Princess Endut

Princess Endut
162. Kisah Baru


__ADS_3

1 Tahun Kemudian....


Suara sorakan gadis-gadis Cendrawasih Internasional School terdengar begitu kompak meneriaki nama anggota basket yang tengah bermain di lapangan.   


Ini sebuah pertandingan antar sekolah dan kebetulan Cendrawaih Intrnasional School lah yang menjadi tuang rumah dalam pertandingan kali ini.


Pertandingan kali ini nampaknya akan menjadi permainan yang paling menegangkan karena para tim kini harus memasukkan satu poin hingga mereka bisa dinobatkan sebagai pemenang. Kini posisi poin mereka seimbang membuat para penonton menjadi tegang dan semakin antusias mengikuti setiap pergerakan yang terjadi di lapangan.


Suara teriakan dari penonton tak henti-hentinya terdengar bahkan ada beberapa dari mereka yang berteriak memberikan instruksi seakan apa yang mereka katakan adalah jalan agar bisa menang.


   


Seorang pria dengan kulit yang putih bersih berkaus merah nampak berlari membuat para gadis-gadis berteriak histeris. Sejak tadi pria itu yang telah berhasil mencuri perhatian para penonton bola basket.


Bola basket itu menghempas ke permukaan lapangan dan di bawanya dengan lihai bak pemain profesional yang amat sangat handal. Semua orang untuk sementara terdiam dengan wajah mereka yang tegang mengikuti setiap langkah pria itu.


Pria itu melompat cukup tinggi membuat para lawannya melongo. Ini lompatan yang hebat dan cukup tinggi.


Bruk!!!


Bola terhempas ke permukaan lapangan setelah berhasil masuk ke dalam ring membuat semua orang berteriak histeris sembari melompat-lompat kegirangan.


"Cendrawasih Internasional School berhasil mencetak nilai dan itu berarti perlombaan ini dijuarai oleh Cendrawasih Intensional School!!!"


Semua orang berteriak histeris setelah komentator mengatakan hal itu.


Pria tampan itu menoleh menatap para gadis yang berjejer di pinggir lapangan serta gadis-gadis yang berada di lantai dua dan tiga, alhasil membuat para gadis itu berteriak lagi. 


Pria itu tersenyum. Ia menatap ke arah lantai dua dan dengan jahilnya ia mengedipkan sebelah matanya membuat semuanya kembali menjerit.


Gadis berkaca mata yang berada di balkon lantai dua seketika terdiam dengan kedua mata membulat.


"Oh, Tuhan. Kak Keeen kedip mata buat aku!!!" teriaknya histeris.


Senyumnya yang melengkung lebar itu seakan tak mampu untuk mewakili perasaan hatinya. Kedua matanya yang membulat dengan perlahan meredup.


"Ah, jantungku!"


Bruk!!!


Tubuh gadis itu tumbang setelah tak kuasa menahan kebahagiaanya. Lemas rasanya! Para teman-temannya dengan cepat menoleh menatap gadis berkacamata mata yang sudah tergeletak di atas lantai.


"Aw, Keeeen!!!"


"Keren banget!!!"


"Keeeen!!!" Teriakan mereka begitu menjadi-menjadi.

__ADS_1


Yap, pria yang berhasil membuat tim bola basket ini menang adalah Ken Satya negara, si pria pembully yang kini menjadi ketua tim bola basket di sekolah.


"Minggir!!!"


"Eh, jelek minggir lo!!!"


"Minggir!!!"


Tiga gadis berlari kecil menerobos kerumunan untuk melihat aksi Ken yang kini menjadi idola di sekolah ini.


"Yah, udah selesai, yah?" tanya Harni yang kini mengarahkan handphonenya ke arah lapangan di mana para pemain bola basket telah berhamburan. 


Permainan selesai. 


"Yah, kita telat." Sedih Fhina dengan wajahnya yang ingin menangis.


"Aduh, gimana, nih? Padahal, kan gue udah janji sama followers gue kalau gue bakalan ngelive si Ken pas main bola basket," ungkap Harni dengan sedih.


"Gara-gara lo juga nih yang nggak kerja tugas kita makanya kita di hukum sama Bu Yungmi, si guru listip itu," oceh Firda membuat Harni menatap heran ke arah Firda yang kini malah menyalahkannya.


"Kok Firdmut nyalahin Harmut, sih?"


"Yah, ini emang salah lo."


