
Weva yang sedang asik mencatat sesuatu yang ada pada lembaran bukunya itu terhenti mendapati sosok Ken yang berdiri di samping meja.
"Di panggil sama pak Ahmad lo ke ruangan," ujar Ken membuat Weva mendongak.
"Pak Ahmad? Nyari Weva? Buat apaan?"
"Nggak tau. Ke sana aja dulu," jawab Ken lalu melangkah ke arah bangkunya.
"Wi, gue ke kantor dulu, ya."
"Ya, hati-hati lo!"
Kedua mata Wiwi yang menatap kepergian Weva kini beralih menoleh menatap Ken yang terlihat berbeda dari biasanya. Sejak kejadian percakapan mengenai surat itu Ken seakan berubah. Ada kesedihan dan kekecewaan pada wajah Ken.
Wiwi bangkit dari kursi dan melangkah menghampiri Ken yang melirik sejenak lalu kembali menatap handphonenya.
"Ehm, kayaknya ada yang lagi bete, nih."
Tak ada jawaban dari Ken. Pria itu hanya diam.
"Ken! Gue tau lo kayak gini karena-"
Ujaran Wiwi terhenti saat Ken memasang handsfree ke kedua telinganya seakan memberi isyarat jika Ken tak ingin mendengar apa yang akan Wiwi katakan.
Wiwi menarik kedua handsfree itu membuat Ken melirik.
"Karena Weva yang nggak baca surat dari lo, iya, kan?" lanjut Wiwi.
Ken tak menjawab lagi. Ia menghela nafas panjang dan membuang pandang.
"Lo jujur aja, sih sama gue. Sebenarnya gue tau tapi gue mau tau itu langsung dari lo."
Ken tersenyum kecil. Ia berpura-pura memainkan handphonenya lalu meraih handsfree berniat untuk memasangnya kembali.
"Apaan, sih lo Wi?"
"Udah lah. Lo jujur aja sama gue. Nih, sini bisik ke gue! Gue janji, kok nggak bakalan ngasih tau rahasia ini ke siapa pun itu."
Wiwi menyentuh telinganya. Ia mendekatkan teliganya seakan telah siap untuk dibisikkan.
Gerakan jari tangan Ken yang menggesek permukaan layar handphonenya terhenti. Ia menggerakkan kedua matanya menatap Wiwi yang masih menunggunya.
Tak berselang lama Ken mendekatkan bibirnya pada telinga Wiwi dan berbisik di sana. Kedua mata Wiwi membulat kaget. Ia menjauhkan teliganya, memandangi Ken dengan tatapan tidak menyangka.
"Hah? Yang bener lo?"
Ken tertawa kecil lalu mengangguk berusaha untuk meyakinkan sementara Wiwi menutup bibirnya yang tidak menyangka itu. Apa ini benar?
...****************...
Weva mengetuk pintu ruangan pak Ahmad pelan membuat suara sahutan pak Ahmad di dalam sana yang mempersilahkan masuk terdengar. Weva mendorong pintu mendapati pak Ahmad yang sedang membuka beberapa buku di sana menoleh.
"Bapak cari saya?"
"Oh, iya. Klorin! Silahkan duduk!"
Weva mengangguk. Ia melangkah masuk dan duduk di hadapan pak Ahmad.
"Sehat hari ini?"
__ADS_1
"Sehat pak."
"Kamu punya kesibukan dua hari yang akan datang?"
Weva mengernyitkan keningnya. "Tidak, pak."
"Bagus kalau begitu. Saya sudah mempertimbangkan semalam kalau yang akan ikut olimpiade tahun ini adalah kamu."
Bibir Weva terbuka tak menyangka. Ia menutup mulutnya tidak menyangka.
"Sa-saya, pak?" Tunjuknya ke arah wajahnya.
"Iya kamu dan karena kali ini tahap olimpiade cerdas cermat berpasangan putra dan putri maka saya putuskan yang akan menjadi pasangan kamu adalah Brilyan."
"B-b-brilyan, pak?"
"Iya, Brilyan. Kita sudah tau bagaimana kecerdasan Brilyan. Setiap perlombaan pasti dia yang menjadi pemenang. Jadi Bapak ingin kamu dan Brilyan bisa bekerja sama dengan baik."
"Untuk menghasilkan kekompakan maka Bapak ingin kalian belajar bersama. Saya sudah sampaikan hal ini kepada Brilyan tadi di kelas dan sebentar sore Bapak ingin kalian ke rumah Bapak untuk belajar bersama."
Weva terdiam. Rasanya ia begitu bahagia setelah mendengar apa yang Pak Ahmad katakan.
"Klorin!"
"Iya, pak?"
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, pak."
"Ya, sudah kalau begitu nanti saya share lock lokasi tempat tinggal saya, ya."
"Ah, nggak usah, pak saya tau kok, pak."
