
Sepanjang perjalanan menuju Jawa Timur, Asep tidak memejamkan matanya sama sekali, karena Asep takut kepala Susi kepentok jendela, atau jok di depan mereka, jadi Asep mencoba menghalangi kepala Susi menggunakan tangannya.
"Neng Susi kalau lagi tidur terlihat semakin cantik, wajahnya terlihat tenang, beda dengan saat dia sedang terjaga, karena Neng Susi selalu marah marah sama Asep, sampai sampai ke luar tanduk dan taring," gumam Asep dengan cekikikan.
Asep yang merasakan pergerakan tubuh Susi, memutuskan untuk pura-pura tidur.
"Kenapa aku sampai ketiduran di bahu Asep ya? Untung saja Asep juga ketiduran, jadi dia gak bakalan ke GR an kalau melihat aku tidur di bahu dia. Perjalanannya masih jauh, sebaiknya aku tidur lagi saja," gumam Susi yang masih setengah sadar, kemudian Susi kembali memejamkan matanya.
Asep terkejut karena tiba-tiba Susi melingkarkan tangannya pada pinggang Asep, karena Susi mengira jika Asep adalah guling.
"Kalau rezeki emang gak bakalan kemana, kalau lagi sadar mah jangankan meluk, deket-deket aja dia ogah, tapi kalau lagi tidur pengennya meluk terus. Sepertinya nanti malam Asep harus ngelakuin sesuatu saat Neng Susi tidur supaya Neng Susi cepat hamil," ujar Asep dengan tersenyum penuh arti, karena Asep sudah memiliki rencana untuk membuat Susi jatuh cinta kepadanya.
Tujuh jam perjalanan sudah Asep dan Susi tempuh, dan saat ini keduanya telah sampai di Jawa timur.
"Alhamdulillah akhirnya kita sampai juga di Jawa Timur. Neng, kita naik angkot saja ya biar ngirit ongkos," ujar Asep.
"Enggak mau, aku gak mau desak-desakan sama oranglain, udah gitu bau sama panas gak ada AC."
"Ya sudah atuh, kalau gitu kita naik ojeg saja biar cepet sampai, kalau naik ojeg kan tidak perlu pakai AC, lagian dari sini ke rumah Teh Suci juga gak terlalu jauh," ujar Asep.
"Gak mau, aku maunya naik taksi, kalau naik ojeg nanti rambut indahku jadi berantakan. Memangnya kamu mau kalau aku dibonceng sama laki-laki lain?" ujar Susi yang mencoba mencari alasan supaya Asep menuruti keinginannya.
"Ya sudah kalau begitu kita naik taksi saja. Padahal tadinya Aa mau berhemat demi masa depan kita."
"Uang dari Suci pasti masih banyak kan? Kalau dipake naik taksi juga gak bakalan habis," ujar Susi yang mengetahui jika sebelumnya Asep diberikan uang sepuluh puluh juta oleh Suci dan Arya.
"Neng, meski pun uang satu gunung kalau dipake terus pasti bakalan habis juga. Kita itu harus memikirkan masa depan kita dan Anak-anak."
"Memangnya siapa yang mau punya Anak dari wong Ndeso seperti kamu," sindir Susi.
"Lihat saja nanti kalau Aa sudah pake kemeja sama dasi, Neng pasti tidak akan berkedip melihat ketampanan Aa," ujar Asep, dan Susi hanya memutar malas bola matanya.
Ketika Asep dan Susi berjalan untuk mencari taksi, Susi hampir saja tertabrak motor yang melaju kencang, beruntung Asep langsung menarik tangannya hingga Susi memeluk tubuh Asep.
__ADS_1
Jantung Susi berdetak kencang saat berada dalam pelukan Asep, dan Susi merasakan sebuah kenyamanan yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
"Neng Susi baik-baik saja kan?" tanya Asep yang merasa khawatir kepada Susi, karena Susi terus memeluk tubuh Asep.
"Eh iya, aku baik-baik saja, makasih."
"Neng Susi barusan bilang makasih sama Aa?" tanya Asep yang tidak percaya kalau ternyata Susi bisa juga mengucapkan terimakasih.
"Kamu salah denger, aku gak ngomong apa-apa," ujar Susi yang mencoba menampik perkataan Asep.
"Gak usah malu-malu gitu atuh Neng, kalau Neng Susi senyum teh kelihatan lebih cantik," goda Asep.
"Udah, gak usah gombal, lagian kamu kalau ngomong gak usah pake teh teh segala, aku gak punya teh, punya juga susu," ujar Susi yang keceplosan sehingga Susi menutup mulutnya, dan Asep senyum senyum sendiri mendengar perkataan Susi.
