Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 155 ( Jangan salahkan aku selingkuh )


__ADS_3

Farel sebenarnya merasa risih karena harus satu ruangan dengan Karin, apalagi Karin selalu mencuri curi pandang terhadap Farel.


Apa aku coba saja ajak Karin jalan? Siapa tau dengan begitu aku bisa melupakan Alina, ucap Farel dalam hati.


"Karin, apa kamu mau ikut makan siang bersamaku?" tanya Farel.


Hati Karin begitu berbunga-bunga mendengar ajakan dari Farel, dan Karin begitu antusias menjawabnya.


"Saya mau sekali Tuan," jawab Karin, kemudian langsung menutup mulutnya karena merasa malu.


Farel tersenyum kecut melihat Karin yang begitu antusias, karena Farel teringat dengan Alina yang tidak pernah memberikan respon seperti itu.


Seandainya saja Alina bisa seperti Karin yang terlihat antusias saat aku ajak makan, bahkan semenjak kami menikah, aku tidak pernah melihat Alina bersemangat saat bepergian denganku. Mulai sekarang aku harus berusaha melupakan Alina, percuma aku terus mempertahankan rumah tangga kami, karena cintaku hanya bertepuk sebelah tangan, ucap Farel dalam hati.


Farel dan Karin ke luar dari dalam ruang kerja mereka menuju Restoran yang berada di seberang Argadana grup, dan Karin memberanikan diri untuk memegang tangan Farel.


Awalnya Farel ingin menepisnya, tapi Farel tidak ingin membuat Karin malu, sampai akhirnya Farel membiarkan Karin terus menggenggam tangannya.


Mimpi apa aku semalam? Rasanya seperti mimpi bisa jalan dengan Pangeran impianku, ucap Karin dalam hati dengan terus mengembangkan senyuman.


Sambil menunggu makanan datang, Farel mengajak Karin untuk berbicara.


"Karin, apa benar kalau kamu sudah bercerai dengan Suami kamu?" tanya Farel yang sempat mendengar kabar jika Karin sempat menikah.


"Iya Tuan, pernikahan kami hanya berjalan beberapa bulan saja. Awalnya saya mengira jika saya menikah dengan lelaki lain, saya bisa melupakan Tuan Farel, tapi ternyata semua itu sia-sia, karena sampai saat ini Tuan Farel selalu berada dalam hati saya," ujar Karin yang sengaja berterus terang, siapa tau dengan begitu Farel akan membuka hatinya untuk Karin, apalagi Karin mendengar dari Irwan jika rumah tangga Farel dan Alina sudah berada di ujung tanduk.


Farel beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar ketika mendengar perkataan Karin.


"Kenapa kamu menyia-nyiakan hidup kamu demi laki-laki seperti aku?" tanya Farel.


"Lalu apa bedanya dengan Tuan yang terus mencintai Alina, padahal jelas-jelas Alina selalu menyakiti Tuan dan tidak pernah menghargai Tuan sebagai Suami?" ujar Karin.


"Kamu benar, aku adalah lelaki paling bodoh di Dunia ini, karena aku terus berharap kepada perempuan yang jelas-jelas tidak pernah mencintaiku."


"Kalau begitu, anggap saja saya juga perempuan bodoh yang terus mengharapkan cinta dari lelaki yang tidak pernah mencintai saya," ujar Karin.


Kenapa denganku, sekarang jelas-jelas di hadapanku ada perempuan yang tulus mencintaiku, tapi kenapa dadaku tidak bergetar sedikit pun saat mendengar perkataan Karin? Mungkin sekarang saatnya aku membuktikan kepada Alina jika aku bisa hidup tanpa dirinya, batin Farel.

__ADS_1


"Karin, saat ini statusku masih Suami Alina, tapi aku akan segera mengajukan gugatan cerai_" belum juga Farel selesai berbicara, Karin sudah memotong perkataan Farel.


"Saya bersedia Tuan jadikan pelarian, dan saya akan menunggu sampai Tuan resmi bercerai dari Alina," ujar Karin dengan menggenggam tangan Farel.


Kenapa dia agresif sekali sih? Belum juga aku selesai bicara. Tapi bagus deh, aku jadi tidak perlu berbicara panjang lebar lagi, ucap Farel dalam hati dengan memaksakan diri untuk tersenyum.


Alina yang kebetulan ingin makan siang juga di Restoran tersebut, begitu terkejut ketika melihat Farel dan Karin yang berpegangan tangan, apalagi sebelumnya Alina tau kalau Karin menyukai Farel.


Alina langsung menghampiri meja Karin dan Farel untuk melabrak mereka.


Brak


Alina menggebrak meja Farel dan Karin sehingga membuat semua yang berada di sana merasa terkejut, dan saat ini ketiganya menjadi pusat perhatian.


