Princess Endut

Princess Endut
196. Persiapan Ujian Nasional


__ADS_3

"Ken!" panggil Weva yang berlari mengejar kepergian Ken.


Ken menghentikan langkahnya. Ia menoleh menatap Weva yang berlari mendekatinya.


"Mama duluan, ya Ken."


"Iya Ma," ujar Ken.


Keduanya terdiam menatap mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya melaju pergi meninggalkan area parkiran. Weva tersenyum sambil melambaikan tangannya saat Laila melambaikan tangannya.


"Ken belum pulang?"


"Nggak. Motor gue, aduh gue lupa ternyata motor gue ada di pinggir jalan."


"Kok di pinggir jalan?"


"Mogok tadi."


Weva mengangguk. Ia tertunduk sambil meremas jemari tangannya.


"Ken, Weva mau ngucapin terima kasih."


Ken tertawa kecil.


"Terima kasih buat apa lagi, sih?"


"Yah karena Ken udah-"


"Weva!" panggil seseorang membuat Weva dan Ken menoleh menatap Brilyan yang berlari menghampiri mereka berdua.


"Brilyan?"


Brilyan mengentikan larinya. Dadanya terlihat naik turun untuk mengatur nafasnya yang sesak setelah berlari.


"Aku mau bicara sesuatu."


"A-apa?"


"Mengenai kamu yang sebenarnya."


Mendengar hal tersebut membuat Weva tertunduk. Rasanya ia malu karena telah membohongi semua orang.


"Aku tidak menyangka kalau kamu ternyata adalah Weva, gadis gendut yang selalu datang disetiap pagi ke kelas aku untuk membawakan aku nasi goreng."


"Aku mau minta maaf karena selama ini aku udah buat kamu sedih. Aku juga tidak menyangka kalau kamu bisa jadi cantik seperti ini."


"Em, Weva!"


"iya?" sahut Weva yang dengan cepat mendongak.


"Aku ingin menepati janji aku dulu."


"Ja-janji?"


Brilyan tersenyum malu lalu mengangguk.

__ADS_1


"Dulu aku pernah bilang, kan sama kamu kalau aku akan mengejar kamu jika nantinya kamu telah sempurna dan sekarang kamu telah menjadi sempurna bagi aku."


Brilyan meraih jemari tangan Weva dan menggenggamnya membuat Weva terkejut. Ia tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi kepadanya. Untuk pertama kalinya Brilyan menyentuh jemari tangganya seperti ini.


Ken mengalihkan pandangannya. Kedua bibirnya terbuka berusaha untuk membantu indra pernafasannya itu untuk bernafas. Dadanya seketika terasa sesak setelah melihat mereka berpegang tangan.


Brilyan menatap jemari tangan Weva sejenak dan kembali menatap Weva yang sejak tadi terdiam.


"Aku akan mengejar kamu, Wev!"


Weva tetap diam. Ia bahkan tak tau harus mengatakan apa.


"Kamu mau, kan kalau aku kejar?"


Weva yang sejak tadi memasang wajah datar kini tersenyum tipis. Ia mengangkat tangannya dan mendorong pelan jemari tangan Brilyan dari tangannya membuat pria yang telah berharap penuh itu mengernyit bingung.


"Silahkan! Weva tidak melarang. Itu kemauan Brilyan."


Brilyan tersenyum. Ia menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan kedua matanya cukup lama hingga ia kembali menatap Weva.


"Aku mau ajak kamu makan malam di restoran jam 9 malam. Kamu mau tidak?"


"Kapan?"


"Malam minggu? Kamu mau?"


Weva terdiam sejenak membuat Brilyan memandang dengan pasang wajah penasaran.


"Kayaknya Weva belum bisa soalnya setelah ini kita akan ujian nasional dan Weva mau fokus belajar dulu."


"Setelah ujian dan hasilnya udah ada nanti makan malamnya kita bahas lagi."


Brilyan menghela nafas panjang. Ia melipat bibirnya ke dalam lalu mengangguk setuju.


"Baik. Aku setuju kalau begitu aku duluan, ya."


Weva mengangguk membuat Brilyan berpaling dan melangkah pergi meninggalkan Weva yang menatap kepergian Brilyan.


"Em, Ken, Weva-"


Weva menghentikan ujarannya setelah ia berbalik dan mendapati Ken yang sudah tidak ada di tempatnya. Weva menoleh kiri dan kanan berusaha untuk mencari sosok Ken yang sudah tak terlihat lagi.


Weva menghela nafas. Wajahnya mendadak sedih. Kedua matanya sayup. Ia berharap Ken masih ada di belakangnya saat ia berbicara bersama Brilyan tapi Ken sudah lenyap meninggalkannya.


