Princess Endut

Princess Endut
33. Ternyata


__ADS_3

"Secepat itu?"


Weva mengangguk. Pak Ahmad menghela nafas berat.


"Waktu masih ada sepuluh menit jadi silahkan periksa baik-baik jawabannya!" ujarnya yang mendorong pelan kertas itu.


"Weva udah chek sampai dua kali, pak," jawab Weva.


Pak Ahmad kini mendadak bungkam. Ia menatap Weva sejenak lalu ia meraih kertas itu dan menatapnya. Tak berselang lama ia kembali menatap Weva yang terlihat tersenyum.


"Bagaimana, pak?"


"Silahkan duduk!" pintahnya lalu kembali menatap kertas itu.


Weva mengangguk lalu ia berbalik badan berniat untuk segera duduk di kursinya namun, ia dibuat terkejut menatap para siswi yang terlihat sedang menatapnya dengan tatapan kagum atau bahkan sinis, ya Weva juga tidak mengerti.


Pak Ahmad menghela nafas panjang, ia tak mengerti bagaimana bisa gadis gendut itu bisa menjawab soal dengan waktu secepat itu dan jawabannya semua benar.


10 Menit kemudian....


"Waktu habis!" ujar pak Ahmad sembari menekan stop watch di tangannya.


"Tak ada lagi yang menulis dan kumpulkan kertas kalian di atas meja saya!" ujar pak Aad membuat semuanya menghentikan gerakan sambil mengangkat kedua tangan ke atas.


Kertas satu demi satu terkumpul ketika pak Ahmad menyusuri meja-meja berusaha untuk memastikan jika tak ada lagi yang masih menulis jawaban tes.


Weva menarik nafas lega, semoga saja hasil yang muncul sesuai dengan harapannya yang selama ini ia inginkan.


Weva menatap serius ke arah pak Ahmad yang kini sedang memegang sebuah kertas putih hasil tes yang telah diperiksa. Kertas itu berisi soal-soal matematika yang diperkirakan akan muncul di olimpiade nanti.


Rasanya jantung Weva berdetak sangat cepat, ya, walaupun tadi Weva merasa soal yang diberikan lumayan mudah tapi tetap saja momen ini tetap menjadi hal yang mendebarkan bagi Weva. 

__ADS_1


"Setelah saya memeriksa semua hasil jawaban kalian maka ada satu hal yang menjadi keputusan saya dan guru-guru lainnya."


"Jujur saja di lubuk hati yang paling dalam nilai kalian semua rata-rata bagus."


"Nilai kalian semua cukup baik namun, dengan berat hati kami hanya bisa memilih satu orang di antara kalian.'


"Yang nantinya berhasil ikut olimpiade maka tolong untuk memberikan yang terbaik untuk sekolah dan bagi kalian yang tidak lulus ikut olimpiade Bapak mohon untuk tidak berkecil hati."


"Hari ini boleh saja kamu gagal tapi ini akan menjadi dorongan untuk kalian agar berjuang di tahun depan untuk mengharumkan nama sekolah tercinta ini."


"Kami memutuskan yang akan ikut olimpiade matematika tahun ini adalah..."


Weva menarik nafas sesaknya yang sudah menghantam dadanya sedari tadi, diiringi detak jantungnya yang mulai meningkat.l memompa darahnya begitu kencang.


Tuhan, Weva mohon yang terbaik kali ini, jika takdir Weva selalu diberikan yang terburuk maka Weva mohon untuk kali ini saja berikan yang terbaik.


Tuhan, kabulkan lah keinginan Weva!


Weva memejamkan kedua matanya berharap nama yang pak Ahmad sebut adalah namanya, itu harapan Weva.     


"Dia adalah...".


"Fhina," sebut pak Ahmad membuat semuanya menoleh menatap Fhina yang duduk paling belakang.


Kedua mata Weva yang awalnya terpejam itu kini langsung membulat setelah mendengar nama itu disebut. Dengan rasa terkejutnya ia menoleh menatap Fhina yang terlihat tersenyum.


Rasanya jantung Weva berhenti di detik ini juga. Entah mengapa gadis berambut pirang kecoklatan itu yang kembali ikut olimpiade. Apakah pak Ahmad lupa jika Fhina dulu gagal mendapatkan gelar juara, lalu mengapa gadis itu lagi yang mewakili sekolah.


Ini tak adil, benar-benar tidak adil bagi Weva.


Semua siswi bergegas keluar dengan rasa kecewa yang mendalam dan menerima kenyataan jika Fhina lah, si gadis populer itu yang kembali terpilih untuk ikut olimpiade.

__ADS_1


Kini suasana ruangan menjadi sunyi menyisahkan Weva yang kini terdiam di tempat duduknya. Tak ada orang di ruangan ini kecuali Weva.


Rasanya ada yang mengganjal di sini membuat Weva segera bangkit dan menatap hasil ujian para siswi-siswi termasuk kertas jawaban miliknya yang pak Ahmad letakkan di atas meja.


Weva membulatkan matanya yang nampak terkejut ketika kertas tes milik Fhina tenyata banyak memiliki jawaban yang salah sedangkan kertas jawaban miliknya nyaris mendekati kata sempurna.


Ini tidak adil bagi Weva.


"Wev, lo nggak apa-apa kan?" tanya Wiwi yang langsung menghampiri Weva yang kini masih sibuk menatap permukaan kertas itu.


Wiwi cukup sedih setelah mendengar peryataan dari geng Sangmut itu yang mengatakan jika Fhina lah yang akan ikut olimpiade matematika. Ini sudah pasti akan membuat Weva sedih, Wiwi mampu merasakan hal tersebut.


Baru saja Wiwi menyentuh bahu lebar Weva, Weva malah beranjak pergi sembari berlari kecil menghiraukan Wiwi yang berteriak memanggilnya di belakang sana.


Lari Weva cukup cepat ke arah ruangan pak Ahmad bahkan anakan tangga yang menjadi kelemahannya dapat Weva lalui dengan mudah.


Wiwi masih berlari mengejar kepergian Weva yang belum Wiwi Ketahui sembari berteriak memanggil nama Weva bahkan para siswa dan siswi nampak melongo menatap kejadian lari-larian itu.


Weva beranjak masuk ke dalam ruangan pak Ahmad dengan terburu-buru bahkan ia lupa untuk mengetuk pintu atau pun mengucapkan salam membuat pak Ahmad tersentak kaget mendapati gadis gendut itu yang bernafas ngos-ngosan dengan keringat yang membasahi dahinya sedang berdiri di pintu masuk.


Weva menelan ludah secara paksa di tenggorokannya yang terasa mengering karena lari-larian tadi. Weva melangkah, mengikis kan jarak antara ia dan pak Ahmad yang masih duduk di kursinya.


Pak Ahmad melirik menatap kertas hasil tes yang berada di tangan Weva membuat pak Ahmad menebak di dalam hatinya mengenai apa tujuan Weva masuk kedalam ruangannya.


Weva menghentikan langkahnya setelah berusaha untuk mengatur nafasnya. Ia tertunduk sejenak menatap sepatunya lalu kembali menatap pak Ahmad yang terlihat sibuk menatap beberapa kertas di atas meja.


"Mohon maaf menggangu, Pak," ujar Weva dengan nada pelan.


"We-we-weva mau bicara, pak," ujar Weva dengan ragu.


Weva meremas jari-jari tangannya yang berkeringat dingin itu.

__ADS_1


"Saya tidak punya waktu," jawab pak Ahmad sembari berpura-pura menyibukkan dirinya dengan laptop.


__ADS_2