Senyum Weva lenyap dari bibirnya. Bisa-bisanya ia lupa jika disaat ini pak Ahmad hanya tau dirinya adalah Weva bukan Klorin.
"Emmm, maksudnya saya pernah dengar alamat Bapak dari teman sekelas."
"Oh, Bapak pikir kamu tau, hahaha."
Weva juga ikut tertawa tapi kali ini raut wajah Weva ingin menangis. Bisa-bisanya ia hampir kebablasan.
...****************...
"Hah? Yang bener lo?" tanya Wiwi tak menyangka setelah mendengar apa yang Weva katakan.
"Ya iya lah masa lo nggak percaya sama Weva?"
Wiwi yang terdiam sejenak itu langsung bangkit dari kursinya dan melompat-lompat kegirangan. Wiwi tau ini adalah salah satu impian Weva. Bagaimana pun kondisinya Wiwi pernah tau bagaimana perjuangan Weva untuk ikut olimpiade ini.
"Ken!" teriak Wiwi membuat Ken yang baru saja tiba di dalam kelas dan sedang asik menikmati musik rock pada handsfreenya itu menoleh membuat langkahnya terhenti.
"Gue punya berita baik."
"Oh ya?"
Ken melepas Handsfree itu dari telinganya lalu tersenyum seakan siap untuk menerima berita baik itu.
"Iya. Tau nggak Weva bakalan ikut olimpiade cerdas cermat."
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Ken tersenyum sumringah. Ia melangkah mendekati Weva dan Wiwi yang juga sama bahagianya.
"Yang bener lo?"
"Iya bener. Tanya aja sama Weva, iya kan Wev?"
Ken menoleh menatap Weva yang tersenyum lebar dan mengangguk meyakinkan.
"Wah, gue seneng banget. Pokoknya gue bakalan ngedukung lo!"
Ken menepuk pelan bahu Weva yang tak henti-hentinya tersenyum.
"Gue juga," sahut Wiwi sambil mengacungkan jari tangannya.
"Aduh, tapi sih gue yakin Weva bakalan jadi juara olimpiade cerdas cermat berpasangan."
"Berpasangan?" tanya Ken tak mengerti.
"Iya, Weva bakalan ikut olimpiade cerdas cermat berpasangan sama Brilyan."
Senyum Ken sirna dari bibirnya. Ia mengerjapkan kedua matanya seakan tak percaya dengan apa yang Wiwi katakan. Ia menggerakkan bibirnya berusaha untuk menyebut ulang nama pria itu tapi ia tak mampu untuk menyebutnya dan merubah raut wajahnya itu menjadi datar.
Wiwi yang masih tersenyum senang itu kini tertahan senyumnya. Ia baru sadar satu hal. Ia menoleh menatap Ken yang terlihat terdiam.
Apa ia sudah salah bicara hingga membuat Ken jadi diam seperti ini. Ia menoleh menatap Weva yang terlihat masih tersenyum bahagia dan belum menyadari jika Ken terlihat sedih.
"Ken-"
"Em kayaknya gue harus balik duluan, ya ke rumah. Semangat aja! Wi, Weva! Gue duluan, ya," ujar Ken memotong ujaran Wiwi.
Ken melangkah ke arah kursinya. Meraih tas lalu melangkah keluar dari ruangan kelas yang hanya menyisahkan Weva dan Wiwi saja, tak ada orang lain di dalam kelas itu.
"Wi! Wiwi nggak mau balik juga?"
"Em?"
"Yuk balik!" ajaknya sambil memasukkan buku-buku ke dalam tasnya.
Wiwi mengangguk dan meraih tas yang telah ia letakkan di atas meja sejak tadi. Tak berselang lama kini mereka telah melangkah di koridor sekolah menuju luar gerbang sekolah yang sudah semakin sepi.
"Wev! Kalau lo ikut olimpiadenya berpasangan berarti lo harus belajar bareng, dong?"
"Iya."
Wiwi mengangguk sejenak dan kembali berujar, "Dimana?"
"Apanya?"
"Belajar barengnya."
"Di rumah pak Ahmad."
Kedua mata Wiwi membulat kaget. Langkahnya terhenti secara tiba-tiba setelah mendengar hal tersebut. Tuhan, jantungnya bahkan ingin copot dari tempatnya.
"Jadi itu berarti Brilyan, Weva dan Ken akan bertemu sekaligus di dalam satu rumah. Aaaaa!!! Ini masalah besar! Ini bencana dan musibah."
"Gue nggak bakalan bisa bayangin gimana jadinya kalau mereka ketemu."
Weva yang sejak tadi melangkah itu menoleh mendapati Wiwi yang berada di belakang sana sambil menyentuh pipinya seakan memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Wi! Wiwi ngapain di situ?"
Wiwi menoleh lalu dengan cepat berlari menghampiri Weva yang kembali melanjutkan langkahnya.