Princess Endut

Princess Endut
160. Amarah Untuk A-yeong


__ADS_3

Weva mengigit bibir ketika bentakan itu terdengar menyakitkan baginya. Weva tak menyangka jika Mommy-nya akan membentaknya di depan orang-orang terutama A-yeong yang sedari tadi menatapnya.


Malu, tentu saja Weva malu. Siapa yang tidak malu jikalau seseorang membentak kita dihadapan orang yang kita benci.


Kedua mata Weva memerah, ia berusaha untuk tidak menangis. Ia tak ingin menangis di hadapan A-Yeong.


"Oky."


Weva mengangguk pelan dan membalikkan badannya lalu melangkah keluar dari rumah membuat semua orang terbelalak.


"Weva!!! You mau kemana?!!" teriak Sasmita.


Tak ada jawaban dari Weva. Ia tetap saja melangkah.


Sasmita meremas kepalanya diiringi helaan nafas. Lagi dan lagi Weva bermula.


"Weva!!!" teriak Wevo berniat untuk mengejar kepergian Weva.


"Wevo, tidak usah dikejar!" tegas Sasmita dengan suara dinginnya.


Wevo menatap Sasmita heran. Bagaimana bisa Sasmita melarang dirinya untuk mencegah kepergian Weva. Ini Weva, bukan orang lain.


"Maksud Mommy apa, sih?"


"Nggak usah dikejar!" Tunjuknya.


"Tapi Weva gimana? Mommy tau kan Weva itu gimana?"


"Biar A-yeong yang mengejarnya. A-yeong!"


"Ne," sahut A-yeong.


(Iya)


"그를 따르라! 그리고 그에게 설명! / Geuligo geuege seolmyeong!


(Ikuti dia! Dan jelaskan kepadanya!)


Pintahnya membuat A-yeong membungkuk ala Korea dan berlari keluar menyusul kepergian Weva yang belum jauh.


Weva menarik kopernya dengan langkah pelan serta air matanya yang sudah bercucuran membasahi pipinya.   


Weva tak menyangka jika sesampainya ia di sini hanya mendapat bentakan dari Mommynya dan bentakan itu harus ia dapatkan saat berada di hadapan A-Yeong.


Harusnya Mommy-nya juga tahu jika Weva punya hati yang akan patah saat dibentak seperti itu. Memangnya ada orang yang suka mendapatkan bentakan, terlebih lagi jika dibentak di depan orang yang baru kita kenal dan sekaligus sangat kita benci.


Weva mengusap pipinya itu dengan punggung tangannya yang berusaha untuk menghapus jejak air mata kekecewaannya. Beberapa pejalan kaki terlihat menatap Weva yang juga bisa melihat padangan mereka. Weva tak peduli apa yang mereka pikirkan tentang dirinya saat ini.


Weva menoleh menatap ke segala arah. Mau kemana Weva sekarang. Ia juga tak pandai bahasa Korea untuk memesan taksi yang terlihat berlalu lalang. Bahasa Inggris saja Weva tak terlalu pandai, apalagi bahasa Korea. Weva mendongak menatap langit. Tuhan, seharusnya Weva tak ada di tempat ini.


"Weba!!!" teriak A-yeong sembari mengejar Weva.


Weva menoleh ketika suara itu terdengar. Wajahnya seketika terlihat kesal melihat A-yeong berlari mendekatinya.


"Hah, ngapain lagi, sih dia ngejar Weva? Dia nggak peka ala kalau Weva itu benci sama dia."


Dengan cepat Weva kembali membalikkan badannya dan melangkah tanpa memperdulikan A-yeong yang berteriak lagi memanggilnya.


"Weba!!!"


"Web!!!"


"Weba!!!"


"Web-"


"What? Hah? What?!!" Bentak Weva yang tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh menatap A-yeong yang kini terbelalak kaget.


"What?" tanya Weva lagi dengan suaranya yang telah serak serta kedua rahangnya yang menegang.


"You're angry?"


(Apa kamu marah?)

__ADS_1


Weva tertawa mengenai pertanyaan itu. Bagaimana bisa gadis ini bertanya tentang apakah ia marah kepadanya atau tidak. Apakah bentakan itu belum bisa membuat dia sadar jika Weva sangat-sangat marah kepadanya.


"Yes, Yes. I am angry!!!"


(Ya, ya. Aku marah!!!)


Weva membalikkan badannya lalu melangkah lagi membuat A-yeong mengikut.


"Why?"


(Kenapa?)


Weva tak menjawab ia tetap saja melangkah. 


"Where are you going?"


(Kamu mau kemana?)


"Weba!"


"Where are you going?"


(Kamu mau kemana?)


"I want to go home!!!"


(Aku ingin pulang ke rumah!!!) teriak Weva sembari terus melangkah.