"Enak aja. Ini juga salah kita bukan gue aja."


Fhina mendengus kesal. Ia mengusap kedua kupingnya yang terasa panas.


"Yah, si Firdmut, tuh yang ngajak berantem bukan gue."


"Kok, gue?" sahut Firda.


"Ya, iya-"


"Ih, mut-mut kalian itu kenapa, sih berantem mulu, tuh lo liat siapa yang lagi deket sama idola kita!"


"Siapa?" tanya mereka kompak.


"Tuh!" Tunjuk Fhina dengan ujung bibirnya membuat Firda dan Harni menoleh.


"Ken!!!" Teriak seorang gadis sembari berlari dengan air botol mineral di tangannya. 


Ken tersenyum menyambut kedatangan gadis dengan rambut dengan poni tebal yang bergerak-gerak ketika ia berlari. Tak ada yang berubah dari gadis itu sejak setahun ini.


"Mau minum?" tawar gadis itu.


Ken mengangguk dan meraih botol mineral dan membukanya.

__ADS_1


"Makasih yah, Wi," ujar Ken.


Yap, gadis yang kini tersenyum di hadapan Ken ialah Wiwi. Selama Weva tak ada, Ken lah yang menjadi sahabat bagi Wiwi. Persahabatan itu dimulai sejak Ken dan Wiwi selalu datang bolak-balik ke rumah Weva hanya untuk memastikan jika Weva sudah pulang dari Korea atau belum.


Ken juga selalu menanyakan kepada Wiwi, apakah Weva mendapatkan telfon dari Weva atau belum.


Mereka tak mengerti mengapa setahun ini Weva tak pernah mengirim kabar. Bahkan akun sosial medianya pun sudah tak pernah aktif lagi. Yang lebih parah tak ada foto Weva lagi di sana, semuanya telah dihapus tak tersisa.


Wiwi pernah mengirim pesan kepada Wevo agar memberi kabar mengenai Weva tetapi entah ada masalah apa sehingga Wevo tak pernah membalas pesannya padahal Wiwi tahu pria berstatus Kakak kandung Weva itu adalah pria yang baik.


Ini cukup menyedihkan jika harus diingat kembali kisah setahun yang lalu.


Harni mendesis kesal menatap gadis yang dianggapnya itu culun selama ini dekat dengan pria terpopuler di sekolah ini dan keterpopulerannya itu tak pernah tergeser oleh siapa pun.


"Heran gue, makin hari si sok pemberani itu makin deket aja sama si Ken," ujar Firda membuat Harni dan Fhina mengangguk tanda setuju.


"Oh, iya selama si gendut, jelek itu nggak ada di sekolah, di sini kayaknya nggak enak, yah?" ungkap Harni jujur.


"Idih, rindu lo sama si gendut jelek itu?" sinis Fhina.


"Ya, enggak lah. Maksud gue itu yah kayaknya nggak enak aja gitu."


"Enggak enak gimana?" tanya Fhina.


"Yah, selama si gendut itu nggak sekolah di sini, yah Harmut nggak bisa lagi ngelive lagi. Sekarang followers gue sekarang cuman itu-itu aja, nggak nambah," jelasnya.


"Dan satu, sih yang paling penting," ujar Fhina membuat kedua sahabatnya itu menoleh.


"Apa?"


"Sekarang kayaknya si Wiwi itu ngambil kesempatan dengan ketidak adanya si gendut di samping Ken, deh."


Keduanya menatap kompak ke arah Ken dan Wiwi yang masih sedang asik bicara.


"Iya, sih, kan si Ken itu ganteng banget, parah, Ihhh!!!" gemas Harni tak tahan.


"Iya, betul Fhimut soalnya, kan selama ini yang selalu ngikut kayak ekor, yah sih gendut itu," tanggap Firda.


Kini ketiganya terdiam menatap Ken dan Wiwi dari atas lantai dua. Mereka cukup lama terdiam menatap dua insan itu sedang tertawa.


"Mut-mut!


"Yes, mut-mut!!!" balas Fhina dan Firda dengan kompak.


Fhina melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum kecut.


"Sekarang si gendut itu gimana, yah kabarnya?"

__ADS_1


Firda dan Harni saling bertatapan berusaha untuk menahan tawanya.


"Yah pasti makin gendut, lah," jawab Fhina membuat kedua sahabatnya itu kembali tertawa.


__ADS_2