
Pasar Malam
Ken menghentikan motornya tepat di depan sebuah keramaian yang membuat Weva terbelalak kagum sekaligus tersirat rasa bingung. Bagaimana bisa ada orang seramai ini?
Weva menoleh ke segala arah membuatnya kini tahu sedang dimana ia sekarang.
Sebuah pasar malam yang begitu sangat ramai oleh orang-orang dari berbagai kalangan yang datang berbondong-bondong.
Dimana di pasar malam ini ada banyak jenis makanan, pakaian, dan barang-barang lain yang diperjual belikan di tempat ini. Bukan hanya itu saja, tapi yang lebih membuat Weva menatap suasana pasar malam dengan antusias adalah beberapa permainan yang tersedia seperti kincir angin atau bianglala, tong setan, rumah hantu, lempar bola dan masih banyak lagi permainan yang tersedia.
"Kita jalan-jalannya di sini?" tanya Weva tanpa melihat Ken.
"Iya. Emang kenapa? Lo nggak suka pasar malam?"
"Weva suka," jawab Weva begitu kegirangan sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya persis seperti anak kecil. Ini tingkat kebahagiaan yang paling tinggi.
Ken tersenyum simpul melihat kedua mata Weva yang terlihat berbinar dengan senyum yang tak pernah hilang dari bibirnya.
Ken meletakkan helm ke atas jok motornya lalu merapikan rambutnya yang terlihat acak-acakan sambil menatap wajahnya di permukaan kaca spion motor vespanya.
Ken menoleh berniat untuk menyuruh Weva melepas helmnya, namun begitu terkejutnya Ken ketika melihat Weva yang sudah lenyap di sampingnya. Tak ada Weva!
Tatapan Ken langsung merambah ke seluruh area parkiran pasar malam dengan matanya yang menyipit berusaha untuk mencari sosok Weva yang seingatnya tadi masih ada, tapi sekarang ia sudah hilang entah kemana.
Rasanya ia begitu sangat khawatir ketidak adanya Weva di tempat yang begitu ramai ini. Ken diam sejenak. Bagaimana jika ada Weva hilang di pasar?
Ken menoleh kiri dan kanan ia melangkah menuju area pasar malam. Mungkin saja Weva sudah berlari ke kerumunan.
Ken menghentikan langkahnya. Ia melangkah mundur menjauhi barongsai yang sedang menunjukkan atraksi membuat para pengunjung tersenyum.
Ken menopang pinggang. Musik barongsai itu cukup menggangu konsentratnya untuk mencari Weva membuatnya berlari menjauh.
Sekarang ia tak tahu harus kemana. Ken masih terdiam. Matanya masih setia menatap ke segala arah berusaha untuk mencari Weva.
Bagaimana bisa ia menemukan sosok Weva dikerumunan seperti ini. Semakin lama pasar malam ini semakin ramai pengunjung.
"Weva!!!" teriak Ken ketika melihat Weva yang berlari membelah kerumunan dengan tas hellokitty di punggungnya.
__ADS_1
Ken mendengus kesal. Itu dia gadis menyusahkan yang telah berhasil membuatnya pusing.
Ken berlari mengejar Weva yang kini lenyap dari pandangan Ken. Setelah Ken ikut membelah kerumunan, ia jadi kehilangan jejak Weva. Orang-orang yang berlalu lalang itu membuat pandangan Ken terhalang.
"Weva!!!"
Ken memutar tubuhnya menatap satu persatu orang-orang yang berada di sekitarnya.
"Weva!!!"
Ken meneguk salivanya. Jantungnya berdetak sangat cepat. Ia jadi takut jika keadaan seperti ini. Suasana berisik musik dangdut, suara tawa anak-anak, music pop dan sebagainya ditambah lagi suara kerumunan orang-orang yang berjualan mejajakan jualannya membuat Ken semakin gelisah.
Suara berisik ini begitu membuatnya pusing.
"Lo dimana sih, Wev?"
"Lo dimana sekarang?"
"Tapi, Weva mau bonekanya."
Ken menoleh cepat ketika suara yang tak asing lagi di telinganya terdengar samar-samar. Ken mendecakkan bibirnya kesal sembari menggeleng menatap Weva yang tengah menarik sebuah boneka panda dari tangan salah satu gadis yang juga terlihat kesal.