"Kenapa Weva ngerasa Ken ngejauhin Weva?" tanyanya di tengah keheningan.


...***...


Di sebuah ruangan tamu tepat di kediaman Ina terlihat dua mahluk yang sedang asik duduk melantai sambil sesekali membolak-balikan kertas pada buku yang berupa kisi-kisi soal ujian nasional yang akan mereka hadapi nantinya.


Wiwi menekan-nekan ujung pulpen ke keningnya. Pandangannya terlihat menatap bingung pada buku yang sejak tadi tak ada bosannya untuk ditatap.


Kedua terlihat begitu serius untuk mempelajari setiap materi guna untuk mengahadapi ujian nasional berbasis komputer. Weva sesekali menjelaskan beberapa materi yang belum sempat Wiwi pahami membuat gadis bertubuh agak kurus itu nampak mangguk-mangguk tanda mengerti.


Tante Ina meletakkan dua gelas teh hangat ke atas meja membuat Weva mendongak dan melemparkan senyum.

__ADS_1


"Terima kasih, Tante."


"Sama-sama. Semangat, ya belajarnya biar gampang jawab soalnya dan hasil nilainya bagus."


Weva mengangguk membuat Ina melangkah kembali ke dapur membuat kedua gadis itu kembali fokus untuk belajar.


...***...


Di tempat yang berbeda juga terlihat sebuah kesibukan. Suasana yang sunyi dan hanya diiringi dengan detakan jarum jam yang menunjukkan waktu.


Laila membuka pintu kamar. Ia berdiri di bibir pintu sambil tersenyum menatap ke arah putranya yang terlihat sedang serius belajar. Ia sempat menggaruk kepala saat pelajaran sukar untuk ia pahami.


"Ken!"


Ken menoleh saat seseorang menyentuh pundaknya. Wajah cantik sang ibu terpampang indah bagai matahari terlebih lagi disaat ia tersenyum.


"Sulit?"


Ken menghembuskan nafas berat seakan memberitahu kepada ibunya jika ini memang sulit.


"Nggak juga, Ma."


"Nggak juga tapi, kok nafasnya panjang banget."


Laila mengusap rambut putranya yang kini hanya mampu di topang oleh sang pemilik.


"Ini susu hangat buat Ken."


Laila meletakkan segelas susu di atas meja membuat Ken melirik dan kembali mendongak menatap Laila.


"Makasih, Ma."


"Sama-sama Keken. Semangat, ya sayang belajarnya! Kalau Ken nggak ngerti nanti tanya sama Bapak."


Ken mengangguk membuat Laila mendaratkan satu kecupan ke rambut putranya yang wangi itu. Ia melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu dengan rapat meninggalkan Ken yang masih fokus belajar.


...***...


Brilyan menatap kepergian Johan dari kamarnya setelah beberapa menit ia pergunakan untuk mengancamnya. Lagi dan lagi ia menyuruh Brilyan untuk belajar lebih keras agar ia mendapat nilai yang paling tertinggi di sekolah.


Suasana yang sunyi itu membuat Brilyan diam-diam meneteskan air mata. Langkah kaki Papanya sudah tak terdengar lagi menandakan pria itu telah benar-benar telah pergi.


Brilyan mengelokkan posisi duduknya. Ia meraih pulpen dari tempat pensil dan siap untuk menulis berniat untuk merangkum dan menghapalnya.


Brilyan membuka buku, menatap satu persatu soal yang ada membuat bibirnya yang terkatup itu bergetar. Rahangnya menegang membuat tubuhnya ikut bergetar. Jemari tangannya mencengkram pulpen dengan kuat hingga tanpa sadar pulpen itu patah menjadi dua bagian.


Brilyan menggeser semua benda yang ada di atas meja membuat apa yang ia geser dengan kuat itu terhempas ke lantai.


Brilyan bertelungkup ke lantai tepat di atas barang-barang yang berserakan sambil meremas kepalanya membuat rambut yang tertata rapi itu berantakan tak karuan.


"Aaaa!!!" teriak Brilyan.


Urat lehernya menegang mengeluarkan amarah. Matanya memerah dibanjiri air mata. Lelah! Ia sangat lelah untuk menghadapi semua ini. Belajar, belajar dan belajar rasanya tak ada lagi kegiatan yang bisa ia lakukan selain belajar.


Lelah! Brilyan sangat lelah. Ia menjambak rambutnya dan memukul lantai dengan kuat. Ia duduk di atas lantai, merapatkan lututnya yang terlipat itu pada dadanya dan mengusap wajahnya yang sudah basah itu dengan kuat.

__ADS_1


Rasanya ia telah gila! Gila karena tekanan dan beban. Ini menyiksa dan benar-benar sangat menyiksanya.


__ADS_2