Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 100 ( Do'a yang terkabul )


__ADS_3

Bu Rita langsung mengangkat telpon dari Papa Ferdi, dan Papa Ferdi sengaja menyalakan loud speaker handphone nya supaya Alina mendengar sendiri perkataan Bu Rita.


📞"Assalamu'alaikum Mas, bagaimana sekarang kondisi Alina? Apa dia sudah melahirkan?" tanya Bu Rita dengan suara yang terdengar cemas.


📞"Belum Rita, padahal Dokter sudah melakukan berbagai macam cara kepada Alina, tapi Alina masih belum juga melahirkan, tensi Alina juga tinggi, jadi Alina tidak bisa melakukan operasi caesar," jawab Papa Ferdi.


📞"Astagfirullah, kasihan sekali Alina, pasti dia merasa kesakitan," ujar Bu Rita yang terdengar menangis.


📞"Rita, atas nama Alina, aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Mungkin Alina sudah banyak melakukan dosa terhadap kamu, jadi dia mengalami kesusahan saat melahirkan," ujar Papa Ferdi.


📞"Tidak Mas, Alina tidak pernah melakukan kesalahan apa pun terhadapku, justru aku yang sudah melakukan kesalahan besar kepada Alina karena aku tidak bisa membesarkannya. Aku juga sudah membuat Alina malu karena memiliki Ibu seorang Narapidana. Sebagai seorang Ibu, aku akan melakukan apa pun untuk Anakku, tapi sekarang yang bisa aku lakukan hanyalah mendo'akan Alina supaya diberikan kelancaran dalam melahirkan," ujar Bu Rita yang di Amini oleh Papa Ferdi dan Farel.


Setelah mengucap Salam, Papa Ferdi menutup panggilan telponnya kemudian duduk di sofa yang berada tidak jauh dari ranjang pesakitan Alina.


"Apa Alina bilang, do'a seorang pendosa tidak akan dikabulkan Tuhan," ujar Alina dengan tersenyum mengejek.


"Alina, kita lihat saja sebentar lagi, karena Papa yakin do'a seorang Ibu akan selalu diijabah," ujar Papa Ferdi.


Baru juga Papa Ferdi selesai bicara, Alina tiba-tiba merasakan kontraksi yang hebat, bahkan kepala bayi Alina sudah terlihat.


Farel bergegas memanggil Dokter, dan beberapa saat kemudian Dokter datang.


"Ayo Nyonya, tarik nafas dalam-dalam, kepala bayinya sudah kelihatan," ujar Dokter.


Tidak membutuhkan waktu lama, Alina akhirnya berhasil melahirkan bayinya dalam satu helaan nafas.


"Alhamdulillah," ucap semuanya ketika melihat bayi perempuan yang saat ini terdengar menangis di atas tangan Dokter.


"Selamat Nyonya, Anda sudah berhasil melahirkan bayi perempuan yang cantik dan sehat. Ini adalah sebuah keajaiban, padahal posisi bayi Nyonya tadinya sungsang," ucap Dokter dengan tersenyum.


"Terimakasih banyak Dok, mungkin ini juga berkat do'a dari Ibu nya Alina," ucap Papa Ferdi dengan tersenyum.


Alina hanya diam tanpa mengucapkan satu patah kata pun, karena pada kenyataannya Alina langsung melahirkan setelah Papa Ferdi menelpon Bu Rita.


"Alina, kamu harus ingat janji kamu yang akan bersujud kepada Rita," bisik Papa Ferdi, kemudian ke luar dari kamar perawatan Alina untuk memberitahukan kabar bahagia tersebut kepada Bu Rita.

__ADS_1


......................


Suci tersenyum bahagia ketika Dokter memperbolehkannya pulang, tapi Suci terlihat heran ketika melihat Arya yang terus saja melamun.


"Kenapa Mas Arya melamun terus? Apa Mas Arya tidak senang karena aku sudah diperbolehkan pulang?" tanya Suci dengan memeluk tubuh Arya yang saat ini berada di sampingnya.


"Bukannya Mas tidak senang, hanya saja kita tidak akan bisa leluasa untuk bermesraan jika sudah berada di rumah," bisik Arya pada telinga Suci.


Suci tersenyum malu mendengar perkataan Arya, bahkan saat ini pipinya bersemu merah.


"Mas, tapi aku selalu merasa berdosa dengan hubungan terlarang yang kita lakukan. Aku sudah mengkhianati pernikahanku dengan Mas Rian, bagaimana jika suatu saat nanti Mas Rian mengetahui semuanya? Dia pasti akan membenciku, dan mungkin dia akan menjauhkan aku dari Anak-anak," ucap Suci yang tiba-tiba menitikkan airmata.


Arya terlihat bingung, karena saat ini Arya tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.


