
...🥀🥀🥀...
...Dia seperti pelangi yang kau anggap indah dan kau puja-puja yang kehadirannya  hanya sesaat yang pergi tanpa kapan tau akan kembali hingga engkau lupa ada aku si matahari yang selalu ada di sisimu yang pergi sesaat tapi selalu jelas datang di setiap waktu yang tepat....
...~Princess Endut~...
...•...
...•...
...•...
...Jangan lupa untuk memberikan vote dan komen....
...•...
...•...
...Tandai jika ada kesalahan penulisan...
...•...
...•...
...•...
...🥀🥀🥀...
Weva membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk yang ia rindukan sejak ia berada di sekolah. Tak ada tempat senyaman ini, tempat yang mampu menerima dirinya tanpa ada penolakan. Tak seperti di luaran sana dimana tempat yang orang juluki sebagai tempat bersantai namun, menjadi tempat pengintai yang siap membully fisik weva.
Malam ini jam telah menujukkan pukul 9 malam, yah di saat ini waktu nya bersama kasur kesayangannya itu di mulai. Setelah makan malam yang diiringi Susana tak enak di mana lagi dan lagi maminya kembali memarahi weva hanya karena sikap makan weva yang tak sesuai harapan mami nya.
Maminya selalu mau jika weva makan seperti apa yang A-yeong si sepupu weva yang tinggal di Korea itu lakukan. Makan dengan feminim yah, seperti mengunyah tanpa bersuara keras, makan sedikit dan yang paling utama adalah makan menggunakan sendok, garpu ataupun sumpit. Apa yang weva bisa lakukan dengan hal ini, ia makan dalam porsi besar, mengunyah dengan tergesa-gesa dan makan tanpa alat bantu yakni ia menggunakan tangan secara langsung. Â
 Â
Weva menutup kedua matanya yang lelah itu membiarkan beban penat nya itu mengambang dari tubuhnya dan pergi seperti apa yang weva harapkan.
      Â
Weva membuka kedua matanya ketika notif handphonenya berbunyi menandakan pesan masuk. Weva segera meraih handphone yang berada di sisi tempat tidurnya dan membukanya cepat. Ini mungkin wiwi ?.
Weva terheran ketika pesan yang muncul bukan dari Wiwi melaingkan pesan dari nomor tak di kenal. Oh tuhan siapa kah yang telah mengirim pesan untuk nya hingga dengan kasihan nya mengirim pesan untuk nya. Â
Weva membuka pesan tersebut membuatnya mendecap kesal ternyata dia adalah Ken, yah semuanya jelas dari isi pesannya.Â
+628××××××××××
Semuanya di mulai
Jam 12 kita resmi memulai permainan dan menentukan nasib Lo atas peraturan gue.
Weva mengernyit, apa maksud ken ?. Mungkinkah maksudnya adalah setelah jam 12 nanti weva telah resmi mengikuti semua peraturan Ken. Hah sialnya weva lupa untuk singgah di warung mas Tono agar dapat menikmati bakso yang super lezat itu untuk yang terakhir kalinya yah tapi weva berharap agar bakso tak menjadi salah satu larangan oleh Ken. Â
__ADS_1
Weva harap seperti itu.
Siap
Balas weva pada pesan yang Ken kirim untuknya. Ini rasa hormat pada pria penolong yah, walaupun sebenarnya ini termasuk sistem balas Budi toh weva juga pernah menolong Ken.
Weva meraih handsfree yang berada di atas meja tak jauh dari sisi ranjang dan menatap nya dengan serius.
"Apa kamu ?" Tunjuknya pada handsfree yang tak berdosa itu.
"Bisa denger suara weva ?".
"Huuuu !" sorak nya di permukaan handsfree.
Weva mendecap kesal dan segera meletakkannya ke arah daun telinganya sembari berusaha mendengar apa yang di keluarkan dari handsfree tersebut.
Sunyi ! Tak ada suara di sana.
 Â
"Ok pak monyet kita siap untuk besok !" Ujar weva dan meletakkannya kembali di tempat ia meraihnya tadi.
Weva menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan nanar. Tuhan, kali ini weva berharap banyak dari salah satu hamba mu si pembully itu, Weva sangat berharap banyak darinya.
"Aaaaaaaah !" Weva menguap lebar dan memukul perutnya yang berlemak itu.
"Cepat langsing yah Endut biar Lo nggak di bully dan bisa jadi princess wevaaaaa ahhh bukan princess Endut yang bikin weva sakit hati !" Ujarnya sembari mengelus perutnya sembari sesekali menguap.
"Ah kayak ada yang kurang".
Weva yang masih tersenyum itu kini meraih handphone dan kembali menjalankan tradisi sebelum tidur yakni membuka akun Instagram brilyan.
