sejelek ini bahkan ada foto dimana wajah Weva yang terlihat aneh saat ia hampir terjatuh.
"Jelek banget," kaget setelah ia bangkit dan ikut menatap foto yang Ken pegang.
"Tuh, muka lo aneh banget, hahaha."
Weva memonyongkan bibirnya. Rasanya ia sangat malu apalagi saat Ken menertawainya.
__ADS_1
"Sini!" rampas Weva membuat suara tawa Ken terhenti.
"Lo mau ngapain?"
"Weva mau buang!"
"Kenapa mau dibuang?"
"Weva jelek di sini."
Ken kembali merampas foto itu membuat Weva gelagapan. Ia ingin mengambil foto itu kembali dari tangan Ken, tapi tak bisa karena Ken yang sengaja meninggikannya membuat Weva melompat-lompat kesusahan.
"Ken itu kenapa, sih? Weva itu nggak suka sama fotonya."
"Ya, udah kita foto lagi! Apa susahnya, sih?'
"Kalau gitu foto yang di tangan Ken dibuang aja!"
"Iya nanti gue yang buang," putus Ken lalu memasukkan foto itu ke dalam saku jaketnya.
"Beneran, ya!"
"Em," sahutnya malas.
"Ah, nanti Ken simpan terus nyebarin ke orang lain. Weva, kan malu."
"Nggak! Negatif melulu, sih lo."
"Ken, kan orangnya jahil. Cepetan buang!"
"Tuh, puas lo?"
"Hehehehe, terima kasih, Ken."
"Kata terima kasih lo gue tolak!"
Weva mendecapkkan bibirnya pasrah. Yang terpenting foto aib itu sudah berada di dalam keranjang sampah.
Ken kembali memasukkan beberapa koin ke dalam lubang kecil khusus.
"Cepetan, Ken!" panggil Weva sembari menggerakkan tangannya membuat Ken dengan cepat berlari menghampiri Weva.
Keduanya tersenyum menatap ke arah kamera dan tak berselang lama suara cepretan itu terdengar membuat Ken dan Weva kembali mengambil gaya yang berbeda.
"Deket-deket Ken sama Weva biar nggak keliatan kosong di tengah!" pinta Weva tanpa menoleh menatap Ken.
Ken yang mendengar hal itu langsung mendekat. Ia merangkul bahu Weva membuat Weva mendongak.
"Kayak gini, kan?" tanya Ken tanpa menoleh menatap Weva yang masih terus menatapnya.
Entah mengapa Weva merasa gugup kalau Ken dekat atau bahkan menyentuhnya seperti ini. Jantungnya pun mendadak berdetak sangat cepat.
"Lo mikirin apaan, sih?"
__ADS_1
Weva tersadar dari lamunannya. Tanpa ia duga ternyata Ken sudah menatapnya.
"Tangan lo kayak gini!"
Weva menoleh menatap jari tangan Ken yang membentuk separuh hati membuat Weva dengan ragu mendekatkan jari tangannya yang juga membentuk separuh hati membuat jari tangan Ken dan Weva membentuk satu hati yang utuh.
"Kayak gini lagi!" pinta Ken yang meletakkan tangannya di atas kepala membentuk love membuat Weva mau tak mau hanya bisa menurut.
Setelah selesai sehelai foto keluar dari lubang khusus membuat Weva dengan cepat berlari dan meraihnya.
Weva menatapnya sesaat membuatnya terkejut. Di foto-foto ini sangat jelas kalau Weva terlihat terus menatap ke arah Ken bukan malah menatap ke arah kamera.
Bagaimana jika Ken melihatnya? Hah, mungkin Ken akan menertawainya atau bahkan mengira jika Weva baper.
Weva meletakkan foto itu ke dadanya dengan wajah pasang panik. Ken tak boleh melihat ini!
"Gimana?" tanya Ken membuat Weva dengan cepat menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
Ken menatap bingung. Wajah Weva terlihat aneh kali ini.
"Kenapa, sih lo?"
Weva meneguk salivanya lalu menggeleng cepat. Ia berusaha untuk tersenyum untuk menutupi kegugupannya, tapi itu tidaklah muda.
"Coba sini fotonya gue liat!"
Weva melangkah mundur saat Ken mendekatinya membuat Ken kebingungan.
"Lo kenapa, sih?"
"Em, nggak apa-apa. Yuk pulang! Kayaknya Weva-we-va udah ngantuk, deh. Yuk!"
Weva berpaling dan dengan cepat memasukkan foto itu ke dalam saku celananya. Ia tak mau kalau Ken melihat foto ini.
Ken terdiam dengan wajah kebingungan. Ia tak mengerti mengapa Weva terlihat begitu aneh dengan waktu yang begitu tiba-tiba.
Ken menopang pinggang sambil berusaha untuk mencari tahu mengapa Weva berubah hingga tak berselang lama Ken melirik menatap foto yang telah ia buang tadi di dalam keranjang sampah.
...****************...
Keduanya kini duduk di sebuah bangku panjang yang berada tak jauh dari depan pasar malam dan motor Ken yang terparkir. Kini jam telah menunjukkan pukul 10 malam, namun Weva tak ingin memaksakan Ken untuk mengantarnya pulan. Weva tahu, jika kondisi Ken yang masih pusing belum bisa mengendarai motor.
Walau sempat saling tertawa dan bahkan foto bersama, tapi sepertinya Ken sejak tadi menahan rasa pusingnya. Weva bisa lihat itu saat Ken yang sesekali menyentuh kepalanya saat ia melangkah ke arah motor.
Tolong dan percayalah. Setelah kejadian tadi siang dimana ia menabrakkan motor vespa Ken ke batang pohon besar pinggir jalan, rasanya Weva trauma dengan kejadian itu.
Ken menyiram wajahnya dengan sebotol air mineral sisa minumnya yang telah ia konsumsi untuk meminum obat sakit kepala yang Weva beli di toko obat. Tak lupa juga Ken menepuk-nepuk kepalanya yang telah ia siram dengan air berusaha untuk merendahkan rasa pusingnya yang makin menjadi setelah sejak tadi ia tahan.
Ken melirik menatap Weva yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan bersalah.
Weva menunduk seakan segan untuk menatap Ken. Perlahan ia mengangkat pandangannya menatap ke arah depan dimana sebuah toko buku masih terbuka. Tempat di mana ia selalu datang dan mengintip Brilyan jika datang membeli buku.
Wajah Weva yang datar itu kini terkejut menatap sosok pria yang melangkah masuk ke dalam toko buku. Weva sangat kenal dengan pria itu, itu Brilyan.
__ADS_1
"Brilyan!" Kaget Weva dan setelahnya ia bangkit dari tempat duduk membuat Ken menoleh.