Princess Endut

Princess Endut
62. Teriak, Weva!


__ADS_3

Tubuh Wiwi dan Weva nampak mengintip di sudut ujung bangunan sekolah menatap Ken yang kini tengah duduk sendiri di sebuah kursi panjang yang berada di taman sekolah.


Ternyata di sini Ken berada. Weva dan Wiwi sudah mencari pria pembully ini sudah sejak tadi bahkan di anakan tangga pun tak ada hingga memutuskan mereka untuk datang ke tempat ini.


Weva yang nampak pucat itu langsung menyentuh dadanya hingga merasakan jantungnya berdetak sangat cepat dan ini semua karena hanya menatap Ken dari kejauhan.  


Dari sini Weva dan Wiwi bisa melihat sosok Ken yang nampak berbaringkan di permukaan kursi panjang yang ada di taman belakang sekolah sembari menikmati alunan musik rock dari handset hitam yang terpasang di kedua telinganya.


Ken terlihat menutup wajahnya dengan topi biru dan memejamkan kedua matanya. Yah, hari ini ia berusaha untuk menenangkan dirinya dan memilih untuk menjauh dari teman-temannya terutama Kevin dan Roy.


"Lo liat Ken, kan?" bisik Wiwi membuat Weva tersentak kaget.


Weva mengangguk.


"Nah, jadi sekarang ini waktu yang tepat," bisik Wiwi lagi persis seperti pencuri yang tengah memantau.


Weva mengernyit bingung.


"Waktu apa?" tanya Weva yang sudah nampak takut.


Wiwi mengigit bibirnya dengan urat lehernya yang sudah menegang. Wiwi membentuk cakar pada jari-jari tangannya seakan siap untuk mencakar wajah Weva di detik ini juga. 


"Wev! Wev! Wev!" gerutuh Wiwi kesal.


Weva hanya terdiam. Apa ia salah lagi?


"Ah, sumpah, deh bisa-bisanya gue punya temen rengking satu dari SD sampai sekarang, tapi kalau masalah kayak ginian  otaknya lalot kayak udang."


"Weva bukan udang," bela Weva.


"Iya, gue tahu, tapi otak lo yang kayak udang!" Tunjuk Wiwi kesal sambil menunjuk dahi Weva yang langsung dibuat cemberut.


 


"Lo bilang sama dia! Masa lo lupa, sih sama tujuan kita nyariin ken?"


Weva memasang wajah panik. Yap, ujaran Wiwi sekarang bukan lah bisikan, tapi suaranya yang sudah agak mengeras. Weva menoleh menatap Ken, Weva takut kalau Ken melihat mereka di sini. Weva benar-benar takut jika Ken mendengar ujaran Wiwi yang tak terkontrol lagi.


"Sekarang lo bilang sama dia! Cepetan keburu masuk!" pintah Wiwi sembari mendorong tubuh gendut Weva hingga Weva melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.  


"Sana!" bisik Wiwi sembari menggerakkan tangannya dan kembali bersembunyi.  


Weva menelan ludah dengan detakan jantung yang memompa darahnya sangat cepat. Nafas Weva sekarang sudah tak beraturan lagi ketika jarak langkah Weva yang penuh hati-hati itu semakin dekat dengan Ken yang masih berbaring di sana.


Weva sesekali menoleh menatap Wiwi yang masih memantaunya dari kejauhan.

__ADS_1


"Cepetan!" bisiknya.


Weva meneguk salivanya dengan bibir yang bergetar tak karuan. Ini adalah sebuah keterpaksaan yang benar-benar menyiksanya.


Tuhan tolong selamatkan Weva!


Langkah Weva terhenti ketika sudah berada di samping Ken yang masih terbaring dengan wajahnya yang tertutup topi.


Weva menoleh menatap Wiwi yang nampak masih setia menatap Weva dari kejauhan. Wiwi mengangguk seakan meyakinkan Weva jika semuanya akan baik-baik saja.


Weva menarik nafas dan menghembuskannya pelan lewat ujung bibirnya. Ia kembali menatap Ken.


"Ke-ke-Ken!" panggil Weva.


"Yes!" bisik Wiwi, akhirnya gadis gendut itu bicara juga.


"Ke-ken!" panggil Weva lagi.


Tak ada jawaban.


