
"Ke tempat gym."
...****************...
Weva terdiam menatap ke sekeliling ketika ia kini telah berada di tempat gym milik Ken dimana saat ini ada begitu banyak orang di sini.
Di tempat gym ini ada begitu banyak alat yang tersedia seperti treadmill, rowing machine, smith machine, cable machine, squat rack dan masih banyak lagi.
Weva mengkerutkan dahinya menatap heran pada segerombolan gadis yang tengah berbisik dan tersenyum dengan wajah kagum seakan melihat sesuatu yang sangat mereka kagumi dari kejauhan.
"Iya, yah ganteng," bisik gadis dengan pakaian ketat yang membentuk indah tubuhnya.
"Badannya keren banget."
"Dia udah punya pacar belum, yah?" sahut yang lainnya dengan nada yang masih berbisik.
Weva yang semula tak perduli itu dengan penasaran mencari sosok yang membuat mereka semua terkagum. Weva mengkerutkan dahinya menatap sosok yang menjadi pusat perhatian gerombolan gadis-gadis bertubuh langsing itu ternyata adalah Ken. Dia Ken, pria yang tengah berbincang dengan pria yang berpakaian putih di dekat salah satu alat angkat besi.
Apakah Ken sekeren itu hingga mereka semua mengangumi Ken? Weva terpatung menatap Ken dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ken yang mengenakan sepatu hitam hingga ke seluruh tubuh Ken yang berbalut celana hitam dan baju hitam hingga pada akhirnya tatapan Weva berakhir pada wajah Ken yang terlihat sangat tampan.
Ken menggerakkan kepalanya dan menatap Weva yang dengan cepat mengalihkan pandangannya menatap ke arah lain.
"Mati kamu, Wev! Kenapa Ken harus lihat ke sini, sih waktu Weva merhatiin Ken?"
"Bagaimana kalau Ken curiga?"
"Hah, rasanya malu sekali," batin Weva kesal.
Ken melangkah melewati beberapa gadis yang sedari tadi sibuk menatapnya.
"Selamat pagi, Ken," sorak mereka begitu bersemangat.
"Selamat pagi juga," balas Ken dengan lembut sembari tersenyum begitu manis.
Weva tersenyum sinis membuat sudut bibirnya terangkat. Entah mengapa Ken bersikap baik kepada mereka sementara jika Ken bersamanya Ken selalu menyebalkan. Ini tidaklah adil bagi Weva.
Weva menoleh menatap Ken yang nampak melangkah ke arahnya diikuti tatapan gadis-gadis itu yang terus mengikuti langkah Ken.
Weva kembali tertunduk seakan tak kuasa jika para gerombolan gadis itu menatapnya begitu tajam kalau mereka tahu Ken akan menghampirinya.
"Yuk Endut!" ajak Ken sembari melangkah melintasi Weva.
Weva menatap Ken cepat dan segera melangkah mengikuti langkah Ken yang bergerak santai di depannya.
Weva yang masih melangkah itu menoleh menatap wajah para gadis-gadis yang nampak melongo keherangan. Yap, Weva tahu apa maksud dari itu. Bagaimana bisa pria setampan dan sekeren Ken mau dekat dengan Weva yang memilki tubuh gendut dengan wajah pas-pasan yang sangat jauh dari kata sempurna seperti Weva.
...****************...
"Baring lo di situ!" pinta Ken.
"Aa?"
"Baring!" ulangnya.
"Kenapa harus baring? Weva, kan mau langsing bukan mau tidur," protesnyq.
Ken mendecakkan bibirnya kesal dan mengacak-ngacak rambutnya prustasi.
"Heh Endut! Emangnya siapa yang nyuruh lo tidur?"
__ADS_1
"Nah, itu tadi nyuruh Weva baring kenapa? Biar apa kalau bukan tidur? Hah? Atau jangan-jangan ken-" Kedua mata Weva melebar dan dengan cepat menutup dadanya dengan wajah takut.
"Kenapa lo?" tanya Ken sinis.
"Ken mau anu-anu Weva, yah?" tuduhnya sambil menunjuk Ken yang terbelalak kaget.
"Idih, najis gue. Heh gendut! Gue nggak ada nafsu mau ngelakuin itu sama lo!!!" geretaknya
"Lah terus?"
"Hari ini itu lo bakalan ngelakuin gerakan yang akan membuat perut lo jadi langsing. Ngerti nggak lo?"
"Wah, yang bener?"
"Em," jawabnya malas.
"Gerakan apa? Weva mau, dong."
"Yah, udah lo baring!"
Weva mengangguk dan segera membaringkan tubuhnya dengan susah payah di sebuah matras berwarna biru.
"Terus apa lagi?"
"Nah, sekarang kita bakalan ngelakuin gerakan sit-up," ujar Ken.
