Princess Endut

Princess Endut
197. Pengumuman


__ADS_3

Beberapa kendaraan bermotor dan beroda empat itu terlihat memasuki gerbang Cendrawasih Internasional School memenuhi area parkiran. Beberapa siswa dan siswi terlihat melangkah menuju masuk ke area sekolah.


Barisan panjang terlihat di depan ruangan khusus yang digunakan untuk pelaksanaan ujian nasional. Bu Yungmi yang sebagai pengawas itu terlihat berdiri di depan pintu sambil memeriksa satu persatu murid yang telah siap.


"Mana kartu ujian kamu?" tanya Bu Yungmi membuat Weva langsung mengangkat kartu ujian itu memperlihatkan kartu itu ke arah Bu Yungmi yang mengangguk.


"Masuk!" pintanya sambil menggerakkan jari tangannya.


Weva melangkah masuk ke dalam ruangan dan duduk di kursi tepat di depan komputer yang telah diaktifkan sesuai dengan nomor urut yang telah ditentukan.


Ken melangkah masuk ke dalam ruangan ujian sambil menatap ke arah setiap nomor yang tertera yang telah ditentukan.


Ken tersenyum kecil. Ia melangkah mendekati kursi dan menariknya membuat gadis yang berada di sampingnya menoleh.


"Weva?"


"Ken?"


Ken tersenyum. Ia duduk ke kursi tepat di samping Weva yang masih terlihat tersenyum.


"Lo duduk di sini?"


Weva mengangguk sambil tetap tersenyum. Ken mengangguk. Ia mengetuk-ngetuk permukaan meja dan kembali menoleh menatap Weva.


"Lo udah belajar?"


"Udah. Ken?"


"Udah juga."


Keduanya menoleh saat seseorang menarik kursi yang berada di sisi kiri Weva membuat pria yang duduk ke kursi itu menoleh.


Mata sembab, wajah pucat dan bagian bawah matanya yang terlihat agak gelap. Pria itu mengalihkan pandangan menatap serius ke arah depan komputer.


"Kenapa tuh si kurus kering?" bisik Ken membuat Weva melirik dan tak berselang lama ia kembali menatap ke arah Brilyan sejenak.


"Nggak tau."


Ken menarik nafas panjang lalu menahannya.


"Kalau gue liat-liat kayaknya dia banyak masalah."


Weva terdiam. Mendengar hal itu membuatnya menatap diam-diam ke arah Brilyan yang nampak melamun.


Kegiatan ujian nasional itu berlangsung membuat suasana menjadi sunyi, hanya ada suara keyboard yang di tekan sementara beberapa guru pengawas terlihat melangkah mengawasi.

__ADS_1


Para siswa dan siswi terlihat begitu serius dalam menjawab setiap soal yang ada. Mereka semua terlihat fokus menatap ke arah komputer.


Harni mendecakkan bibirnya. Ia menggaruk pelan kepalanya yang tiba-tiba saja merasa gatal setelah melihat soal yang tertera di depannya.


Ia menoleh menatap Firda yang rupanya juga terlihat menopang dagu menatap bingung di depan komputernya.


"Pessst!"


Fhina dan Firda menoleh menatap Harni yang menggerakkan bibirnya nyaris tidak mengeluarkan suara.


"Nomor 25 apa jawabannya?" bisiknya.


"Apa?"


"Nomor 25, 25 apa jawabannya?"


"Beda, Ni! Kita beda soal. Soalnya itu diacak!" bisik Fhina.


"Ehem!" tegur Bu Yungmi membuat ketiga gadis itu tersentak kaget.


Mereka menoleh dan mendapati sosok Bu Yungmi yang melangkah mendekat membuat mereka buru-buru mengelokkan posisi duduknya.


Bu Yungmi melipat kedua tangannya di depan dada. Ia melirik menatap tiga gadis anggota geng sangmut yang diam-diam melirik menatap Bu Yungmi yang masih serius memasang wajah datar penuh intens.


"Kalau kalian mau ngobrol, yah ngobrol aja di luar. Ini adalah waktu untuk ujian bukan untuk diskusi."


Bu Yungmi mengangguk. Ia melangkah sambil mengawasi para murid yang masih fokus menjawab setiap soal ujian.


...***...


Suara kerumunan terdengar. Ada yang sedang berbisik-bisik dan juga ada yang terdengar berteriak setelah mengetahui apa yang sejak tadi menjadi rasa penasaran mereka.