"Farel, bisa-bisanya ya kamu selingkuh di belakangku," teriak Alina dengan menarik tangan Farel yang masih digenggam oleh Karin, karena Alina merasa tidak rela jika Farel disentuh oleh perempuan lain.


"Alina, memangnya kamu pikir kamu saja yang bisa berselingkuh? Jangan salahkan aku selingkuh, karena kamu sendiri yang memulai permainan ini !!" ujar Farel dengan penuh penekanan.


"Tapi saat ini kita masih Suami Istri, dan kamu tidak bisa jalan dengan perempuan lain sesuka hati kamu," ujar Alina.


"Kenapa aku tidak boleh jalan dengan perempuan lain, sedangkan kamu dengan seenaknya bergonta ganti laki-laki? Alina, kamu sendiri yang membuat aku menjadi seperti ini, dan aku akan segera mengajukan gugatan cerai, karena aku sudah menyerah dengan pernikahan kita," ujar Farel dengan mengangkat kedua tangannya.


"Karin, sebaiknya kita makan di kantor saja, tadi aku sudah membawa bekal dari rumah Arya, nanti kita makan satu piring berdua," ujar Farel yang sengaja berkata seperti itu di depan Alina.


Farel menarik tangan Karin untuk pergi dari Restoran tersebut, dan Alina semakin terbakar api cemburu.


"Sayang, kenapa kamu masih berdiri? Sebaiknya kita pesan makanan sekarang sebelum waktu istirahat habis," ujar Richard yang sebelumnya ijin ke kamar mandi.


Richard merupakan Asisten pribadi Alina, dan seiring waktu, Alina mulai jatuh cinta dengan sosok Richard yang selalu berada di dekatnya.


"Aku sudah tidak lapar, sebaiknya sekarang kita kembali ke Kantor," ujar Alina dengan berjalan meninggalkan Richard.


"Kenapa dengan Alina? Apa ada sesuatu yang terjadi saat aku pergi ke kamar mandi?" gumam Richard, kemudian mengejar Alina.


......................


Setelah sampai di ruang kerjanya, Farel memberikan kotak makan pemberian Suci kepada Karin.

__ADS_1


"Karin, sebaiknya sekarang kamu makan," ujar Farel yang terlihat sedih.


"Saya tidak mau makan kalau Tuan tidak ikut makan juga."


"Aku sedang tidak berselera makan, dan kamu tidak perlu terus memanggilku dengan sebutan Tuan jika kita sedang berdua, karena sekarang kamu adalah kekasihku," ujar Farel kemudian duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya yang tiba-tiba berdenyut sakit.


Secara perlahan Karin mendekati Farel, kemudian Karin memeluk tubuh Farel sehingga membuat Farel terkejut.


"Sayang, aku tau kalau saat ini kamu masih memikirkan Alina, tapi aku akan berusaha membuat kamu melupakannya," ujar Karin dengan menggerayangi tubuh Farel, tapi anehnya Farel sama sekali tidak merasa tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Karin.


"Karin, tolong jangan seperti ini. Meski pun sekarang kamu adalah kekasihku, tapi aku tidak mau merusak harga dirimu," ujar Farel sehingga membuat Karin merasa kecewa.


Farel tau jika saat ini Karin kecewa dengan penolakannya, sampai akhirnya Farel menyuruh Karin untuk menyuapinya makan.


"Kamu tidak usah cemberut seperti itu, sebaiknya sekarang kita makan. Kamu mau kan menyuapi aku?" ujar Farel.


Karin langsung tersenyum dan terlihat bersemangat, kemudian Karin menyuapi Farel yang saat ini memutuskan untuk memeriksa dokumen supaya Karin tidak terus berusaha menggodanya.


......................


Waktu kini telah menunjukan pukul empat sore, dan jam kerja pun telah selesai.


"Karin, tidak apa-apa kan kalau aku tidak mengantarkan kamu pulang? Soalnya aku tidak membawa mobil, karena tadi aku berangkat dari rumah Arya," ujar Farel.


"Iya tidak apa-apa sayang, kebetulan hari ini aku juga bawa mobil," ujar Karin kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Farel.


Baru saja Karin menempelkan bibirnya dengan bibir Farel, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang membuka pintu ruang kerja Farel.


"Farel sebaiknya sekarang kita pu_lang," ujar Arya yang terkejut ketika melihat Karin dan Farel yang sedang berciuman.


Karin yang melihat Arya, langsung melepaskan ciumannya dari Farel.


"Tuan Arya, Tuan Farel, kalau begitu saya pulang duluan," ujar Karin dengan berlari ke luar dari ruang kerjanya, karena Karin malu sudah kepergok oleh Arya.


"Farel, kamu dan Karin tidak berbuat macam-macam kan?" tanya Arya dengan memicingkan matanya.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2