
"Aaaaaaa!!!" teriak Weva.
Bruak
Barang-barang yang berada di atas meja berhamburan jatuh ke lantai dengan tangisan Weva yang pecah begitu saja. Tak ada lagi yang ia tahan saat ini.
Weva sengaja menghubungi pak Walio untuk menjemputnya dan pulang lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan. Rasanya Weva tidak tahan ditertawakan di sepanjang jalan menuju kelasnya.
Weva menatap sedih pada tubuhnya di pantulan cermin kamarnya yang kini menjadi beban pedih baginya. Apakah tubuh gemuk ini pantas merasakan ini semua? Apakah pantas ia mendapatkan cacian dari semua orang?
Mengapa semua orang suka sekali membullynya dan meremehkannya dengan kata-kata pedih dan menyakitkan.
Weva menjambak rambut sebahunya dengan penuh amarah dan kekesalan membuatnya kembali berteriak sangat keras. Ia tak peduli apakah ada yang akan mendengar suara teriakannya atau tidak.
"Aaaaaaa!!!"
"Ini semua karena kamu, Wev!!!"
"Aaaaaaa!!!"
"Ini semua karena kamu!!!" teriak Weva sembari menunjuk dirinya sendiri di pantulan cermin besar yang ada di hadapannya.
"Kenapa Weva harus jadi kayak kamu?!!"
"Weva benci jadi kamu, Wev!!!" Tunjuknya penuh penyesalan tiada tara.
"Weva benci jadi Weva!!!"
"Kenapa Weva nggak normal seperti gadis pada umumnya yang punya tubuh langsing?!! Hah?!!"
"Kenapa Weva harus gendut?!!"
"Kenapa Weva harus gendut?!! Kenapa, Wev?!!"
"Aaaaaaaa!!! Weva benci jadi kamu, Wev!!!"
Weva menghentikan teriakannya hingga suara nafas sesak Weva dapat terdengar begitu jelas lewat mulutnya.
"Aaaaaaaaaa!!!" teriak Weva diiringi suara pecahan vas bunga yang Weva dorong dengan sekuat tenaga hingga vas itu pecah berhamburan di atas lantai.
"Kenapa Weva nggak kurus aja kayak Wiwi dan kenapa Weva nggak bisa secantik Fhina? Kenapa, Wev?!!"
"Kenapa?!!"
"Aaaaa!!!"
"Kenapa?!!"
Weva menghempaskan tubuhnya ke lantai dan ia terduduk dengan wajah yang telah memerah serta kedua matanya yang telah sembab.
Weva kini menengadahkan wajah gendutnya ke langi-langit kamar yang megah itu memperlihatkan pada yang di atas jika ia sedang menangis.
"Tuhan!!!"
"Tuhan lihat Weva, kan?"
"Tuhan lihat Weva, kan Tuhan?!!" teriak Weva.
"Kenapa Tuhan cuman diem aja?!! Kenapa Tuhan nggak nolongin Weva?!!"
__ADS_1
"Kenapa?!!"
"Weva benci sama Engkau, Tuhan!!!"
"Weva benci sama Tuhan!!!"
"Weva benci sama Tuhan yang udah ngasih takdir seburuk ini sama Weva!!!"
"Kenapa harus Weva?!!!"
"Kenapa?!!"
"Kenapa Tuhan nggak ngasih takdir ini ke orang lain aja yang bisa nahan rasa sakit ini?!!"
"Tuhan pikir ini nggak sakit?"
"Ini itu sakit tahu nggak!!! Asal Tuhan tahu ini tuh sakit!!!"
"Kenapa Tuhan harus nyiptain Weva jadi manusia dalam kondisi seperti ini?!!"
"Aaaaaaaa!!!"
Weva memukul keras permukaan lantai beberapa kali dengan kedua tangannya.
"Kenapa?!!!"
Weva menghempaskan tubuhnya begitu pasrah di lantai dengan pipinya yang sudah basah sedari tadi menyentuh permukaan lantai. Suaranya kini sudah terdengar parau karena sedari tadi berteriak.
"Kenapa Tuhan nggak ngasih takdir ini sama orang yang lebih bisa nahan rasa sakit hati? Weva, We-we-weva nggak bisa."
"Weva nggak tahan selalu dianggap rendah."
"Weva nggak tahan."
Weva menarik nafas beratnya dan dengan perlahan memejamkan kedua matanya yang telah bengkak karena telah lelah untuk mengeluarkan air mata yang sedari tadi membasahi pipinya.
