Princess Endut

Princess Endut
198. Ajakan


__ADS_3

"Maaf?" tanya Harni.


Fhina membulatkan matanya. Ia menyikut sahabatnya itu membuat Harni tersentak dan paham.


"Oh, iya Harmut juga minta maaf. Kita banyak salah sama lo."


Fhina dam Harni menoleh menatap Firda yang menoleh kiri dan kanan menatap bergantian pada kedua sahabatnya itu.


"Em, gue juga," jawabnya.


Fhina tersenyum. Ia menoleh menatap Weva yang masih terdiam.


"Wev, gue akuin lo itu orangnya hebat. Lo emang pantas buat ikut cerdas cermat itu dan gue yang cuman modal muka aja nggak bisa kayak lo."


"Gue minta maaf, ya. Dulu itu gue emang orangnya egois. Gue kayak ngerasa kalau gue itu bertindak semaunya gue tanpa pernah peduli sama perasan orang lain."


"Gue sadar kalau gue udah benar-benar nyakitin hati lo. Setelah gue liat live lo di instagram waktu lo ikut cerdas cermat gue jadi sadar ternyata apa yang udah gue lakuin adalah salah."


"Nyesel, ya gue bener-bener nyesel, Wev. Gue minta maaf, ya sama lo. Lo mau kan maafin gue?"


Weva menunduk menatap jemari tangan Fhina yang masih terjulur ke arahnya. Weva tersenyum lalu mengangguk. Ia menjabat tangan Fhina yang tersenyum lebar.


"Weva maafin kalian, kok," ujar Weva dengan ikhlas.


Jabatan tangan itu terlepas membuat Harni dan Firda ikut menjabat tangan Weva untuk meminta maaf.


"Weva juga minta maaf karena udah mukul kalian semua satu bulan yang lalu dan itu yang buat kalian jadi masuk rumah sakit."


"Nggak apa-apa, kok Wev. Ini semua juga karena gue. Lo nggak bakalan mukul kita bertiga kalau kita nggak mulai duluan jadi lo nggak usah minta maaf karena gue udah anggap alasan gue masuk rumah sakit, ya karena kesalahan gue sendiri," jelas Fhina.


"Wi!"


Wiwi yang sejak tadi tersenyum menatap senang pada apa yang geng sangmut lakukan menoleh menatap Firda yang juga menjulurkan tangannya.


"Gue? Kayaknya lo nggak punya salah, deh sama gue."


"Gue kayaknya punya salah sama lo. Rasanya nggak afdol aja kalau gue nggak minta maaf sama lo."


"Jujur, sih lo itu udah gue anggap sebagai salah satu musuh gue karena lo itu orangnya kayak sok jago gitu."


"Tapi gue juga sadar, kok kalau lo ngelakuin ini cuman buat ngelidungin Weva. Lo mau kan maafin gue?"


Firda menaikan kedua alisnya sembari menanti jawaban dari Wiwi yang terlihat diam. Tak berselang lama Wiwi tertawa. Ia menjabat tangan Firda membuat semuanya tersenyum bahagia.


Weva tersenyum bahagia. Di akhir sekolah dan sekaligus di hari pengumuman akhirnya hubungan ia dan geng Sangmut itu membaik. Weva tak pernah menyangka jika hubungan yang tak pernah ia bayangkan akan membaik seperti ini ternyata dapat terjadi.


...***...


Weva melangkah sendiri di koridor sambil tersenyum bahagia. Beberapa adik kelasnya sesekali mengajaknya tersenyum, menyapanya bahkan ada banyak dari mereka yang memberikan ucapan selamat atas kelulusannya.


Mengenai Wiwi, tak perlu mencari gadis yang suka makan tapi tak gemuk-gemuk itu. Setelah adegan maaf-maafan itu geng Sangmut akhirnya mengajak mereka untuk makan di kantin dan ajakan ini tentu saja di sponsori oleh Fhina.


Mereka sempat mengajak dan bahkan memaksa agar Weva juga ikut tapi Weva menolak. Ia ingin menemui seseorang. Weva menatap ke segala arah mencari sosok pria yang sejak tadi pagi tak pernah ia lihat.


Weva menghentikan langkah sambil menopang pinggang berusaha untuk mencari sosok Ken. Ia ingin memberitahu Ken jika ia lulus dengan nilai paling tertinggi.

__ADS_1


"Ken mana, sih? Apa mungkin Ken nggak ke sekolah?"


"Ck, mentang-mentang Bapaknya guru di sekolah ini jadi dia udah tau kalau dia lulus apa nggak."


Weva mengoceh sendiri. Ia berdiri di pinggir balkon yang berada di lantai tiga. Menopang dagunya sambil menatap ke bawah sana. Pemandangan sekolah terlihat jelas dari atas sini.


