
Weva melangkah menuju masuk ke dalam rumahnya yang sangat megah itu ketika pintu berukuran besar itu dibuka oleh para pelayan berseragam hitam yang telah berdiri dan siap menyambut kedatangan Weva.
Langkah Weva terhenti membuatnya terbelalak serta menganga mendapati dua sosok makhluk yang begitu ia rindui tengah berkumpul di kursi megah berwarna gold sembari menatap para pelayan yang tengah membuka satu persatu barang yang ia bawa.
Gug Gug Gug
Bobo berlari menghampiri Weva dengan suara gonggongan yang membuat orang-orang yang sedang berkumpul di sebuah kursi megah itu menoleh menatap Weva yang sudah menunduk untuk mendekap anjing kesayangannya.
"Weva!" sambut Mita Lalu bangkit dan menenteng sebuah kotak kecil sebesar genggaman di tangan kanannya.
Weva hanya tersenyum simpul ketika Mita sudah berdiri di hadapannya. Weva sangat berharap jika Mommy-nya dan juga Papinya yang kini sibuk berbincang lewat telfon bisa mengatakan kata rindu kepadanya walau hanya beberapa kata.
Mita, wanita berusia 40 tahun yang memiliki tubuh langsing berparas cantik ala Korea dengan kulit putih. Jangan heran jika Mita berparas Korea karena memanglah dia adalah keturunan dari Korea asli dan itulah mengapa ia selalu bolak balik ke Korea.
Jujur saja Weva sangat bahkan sangat-dangat rindu dengan Mita.
Ini bukan soal kata lebay, tapi kedua orang tua Weva memang jarang bahkan nyaris tak pernah mengatakan jika mereka rindu kepada Weva.
Mita tersenyum menatap Weva yang terlihat sedang memasang wajah yang begitu mengharap.
"Weva, kebetulan you udah pulang, Mommy bawa sesuatu buat you," ujar Mita sembari menjulurkan kotak berwarna hitam itu.
Senyum Weva sirna seketika setelah mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh Mita.
Tak ada kata rindu yang Weva dengar.
"Ini," ujar Mita sambil menjulurkan kotak kecil berwarna hitam itu ke arah Weva.
Weva menghela nafas panjang sembari menyibukkan tangannya mengusap kepala Bobo yang kini telah ada di pelukannya.
"Why? You nggak suka?" tanya Mita.
Weva terdiam, ia tak menjawab apa-apa.
"Wev, Mommy beliin kalung berlian asli dari Korea buat you, loh. Masa you nggak senang, sih?"
__ADS_1
"Ini milyaran loh, Wev harganya. Orang-orang banyak banget yang mau beli, tapi karena mereka nggak punya uang sebanyak uang yang Mommy punya makanya mereka nggak jadi beli," jelas Mita.
"Ini buat you, Wev."
"Mommy pasang, ya?"
Weva mengangguk berusaha untuk tersenyum membuat Mita mengeluarkan kalung dan mengalungkannya di leher gemuk Weva.
Rasanya Weva ingin berteriak dan mengatakan jika ia tak butuh kalung berlian tapi Weva hanya butuh sebuah kalimat ungkapan rindu dan perhatian, hanya itu tak lebih.
Tatapan Weva kini beralih menatap Burhan yang kini tengah berjalan dengan tergesah-gesah ke arahnya.
Semoga saja Papinya itu mengatakan ungkapan rindu kepada Weva. Lebih dari seminggu Papinya itu berada di luar negeri, semoga saja Papinya itu rindu seperti rasa rindu Weva kepada Papinya itu.
"Papi ada rapat hari ini, jadi Papi harus berangkat sekarang," ujar Burhan dan menepuk pelan bahu Weva lalu beranjak pergi di dampingi oleh beberapa bodyguard handal yang selalu siap siaga menemani Burhan.
Weva menoleh menatap kepergian Burhan yang tak pernah menoleh untuk menatapnya. Rasa kecewanya kembali bermunculan.
Weva tersenyum menatap ke arah Mita yang kini terlihat memandanginya dari atas sampai ujung kaki Weva, ia memandanginya beberapa kali membuat Weva kini merasa tak nyaman.
