
"Kok berhenti?"
Ken menaikkan kaca helmnya lalu menatap Weva yang masih terdiam menanti jawaban.
"Heh, gendut! Gue tanya dari tadi. Lo mau kemana? Ditanya malah diem."
"Apaan, sih, Ken? Marah-marah melulu. Bisa nggak, sih khusus hari ini nggak usah marah-marah."
"Nggak ada. Gue nggak bisa berhenti marah-marah kalau berurusan sama lo."
Weva melirik sinis.
"Udah, sekarang kita kemana?"
"Terserah," jawabnya sederhana, namun membuat Ken menggaruk leher yang tak gatal.
Ken kembali menurunkan kaca helmnya dan mendesis kesal. Jujur saja ia menyesal telah bertanya dan mendapatkan jawaban yang perlu untuk dipertanyakan lagi.
Motor Ken kembali melaju dengan kecepatan sedang membiarkan angin berhembus menerpa keduanya.
Tak berselang lama, Ken kembali menghentikan motornya dan memarkirnya di depan sebuah super market yang terlihat ramai pengunjung.
Ken melangkah turun membuat Weva ikut melangkah turun dari jok motor membiarkan tangannya masih memeluk pinggang Ken dengan erat.
Ken yang sedang melepas helmnya itu dibuat tertunduk menatap tangan Weva yang masih memeluknya dari belakang.
"Heh!" tegur Ken yang dengan cepat melepas pegangan tangan Weva.
"Erat banget, sih?"
"Kan Ken sendiri yang nyuruh, Weva. kok, Ken marah?"
"Yah nggak gini juga, dong."
Weva mendecakkan bibirnya dengan wajah cemberut. Kali ini ia kembali mendapatkan ocehan dari Ken. Sepertinya Ken memang suka marah-marah.
Weva menggerakkan bola matanya menatap ke sekeliling dimana ia telah berada di tempat parkiran.
"Ken kita-"
Weva yang berniat untuk menanyakan mengapa mereka ada di sini dengan kaget menatap Ken yang sudah melangkah jauh darinya.
"Loh? Ken mau kemana?"
Tak ada jawaban dari Ken. Pria menyebalkan itu tetap melangkah pergi tanpa memperdulikannya.
Weva menghela nafas berat dan beralih untuk menopang pinggangnya.
"Emang, ya dasar. Pergi nggak bilang-bilang."
Weva yang masih meluapkan kekesalannya itu mendadak diam dan beralih untuk menatap beberapa orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.
"Ken! Tunggu !!!" teriak Weva.
...****************...
Keduanya melangkah bersama, namun dengan jarak yang sedikit berjauhan dimana Ken berada di depan dan Weva yang berada di belakang mengikuti Ken persis seperti ekor.
__ADS_1
Ken berjalan santai menatap barang-barang yang terpajang sementara Weva yang berada di belakang sana nampak kebigungan.
Weva sudah beberapa kali menanyakan mengapa mereka datang ke tempat ini tapi Ken hanya menyuruhnya diam.
"Ken!" panggil Weva, ini yang sudah kesekian kalinya.
Ken menoleh menatap Weva yang kini berbisik.
"Kita ngapain ke sini?"
"Hust! Bisa diam nggak, sih?" Tegur Ken meletakkan jari telunjuknya di depan bibir menyuruh Weva untuk diam.
Weva menurut dan menyimpan semua pertanyaannya dalam-dalam yang sejak tadi menjadi beban baginya. Tak berselang lama Ken menghentikan langkahnya dan memutuskan untuk duduk di lantai supermarket yang dingin.
Weva menghentikan langkahnya menatap aneh pada Ken yang kini duduk dengan santainya seakan ia berada di pinggir pantai.
"Heh, ngapain lo di situ? Sini Lo!" panggil Ken.
"Buat apa?"
"Sini! Cepetan!"
Weva menoleh kiri dan kanan berusaha untuk memastikan jika tak ada orang yang sedang melihat mereka. Weva melangkah mendekati Ken membuatnya menunduk.
"Kok, Ken duduk di sini?"
"Hust!" pintanya menyuruh Weva diam lalu menarik pergelangan tangan Weva menyuruhnya untuk duduk.
Weva yang sudah duduk di samping Ken itu kembali menoleh ke sekelilingnya lalu kembali menatap Ken.
"Kita ngapain duduk di sini?"
Weva mengira jika Ken masuk ke dalam supermarket ini karena ingin membeli sesuatu tapi ternyata Ken hanya numpang adem saja.