"Weva!"


Kedua mata Weva seketika terbuka agak lebar. Suara itu terasa familiar pada indra pendengarannya. Ia berbalik badan mendapati sosok Brilyan yang tersenyum.


Weva ikut membalas. Tubuhnya berbalik kaku membelakangi Brilyan yang melangkah pelan mendekati Weva dan berdiri di sebelahnya.


"Aku mau ngomong sesuatu."


Weva menggerakkan bola matanya ke sebelah kanan menatap Brilyan yang terus memberikannya senyum.


"Brilyan mau ngomong apa sama Weva?"


Brilyan tertunduk. Ia terlihat malu untuk mengatakan ini.


"Aku ingin menagih janji."


"Janji?"


"Iya," jawabnya sambil mengangguk.


Tak ada kalimat yang diucapkan oleh Weva. Ia nampak diam dan ikut tertunduk sama seperti apa yang Brilyan lakukan.


"Kamu udah janji sama aku. Tentang makan malam. Dulu aku pernah kan ngajak kamu buat makan malam tapi kamu nolak agar aku dan kamu bisa fokus belajar untuk menyiapkan diri sebelum ujian."


"Kamu mau kan malam ini kita makan malam sama-sama di restoran?"


Weva mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Rasanya ini sebuah mimpi.


"Malam ini?"


Brilyan tersenyum lalu mengangguk membuat Weva kedua mata hitam Weva terlihat menatap ke arah depan sementara Brilyan masih sangat serius menatapnya.


"Weva! Kamu mau, kan?"


Weva menoleh lalu tersenyum dan mengangguk membuat pria yang memasang wajah tegang itu akhirnya tersenyum lepas.


"Kalau begitu aku tunggu kamu di restoran bintang pukul delapan malam, ya dan aku mau kamu pakai gaun hitam panjang."


Brilyan melangkah pergi meninggalkan Weva yang terpatung di belakang sana. Kening Weva mengernyit bingung.


"Gaung hitam?"


...***...


"Ken!" teriak Weva yang berlari dan mengejar Ken.


Ken menghentikan langkahnya setelah Weva kembali berteriak lagi memanggilnya. Weva menarik nafas dalam-dalam sambil memegang lututnya. Ia bangkit dengan nafas yang ngos-ngosan menatap Ken yang tertawa kecil.


"Kenapa lo? Kayak dikejar anjing aja."

__ADS_1


"Aduh, Ken. Weva capek banget. Ken dari mana aja, sih? Weva cari-cari tapi nggak ketemu."


Ken tertawa. Lihat! Gadis mantan gendut ini kembali mengeluh kepadanya. Ken mengangkat tangannya dan mengacak-acak lembut rambut Weva yang terlihat berpura-pura cemberut.


"Kebetulan gue mau ngomong sesuatu sama lo."


"Weva juga. Weva mau ngomong sesuatu sama Ken."


"Yah udah lo ngomong setelah gue ngomong."


"Loh, nggak bisa gitu, dong. Weva juga mau ngomong sama Ken. Weva dulu yang ngomong, udah itu Ken."


"Nggak! Gue dulu yang ngomong."


"Weva!"


"Gue!"


"Weva!"


"Gue yang ngomong dulu!"


"Weva!"


Ken menghela nafas lalu berujar dengan paksa, "Yah udah ngomong cepetan!"


Weva tersenyum bahagia. Ia menarik nafas dalam-dalam sambil menahan tawa dan kebahagiannya.


"Brilyan ngajak Weva makan malam, yeee!!!" teriak Weva membuat senyum Ken lenyap dari bibirnya.


"Makan malam?"


Weva mengangguk semangat.


"Weva senang banget. Akhirnya Weva bisa makan malam sama cinta masa kecil Weva."


"Hah, Weva nggak sabar mau pulang ke rumah cari gaun hitam. Aduh, Weva punya gaun warna hitam nggak, sih?"


Ken masih terdiam membiarkan Weva masih mengoceh menjelaskan apa yang Brilyan katakan kepadanya tadi.


"Ken!" teriak Weva yang entah sejak ia berteriak membuat Ken tersadar dari lamunannya.


"Hem? Apa?"


"Aduh, malah ngelamun lagi. Weva tadi bilang, Ken mau ngomong tadi sama Weva, kan? Weva kan udah ngomong nah sekarang giliran Ken yang ngomong."


"Ken mau ngomong apa sama Weva?"


Ken tersenyum tipis. Ia menoleh ke belakang sejenak dan kembali menatap Weva.


"Eh, gue balik dulu, ya."


"Loh tapi-"


"Dah!" teriak Ken yang telah berlari pergi meninggalkan Weva yang kini terdiam menatap kepergian Ken.

__ADS_1


__ADS_2