Ken berlari menghampiri Weva dan menariknya agar menjauh dari gadis yang nampaknya memiliki masalah dengan Weva.
Weva tak membalas ujaran Ken melaingkan ia melangkah maju dan menarik kepala boneka panda membuat gadis itu berteriak.
Ken yang terbelalak itu dengan cepat menarik Weva agar melepas tarikannya pada kepala boneka panda itu.
"Lepas, Wev!"
"Nggak, Weva nggak mau!" ujarnya dengan wajah yang setengah menangis.
"Lepas! Itu boneka aku!"
"Nggak, Weva nggak mau!"
"Wev!" bisik Ken penuh hati-hati.
"Lo lepas aja bonekanya!"
__ADS_1
Weva melirik tajam.
"Nggak! Weva nggak mau. Weva suka bonekanya, Ken."
"Oi gendut! Lepas, dong! itu, kan boneka pacar saya," sahut pria yang berdiri di belakang gadis yang masih mempertahankan boneka panda di gengamannya.
Ken seketika melirik tajam menatap ke arah pria yang baru saja memaki Weva.
"Heh! Lo ngomong apa tadi? Gendut? Hah?"
"Iya, emang kenapa?" tanya pria itu menantang.
Ken melangkah melintas dan berdiri di depan Weva yang langsung mendadak diam. Tuhan, apa yang akan terjadi. Entah mengapa ia merasa jika ada hal yang buruk akan terjadi.
"Eh, berani lo ngomong gendut di depan gue, gue pecahin bibir lo!" ancam Ken sambil menunjuk pria itu.
"Yah, emang pacar kamu gendut, kan."
"Heh! Lo bilang gendut lagi? Arrrh berani lo, ya sama gue," kesal Ken dengan nada tingginya lalu ia melangkah maju sambil membuka jaket yang ia kenakan berniat untuk memukul pria yang bertubuh kurus itu.
Kedua mata pria itu membulat. Ia menatap tangan Ken dan otot Ken yang nampaknya begitu kuat. Bagaimana tubuhnya tidak bagus jika Ken adalah pemilik GYM.
Pria itu meneguk salivanya. Dari wajahnya saja sudah jelas jika pria itu sedang takut apalagi setelah melihat tubuh Ken.
"Pegang ini!" pinta Ken yang langsung melempar jaketnya ke belakang dan tepat jatuh menutupi wajah Weva.
Pria itu melangkah mundur dengan tatapannya yang menatap pria setengah baya yang merupakan pemilik permainan lempar gelang berharap mendapat pertolongan.
Pria setengah baya itu pura-pura tak melihat. Ia meraih kaca mata hitam dari saku bajunya lalu memakainya kemudian meraih tongkat dan melangkah pergi seperti orang buta.
"Sini lo!!!" tarik Ken pada ke arah baju pria kurus itu membuat gadis yang masih memegang boneka panda itu berlari untuk menyelamatkan sang pacar.
Weva menurunkan jaket itu dari wajahnya. Ia merintih melihat kejadian itu membuatnya mengigit jaket Ken dengan kuat. Weva hanya mampu terdiam di tempatnya berdiri dan....
"Pukul! Pukul! Pukul!!!" teriak Weva sembari melompat-lompat kegirangan dan bertepuk tangan persis seperti anak kecil yang tengah menonton perkelahian seekor semut.
Ken mengeryit bingung setelah mendengar suara teriakan Weva. Ia menoleh menatap Weva dengan tatapan keherangannya. Bagaimana bisa Weva mendukungnya untuk berkelahi. Ini perkelahian, sekali lagi! Ini perkelahian bukan tiup lilin di acara ulang tahun anak kecil.
Bruak!!!
__ADS_1
Tubuh Ken terhempas ke tanah ketika pria kurus itu melayangkan sebuah tinjunya ke permukaan pipi Ken yang mulus membuat Weva berhenti melompat dan berteriak.
Seketika suasana menjadi sunyi, di detik ini juga tak ada suara yang terdengar baik itu suara para pengunjung maupun suara pedagang. Mereka semua mendadak diam.