
"Maaf," ujar Ken yang dengan cepat melepaskan pelukannya.
Ken bangkit lalu merapikan jaketnya yang tak terlalu berantakan itu. Ia mengatur nafasnya yang sudah sejak tadi menyiksanya setelah ia berhasil kembali duduk di tempat awalnya.
Weva melirik Ken yang kini kembali berpegangan pada besi. Tak berselang lama Ken ikut melirik membuat mereka berdua saling bertemu pandang dan alhasil mereka berdua dengan kompak langsung salah tingkah.
Weva mengigit bibirnya kaku. Ia mengerakkan jejari tangannya menyisir poninya yang sama sekali tidak berantakan.
Weva menghembuskan nafas panjang dari ujung bibirnya berusaha untuk menangkan dirinya san juga sekaligus pada jantungan yang berdetak sangat cepat.
"Ken takut ketinggian?"
Pertanyaan dari Weva yang tiba-tuba saja menyambar Ken bagai petir di siang bolong. Ken membuka kedua matanya dengan tatapan sinis.
"Apa lo bilang?"
"Iya, takut. Ken takut ketinggian, ya?"
"Eh, enak aja! Cabut, ya kata-kata lo! Gue nggak takut yang namanya ketinggian!" marah Ken yang tanpa ia sadar dengan santainya melepas pegangannya dan menunjuk ke arah bibir Weva yang spontan langsung menjauhkan wajahnya.
"Gue nggak takut yang namanya ketinggian!" tutur Ken.
Weva hanya mampu terdiam. Weva tak mengerti mengapa Ken telihat emosi sekali untuk memarahinya apalagi disaat ia membahas tentang masalah ketinggian.
Weva menghela nafas pendek. Ia berniat untuk menopang dagunya, namun kepalanya yang tertunduk itu membuat kedua matanya melihat pemandangan indah dari kerlap-kerlip cahaya lampu kendaraan yang berbaris rapi di bawah sana memadati kemacetan kota Jakarta.
"Wah, cantik banget," kagum Weva.
Ken diam tak menanggapi.
"Ken lihat, deh!" pinta Ken sambil menunjuk membuat Ken ikut menunduk.
Kedua mata Ken membulat menatap pemandangan dari atas ketinggian itu. Mendadak kepalanya pusing disusul perutnya yang terasa mulas.
Ken menutup mulutnya sambil tangan yang satunya menyentuh permukaan perutnya yang begitu tak nyaman. Rasanya ada yang bergerak di dalam sana membuatnya ingin muntah.
"Ken! Ken kenapa?"
"Gue-gue nggak tahan, Wev!"
"Nggak tahan?" tanya Weva tidak mengerti.
...****************...
Weva terdiam dengan wajah datarnya sembari memijit bagian belakang leher ken yang kini sedang memuntahkan isi perutnya di sebuah tong sampah.
Andai saja Weva tahu kalau Ken takut ketinggian dan akan pusing setelah melihat ketinggian mungkin ia tak akan naik wahana itu. Ini kesalahan kedua bagi Weva.
Dan lihat sekarang! Ken begitu menyedihkan.
Ken mendudukkan dirinya di kursi sementara Weva berlari pergi untuk membeli sebotol air mineral dari salah satu pedagang dan setelahnya ia kembali menghampiri Ken yang nampak memijat belakang lehernya.
"Ken, ini minum dulu!"
Ken mendongak menatap Weva yang begitu khawatir menatapnya. Dari sini Weva bisa melihat kedua mata Ken yang terlihat memerah.
__ADS_1
Ken meneguk salivanya yang terasa pahit. Rasanya ia ingin kembali muntah, namun dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk menahannya.
Ken mengerakkan tangannya berniat untuk meraih botol itu, tapi tangannya terasa lemas.
"Gue nggak bisa."
Mendengar hal itu dengan sigap Weva duduk di samping Ken. Ia membuka penutup botol itu dengan susah payah.
"Ayo minum!"
Ken melirik menatap Weva yang menggerakkan botol itu mendekati bibirnya. Ken hanya mampu menurut, ia membuka bibirnya serta tangannya yang ikut mendorong botol membuat tangannya berhasil menyentuh punggung tangan Weva yang spontan menatap ke arah tangan Ken.
Weva tak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat Ken menyentuh tangannya. Ia mengerakkan matanya menatap Ken yang sedang meneguk air dari botol yang masih Weva pegang.
Ia menatap serius setiap inci wajah Ken yang terlihat tampan walau hanya dipapari cahaya lampu para pedangan yang masih sibuk berjualan.
