Princess Endut

Princess Endut
180. Surat Itu


__ADS_3

Ketiganya kini melangkah menuju kelas dengan suasana yang sekarang menjadi bahagia. Ken sesekali menoleh menatap Weva yang melangkah di sampingnya.


Ken tersenyum lalu tertunduk. Ia bahagia bisa melihat Weva yang telah benar-benar berubah sekarang. Tak ada lagi gadis gendut yang suka mengeluh lelah saat berlari dan tak adalagi gadis gendut yang selalu ia ajak mengadu mulut hanya karena masalah kecil.


Ia tertunduk membiarkan Weva dan Wiwi saling bicara. Dulu ia yang selalu ada di depan Weva dan gadis gendut itu yang selalu berlari kecil mengikuti langkahnya. Tapi sekarang ia bahkan merasa jauh dari sosok Weva.


"Emm, oh iya, Wev."


Weva menoleh menatap Ken yang kini menghentikan langkahnya membuat Weva dan Wiwi ikut menghentikan langkah.


"Emm, gue mau nanya."


"Nanya? Nanya apa?"


Ken melirik menatap Wiwi yang juga terlihat serius menatapnya. Apa ia bertanya sekarang?


"Em, lo udah baca surat yang gue kasi?"


"Surat?"


Ken mengangguk.


Weva terdiam sejenak membuatnya kembali mengigat dengan surat yang Ken berikan kepadanya setahun yang lalu.


"Oh, Iya, Weva baru ingat."


Ken tersenyum begitu bahagia mendengar hal tersebut. Rasanya ia tak sabar untuk mendengar tanggapan dari Weva.


"Lo-lo udah ba-ba-baca surat yang gue kasih?" tanyanya penuh kegugupan.


"Yah, belum lagian Weva juga udah nggak tau suratnya di mana," jawabnya membuat senyum Ken sirna dari bibirnya.

__ADS_1


Kedua matanya mengerjab beberapa kali seakan tidak percaya dengan apa yang Weva katakan.


"Oh," jawab Ken kecewa.


"Emang kenapa?"


Ken menggeleng dan tersenyum lirih hingga akhirnya Weva melangkah lebih dulu masuk ke dalam kelas meninggalkan Ken yang berusaha untuk mengatur nafasnya yang terasa sesak di dada.


Wiwi menoleh menatap Ken setelah ia menatap Weva yang benar-benar telah menjauh. Ia melangkah dan mendekati Ken yang terlihat dari wajahnya jika ia sedang sedih.


"Lo kenapa?"


Ken tersenyum lalu menggeleng.


"Kayaknya gue rasa surat itu berarti banget, ya buat lo. Iya, kan?"


Ken menggeleng dan melangkahkan kakinya, namun langkah itu tertahan saat Wiwi kembali berujar di belakangnya.


Ken menoleh menatap Wiwi yang melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyadarkan tubuhnya ke pintu.


"Mau gue tebak?"


"Lo nggak usah ngomong apa-apa, Wi. Yang jelas surat itu penting," ujar Ken lalu melangkah masuk ke dalam kelas.


Wiwi tesenyum simpul sepetinya ada yang Ken sembunyikan lewat surat itu tapi yang jelas kedua sorot mata Ken telah menjawab semuanya.     


Weva duduk menopang dagunya sembari menatap kertas putih yang telah ia coret dengan asal menggunakan pulpen bertinta hitam menghasilkan garis di sana.


Suasana kini menjadi sunyi dan sepi dikala sekarang merupakan jam istirahat dimana semua siswa dan siswi kini berada di kantin dan itu juga termasuk Wiwi dan Ken, mereka ada di sana.


Bukan bermaksud tak mengajak Weva tapi Weva tak tertarik untuk ke kantin apalagi dengan tatapan para siswa dan siswi jika mereka melihat Weva asik makan di kantin setelah memukul geng Sangmut hingga dilarikan ke rumah sakit. Ini sama saja seperti gadis dengan pikiran psikopat.

__ADS_1


Weva menghela nafas dan membenamkan wajahnya di permukaan meja lalu mengeluh lelah di sana. Tak lama Weva kembali mengangkat kepalanya dengan mata yang berbinar. Weva ingat sesuatu, Brilyan.


Weva melangkahkan kakinya pelan sembari menelusuri setiap deretan buku yang berada di rak buku. Ujung jari-jari tangannya menyentuh lembut deretan buku-buku yang berjejer rapi di rak buku.


Weva sangat rindu dengan suasana perpustakaan yang selalu ia datangi setiap jam istirahat dan mengintip seperti pencuri hanya untuk melihat sosok pria idamannya, Brilyan.


Weva berjinjit berusaha untuk melihat sebuah meja di sebelah sana. Bibir mungil Weva terbuka seakan begitu sangat serius mencari sosok pria itu.


"Kok Brilyan nggak ada?" tanya Weva dengan  nada berbisik saat mengintip di celah rak buku.


Tak ada Brilyan di kursi meja baca, dimana Brilyan selalu duduk di tempat itu. Seharusnya ada Brilyan di kursi itu, tempat biasa Brilyan duduk sambil membaca buku. 


Weva menghela nafas lelah. Harusnya ia bisa melihat Brilyan di hari pertama ia sekolah dengan tubuh langsingnya itu. Tujuan utamanya menurunkan berat badannya ini hanya untuk Brilyan tapi kini Brilyan malah tak muncul dan tak melihatnya sekarang.


Weva mendecapkan bibirnya lalu memutar tubuhnya berniat untuk pergi dari perpustakaan.


Bruk!!!


Jeritan kecil berhasil lolos dari bibir pink segar Weva setelah tanpa sengaja ia menabrak tubuh seseorang hingga beberapa buku-buku berjatuhan ke lantai. Kesialan  macam apa ini?


"Maaf, saya tidak sengaja," ujar Weva yang kini berlutut sambil memunguti buku-buku itu.


Tak ada suara dari sosok yang Weva tabrak hingga akhirnya Weva bangkit dan mendongak menatap kaget pada pria yang kini berdiri di hadapannya.


Plak!!!


Plak!!!


Buku-buku yang berada di tangan Weva kini kembali berjatuhan membuat Weva terkejut dengan kedua mata Weva melebar, ia benar-benar terkejut melihat sosok pria yang sedang berdiri di depannya.


 

__ADS_1


__ADS_2