Kedua alis Weva mengkerut ketika bayangan Ken yang membullynya serta suara tawa yang ia dengar tadi kembali memecahkan ketenangannya.
Kedua mata Weva sontak terbelalak membuatnya kembali duduk dan menjambak rambut sebahunya sendiri. Ia meringis kesal dan mengerang kesal.
"Diaaaam!!!"
"Diam kamu semuaaaa!!!"
"Weva nggak sanggup lagi!!!"
"Diam kamu semua!!!"
"Diaam!!!" teriak Weva sembari menutup kedua telinganya seakan-akan jika suara tawa yang membullynya tadi terdengar begitu nyaring di indra pendengarannya.
"Aaaaaaaa!!!" teriak Weva.
"Weva benci sama semua orang yang selalu ngetawain Weva!!!"
"Weva benci sama kamu Ken!!! Weva benci sama Ken yang selalu ngebully Weva setiap hari!!!"
__ADS_1
"Pria yang nggak punya hati!!!"
"Weva benci sama pak Ahmad yang lebih mentingin kesempurnaan dibandingkan kepintaran!!!"
"Weva benci sama Mommy yang lebih sayang sama Kak Wevo dibandingin Weva!!!"
"Weva benci sama A-yeong yang selalu dipuji sama Mommy!!!"
"Weva benci sama Papi yang lebih mentingin pekerjaan di bandingin Weva!!!"
"Aaaaaaaa!!!"
"Weva benci sama semua yang ada di dunia ini!!!" teriak Weva.
Weva membaringkan pipinya yang basah itu ke lantai seakan ingin mengadukan sakitnya itu pada lantai yang dingin.
Bagi weva dunia ini tak adil baginya. Entah mengapa fisik selalu diutamakan dalam segala hal sedangkan keahliannya diabaikan.
Apakah pantas Weva merasakan ini semua? Apakah ini pantas? Rasanya ini terlalu sakit bagi Weva yang mudah menangis.
Seberat inikah dalam menjalani kehidupan dunia yang isinya hanya menjadikan orang-orang kekurangan menjadi objek lelucon.
Dunia seperti lelucon dan Weva adalah bahan lelucon itu. Kata-kata bully yang terus menerus ia dengar membuatnya begitu sangat sakit.
Tubuh boleh saja merasakan sakit, tapi tidak dengan hati. Tak ada hati yang ingin sakit, tapi sepertinya rasa sakit itu seakan memang ditakdirkan untuk Weva.
Mengapa orang-orang di luar sana begitu sangat tega melakukan semuanya kepada Weva. Weva hanya ingin hidup bebas tanpa ada tekanan dari orang lain yang datang dan bergantian membullynya.
Weva merasa jika ia tak pernah membuat orang lain sedih dengan dirinya. Weva tak pernah menyakiti orang lain, tapi mengapa orang menyakiti dirinya.
Seburuk inikah dunia sampai air mata pun tak mampu lagi jadi pertanda jika ia sedang sedih.
Tuhan, Weva hanya ingin bahagia.
...****************...
Kunyahan demi kunyahan Weva lakukan untuk meluapkan amarahnya pada burger dengan isian daging sapi panggang yang Bibi Rosi beli. Yah, seperti ini cara Weva meluapkan amarahnya, jadi jangan heran jika Weva memilki tubuh segendut ini.
Weva sengaja tak menyuruh chef yang memasak untuknya karena chef akan mengadukan hal ini kepada Mommy-nya.
"Weva mau ayam crispy!" minta Weva membuat Mbok Rosi mengangguk dan melangkah keluar dari kamar.
Mbok Rosi menghampiri Chef Dino yang kini sedang duduk bersantai dengan para chef lainnya.
"Chef, Non Weva mau makan ayam crispy!"
"Ayam crispy lagi?" tanya Chef Dino yang tidak menyangka membuat Mbok Rosi mengangguk.
"Loh tapi, kan Nyonya Weva sudah makan sepuluh burger versi jumbo dan satu kotak pizza, benar-benar rakus," oceh bibi Jaimah.
"Iya, itu, kan maunya Non Weva. Kita, kan hanya bisa menurut."
"Kalau mau makan terus takutnya perutnya itu meletus gara-gara kebanyakan makan," oceh Bibi Jaimah.
"Hust! Sembarangan kamu! Sudah buat saja dan bawa masuk ke dalam kamar Non Weva!" pinta Mbok Rosi dan kembali melanjutkan langkahnya.
Para Chef kini saling bertatapan satu sama lain. Kerja melelahkan adalah menuruti apa yang Weva mau
__ADS_1