Jari telunjuk Weva bergeser dipermukaan kertas putih yang terpampang besar di mading sekolah. Hari ini adalah hari pengumuman bagi mereka yang telah melaksanakan ujian nasional yang berbasis komputer itu.


"Yeeeee!!!" teriak Weva lalu melompat-lompat setelah menatap namanya terpampang pada daftar nama siswa dan siswi yang dinyatakan lulus tahun ini.


Weva berlari keluar dari kerumunan yang masih berdesakan mencari ruang untuk melihat daftar nama pengumuman.


"Ah, akhirnya perjuangan kita di sekolah yang pembayaran semester super mahal ini selesai juga."


Mendengar ujaran Wiwi membuat Weva tertawa kecil. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menatap ke arah bangunan sekolah yang tentu saja nanti akan menjadi tempat yang akan sangat ia rindui. Ada banyak kenangan yang tersimpan di sini dan kenangan itu tak akan pernah ia lupakan.


"Tapi lo keren sih, Wev bisa lulus dengan nilai paling tertinggi."


"Makasih Wi."

__ADS_1


"Tapi gue heran deh baru kali ini ada yang ngalahin Brilyan. Biasanya nama dia itu selalu ada di atas."


"Yah mungkin Brilyan kurang fokus."


Harni mendecapkan bibirnya kesal setelah mendapati namanya yang berada paling bawah. Ia melangkah keluar dari kerumunan bersama dengan Firda dan Fhina.


"Gila, hah gue nggak nyangka banget nama gue yang paling bawah."


"Ya lo mikirnya yang realistis aja. Lo kan nggak belajar makanya nama lo yang paling bawah," ujar Fhina yang sempat melirik sinis pada sahabatnya yang masih memasang wajah sedih.


"Lo enak sih bilang gitu karena nama lo masih ada di tengah nah gue sama si Harni paling bawah," oceh Firda yang masih melangkah berdampingan itu.


"Udahlah yang pentingkan kita udah lulus, so kalian berdua rencananya mau apa?"


Harni yang sejak tadi menggesek-gesek layar handphonenya menatap beranda Instagram melirik. Ia menggerakkan kedua matanya berpikir.


"Kata Mama gue, sih katanya harus kuliah tapi kayaknya capek banget kalau harus kuliah. Mana gue juga nggak tau mau ambil jurusan apa," jelas Harni.


"Lo Fird?"


"Nggak tau juga."


"Idih, nggak jelas banget, sih lo pada."


Ketiga anggota geng sangmut itu menghentikan langkahnya mendapati Weva dan Wiwi yang terlihat sedang saling bicara di depan sana. Fhina tertunduk sejenak, ia berpikir beberapa detik dan memutuskan untuk melangkah mendekati kedua gadis yang sejak dulu telah menjadi musuhnya.


Wiwi dan Weva menghentikan tawanya mendapati ketiga gadis yang masih tetap sama penampilannya saat mereka dulu bertemu.


"Mau ngapain lagi lo?" ketus Wiwi yang tak suka.


"Eits! Lo tenang aja! Kita bertiga nggak mau cari gara-gara lagi," ujar Fhina yang menggerakkan tangannya agar Wiwi tak beranggapan buruk.


Wiwi menatap tak percaya. Ia melirik menatap Weva yang juga terlihat diam.


Fhina menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan dari ujung bibirnya. Ia mengangkat pandangannya menatap ke arah Weva lalu menjulurkan tangannya membuat Weva menatap bingung.


"Gue mau minta maaf. Yah, gue tau apa yang gue udah lakuin sama lo itu nggak mudah buat dimaafin tapi beneran gue mau minta maaf."


"Sekarang adalah hari kelulusan kita dan itu berarti kita semua bakalan pisah untuk menentukan nasib kita masing-masing."


"Gue nggak mau hidup dalam penuh penyesalan. Apa yang selama ini udah gue perbuat itu beneran nggak baik."


"Em, bukan hanya gue yang minta maaf tapi Harni sama Firda juga mau minta sama lo berdua."


Harni membulatkan kedua matanya terkejut. Ia tak menyangka jika Fhina akan mengatakan itu. Mereka tak punya rencana untuk meminta maaf.

__ADS_1


"Maaf?" tanya Harni.


__ADS_2