
Weva melangkahkan kakinya dengan kesal itu melewati koridor membuat suara dari hentakan kakinya terdengar. Para siswa dan siswi menoleh menatap Weva dengan wajah keherangan.
Wajah kekesalan Weva masih tergambar jelas diraut wajah Weva yang begitu masih kesal dengan apa yang telah menjadi keputusan Ken.
"Dasar tidak tahu terima kasih," kesal Weva yang masih melangkah ke arah ruangan kelasnya.
Tak!!!
Wiwi terbelalak kaget setelah Weva menghempaskan kepalanya itu di atas meja dengan perasaan pasrah membuat Wiwi yang sejak tadi diam sambil berusaha untuk mengatur nafasnya yang sesak itu setelah Bu Yungmi menghukumnya dengan cara menyapu area belakang sekolah.
Wiwi tak mengerti dimana unsur kesalahannya. Hah, Bu Yungmi itu seakan sudah anti jika melihat orang bahagia saja. Dia itu selalu datang dan membuat seseorang, jadi sedih. Apa masalah wanita si bibir merah merona itu?
"Wev, lo udah datang? Terus gimana? Ken mau, kan bantuin lo?" tanya Wiwi yang menyambar begitu saja bagai petir yang berdatangan tak ada henti.
"Mau apanya? Hasilnya itu nol," jawab Weva yang dahinya masih berada di atas meja.
"Nol? Maksud lo?" tanya Wiwi tak mengerti.
Weva bangkit membuat Wiwi terkejut menatap dahi Weva yang sudah memerah. Dahi yang memerah itu disebabkan saat Weva membenturkan dahinya di meja.
"Wev! Dahi lo!" Tunjuk Wiwi ke arah dahi Weva.
Weva melirik. Ia bahkan sudah tak peduli pada dahinya itu.
"Saran Wiwi itu nggak ada gunanya tahu nggak. Weva itu, kan udah bilang kalau Ken itu nggak bakalan mau nolongin Weva."
"Maksud lo? Ken nggak mau nolongin lo?"
"Ken nolak bantuin Weva."
"Hah, yang bener lo?" tanya Wiwi tak percaya.
Weva hanya mengangguk sedih dengan bibirnya yang sudah cemberut.
"Gila banget, sih tuh orang. Nggak punya rasa terima kasih banget sama lo, padahal, kan lo itu udah bantuin dia," kesal Wiwi.
Weva hanya ikut mengangguk sedih lalu segera menenggelamkan wajahnya ke tas yang ia letakkan di atas meja.
"Dasar, cowok nggak tahu terima kasih."
"Dia nggak mikir apa? Dia itu udah hampir masuk penjara. Andai bukan karena lo yang udah bantuin dia, si Ken itu udah masuk penjara."
__ADS_1
"Dasar kampret," maki Wiwi.
Suara hembusan kelelahan Weva terdengar membuat Wiwi melirik pelan menatap Weva membuat Weva ikut mengeluh panjang. Sekarang apa yang harus mereka lakukan?
"Jadi gimana, dong, Wev?"
"Nggak tahu."
"Ya, lo mikir, dong Wev!"
"Buat apa mikir? Saran hasil mikir Wiwi juga salah."
Wiwi menghela nafas. Wiwi kini diam sejenak dan berfikir hingga Wiwi dibuat tersenyum setelah kembali mendapatkan ide.
"Wev!" Tepuk Wiwi di bahu gendut Weva.
"Em?"
"Gue punya ide."
Weva membangkitkan wajahnya lalu menatap Wiwi yang tersenyum penuh makna.;Yap, senyum yang kini menyimpan sebuah ide cemerlang.
"Ide apaan? Nanti gagal lagi. Kalau gagal lagi nggak usah, ah! Weva itu udah capek."
"Udah, deh nggak apa-apa. Weva kayak gini aja, Weva nggak mau langsing kalau harus berurusan sama Ken."
"Loh? Masa lo mau nyerah gitu aja, sih? Lo harus berjuang, dong. Gimana mau langsing kalau semangat lo modelan setengah kayak gini?"
"Yah Wiwi enak cuman ngomong. Wiwi nggak tahu aja gimana rasanya ngomong sama Ken."
Wiwi kini terdiam membiarkan Weva bicara.
"Ngeliat Ken aja itu udah buat Weva takut, gimana mau ngomong sama si Ken."
"Terus maunya lo itu apa? Gue yang harus ngomong sama Ken? Kan lo yang mau langsing. Tugas gue itu cuman ngasih saran dan ide."
"Tapi saran dan ide Wiwi itu nggak gunanya. Buktinya Ken nggak mau nolongin Weva."
Wiwi menggerutu kesal.
"Wev, tapi beneran ide gue ini pasti berhasil. Lo jalanin aja dulu ide gue, kalau emang nggak berhasil kita stop sampai di sini."
__ADS_1
Weva kini terdiam. Ia melirik menatap Wiwi yang kini mengerakkan naik turun kedua alisnya.
"Emang ide Wiwi apa?"
"Nah, lo dengerin gue! Seperti yang gue bilang kemarin, kalau misalnya si Ken nggak mau nolongin lo, salah satu caranya adalah lo harus ganggu dia," ujarnya dengan nada menghasut.
"Ganggu?"
Wiwi mengangguk dengan wajahnya yang di buat sejahat mungkin.
"Ganggu gimana?"
"Ya lo harus ganggu si Ken. Lo ikutin kemana aja si Ken pergi. Buat dia seakan-akan risih sama lo dan mau nggak mau dia bakalan setuju buat bantuin lo."
"Lo harus bener-bener paksa dia gue yakin saran sekaligus ide gue ini nggak akan gagal."
"Tapi kira-kira ini berhasil nggak, sih, Wi? Soalnya Weva itu udah capek berjuang dan ujung-ujungnya nggak ada hasilnya juga."
"Lo ngeraguin ide dan saran gue?"
"Yah, emang ada saran dan ide Wiwi yang berhasil?"
Wiwi kini diam. Memang selama ini tak ada yang berhasil.
"Nggak ada, kan?"
Wiwi mendecakkan bibirnya.
"Yah, pasti ide dan saran gue ini bakalan berhasil seratus persen. Nih, yah, orang itu nggak akan tahan kalau diganggu dan ujung-ujungnya pasti Ken nyerah terus mau bantuin lo," jelasnya begitu percaya diri.
Weva terdiam sejenak membuat Wiwi menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Lo mikirin apa lagi, sih, Wev?"
"Gue nggak yakin, Wi. Apa lagi ngomong sama Ken, Weva takut kalau harus berhadapan sama Ken."
"Yah, lo harus yakin sama diri lo sendiri kalau rencana ini akan berhasil dan masalah rasa takut itu, yah, lo harus bisa, dong nahan dan lawan rasa takut itu."
Weva terdiam, mungkin yang dikatakan Wiwi ada benarnya juga.
"Apa yang pertama?" tanya Weva.
__ADS_1
Wiwi tersenyum semakin jahat lalu menggeser kursinya lebih dekat di samping Weva dan berbisik di telinga Weva membuat weva terbelalak kaget.
Ide dan rencana macam apa ini?