Weva kembali menoleh menatap Wiwi yang nampak mengangguk seakan berusaha untuk menyakinkan Weva jika ini akan baik-baik saja.


Weva kembali menatap Ken yang masih terbaring. Weva menghembuskan nafas yang tak beraturan itu bahkan disaat ini Weva mampu merasakan jika jantungnya ingin meledak.


"We-we-weva ma-mau ngomong sama Ken."


Weva melipat bibirnya sambil mengusap keringat yang membasahi keningnya.


"Weva mau ngomong sesuatu yang menurut Weva sangat penting, yah, walaupun Weva ragu buat ngomong, tapi ini penting banget."


Weva tertunduk malu lalu meremas jari-jarinya yang juga ikut berkeringat. Rasanya ia belum bisa mengatur detak jantungnya agar tidak seperti ini, ini sungguh tak nyaman. Berbicara dengan detak jantung yang berdetak sangat cepat itu sungguh melelahkan.


Bukan hanya itu, tapi kedua kakinya juga terasa lemas dan ikut bergetar karena tak tahan.


"Weva, Weva sebenarnya nggak mau ngomong, tapi Weva butuh bantuan Ken."


"Weva butuh banget bantuan Ken."


"Ken mau nggak bantuin Weva bu-buat nurungin berat badan Weva yang gendut ini?"


Weva memejamkan kedua matanya setelah kalimat pertanyaan itu terlontar dari bibirnya. Rasanya ia takut untuk melihat respon Ken yang akan terjadi setelah mendengar hal ini. Beberapa detik kemudian Weva kembali membuka mata dan menatap aneh pada Ken yang terlihat diam di atas bangku panjang dengan topi yang masih menutupi wajahnya. Tak ada respon dari Ken.


Weva menghembuskan nafas kesal lalu kembali menatap Wiwi yang nampak tersenyum memberi semangat.


Weva mendengus kesal. Ia kembali menatap Ken yang sama sekali tak merespon perkataanya. Ini bukan saatnya untuk mengeluh Weva! Ayo semangat!

__ADS_1


"Weva pernah liat Ken di tempat gym dan We-weva pikir Ken tahu cara nurunin berat badan Weva."


"Ken mau, kan bantuin Weva?"


"Weva berharap banyak sama Ken soalnya Weva nggak tahu lagi harus minta bantuan sama siapa selain Ken."


Weva terdiam menatap nanar pada Ken yang sama sekali tak merespon perkataanya. Hah, pria pembully ini sepertinya tuli.


Weva menoleh menatap Wiwi yang masih mengintip di sana.


"Gimana, dong?" tanya Weva tanpa mengeluarkan suaranya.


"Teriak!" bisik Wiwi yang juga berusaha tak mengeluarkan suaranya.


"Aa?" Tatapannya tak mengerti.


"Teriak, Weva!"


"Wiwi ngomong apa?"


Wiwi mengerang kesal lalu dengan emosinya melompat dan memukul permukaan dinding bangunan sekolah. Tolong lah Weva! Tolong mengerti dengan apa yang Wiwi katakan.


"Lo teriak! Pegang si Ken!"


"Aa?"


"Pegang si Ken!"


Weva diam dengan bibirnya yang terlihat menganga.


"Masa gitu aja lo nggak ngerti sih, Wev?"


"Teriak, dong!" bisiknya lagi dengan kedua matanya yang melotot nyaris keluar dari tempatnya.


"Aa?" tanya Weva membuat Wiwi terdiam dengan wajah datar.


Wiwi memukul dahinya sendiri lalu dengan kesalnya melompat dan dengan gerakkan tubuhnya seakan-akan berniat untuk mengguncang dinding dengan kedua tangannya.


Gila, benar-benar gila. Rasanya Wiwi ingin mencekik leher gadis gendut itu.


Apa boleh Wiwi mendekati Weva di detik ini juga? Rasanya Wiwi ingin berlari menghampiri Weva dan berteriak di hadapannya sambil mencekik leher gadis gendut itu agar dia bisa mengerti dengan apa yang sejak tadi ingin Wiwi sampaikan.


"Teriak, Weva!" suruh Wiwi.


"Ngapain kamu di situ?" tanya seseorang yang berdiri di belakang Wiwi.

__ADS_1


__ADS_2