
Langkah beriringan kini tengah berlangsung menuju ruangan kelas Brilyan. Sebenarnya Wiwi sedari tadi telah menanyakan hal ini dan menyuruh Weva untuk mengurungkan niatnya untuk memberikan bekal pink berisi nasi goreng itu kepada Brilyan.
Hasil memang terkadang selalu mengkhianati usaha. Entah racun apa yang telah diteguk oleh gadis bertubuh gendut ini hingga menolak untuk mengurungkan niatnya memberikan nasi goreng yang telah dibentuk dengan pola hello Kitty. kedua mata yang dibuat dengan saus cabe itu sudah menyatu dengan telinga. Ini bukan hello kitty lagi! Ini monster yang sangat menyeramkan.
Sungguh serius! Bahkan anak kecil saja akan menolak untuk diberikan model nasi goreng seperti ini apalagi Brilyan! Mana mau Brilyan menerima nasi goreng yang bentuknya seperti ini.
Weva menghentikan langkahnya.
"Kenapa lagi? Berubah pikiran?" tanya Wiwi.
Weva tak menjawab. Ia menunduk dan membuka bekal pink yang ada di tangannya.
Wajah Weva mempias dengan bibirnya yang berhenti tersenyum. Wiwi ikut menoleh.
"Lo yakin mau ngasih nasi goreng ini?"
"Yah, mau bagaimana lagi."
"Wev, lo mikir, dong! Nasi goreng lo ini udah mirip muntah kucing!" Tunjuk-nya ke arah nasi goreng itu seakan isi bekal pink itu sudah tak ada gunanya.
"Jahat sekali," ujar Weva dramatis sambil menyentuh dadanya.
"Yah, ini kenyataan, Wev. Coba lo liat!"
Weva menunduk menatap setiap sisi nasi goreng itu.
"Buka mata lo lebar-lebar! Nasi goreng lo mirip muntah kucing. Nih, yah kucing aja nggak bakalan mau makan nasi goreng modelan muntah kayak ini."
"Wi, ini kayaknya bukan muntah kucing, tapi anjing," jawab Weva penuh polos membuat Wiwi menghela nafas berat.
"Yah, udah sekarang kita nggak usah bawa nasi goreng ini ke si otak cerdas itu."
Weva terdiam membiarkan Wiwi berlalu dengan ocehannya. Wajahnya nampak sedih menatap pola nasi goreng itu. Mungkin, pola nasi goreng ini hancur karena ulah Ken yang mengangkat tinggi bekal pink di tangannya.
Hah, murid berandal itu memang sangat meresahkan, baru seminggu ia pindah ke sekolah ini tapi dia sudah membuat kenangan buruk di ingatan Weva.
Ingin rasanya Weva menghantam pria bernama Ken itu, tapi sadarlah! Itu hanya mimpi.
"Wev!!!" teriak Wiwi sambil mengguncang bahu Weva membuat Weva tersadar dari lamunannya.
"Aa? Kenapa, Wiwi?"
"Gila yah lo. Gue udah teriak-teriak dari tadi tapi lo nggak denger."
Weva tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Udah sekarang kita balik ke kelas aja!"
__ADS_1
"Ih jangan!" Tahan Weva ketika Wiwi dengan cepat menarik pergelangan tangannya berniat membawanya pergi.
"Apa lagi, sih, Wev?"
"Weva mau bawa bekal ini."
Wiwi melongo. Kedua matanya berkedip beberapakali berusaha memastikan jika ia tidak salah dengar.
"Apa?"
"Tunggu, yah!"
Tanpa menunggu ujaran Wiwi, Weva langsung berlari meninggalkan Wiwi yang kini diam melongo.
"We-We-Weva!!! Lo ninggalin gue lagi?!!" teriak Wiwi sambil menunjuk ke arah wajahnya.
Langkah lari Weva terhenti tepat di depan ruangan kelas Brilyan yang nampak sangat ramai. Yah, kelas ini memang selalu diramaikan oleh fans-fans Brilyan yang berdatangan dari berbagai penjuru kelas hanya untuk memberikan beberapa bingkisan coklat, biskuit, bunga dan masih banyak lagi.
Yap, Weva benci dengan mereka semua yang datang untuk memberikan bingkisan atau hadiah untuk Brilyan karena Weva tahu jika mereka juga suka dengan Brilyan.
Memang susah jika menyukai pria idola satu sekolah. Harus kuat mental dan hati.