"Hah?" teriak Weva terkejut bukan kepala.
Entah bagaimana caranya ia bisa melakukan gerakan sit-up sementara bangkit dari tempat duduknya saja Weva kewalahan.
Ken berlutut dan menyentuh lutut Weva membuat Weva berteriak dan menendang Ken cukup keras membuat Ken terhempas.
"Lo mau sit-up atau karate sih?" tanya Ken kesal.
"Yah Ken mau ngapain?"
"Malah nanya lagi lo. Gue mau pegang kaki lo. Lagian gue nggak punya otak kotor kayak lo," kesalnya.
Weva terdiam menatap Ken yang berwajah marah itu tengah mengusap pakaiannya yang membentuk indah tubuhnya.
Sepertinya ia sudah salah dengan Ken dan sudah jelas ia telah salah paham. Weva jadi tak enak setelah menendang Ken yang masih terlihat marah.
"Ken!"
"Apa lagi?" kesalnya.
"Weva minta maaf."
"Em."
"Marah, ya?"
Ken melirik tajam membuat Weva menunduk takut.
15 menit kemudian...
"Sa-sa-tu!"
Weva mengerang dengan sekuat tenaga berusaha untuk melakukan gerakan sit-up. Cucuran keringat kini membasahi seluruh tubuhnya membuat pakaian yang ia gunakan basah.
Weva menghempaskan tubuhnya ke matras dengan wajah lelahnya. Nafasnya kini telah sesak untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
"Ayo dong, Ndut!" paksa Ken yang nampak telah lelah untuk memegang kedua kaki Weva yang kedua lututnya nampak ditekuk.
Weva menghembuskan nafas sesaknya yang tak karuan itu dan kembali mengangkat tubuhnya dimana kedua tangannya berada dibelakang kepala dengan siku yang terbuka lebar.
"Aaaa!!!" pasrah Weva menghempaskan tubuhnya kembali lagi ke matras.
"Yah, kok gitu, sih?" kesal Ken dibarengi tatapan kecewa.
"We-Weva nggak bi-bisa," jawabnya jujur.
"Semangat, dong, Endut! Katanya lo mau langsing."
"Nama Weva itu Weva bukan Endut!" protes Weva.
"Terserah gue. Sekarang lo ini mau langsing atau nggak?"
"Weva mau langsing, tapi Weva nggak bisa kayak gini. Capek tahu nggak."
"Terus lo pikir gue nggak capek apa pegang kaki lo kayak gini?"
Weva diam cemberut membuat Ken mendecapkan bibirnya kesal dan menatap Weva yang sibuk mengusap keringat di wajahnya.
"Sini pegang tangan gue!" pinta Ken sembari menjulurkan kedua tangannya.
Weva mengkerutkan dahinya menatap heran pada Ken yang masih menjulurkan kedua tangannya.
"Cepetan! Hari ini gue bantu lo buat sit-up, tapi besok lo harus bisa sendiri."
Weva tersenyum dan tanpa pikir panjang ia segera mengenggam jari-jari Ken dengan erat .
Ken melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk menarik Weva yang dengan sekuat tenaga membangkitkan tubuhnya. Weva mengerang kuat. Weva kira kalau Ken menariknya seperti ini akan memudahkannya untuk melakukan sit-up tapi ini semua sama saja. Sama-sama melelahkan.
"Sa-tu!!!" teriak Weva yang berhasil mengangkat tubuhnya.
Kedua mata Weva terbelalak ketika kedua matanya bertemu arah oleh kedua sorot mata Ken yang tajam. Wajah Ken terlihat begitu sangat jelas dari sini membuat Weva berhasil merasakan detakan jantungnya berdetak sangat cepat.
Weva terdiam penuh kekakuan menatap jelas wajah Ken yang terlihat bersih, hidung yang mancung, bibir tipis yang berwarna pink segar, bulu mata yang lentik dan nafas yang terasa wangi.
Entah mengapa rasanya disaat Ken menatapnya seperti ini seakan waktu berhenti untuk berputar dan memberikan kesempatan bagi Weva untuk menatap wajah Ken lebih lama lagi.
Weva memejamkan kedua matanya cepat seakan menyingkirkan wajah Ken yang menyita sorotan mata dan pikirannya.
"Ingat Wev! Ingat Brilyan!"
"Brilyan adalah alasan Weva ada di sini bersama Ken," batin Weva.
"Jadi Weva harus lupakan tetang Ken dan ingat Brilyan!"
"Ayo ingat! Ken hanyalah pria monyet pemanjat tower tangki yang menyebalkan!"
"Jangan sampai Weva suka sama Ken!"
Weva kembali membaringkan tubuhnya ke matras berusaha untuk menjauhkan wajah Ken darinya.
Perasaan apa ini? Tolong sadar!
__ADS_1