Princess Endut

Princess Endut
85. Jangan Masuk!


__ADS_3

Weva terpatung di atas tempat tidurnya sembari menatap langit-langit kamar diiringi suasana yang begitu hening, sunyi dan sepi.


Bahkan kamarnya ini sudah seperti kuburan.


Weva bangkit dari tempat tidurnya dengan perasaan yang sangat lelah membuatnya menghembuskan nafas panjang dan kemudian terisak.


Yah, entah ke berapa kalinya air mata ini mengalir membasahi pipinya begitu saja. Entah mengapa rasanya Weva ingin menangis bahkan rasanya ia juga ingin berteriak cukup keras tanpa ada sebabnya.


Weva hanya lelah, lelah dengan takdirnya yang terlalu menyedihkan.


Bobo menggonggong kecil lalu menggosokkan kepala yang berbulu lembut itu di permukaan kaki Weva membuat Weva menoleh dan tersenyum walau air matanya masih saja mengalir.  


Weva mengusap kepala Bobo sejenak dan kembali fokus menatap langit-langit kamarnya.


Jika keadaanya tidak dalam kondisi gendut seperti sekarang ini mungkin, ia tak akan merasa menyendiri di dunia seperti orang yang tak memiliki kehidupan dan harapan. 


Weva bertelunkup memeluk kedua lututnya yang terdapat luka di sana karena telah terjatuh tadi, sekaligus menyembunyikan wajahnya yang kini menangis.


Weva pedih malam ini.


...*****...


Ken terdiam sembari menopang pinggangnya sembari menatap Weva yang kini berdiri di timbangan dan terdiam sementara Ken fokus menatap jumlah berat badan dimana pengukur berat badan itu terlihat bergerak menunukkan angka.


"149," ujar Ken lalu menggeleng, tak ada penurunan berat badan Weva.


Hah, Tuhan cekik lah leher ini.


Ken melangkah ke arah kursinya dan duduk di sana lalu kembali mencatatnya di buku catatan kecilnya.


"Turun lo!" pinta Ken dengan nada sinis.


Weva hanya mampu menurut perintah Ken dan berdiri tepat di hadapan ken yang mengeluh kesal di sana.


Weva menghela nafas. Menatap wajah Ken yang seperti ini membuat Weva berfirasat buruk. Sepertinya Ken ingin marah. Tuhan, tolong selamatkan Weva!


"Lo sebenarnya lari nggak, sih waktu lo dikejar sama si pinky?" tanya Ken tanpa menatap Weva.


"Lari, Weva lari, kok," jawabnya cepat.


"Tapi kenapa berat badan lo nggak turun? Lo bilangnya lari, tapi, kok berat badan lo di timbangan segitu-gitu aja, nggak ada turun-turunnya, tuh gue liat."


Tak ada jawaban dari Weva membuat Ken kini menoleh menatap Weva yang kini menyisir lembut rambutnya dengan jejari tangannya.


"Jawab!"

__ADS_1


Weva tersentak kaget. Ia menatap Ken sejenak lalu kembali tertunduk.


"Yah, mana Weva tahu. Lagian Weva juga lari, kok atau mungkin timbangan Ken yang rusak."


"Ngejawab lagi, loh!" sinis Ken.


"Lah? Tadi kan Ken yang-"


"Diem!"


Weva terdiam membuatnya tertunduk dengan ujaran ken yang begitu sinis. Heran saja Weva dibuatnya. Tadi Ken menyuruhnya menjawab lalu ia marah kalau ia menjawab.


"Heh, Gendut! Lo nggak usah, yah nyalahin masalah timbangan gue yang rusak! Lagian timbangan gue itu baik-baik aja. Baru seminggu, tuh gue beli."


"Ouh, atau jangan-jangan lo makan bakso, yah tiap malem, iya, kan? Ngaku lo!"


"Enggak! Weva nggak makan bakso."


"Terus kenapa berat badan lo nggak turun? Harusnya setelah lo lari kemarin karena di kejar si imut pinky, itu berat badan lo harusnya turun bukannya cuman di situ-situ aja!".


Weva hanya mampu menghela nafas mendengar ujaran Ken yang terus menghakiminya tanpa henti.


