
Suara keras itu terdengar setelah Weva yang dengan tiba-tiba bangkit dari kursi membuat kursi yang sejak tadi ia duduki terhempas ke lantai.
Brilyan mendongak menatap Weva yang terlihat benar-benar sangat syok. Wajahnya mempias seakan ia telah membeku. Rasanya jantung ini berhenti berdetak di detik ini juga.
Musik seketika terhenti diiringi wajah bingung para tim pemusik setelah melihat kejadian yang tejadi membuat suasana menjadi sunyi.
Weva memeluk jari tangannya yang telah disentuh tadi oleh Brilyan yang kini bangkit dari kursi sembari wajahnya yang masih terlihat bingung.
"Kamu kenapa Weva?"
Bibir Weva bergetar. Ia tak tau harus berkata apa lagi. Kedua matanya menoleh tak tentu arah. Pikirannya seakan melayang entah kemana.
"Ka-ka-mu bukan anak laki-laki itu?" tanya Weva gagap.
"Memangnya kenapa kalau anak laki-laki itu bukan aku?"
"Kamu cuman jawab iya atau tidak!!!" teriak Weva membuat Brilyan tersentak kaget.
Brilyan tak menyangka jika Weva akan membentaknya seperti ini. Kedua mata Weva terlihat memerah menahan genangan air mata yang menggantung.
Brilyan menarik nafas dalam-dalam. Ia tertunduk sejenak dan kembali menatap Weva yang masih diam dengan tubuh gemetar
Jujur saja Weva takut jika Brilyan bukanlah anak laki-laki itu. Weva sangat takut.
"Ayo jawab!!!"
Brilyan memejamkan kedua matanya. Suara Weva berhasil membuat telinganya berdengung.
"Aku bukan anak laki-laki itu."
Air mata Weva menetes membasahi pipinya. Tubuhnya terasa lemas mendengar pengakuan Brilyan.
Weva tertawa kecil lalu mengeleng.
"Kamu bohong, kan? Kamu anak laki-laki itu kan? Kamu pasti ingat sama anak perempuan gendut dan gelang merah ini, kan? Iya, kan Brilyan?" rengeknya penuh harap tapi Brilyan menggeleng.
Weva mengigit bibirnya dengan kuat. Dadanya seakan ditumbuk hingga membuatnya sesak begitu perih dan sakit. Tuhan, kenyataan macam apa ini. Nafas Weva tersengal, ia mengusap rambutnya dan menekan kepalanya yang terasa pening serta terasa sakit bertubi-tubi.
"Nggak mungkin, ini nggak mungkin. Kamu anak laki-laki itu," ujar Weva yang tak terima.
"Weva aku serius. Aku ini lahir di Singapura dan besar di sana. Aku ke Jakarta saat aku berusia 9 tahun."
"Dan aku juga ketemu sama anak laki-laki itu saat aku berusia 9 tahun, Brilyan-"
"Tapi aku tidak pernah ke taman!" potongnya.
Weva melangkah mundur menjauhi Brilyan. Apa yang selama ini telah ia lakukan untuk Brilyan adalah hal yang paling bodoh. Weva selama ini telah berbuat dan berkorban banyak. Ia rela untuk menurunkan berat badannya, membawakan bekal isi nasi goreng, mengikuti Brilyan dimana pun ia berada bahkan ia masuk ke sekolah dimana Brilyan ada di sana.
__ADS_1
Tapi apa yang sekarang terjadi kepadanya. Fakta yang mengejutkan membuat Weva seakan hampir gila. Otaknya terasa berputar di dalam sana membuatnya pusing.
Brilyan mengernyit bingung menatap tak mengerti pada apa yang tejadi pada Weva.
"Weva kamu-"
"Stop!!!" teriak Weva membuat langkah Brilyan terhenti.
Ia mengurungkan niatnya untuk mendekati sosok Weva yang masih terlihat syok.
"Kamu kenapa?"
Weva terdiam. Ia mengusap wajahnya yang basah karena air mata itu dengan keras. Ia menutup bibirnya yang berhasil meloloskan suara tangisan kecil.
"Brilyan bukan anak laki-laki itu!"
"Brilyan bukan anak laki-laki itu!" bisiknya sambil menyentuh bibir bawahnya yang gemetar dengan ujung jemari tangannya yang mendingin.
"Weva kamu kenapa?"
"Diam!!!"
