
"Sweater! Surat itu ada di dalam sweater yang Weva pakai waktu ke Korea," jawab Weva tanpa henti mengacak-acak isi lemari.
Wiwi yang mendengar hal itu dengan cepat berlari dan ikut mencari sweater yang Weva cari.
"Untuk apa cari sweater?" tanya pak Walio yang sejak tadi hanya melongo.
"Dady, kalau Dady Walio cuman mau nanya-nanya aja mending Dady Walio ikut cari sweater itu!"
Mendengar hal itu membuat pak Walio dengan cepat ikut membuka lemari yang lain, mungkin saja sweater yang Weva cari ada di dalam lemari.
Pak Walio menghela nafas panjang, ia menopang pinggang setelah tak menemukannya. Ia beralih untuk mencari pakaian yang ada di atas lantai mungkin saja sweater itu ada di antara puluhan pakaian ini.
"Nggak ada, Wev! Lo simpan dimana, sih?" kesal Wiwi yang kini beralih untuk menopang pinggang. Ia telah lelah untuk mengobrak abrik isi lemari yang lain.
Weva mendengus kesal. Ia mengusap pelepisnya yang terasa pening di dalam sana. Kesal pada dirinya sendiri karena tak menemukan sweater itu hingga wajahnya tiba-tiba menegang setelah ia mengingat sesuatu.
Tanpa aba-aba ia segera berlari keluar dari kamar meninggalkan pak Walio dan Wiwi yang menatap bingung.
"Wev! Lo mau kemana?"
Weva tak menjawab, ia tetap saja berlari membuat kedua mahluk yang berada di dalam kamar itu mau tak mau ikut berlari mengejar kepergian Weva.
Mbok Rosi tersenyum setelah ia menyerahkan sekantong besar berisi pakaian milik majikannya itu kepada sopir rumah untuk diantarkannya ke panti asuhan. Yah, Mbok Rosi hanya melaksanakan perintah Weva yang menyuruhnya untuk menyumbangkan pakaian milik Weva yang cukup besar itu dan sweater itu ada di sana.
Setelah memutuskan untuk diam di siring jalan memastikan mobil itu telah pergi jauh, ia kini beralih untuk mengintip kotak pos yang ada di depan rumah mungkin saja ada yang penting di sana.
Weva berlari tergesa-gesa tubuhnya nyaris bertabrakan dengan tembok rumah, tapi Weva tak peduli dengan hal itu. Yang Weva inginkan adalah ia segera bertemu dengan Mbok Rosi.
"Chef, Mbok Rosi mana?" tanya Weva tanpa basa-basi setelah dirinya berada di dalam dapur.
"Di luar tadi aku liat dia kayak bawa katong besar," jelasnya.
Weva mendengus kesal. Ia kembali berlari menuju bagian luar rumah membuat Wiwi dan pak Walio yang baru saja tiba di dapur meringis kelelahan.
Mbok Rosi berpaling berniat untuk melangkah masuk namun, langkahnya terhenti setelah seseorang menghampirinya, memegang kedua bahunya dengan kuat.
Ia menatap heran pada majikannya itu. Nafasnya terdengar terputus-putus dengan keringat yang bercucuran membasahi wajahnya.
"Ada ap-"
"Mbok! Ma-ma-mana sweater Weva?"
"Sweater apa, Non?"
"Sweater Weva yang semalam! Cepetan dimana?"
__ADS_1
"Yang mau disumbangin, kan?"
"Iya mana cepetan sweaternya?"
"Oh yang itu, itu sana!" Tunjuknya membuat Weva, pak Walio dan Wiwi yang baru saja tiba itu ikut menoleh menatap ke arah jalan raya.
Weva mengernyitkan dahinya tak mengerti dengan apa yang Mbok Rosi katakan.
"Maksudnya?"
"Udah Mbok suruh antar sama si Supri ke panti asuhan."
"Apa?!!" teriak Weva yang begitu sangat terkejut setelah mendengar hal tersebut.
Mbok Rosi tersentak kaget dibuatnya.
"Kok, disuruh bawa ke panti asuhan, sih Mbok?"
"Loh? Kan Non Weva yang juga nyuruh kemarin."