Lihat saja bibir Ken yang terus bergerak. Entah dari mana Ken belajar bicara panjang seperti itu.


"Ikut gue lo!" putus Ken lalu segera melangkah keluar dari ruangan pribadinya yang berada di tempat gym itu meninggalkan Weva yang kini menoleh menatap kepergian Ken.


"Mau kemana?" tanya Weva, tapi Ken tak menjawab.


"Tunggu!!!" teriak Weva yang langsung berlari.


Weva kini menghentikkan langkahnya menatap Ken yang berada di atas motor vespanya sambil memasang helm ke kepalanya.


"Ken, Ken mau kema-"


Belum selesai Weva bicara Ken langsung menyodorkan helm yang disambut dengan pelukan oleh Weva.


"Kita mau kemana, Ken?"


Tak ada jawaban dari Ken hingga suara motor vespa Ken terdengar.


"Naik atau lo gue suruh lari!"


Kedua mata Weva membulat. Dengan cepat Weva naik ke atas motor. Yah, ancaman Ken itu bukan hanya sekedar ancaman.


...***...

__ADS_1


Motor Vespa biru Ken kini terhenti di area parkiran rumahnya yang nampak begitu bersih. Weva yang baru saja melangkah turun dan menginjakkan kakinya di depan rumah Ken membuat Weva terkesima menatap bunga-bunga yang berjejer rapi, ada banyak jenis tanaman bunga di sini.


Yah, jujur Weva baru memperhatikan keadaan sekitar rumah Ken, bagaimana tidak ini terjadi jika sesampainya kemarin Weva di sini ia langsung di hadapkan dengan seekor anjing jenis Pitbull.


Coba pikir!


Weva tersenyum simpul menatap pintu rumah Ken yang nampak terbuka, mungkin tujuan Ken membawanya kemari untuk berkunjung kerumahnya.


Weva yang masih tersenyum itu melangkahkan kakinya berniat untuk masuk ke dalam rumah disusul Ken yang langsung menoleh.


Ken mengkerutkan alisnya di belakang sana menatap Weva yang dengan santainya melangkah.   


"Mau kemana lo?" tanya Ken membuat Weva menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Mau masuk," jawabnya singkat dan dan kembali melangkahkan kakinya.


"Heh!!!" teriak ken membuat Weva dengan cepat kembali menghentikan langkahnya.


"Apa, sih Ken?"


Ken mendengus kesal dan segera berlari menghampiri Weva dan menarik pergelangan tangan gadis gendut itu agar menjauh dari pintu rumah. Jujur Ken hanya takut jika Mamanya melihat Weva dan mengira jika Weva memilki hubungan spesial bersamanya. Lagi pula Ken tak pernah mengajak seorang gadis untuk datang berkunjung ke rumahnya.


Ini hanya sekedar perjanjian dan kesepakatan maupun kerja sama dari Weva dan Ken, itu saja tak lebih.


"Lo ngapain ke sana?" tanya Ken setibanya ia berhasil menyeret Weva kembali ke motor vespanya yang masih terparkir.


"Weva mau masuk."


"Gila lo, yah?"


"Siapa yang gila, sih?"


"Lo yang gila."


"Eh, Weva itu masih waras, yah, tubuh Weva aja, tuh yang gendut tapi otak Weva masih sehat tahu nggak."


"Yah udah kalau lo ngerasa waras lo nggak usah masuk ke dalam! Nih, ya lagian siapa yang nyuruh lo masuk ke rumah gue, sih?"


"Tapi Ken-"


"Heh, gendut! Lo denger, ya gue nggak mau lo masuk ke rumah gue!" potong Ken.


"Tapi Ken itu udah ngajak Weva ke rumah Ken dan ini itu udah yang kedua kalinya bagi Weva datang kerumahnya Ken, jadi Weva putuskan kali ini Weva mau masuk," ujar Weva lalu menghempas tangan Ken dan melangkah ke arah pintu.


"Heh!" Tarik Ken sembari menjambak kerah seragam sekolah Weva membuat langkah Weva terhenti secara paksa.

__ADS_1


__ADS_2