"Why? Why do you want to go home, are't we going to eat bakso together?"


(Kenapa? Kenapa kamu ingin pulang? Bukan kah besok kita akan pergi makan bakso bersama?)


"Do not talk!" 


(Jangan bicara!)


"Weba! Why do you want to go home are't we going to eat bakso together ?"


(Kenapa? Kenapa kamu ingin pulang? Bukan kah besok kita akan pergi makan bakso bersama?) tanyanya sekali lagi.


"I don't like bakso!!!"


A-Yeong seketika terdiam. Tatapan Weva benar-benar penuh amarah.


"I don't like bakso!!!"


(Aku tidak suka bakso!!!)


"I don't like here!!!"


(Aku tidak suka di sini!!!"


"I don't like everything and."


(Aku tidak suka semuanya dan ."


Weva melangkah mendekati A-Yeong yang gemetar takut.


"I don't like you!!!"


(Aku tidak suka kamu!!!) bentaknya dengan nada serak yang melengking.


A-yeong terdiam sambil menutup kedua matanya saat Weva berteriak nyaris memecahkan gendang telinganya.


"Me and you just met but why do you seem to not like me and you are mad at me?"


(Aku dan kamu baru saja bertemu tapi kenapa kamu sepertinya tidak menyukaiku dan kamu marah padaku?)


Weva mendengus kesal dan sedikit tertawa sinis. Apa pertanyaan ini patut untuk dijawab?


"Why? Hem?" tanya Weva lalu tertawa.


"Because of you I'm always compared to you!!!"

__ADS_1


(Karenamu aku selalu dibandingkan denganm!!!) teriaknya membuat A-yeong tersentak kaget.


"Because you are beautiful, slim and perfect!!!"


(Karena kamu cantik, langsung dan sempurna!!!)


"You understand?"


(Kamu mengerti?)


A-yeong mengangguk paham. Kini ia telah paham akan masalah yang Weva hadapi. Entah mengapa ia harus dijadikan bahan perbandingan. Hasilnya juga akan membuat seseorang menjadi benci kepadanya bukan malah ikut kagum.


Weva menghembuskan nafasnya kasar dan menelan ludahnya melewati kerongkongannya yang terasa sakit setelah berteriak. 


Sementara A-yeong terlihat diam dan memilih untuk menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Ehm, oky. I understand."


(Ehem, Oky. Aku mengerti)


"Then why don't you become like me?"


?Lalu kenapa kamu tidak menjadi seperti saya?)


Weva tertunduk dan menatap sedih pada dirinya sendiri.


"I'not sure,"


(Aku tidak percaya) ujarnya sedih.


A-yeong melangkah dan menyentuh bahu Weva dengan lembut.


"Let's change!"


(Ayo berubah!)


"I wil help you."


(Saya akan membantu Anda)


"Shut their mouths with you changes !"


(Tutup mulutnya dengan perubahanmu!)


"Shut up those who always laugh at you!"


(Tutup mulut mereka yang selalu menertawakan kamu!)


Weva terdiam mendengar kalimat penyemangat dari A-yeong. Weva diam tapi ia kini benar-benar mencerna kalimat A-yeong.


"Weba, you agree?"


(Webs, kamu setuju?) tawarnya sembari menjulurkan jari-jari tangannya meminta kesepakatan. 


Weva terdiam walau ia sekarang masih berfikir. Weva sadar memang banyak yang membully-nya di luar sana yang selalu datang membuat langkahnya tumbang berkali-kali dengan kalimat bullynya yang menyakitkan. 


Mungkinkah ia menerima tawaran A-yeong yang kini secara terang-terangan menawarkan bantuan untuknya. 


"Weba!" panggil A-yeong yang masih setia menunggu balasan tangan Weva.


Weva menatap sorot mata A-yeong yang menatapnya penuh harap. Mungkin ini jalan yang terbaik. Weva memang lelah untuk dibully oleh orang-orang banyak dan merendahkan dirinya layaknya sampah yang tak berguna.


Weva lelah.


Sangat lelah.     


Dengan perlahan Weva mengerakkan jari-jari tangannya dan menjabat tangan A-yeong yang nampak tersenyum penuh kedamaian.


A-yeong melangkah dan memeluk tubuh gendut Weva yang secara terbuka menerima pelukan dari A-yeong.


Weva menangis di dalam pelukan A-Yeong. Sepupunya itu tak seburuk apa yang ada si pikirannya selama ini.


Dari kejauhan tanpa sepengetahuan Weva dan A-yeong, Sasmita dan Wevo sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Senyum keduanya muncul secara bersamaan ketika Weva yang sangat membenci A-yeong itu kini perlahan membaik. 

__ADS_1


Ini pertanda yang baik.


__ADS_2