Weva mendengus kesal. Ia menyentuh kepalanya yang benar-benar berusaha menahan amarah yang luar biasa. Begitu banyak halangan untuk mendapatkan surat itu.
"Mbok, pak Supri bawa sweater Weva ke panti asuhan mana?"
"Ke mekar sari," jawabnya membuat Weva segera berlari ke arah mobil.
Semenit kemudian kini mobil telah melaju dengan kecepatan sedang menuju pasti asuhan mekar sari. Butuh waktu lima belas menit untuk bisa sampai ke sana.
"Pak! Bisa cepetan dikit nggak, sih?" kesal Weva yang tak sabar.
Weva sangat takut jika ia tak bisa bertemu lagi dengan sweater itu. Ia takut jika surat itu tak sempat ia baca.
Mobil berhenti secara mendadak membuat tubuh Weva dan Wiwi bergerak ke depan dan kembali ke posisi awal.
"Dady bisa nyetir nggak, sih?" kesal Wiwi yang berpegangan erat pada pegangan yang berada di dekat jendela mobil.
"Maaf Winyut tapi itu ada orang nyebrang," jawabnya.
Weva dan Wiwi dengan kompak menoleh menatap wanita tua yang sedang menyebrangi jalan sambil memegang tongkat yang dijadikan sebagai penopang tubuh.
Jalan wanita tua itu begitu sangat lambat membuat tiga orang yang berada di dalam mobil itu menghela nafas berat.
"Lelet banget tuh sih tuh orang," kesal Wiwi.
Piiiiiip!!!
__ADS_1
Wanita tua itu tersentak kaget. Ia menoleh menatap ke arah mobil dengan wajah pasang datar seakan tak punya masalah dengan pengemudi mobil.
"Aaa!!! Pak Walio cepetan, dong!" suruh Weva sambil memukul sandaran kursi.
"Tapi itu tidak mau pindah, non!"
"Udah tabrak aja!" pinta Wiwi membuat kedua mata pak Walio membulat.
Pak Walio melangkah turun dari mobil menghampiri nenek tua yang memasang wajah datar menatap sosok pak Walio.
"Nek! Bisa jalan kah cepat? Beta ini buru-buru sudah."
"Ah?"
...***...
Sebuah mobil berwarna hijau itu bergerak masuk ke dalam area parkiran tepat di depan rumah bercat putih dengan tulisan Panti asuhan mekar sari.
Baru saja mobil itu berhenti para anak-anak panti asuhan berlarian keluar mengerumuni mobil. Supri melangkah turun dari mobil dan mengeluarkan sebuah kantong besar berisi pakaian itu.
"Selamat pagi semua!" sapa pak Supri membuat anak-anak panti asuhan itu menjawab dengan bahagia.
...***...
"Pak! Ayo, dong, pak!" teriak Weva yang mengeluarkan separuh tubuhnya dari jendela mobil.
Pak Walio menarik nafas lelah. Ia menarik pelan jemari tangan keriput nenek itu yang terasa gemetar.
"Nenek! Nenek ini bisa cepat tidak? Beta ini sudah mau emosi!"
"Jangan sampai beta marah!"
Pak Walio mendencapkan bibirnya kesal. Mengacak-acak rambut keritingnya sambil meringis. Ia berlari ke belakang nenek berkebaya itu dan menggerakkan kedua tangannya seakan mengusir bebek yang ada di jalan.
"Syu! Syu!" usirnya.
Tak ada perubahan kecepatan. Wanita tua itu tetap saja melangkah dengan pelan.
wiwi yang ikut kesal beralih untuk menepuk menepuk jidatnya. Oh, Tuhan apa yang dilakukan oleh Dadynya itu.
"Dady Walio! Angkat!"
"Apa?"
"Angkat aja neneknya!"
__ADS_1
Mendengar hal tersebut membuat Pak Walio dengan cepat memeluk wanita tua itu dari belakang dan mengangkatnya ke siring jalan.
Wanita tua itu menjerit, mengangkat tongkat dan memukul pak Walio dengan keras membuat pak Walio dengan cepat berlari sambil menyentuh bagian belakangnya yang terasa sakit.