"Aduh, kok nggak serasi, ya, Wev?"
"Hah?" tanya Weva yang tak mengerti.
"Iya, nggak serasi, tapi, kok waktu A-yeong yang pake serasi banget, deh. Nggak kayak you gini," heran Mita.
Weva masih terdiam. Nama itu lagi-lagi terucap dan kembali menyala indra pendengarannya. Yah, A-yeong adalah sepupu perempuan Weva yang tinggal dan menetap di Korea. Jika boleh jujur Mommy weva selalu menyebut nama A-yeong dan selalu memujinya tanpa pernah memikirkan tentang perasan Weva.
Weva menoleh menatap Mommy-nya yang kini sedang menatapnya. Weva akui jika wajah Mita itu sangat cantik. Pantas saja para pelayan selalu memandangnya dengan tatapan kebingungan.
Bahkan Weva pernah mendengar para pelayannya yang tengah bergosip dan mengatakan jika Mita tak mirip dengan Weva dan yang lebih parahnya mereka sampai bilang jika Weva ini adalah anak pungut.
Ini tidak terlalu berlebihan tapi demi Tuhan ini sangat menyakitkan.
__ADS_1
"Kok nggak serasi yah, Wev?"
"Mungkin weva gemuk," jawab Weva tanpa basa-basi.
"Bukan gemuk lagi, Wev, tapi gemuk banget," ujarnya sembari mengerakkan tangannya memberikan kesan besar di hadapan Weva.
Weva tertunduk lalu tersenyum simpul, bukan hanya di luar sana hinaan itu terdengar untuknya, tapi di dalam rumah juga seperti itu.
Weva sadar jika hinaan orang di dalam rumah lebih menyakitkan daripada orang yang berada di luar rumah.
"Kenapa, sih you itu gemuk banget? Makanya jangan suka makan banyak. Kalau you suka makan banyak nanti cowok-cowok nggak ada yang suka sama you."
"Diet, dong, Wev!"
Weva hanya bisa terdiam, ia tak menjawab apa-apa.
"Hai Mommy!" sapa Wevo lalu berlari kecil untuk memeluk tubuh langsing Mita yang kini nampak kegirangan menyambut putra tampannya itu.
"Aduh, Wevo, anak sayangnya Mommy. Ah, Mommy itu rindu banget sama Wevo. Wevo itu anak Mommy yang paling mami sayang," ujarnya begitu bahagia sembari mengelus rambut Wevo yang kini terlihat tersenyum.
Keduanya berbincang hangat membuat Weva hanya bisa tersenyum menatap Mommy-nya yang terlihat begitu bahagia. Senyum itu tak ada saat Mommy-nya berada di hadapannya. Tatapan Mommy-nya tak seperti tatapan saat ia menatapnya. Ada kasih sayang disorot mata Mita untuk Wevo.
Senyum Weva perlahan sirna dari bibirnya setelah melihat Mita yang mengecup kening Wevo tepat di hadapannya.
Weva membalikkan badannya lalu melangkah sembari tertunduk pedih. Rasanya ada yang menghantam dadanya sangat keras hingga terasa sesak. Banyak yang mengatakan jika seorang anak perempuan akan menjadi princess di dalam rumahnya sendiri, tapi mengapa itu semua tidak Weva rasakan.
Rumah megah bak istana ini punya princess, tapi princess itu bukan Weva. Weva hanya sebuah penggalan kata yaitu Endut.
Air mata Weva menetes secara diam-diam mengenai bulu lembut bobo yang nampak ikut murung menatap Weva sesedih ini bahkan lebih sedih lagi ketika ia baru saja mendengar jika Wevo lagi dan lagi di bawa ke acara arisan keluarga.
Weva iri dengan saudara laki-lakinya itu. Weva sangat iri. Entah mengapa Weva merasa jika Mommy-nya itu malu jika Weva ada di sampingnya.
Ini sudah terbukti dan ini sangat menyakitkan.
Weva benci ditakdirkan menjadi Weva.
__ADS_1