"Sorry Brilyan, weva nggak bisa ngebenci Brilyan walaupun Brilyan udah memperlakukan weva kayak tadi".
"Lagian kenapa sih Brilyan nggak langsung Ajah gitu suka ke weva sama halnya weva yang suka ke brilyan, biar weva bisa tenang gitu". Â
"Kan kalau cuman salah satu yang mencintai dan yang satunya enggak, itu kayak makan bakso tapi nggak di kunyah, ujung-ujungnya yah nggak bakalan ke telan dan cuman bisa buat weva jadi sakit".
Weva menghentikan geseran nya pada layar handphone ketika ia telah menggapai foto Brilyan yang nampak indah membuat tangan weva begitu gatal untuk segera memperbesar dan Melihat jelas wajah Brilyan.
"Haaah Brilyan ! Calon suami weva umwaaa" kecupan mesra itu kini mendarat di permukaan layar handphonenya.
"Ah Brilyan jadi malu" geli weva sembari menutup wajahnya menggunakan selimut lembutnya yang wangi.
Beberapa detik kemudian weva kembali membuka selimutnya dan menatap langit-langit kamarnya.
"Ok Brilyan tunggu weva jadi langsing dan Brilyan harus menepati janji untuk ngejer weva" tunjuk weva ke langit kamar seperti menghakimi langit kamar yang tak berdosa itu.Â
"Dan untuk Ken ! Semangat untuk ngebuat weva langsing besok !".
"Semangat weva !".
"SEMANGAT !" Teriak weva begitu membara. Â
__ADS_1
Weva kembali menutup wajahnya dan membiarkan tubuhnya terbungkus dengan selimut sepeti halnya sebuah kepompong.
DRIIIIIIING !!!!!!!!!!!!!!
Weva terbelalak kaget setelah mendengar suara berisik dan nyaring yang telah berhasil membuatnya menggeliat.
BRUAK
Tubuh weva terhempas cukup keras ke lantai disusul jeritan kecil dari bibir mungil weva. Jujur ini sakit.
Sasmita mengekerutkan alisnya ketika mendengar suara keras dari atas sana membuatnya yang tengah selesai melaksanakan sholat dan melepas mukenah yang telah ia gunakan.
"Itu suara apa mi ?" Tanya Burhan heran.
Sasmita menoleh menatap suaminya itu yang sedari tadi sibuk menanda tangani berkas penting.
"Ada benda jatuh yah di atas ?" Tanya Burhan lagi.
"Suara apa yah mas ?, kayaknya besar banget !".
***
Weva meringis dan segera bangkit dari lantai dengan susah payah. Tatapannya menatap kesegala arah mencari asal suara yang telah membuatnya jatuh seperti ini.
Weva yang masih kesakitan itu kini melangkah mendekati meja dan menemukan alat pemberian Ken. Dasar sial ternyata handsfree pemberian ken yang menghasilkan suara yang nyaring dan berisik itu.Â
Handsfree itu menyala dengan cahaya berwarna biru yang hilang timbul membuat weva tak tahan untuk segera meraihnya.
"Dasar pembawa sial ! Gara-gara kamu weva jadi jatuh tau nggak !" Ujarnya kesal.
Weva terhenti sesaat dan berfikir sejenak, weva lupa jika hari ini adalah hari pertamanya untuk menurungkan berat badannya yang gendut ini dan apakah...
Weva menganga lebar-lebar, apakah Ken mendengar apa yang weva katakan tadi ? Tanpa pikir panjang weva segera memasang handsfree ke telinga kirinya dengan penuh hati-hati.
"HEH GENDUT !" Geretak Ken membuat weva tersentak kaget dan memejamkan kedua matanya. Hah sepertinya Ken mendengar apa yang weva katakan tadi. Â
Tamatlah riwayat mu weva.
"DENGER GUE NGGAK SIH LOH ? HEH GENDUT !".
"I...i...iya weva denger kok, nggak usah teriak-teriak ! Weva denger kok, kuping weva masih sehat" jelasnya.
"MALAH NGELAWAN LAGI LO ! BERANI LO SAMA GUE ?".
"HEH LO DENGER YAH ! SEKARANG LO ITU HARUS NGELAKUIN APA YANG GUE SURUH SESUAI PERJANJIAN DAN PERATURAN KITA KEMARIN. NGERTI LO ?".
"Iya ngerti" ujar weva menurut, walau sejak tadi bibirnya bergerak-gerak mengejek penjelasan Ken.
"OK !".
"Ok apa ?".
"SEMUANYA KITA MULAI DAN HARI INI HARI PERTAMA BUAT LO !".
__ADS_1
"Hari pertama !" Ujarnya terdengar histeris.
Ken tersenyum sinis.Â