"Gak usah senyum-senyum, gak ada yang lucu, sebaiknya sekarang kita masuk taksi," ujar Susi dengan menarik tangan Asep untuk masuk ke dalam mobil yang saat ini sudah berada di hadapan mereka.
Setelah Asep mengatakan alamat tujuannya, taksi pun melaju menuju kediaman Arya dan Suci yang hanya berjarak dua kilometer dari terminal Bus.
Saat ini Susi dan Asep sudah sampai di halaman rumah milik Arya. Sebelumnya Arya menyuruh Anak buahnya supaya kembali menutup tembok penghubung antara rumah milik Arya dan rumah peninggalan Rian.
"Mas Asep sama Mbak Susi ya?" tanya mbak Seruni dengan menghampiri Asep dan Susi.
"Iya Mbak, saya Asep dan ini Neng Susi istri saya. Mbak pasti Mbak Seruni penyanyi dangdut itu kan?" tanya Asep.
"Mas Asep bisa saja. Iyo Mas, saya Seruni, tapi saya bukan penyanyi dangdut, saya iku tukang jamu," jawab Seruni dengan tersenyum genit kepada Asep.
Susi terbakar api cemburu ketika melihat Seruni yang terlihat kagum kepada Asep.
"Mbak kesini mau nganterin kunci rumah kan?" tanya Susi yang sudah merasa geram karena Seruni terlihat genit kepada Asep, bahkan Seruni berusaha memegang-megang Asep juga mengedip ngedipkan matanya.
"Mbak Seruni cacingan ya? Kok matanya ngedip ngedip terus? Kalau Mbak cacingan, nanti saya kasih obat cacing," ujar Susi, dan Asep sengaja membiarkan Seruni bersikap seperti itu kepadanya, karena Asep ingin melihat Susi cemburu.
"Eh Mbak Susi, maaf ya. Saya kalau sudah lihat lelaki tampan suka khilaf," ujar Seruni dengan cengengesan, kemudian memberikan kunci rumah kepada Susi.
__ADS_1
Susi yang sudah mendapatkan kunci rumah, langsung menarik tangan Asep untuk masuk ke dalam rumah.
"Mas Asep, nanti jangan lupa tukeran nomor handphone ya," teriak Seruni dengan melambaikan tangannya.
"Dek Seruni panggilnya Akang saja ya, soalnya saya orang Sunda," ujar Asep dengan melambaikan tangannya kepada Seruni, sontak saja semua itu membuat Susi semakin terbakar api cemburu.
Brugh
Susi menutup keras pintu rumah.
"Udah puas tebar pesona sama perempuan lain? Memangnya kamu itu menganggap aku apa?" teriak Susi.
"Memangnya kamu juga menganggap aku apa? Kalau kamu menganggap diri kamu sebagai seorang Istri, kamu pasti akan melayani aku sebagai Suami," ujar Asep kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Susi diam mematung mendengar perkataan Asep.
"Apa aku cemburu? Kenapa aku sampai marah-marah ketika ada perempuan lain yang menggoda Asep? Tapi sekarang Asep Suami aku kan? Jadi wajar saja kalau seorang Istri cemburu melihat Suaminya dekat dengan perempuan lain. Sadar Susi, kamu harus sadar," gumam Susi dengan memukul pelan kepalanya, dan Asep yang diam-diam melihatnya hanya tertawa cekikikan karena dia sudah berhasil membuat Susi cemburu.
......................
Malam pun kini telah tiba, Susi sudah terlelap dalam tidurnya, dan Asep yang tidak bisa tidur mencoba mendekati Susi untuk melancarkan aksinya.
"Sekarang Neng Susi adalah Istriku, jadi kalau aku menyentuhnya, aku tidak akan berdosa kan?" gumam Asep yang secara perlahan membuka kancing piyama Susi.
Asep menelan saliva nya ketika melihat gunung kembar yang saat ini berada di hadapannya, dan Asep yang sudah tidak tahan langsung saja menyusu bak bayi besar yang kehausan.
Susi melenguh ketika Asep melakukan semua itu, apalagi Asep terus mencium titik-titik sensitifnya.
Susi sebenarnya sudah terbangun, tapi Susi masih pura-pura tidur karena merasa malu jika sampai Asep mengetahuinya. Sampai akhirnya, Susi yang juga menginginkan lebih, membiarkan Asep melakukan kewajibannya sebagai Suami.
Sebaiknya aku pura-pura tidur saja, malu juga kan kalau aku ketahuan menginginkan sentuhannya, ucap Susi dalam hati.
*
__ADS_1
*
Bersambung