Brilyan tersentak kaget. Ia kembali mendapatkan geretakan dari Weva yang masih melangkah mundur.
"Kamu bukan anak laki-laki itu!"
"Memangnya apa salahnya kalau anak laki-laki itu bukan aku?"
Brilyan terdiam. Teriakan Weva memantul di seluruh ruangan restoran yang kini telah sunyi.
"Brilyan nggak salah tapi Weva yang salah. Selama ini orang yang aku kejar-kejar ternyata bukan cinta pertama Weva. Brilyan bukan anak laki-laki itu!!!"
"Ja-jadi apa yang u-udah Weva lakuin semuanya salah. Weva salah orang."
"Weva-"
"Diam!!!"
"Tapi aku cinta sama kamu."
"Lupain tentang cinta karena Weva cuman cinta sama anak laki-laki itu sementara Brilyan bukan anak laki-laki itu!!!"
Kening Brilyan berlipat-lipat menatap tak menyangka pada apa yang Weva katakan.
"Sekarang lupain tentang Weva! Lupakan tentang semuanya!!!" teriak Weva lalu meraih tas dan berlari pergi meninggalkan restoran serta Brilyan yang diam mematung.
Kedua mata Brilyan memanas menatap kepergian Weva yang meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
"Aaaa!!!"
Bruak!!!
Piring-piring serta barang-barang yang ada di atas meja itu terhempas dan berhamburan di atas lantai membuat para pemusik itu tersentak kaget.
Brilyan memukul meja dengan keras dengan tinjunya yang memerah karena hantaman keras dari permukaan meja. Ia meraih kursi menghempaskannya ke lantai dan kembali berteriak cukup keras meluahkan rasa amarahnya.
...***...
Weva berlari di siring jalan sambil menangis sesenggukan membuat para pejalan kaki dan pengemudi kendaraan yang ia lintasi menatap bingung pada Weva.
Weva sesekali mengusap pipinya yang basah itu. Rambutnya terhempas-hempas disaat ia berlari tak tentu arah. Weva menghentikan larinya membuat tubuhnya yang sudah tak sanggup itu memeluk tiang pada jembatan kayu.
Kedua kakinya tak mampu lagi untuk menopang tubuhnya itu. Ia tak sanggup lagi untuk tetap bertahan. Ia membuang tubuhnya begitu saja di permukaan pijakan jembatan yang cukup tinggi yang berada di atas laut yang terlihat sangat luas.
Ia menyentuh dadanya yang sesak itu. Rasa sakit di dadanya membuat dirinya sesegukan.
"Aaaa!!!" jerit Weva sambil memejamkan kedua matanya dengan kuat membuat air matanya itu menetes lagi.
Weva menarik kuat rambutnya yang telah acak-acakan itu. Maskara hitamnya meluntur membuat bagian bawah matanya menghitam.
Weva mengusap lipstick dari bibirnya dengan kuat meninggalkan bekas merah di pipinya.
"Aaaaa!!!" teriak Weva.
Ia memukul permukaan tiang itu dengan keras. Bodoh, ia sangat bodoh. Weva tak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi kepadanya.
Weva mendongak menatap langit luas yang dihias bintang membuat air matanya itu mengalir membasahi telinganya.
"Tuhaaaaaan!!!"
"Kenapa? Kenapa ceritanya harus kayak gini?!!"
"Orang yang selama ini Weva kejar-kejar ternyata bukan cinta pertama Weva!!!"
"Kenapa?!!"
"Weva nggak mau perjuangan Weva sia-sia kayak gini!!!"
Weva kembali menjerit. Ia mengguncang tiang jembatan yang ia pegang dengan kuat itu meluahkan rasa amarahnya.
Weva menghentikan tangisannya. Ia menoleh menatap orang-orang yang entah sejak kapan sedang menatapnya sambil berbisik. Weva tak peduli, ia tak peduli dengan mereka semua.
Ia meneguk salivanya melewati kerongkongan yang terasa mengering dan sakit karena telah lelah berteriak sejak tadi. Ia tertunduk menatap lampu-lampu kapal yang berlayar di ujung sana.
"Sekarang bagaimana?"
__ADS_1
"Jadi itu berarti Weva udah kehilangan cinta pertama Weva."
"Semuanya udah lenyap. Semuanya udah sia-sia!!!" teriak Weva lagi di akhir kalimatnya.