Princess Endut

Princess Endut
21. Besar


__ADS_3

Jam di dinding kamar Weva kini telah menunjukkan pukul 5:40 pagi. Hawa dingin pemberian sang pencipta begitu sangat sejuk dengan udara yang terasa segar memasuki dikedua lubang hidung Weva ketika sesekali Weva menarik hembuskan nafas di depan jendela kamarnya yang baru saja ia buka pagi ini.


Weva nampak-nya telah siap untuk berangkat ke sekolah, yah, lihat saja seragam Weva yang sudah melekat di tubuh gendutnya sepagi ini. Yap, dimana sekolah masih dalam keadaan yang sunyi dan sepi Weva sudah siap dengan seragam sekolahnya.


Sejujurnya ini semua ia lakukan agar tak ada yang melihatnya datang ke sekolah. Rasanya berjalan yang diiringi dengan tatapan siswa dan siswi itu cukup mendebarkan ditambah lagi jika semuanya mulai membully Weva habis-habisan dan tampah ampun. Huh, rasanya itu sakit sekali, iya rasanya sangat sakit! Sesakit ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Apa ini salah?


    


"Selamat pagi dunia," ujarnya dengan raut wajah yang begitu bahagia ketika ia sudah berada di depan jendela kamarnya.


Weva menarik nafas dalam-dalam dan menghirup udara segar membuatnya berhasil memejamkan kedua matanya. Weva kembali membuka kedua matanya membuat pandangannya berhasil menatap pemandangan indah taman bunga.


"Selamat pagi para pembully. Sudah siap membully hari ini?" tanya Weva lagi lalu setelahnya senyum sinis-nya terlihat jelas menggambarkan rasa bencinya pada orang-orang yang selalu saja membully-nya tanpa henti tanpa memperdulikan perasaan Weva.


Weva beralih menatap tubuhnya di permukaan cermin besar yang berada tak jauh dari meja riasnya.  


Weva tersenyum sembari menatap serius tubuh gendutnya yang semakin hari semakin besar saja. Kapan ada perubahan?


Oh tuhan mengapa ada tubuh selebar ini?


Weva mengangkat kedua tangannya lebih melebar ke kedua sisi membuatnya menatap miris pada tubuh gendutnya. Weva melongo membuat kedua bibirnya terbuka lebar menatap tak menyangka pada tubuhnya. Dengan cepat ia menurungkan kedua tangannya dan memeluk tubuhnya dengan wajah kaget.


"Gila!"


"Makin hari makin gendut aja ini badan Weva."


"Makin hari makin kayak sumo."


"Bener kata-kata orang, badan Weva kayak lapangan bola yang ada di sekolah."


"Truk berlemak!"


"Pipi bakpao!"

__ADS_1


"Hah!"


Weva menghela nafas berat dengan tatapannya yang masih sibuk merabah setiap sisi tubuh-nya. Ia mengusap wajahnya dengan perasaan lelahnya dan menyentuh kedua pipinya.


"Bisa langsing nggak, ya?"


Weva tertunduk seraya jari-jarinya yang menggenggam lipatan Lemak perutnya yang berlipat-lipat itu.


Apa ini, Tuhan?


Ini bukan perut!


"Gendut banget!" ujarnya sedih dengan suara yang terdengar menangis seakan begitu miris meratapi tubuhnya sendiri.


Weva menarik nafas panjang dari ujung bibirnya dan menahan udara itu di kedua pipinya yang kini mengembung. Weva menarik udara lagi lalu berusaha meniruskan kedua pipinya membuat ujung bibirnya mengerucut. Ia menggerakkan wajahnya kiri dan kanan lalu menatap wajahnya dan perutnya yang berusaha ia kecilkan.


"Hah!"


"Nggak bisa langsing tubuh Weva kalau kayak gini, hah!"


Weva kembali cemberut lalu segera melangkah menjauhi cermin. Langkah Weva kembali terhenti, ia melangkah mundur dan kembali menatap tubuhnya dengan pandangan serius.


"Hah, mengerikan sekali."


"Non Weva."


Suara seseorang terdengar membuat Weva menoleh menatap Mbok Rosi yang kini sedang berdiri di pintu kamarnya.


"Kenapa, Mbok?"


"Kata Pak Walio mobilnya sudah siap. Mau diantar sekarang atau kapan, Non?"


"Tunggu tiga menit lagi!" pinta Weva membuat Mbok Rosi mengangguk.

__ADS_1


Ia melangkah masuk ke dalam kamar dan meraih tas Weva yang bermerek itu setelah sejak subuh tadi ia telah menyiapkan peralatan sekolah dan buku-buku yang Weva butuhkan hari ini.


"Saya pamit dulu, Non."


Weva mengangguk membuat Mbok Rosi melangkah pergi meninggalkan Weva yang kini kembali menatap permukaan tubuhnya di balik pantulan cermin. Weva melangkah pergi menuju masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai satu.


Pasrah! Weva pasrah dengan hal ini mungkin, memiliki tubuh gendut sudah menjadi takdir nya. 


Tuhan, apakah seperti ini takdir yang akan ia hadapi sepanjang hidupnya. Takdir apa ini? Begitu pahit hidupnya jika terus seperti ini.


Weva melangkah keluar dari pintu lift lalu melangkah menuju meja makan yang telah di siapkan dengan hidangan sarapan pagi.


"Semuanya sudah siap, Non," ujar chef Dino yang kini berdiri dan sedikit menundukkan tubuhnya ke arah Weva yang nampak melangkah melintasinya.


Weva duduk di kursi setelah pelayan pria bernama Pak Anwar menarik kursi dan mempersilahkan Weva untuk duduk di kursi makan.


Weva duduk dengan susah payah di atas kursi dengan dadanya yang naik turun karena sesak nafas. Tak berselang lama tatapan Weva kini merambah ke segala arah menatap makanan yang ada di atas meja.


Yap, seperti biasa nasi goreng dengan telur empat biji yang digoreng dengan bawang serta wangi yang begitu sangat menggugah selera.


Weva tersenyum sejenak saat Chef Jaimah mengusap sendok dan garpu dengan tisue lalu menjulurkannya pada Weva yang dengan cepat meraihnya.


Weva tak menunggu waktu lama membuatnya segera menyantap nasi goreng yang begitu sangat nikmat. Di sela-sela Weva makan salah satu pelayan menuangkan air ke gelas kaca dan kembali melangkah mundur menjauhi Weva.


Weva menghentikan gerakan tangannya yang menyuapi mulutnya itu ketika ia sadar dengan sesuatu. Weva menoleh menatap tempat duduk yang terlihat kosong, hanya ada Weva di sini.


Sudah sering Weva berada di posisi seperti ini seperti sunyi dan sepi saat makan di meja makan. Tak pernah lengkap anggota keluarga ini saat makan.


Dady-nya masih berada di Australia dan bahkan Weva mendapat kabar jika Dady-nya akan kembali pergi ke Arab untuk mengurus bisnisnya.


Mommy-nya juga sibuk setelah berhari-hari berada di Korea sementara Wevo juga sibuk dengan kuliahnya. Bahkan pagi ini Wevo sudah berada di belakang rumah untuk berolahraga.


Weva menghela nafas berat. Seburuk ini kah nasibnya?

__ADS_1


__ADS_2