Weva kembali menoleh dengan wajah gelisah sambil meremas jemari tangannya. Ia menatap Ken yang terlihat santai seakan tenang-temang saja.
"Ken! Keluar aja, yuk! Nanti ada yang liat."
"Emang kenapa kalau ada yang liat?"
"Nanti kita disangka maling," bisiknya sambil terus memantau ke segala arah.
"Maling apaan, sih maksud lo? Kita, kan cuman numpang adem, bukannya mau nyuri."
"Itu, kan menurut kita, kalau menurut mereka, ya beda lagi."
Ken tak menghiraukan ujaran Weva. Ken hanya memasang wajah tak peduli lalu merogoh handphone dari saku jaketnya.
Ken tersenyum menatap ke arah kamera handphone yang ia arahkan pada wajahnya dengan rak di belakangnya yang berisi berbagai snack yang dipajang.
"Weva!"
Weva yang asik memantau situasi langsung menoleh menatap ke arah kamera.
Cekrek!!!
Kedua mata Weva membulat saat Ken berhasil memotret dirinya membuat Ken tertawa.
__ADS_1
"Serius banget, sih lo. Tuh, muka lo kayak orang yang ketangkap nyolong sendal tau nggak."
Weva menutup mulutnya tak menyangka setelah melihat hasil potretan Ken. Di layar handphone milik Ken, Weva bisa melihat wajah Ken yang terlihat tersenyum tipis membuat wajahnya semakin tampan sedangkan Weva yang ada di belakangnya persis seperti bocah ingusan yang tertangkap mencuri.
Rasanya Weva ingin menangis. Jelek sekali wajah Weva di foto itu.
"Ih, jelek banget. Itu nggak adil!" protes Weva yang menggerakkan tangannya untuk meraih handphone milik Ken, namun dengan cepat Ken menjauhkannya.
"Nggak adil apanya?"
"Weva jelek di situ! Hapus cepetan fotonya!"
"Nggak, enak aja."
"Masalahnya Ken nggak ngasih tau Weva kalau mau ajak foto. Ken langsung foto padahal, kan Weva belum siap. Cepetan hapus!"
"Nggak enak aja. Ini handphone gue, suka-suka gue, dong."
"Tapi, kan ini nggak adil! Ken nggak ngasih tau Weva dulu kalau mau foto."
"Harusnya itu Ken ngasih tau Weva kalau Ken mau ngajak foto biar Weva bisa senyum. Nah, yang Ken lakuin apa tadi?"
"Foto nggak bilang-bilang. Mana nggak pakai kamera efek Instagram lagi fotonya. Kan Weva jadi jelek di situ," oceh Weva membuat Ken melongo.
"Udah? Udah ngomongnya?" ujar Ken yang kini mulai bicara setelah sejak tadi diam membiarkan Weva mengoceh panjang.
"Nih, lagian gue ok, ok aja, tuh."
Weva menatap ke arah layar handphone yang Ken perlihatkan. Dari sini Weva bisa melihat wajah Ken yang begitu tampan dan rasanya ia ingin menangis sambil berguling setelah melihat wajahnya pada layar handphone.
Tuhan, jelek sekali wajah Weva di foto itu. Weva yang tak tahan itu menggerakkan tangannya berniat kembali merampas handphone milik Ken, namun Ken kembali menjauhkannya.
"Nggak bisa, weeeee!!!"
Ken mengejek. Ia menjulurkan lidahnya lalu bangkit dari lantai meninggalkan Weva yang kini mematung.
Weva menyentuh kedua pipinya yang terasa memanas. Bagaimana jika Ken menyebar luaskan fotonya yang jelek itu pada orang-orang? Weva membuang kasar udara dari mulutnya, ini akan sangat memalukan.
"Ken tunggu!!!"
Weva berlari mengejar Ken yang sudah melangkah keluar dari supermarket membuat beberapa pengunjung menatap ke arahnya.
"Ken!"
Ken yang sedang memasang helm ke kepalanya itu melirik tajam.
"Tolong, dong hapus fotonya, yah!"
"Nggak, nih ambil!"
Weva tersentak setelah ia menangkap helm yang langsung di lempar oleh Ken ke pelukannya. Weva kini diam menatap Ken yang menyalakan mesin motornya membuat asap hitam keluar dari knalpot.
"Cepetan, naik!"
"Tapi Ken foto-"
"Naik atau gue tinggal!" ancam Ken membuat Weva bungkam.
__ADS_1
Nyalinya menciut menjadi kecil seperti upil. Tuhan, pria ini sangat menyebalkan.