Weva menghembuskan nafas berat lalu menyandarkan tubuh gendutnya di dinding setelah beberapa menit menghabiskan waktunya mengintip di balik pintu masuk menatap dan memantau situasi keadaan kelas yang entah kapan akan menjadi sunyi. Sejak tadi para siswi-siswi keluar masuk ke dalam kelas seakan kelas ini seperti kedatangan pengunjung minimarket saja.
"Wev!!!" teriak Wiwi yang dari kejauhan nampak berlari dan kini menghampiri Weva dengan wajah ngos-ngosan.
Wiwi mengeluh, menunduk menopang pinggangnya lalu menengadah mencoba mencari pasokan udara.
"Lo nanya gue kenapa?"
Weva mengangguk.
"Heh, jelas-jelas lo udah ninggalin gue tadi dan lo nanya gue kenapa?"
"Sorry, Wiwi. Weva lupa."
Wiwi mengangguk, tak mau banyak berdebat dengan Weva. Napasnya sudah habis karena lari-larian tadi.
"Gimana, nih, Wev?" bisik Wiwi yang sudah cukup lama diam berdiri di samping Weva.
Weva kembali mengeluh. Tatapannya menatap pasrah ke arah sorot mata Wiwi yang begitu penasaran dengan jawabannya.
Menatap puluhan fans-fans yang tengah berdesakan itu terasa mematahkan semangat Weva yang sedari sudah berusaha digoyahkan oleh rayuan Wiwi.
"Kira-kira Brilyan mau nggak, yah makan nasi goreng Weva yang udah hancur ini?"
"Nggak!" jawabnya cepat, ini bukan dugaan tapi ini jawaban yang sebenarnya.
__ADS_1
Keluhan dari hembusan nafas Weva kembali terdengar. Mungkin nasi gorengnya tak akan mampu bersaing dengan bingkisan fans-fans Brilyan.
"Udahlah, Wev! Mending, nih yah lo itu ikutin saran gue!"
"Saran yang mana?"
"Yah saran gue yang mana lagi kalau mending kita balik ke kelas aja!" ajak Wiwi sembari beberapa kali menarik pelan pergelangan tangan Weva yang masih berusaha untuk menghindar dari tarikan itu.
"Tunggu, Wi!" Tatap Weva menahan kuat tarikan tangan Wiwi.
Wiwi kembali mengeluh membiarkan Weva kembali mengintip di balik pintu kelas yang masih terbuka hingga beberapa fans-fans Brilyan melangkah keluar dari kelas dengan raut wajah mereka yang nampak kegirangan. Yah, rasanya bertemu dengan idola itu seperti asupan kebahagiaan tersendiri bagi mereka.
Weva mengigit bibir ketika telah mampu menatap jelas Brilyan yang tengah duduk sendiri di sebuah kursi paling depan di jejeran meja-meja murid sembari asik membaca sebuah buku berwarna biru dengan meja yang dipenuhi dengan banyak bingkisan makanan.
Sekarang waktu yang tepat, tak ada para fans-fans Brilyan lagi di dalam kelas. Hanya ada Brilyan sendiri, sekali lagi hanya ada Brilyan sendiri di dalam ruangan kelas.
Ini kesempatan emas untuk Weva.
"Wi!" Suara panggil Weva terdengar bersemangat disusul tatapan berbinar dari Weva.
"Em," sahut Wiwi malas.
"Weva bakalan masuk."
Kedua mata Wiwi membulat. Ia melirik menatap Weva yang masih tersenyum.
"Apa lo bilang?"
"Weva bakalan masuk," ulangnya.
"Gila lo, yah?"
"Beneran, Wiwi. Weva mau masuk ketemu Brilyan."
"Lo nggak malu kasih nasi goreng hancur kayak gitu?"
"Weva bakalan kasih tahu Brilyan kalau nasi goreng ini hancur karena ulah Ken."
"What?" Tatap Wiwi tak menyangka.
"Mungkin Ken bakalan ngerti, Wi," jelas Weva.
Wiwi menggeleng sembari menyentuh dahinya dengan ujung jari telunjuknya. Rasanya ia sangat prustasi setelah mendengar penjelasan Weva.
"Wev, lo dengerin gue!" Sentuh Wiwi dikedua lengan gendut Weva, "Percuma," sambung Wiwi.
"Percuma?" Tatap Weva heran.
__ADS_1
"Ya iya lah, Wev. Brilyan nggak bakalan peduli Wev, Mau bekal lo digangguin sama siapa pun dia nggak peduli. Bahkan nih, yah walaupun kaki lo kepotong karena dimakan sama serigala, yah dia nggak peduli."
"Yah mana tahu kan, Wi."