"Sayang, Suci jangan terlalu banyak pikiran ya, Mas yakin kalau Rian tidak akan mungkin melakukan semua itu, dan Mas tidak akan membiarkan Suci berpisah dari Anak-anak. Kalau begitu sekarang Mas beres-beres dulu," ujar Arya, kemudian membereskan pakaiannya dan juga pakaian Suci, dan Arya tidak memperbolehkan Suci untuk membantunya.


Setelah selesai berkemas, Arya menggandeng Suci ke luar dari Rumah Sakit, tapi sebelum pulang, Arya berniat untuk membawa Suci bertemu dengan Mama Erina terlebih dahulu.


"Sayang, sebelum pulang, Suci mau kan ikut Mas ke suatu tempat?"


"Mas akan mengajak Suci untuk bertemu dengan perempuan paling spesial dalam hidup Mas," ujar Arya dengan tersenyum bahagia, lain hal nya dengan Suci yang langsung cemberut karena merasa cemburu.


Sepanjang perjalanan menuju Pesantren, wajah Suci terus saja ditekuk, dan Arya hanya tersenyum karena merasa gemas.


"Kenapa sih dari tadi cemberut terus?" tanya Arya.


"Mas, kalau memang sudah ada perempuan yang spesial bagi Mas Arya, berarti aku bukanlah perempuan satu-satunya dalam hati Mas Arya?" tanya Suci dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sayang, kamu jangan salah faham dulu. Sebaiknya sekarang kita turun, dan nanti kamu pasti akan senang jika bertemu dengan perempuan tersebut," ujar Arya kemudian turun dari mobil, lalu membukakan pintu mobil untuk Suci, dan menggandengnya masuk ke dalam Pesantren.


Suci terlihat heran ketika Arya membawanya masuk ke dalam Pesantren, bahkan Suci sudah menduga-duga jika Arya memiliki kekasih seorang Santriwati di Pondok Pesantren tersebut.


Dada Suci bergemuruh hebat ketika Arya melepaskan pegangan tangannya terhadap Suci, apalagi Arya langsung memeluk tubuh seorang perempuan berhijab yang saat ini tengah berdiri membelakangi Suci dan Arya.


"Jadi Mas Arya mengajakku ke sini hanya untuk melihat pemandangan ini?" tanya Suci dengan menahan sesak dalam dadanya, dan tanpa terasa airmata Suci lolos begitu saja membasahi pipinya.

__ADS_1


Arya terlihat berbisik pada Mama Erina untuk mengatakan jika Arya sudah menepati janjinya membawa Suci.


"Ma, Arya sudah menepati janji Arya membawa Suci untuk bertemu dengan Mama."


Mama Erina langsung membalikan badannya, kemudian berhambur memeluk tubuh Suci, sedangkan Suci hanya diam mematung karena merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh perempuan yang sebelumnya Suci kira adalah kekasih Arya.


"Sayang, perempuan ini adalah perempuan nomor satu dalam hidupku, karena beliau adalah perempuan yang telah melahirkan ku ke Dunia ini," ujar Arya dengan tersenyum.


Suci merasa malu karena sebelumnya telah salah sangka terhadap Arya, dan Suci meminta maaf atas kesalahpahaman tersebut.


"Mas, maaf karena Suci sudah berpikir yang tidak-tidak," ucap Suci.


"Tidak apa-apa sayang, yang penting sekarang kamu sudah tidak merasa cemburu lagi," goda Arya sehingga membuat Suci salah tingkah.


Mama Erina secara perlahan melepas pelukannya terhadap Suci, kemudian Mama Erina menatap lekat wajah cantik Suci.


"Suci sayang, Alhamdulillah Nak, karena ternyata Anak Mama masih hidup," ucap Mama Erina dengan menangis.


Suci terlihat kebingungan, tapi Arya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat.


"Nak, maafkan Mama, karena Mama sudah melakukan banyak kesalahan terhadap Suci. Suci jangan tinggalin Mama lagi ya," ujar Mama Erina dengan kembali memeluk tubuh Suci, dan Suci yang masih merasa bingung hanya tersenyum serta menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Kondisi psikologis Mama Erina sudah semakin membaik, apalagi sekarang Mama Erina terlihat bersemangat karena bisa kembali bertemu dengan Suci.


"Sayang, aku mau ketemu sama pengurus Yayasan dulu ya, kamu temani Mama dulu," ujar Arya, kemudian masuk ke dalam ruang pengurus Yayasan yang tidak jauh dari tempat Suci dan Mama Erina duduk.


Arya berniat untuk menanyakan perkembangan kondisi Mama Erina, dan Pengurus Yayasan mengatakan jika Mama Erina sudah bisa diperbolehkan pulang karena saat ini emosinya sudah stabil.


"Sepertinya aku memiliki cara supaya Suci mau tinggal bersamaku," gumam Arya dengan mengembangkan senyuman.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2