Ken melirik membuat Weva dengan cepat mengalihkan pandanganya dan melepas tangannya dari botol itu membuat botol itu nyaris jatuh, namun dengan cepat Weva menangkapnya.
"Sorry."
Ken mengangguk kaku. Ia juga tidak mengerti dengan perasaanya.
"Masih mau minum?"
Ken menggeleng.
"Nggak," bisiknya.
Kini keduanya mendadak diam. Tak ada lagi diantara mereka yang bicara.
Sementara Weva hanya mampu menatap ke arah pasar malam, menatap satu persatu wahana yang ada. Weva sesekali tertawa ketika melihat para pengunjung yang terlihat begitu bahagia saat menaiki wahana.
Pandagan Weva kini berpusat pada sebuah keluarga kecil yang sedang menikmati pasar malam. Seorang ibu dan ayah sedang asik meneriaki anaknya yang tengah menaiki kuda putar bersama dengan anak sebayanya.
Tak berselang lama anak perempuan itu melangkah turun dan berlari menghampiri ayah dan ibunya dengan sebuah pelukan hangat.
Weva tersenyum. Suara tawa anak kecil itu membuat Weva juga ikut merasakan kebahagian mereka. Weva mendadak diam, ia tertunduk dengan wajah cemberut.
"Lo kenapa?"
Weva menggeleng.
"Terus?"
Weva melirik.
"Weva cuman ingat Mommy sama Papi. Andai aja masa kecil Weva kayak anak kecil itu, mungkin Weva akan bahagia."
"Jujur Weva nggak pernah datang ke pasar malam. Weva selalu nggak dibolehin."
"Kenapa?"
Weva menghembuskan nafas panjang.
"Karena Mommy sama Papi sibuk, jadi nggak sempet ke pasar malam. Jangankan buat ke pasar malam, makan sama-sama aja itu jarang banget bahkan bisa Weva hitung."
__ADS_1
"Beda sama Ken."
Ken menoleh melihat Weva yang menatapnya.
"Ken pasti enak sering diajak ke pasar malam, iya, kan? Soalnya Ken itu pasti disayang sama Mama Laila."
Ken tersenyum tipis.
"Nggak juga. Emang, sih gue sering ke pasar malam, tapi lo nggak tau aja gimana ribetnya jadi gue."
"Ribet?"
"Iya ribet. Gue kalau dibawah ke pasar malam harus pakai jaket dua lapis, kaos kaki tebal, topi yang nutup telinga dan pakai kaos tangan, persis kayak anak yang mau main es."
"Itu ribet banget. Belum lagi kalau mau main kuda putar, pasti nggak dibolehin."
"Loh? Kenapa?"
"Mama takut gue jatuh lah, takut ada mesinnya yang rusak terus buat gue kesetrum lah dan masih banyak lagi alasannya."
"Jadi? Ken nggak pernah naik?"
"Naik, tapi cuman sekali dan setelah itu nggak pernah lagi."
"Kenapa? Nggak seru, ya?"
"Seru, sih tapi bikin malu."
"Malu kenapa?"
"Gimana nggak malu coba kalau Mama sama Bapak ikut naik kuda putar. Anak-anak yang lain pada ngetawain, belum lagi kalau Mama sama Bapak sampai gantian nyuapin pakai nasi yang dibawah dari rumah."
Weva melepaskan tawanya setelah mendengar cerita tentang masa kecil Ken yang menurutnya begitu sangat lucu.
"Lo, kok ketawa, sih?" tanya Ken yang juga ikut tertawa.
"Ken juga ketawa, tapi lucu, sih Mama Laila sama pak Ahmad yang ikut naik kuda putar, hahahaha."
"Yah, gue tau, mungkin kalau ada lomba orang tua yang sayang banget sama anaknya, pasti orang tua gue masuk nominasi."
Ken mematung. Ia begitu serius menatap Weva yang masih tersenyum lepas seakan tak ada beban yang ia tahan di pundaknya.
Ken tak boleh seperti ini. Ia tak mungkin membiarkan Weva hanya duduk diam dan melihat orang-orang berlalu lalang seperti yang dilakuan sekarang ini.
Weva mendongak saat seseorang mengenggam pergelangan tangannya.
"Ken?"
"Lo mau jalan-jalan, kan?"
Ken menatap jarum jam pada jam tangannya.
"Kita masih punya banyak waktu, ayo!"
Weva bangkit dari kursi saat Ken menariknya dan menuntunnya melangkah sembari memegang pergelangan tangan Weva.
__ADS_1