
Weva menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya lewat ujung bibirnya. Ia menelan salivanya dengan keras berusaha untuk menguatkan dirinya. Semuanya terdiam menatap ke arah satu sosok yang masih terdiam di atas panggung.
"Aku a-a-aku ingin mengatakan sesuatu hal."
Weva kembali tertunduk. Memejamkan kedua matanya dengan erat lalu dengan perlahan membuka kedua matanya menatap ke arah para penonton yang masih menatapnya serius.
"Aku bukan Klorin tapi Weva evanita Said."
...***...
"Hah!!! Yang bener aja?!!" teriak Harni yang begitu sangat terkejut setelah mendengar pengakuan dari Weva.
Harni dan Firda yang masih memasang wajah syok itu saling bertatapan lalu menoleh menatap Fhina yang juga terlihat sama terkejut. Fhina melangkah turun dari ranjang rawat lalu melangkahkan kakinya yang pincang itu mendekati Firda dan Harni. Ia meraih handphone milik Harni dari tangannya lalu menatap layar handphone dengan serius.
"Hah? Ini pasti boong! Nggak mungkin murid baru itu Weva!"
"Nggak mungkin banget. Mana mungkin si gendut itu bisa jadi langsing dan cantik kayak gitu. Mustahil!"
Fhina memejamkan kedua matanya dengan erat. Telinganya panas mendengar ocehan kedua sahabatnya.
"Woy! Berisik banget, sih lo berdua. Bisa nggak, sih lo nggak ribut!!!" geretak Fhina membuat kedua sahabatnya itu terdiam.
...****...
"Yah, ini adalah aku."
"Aku adalah gadis gendut yang selalu bermimpi bisa menjadi princess untuk seorang pria yang tak pernah mengharapkan sosok Weva."
Weva menggerakkan kepalanya menatap Brilyan yang terlihat terkejut setelah mendengar apa yang Weva katakan. Weva menatap sejenak dan kembali menatap ke arah bangku penonton.
"Dulu mengikuti lomba cerdas cermat ini adalah hal yang paling Weva inginkan selama ini tapi Weva tidak bisa berbuat apa-apa karena Weva gendut dan jelek."
__ADS_1
"Yah, ada yang mengatakan itu kepada Weva dan itu sebabnya orang itu lebih memilih gadis sempurna untuk mengikuti lomba."
"Bukan begitu pak Ahmad?"
Pak Ahmad tertunduk. Rasanya ia malu setelah mendengar hal itu.
"Pak! Kesempurnaan seseorang dalam bentuk fisik tidak menjamin sebuah pengetahuan seseorang. Kecantikan tidak menjamin kepintaran."
"Otak! Ini yang diukur!"
"Aku Weva yang juga merupakan korban bully. Semua sa-sa-satu sekolah menghina Weva, menyiksa, dan menertawai Weva."
"Yah, Weva tau. Weva ini gendut tapi gadis gendut ini tetap punya hati."
"Marah? Sedih? Apa Weva sedih? Tentu saja iya. Weva sedih bahkan sangat sedih tapi Weva tidak bisa memberitahu kalian semua karena itu akan hanya membuat kalian semua bahagia."
"Weva ingin melawan tapi Weva sadar ini adalah sebuah kenyataan."
"Weva yang gendut itu hanya bisa menangis di dalam kamar, membaringkan kepala di atas bantal dan membuat permukaan bantal itu basah karena air mata."
Weva mengusap pipinya yang basah itu. Menarik nafas yang terasa sesak itu berusaha untuk tetap kuat.
"Apakah kalian tidak pernah berpikir bahwa apa yang Weva alami bukan kemauan Weva! Weva gendut dan itu bukan kemauan Weva."
"Weva juga mau hidup normal seperti kalian."
"Jika Weva bisa memilih We-Weva nggak mau jadi gadis gendut yang hanya punya satu sahabat yang selalu ada buat Weva."
Wiwi mengusap pipinya yang basah itu setelah Weva menatap ke arahnya sambil tersenyum walau kedua matanya telah menangis.
"Terima kasih, Wi."
__ADS_1
Wiwi mengangguk. Ia mengulurkan senyum pada bibirnya yang bergetar.
"Dan untuk Ken terima kasih selalu ada buat Weva. Weva nggak tau lagi harus ngomong apa sama Ken."
Kem mengangguk pelan.
"Seminggu, memanglah hanya waktu yang singkat. 10 kg memang bukan jumlah yang banyak tapi semuanya telah menjadi hal yang paling membuat Weva bahagia."
"Papi, Mommy! Kak Wevo! Terima kasih. Weva sayang sama kalian semua."
Weva tertawa kecil menatap pak Walio yang terlihat menepuk dadanya berusaha untuk memberitahu Weva agar menyebut namanya juga.
"Dan untuk pak Walio, terima kasih, pak. Weva senang punya sopir pribadi seperti pak Walio. Untuk Tante Ina, Nenek Ratum, para guru-guru Cendrawasih Internasional Scholl, pak Ahmad dan-"
Weva menjeda kalimatnya setelah ia melihat sosok Laila yang masih terlihat syok. Tatapannya seakan masih tak percaya dengan Weva.
"Dan Mama Laila, terima kasih. Kemenangan ini tak mungkin Weva raih tanpa ada kalian semua sekali lagi terima kasih."
Weva melangkah mundur kembali berdiri di samping Brilyan yang masih menatapnya dengan pandang tak menyangka.
Ken bangkit dari kursi lalu bertepuk tangan membuat satu persatu para penonton bangkit dari kursi dan ikut memberikan sorakan tepuk tangan menghasilkan gemuruh tepuk tangan yang memenuhi stadion mini.
Weva tersenyum bahagia. Ia menatap ke arah kedua mata Ken yang terlihat agak memerah. Weva tau pria itu telah menangis sama seperti dirinya.
Weva telah membuktikan jika sebuah perjuangan memang tak akan pernah mengkhianati hasil. Weva tau jika semua ini telah diatur oleh Tuhan. Menjadi gadis gendut memanglah bukan kemauannya tapi jika ia tidak gendut maka keadaanya tidak akan jadi seperti ini.
Weva senang dan bersyukur pernah merasakan menjadi gendut karena dengan itu ia bisa mengetahui apa arti dari kata bersyukur.
Syukuri apa yang ada saat ini karena kamu tidak akan tau jika apa yang kamu dapatkan hari ini adalah impian oleh orang banyak.
Janganlah menjadi orang lain karena orang lain sedang berusaha untuk menjadi dirimu.
__ADS_1
Benar, kehidupan tidak selamanya akan menyedihkan. Seperti sebuah cerita bahwa kesedihan dan kebahagiaan pasti ada di dalam skenario Tuhan.
Kamu hanya tinggal memilih mau bahagia sekarang atau nanti. Kamu berhak untuk memilih karena hidupmu hanya kamu yang bisa menentukannya sedangkan Tuhan yang berhak menyetujui atau tidak.