
Arya begitu terkejut ketika melihat Suci yang saat ini berada di hadapannya.
"Su_suci, kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya Arya dengan suara tergagap.
"Mas Arya kenapa melihat saya seperti melihat Hantu?" tanya Suci yang merasa heran.
"Bukan seperti itu, tapi apa Rian tidak marah karena kamu menyusul aku?"
"Justru Mas Rian yang menyuruh aku datang ke sini untuk membantu Mas Arya, karena Mas Rian kasihan kalau Mas Arya membereskan rumah dengan menggendong Rizky. Sini sapunya, biar aku aja yang bersihin rumah," ujar Suci dengan mengambil sapu dari tangan Arya.
Arya terlihat diam mematung karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya, berbeda dengan Rizky yang tertawa bahagia dengan mengoceh menyebut Mama ketika melihat kedatangan Suci.
"Sayang, Rizky senang ya karena sekarang bisa ketemu sama Mama? Rizky sabar ya sampai Mama mengingat kita," bisik Arya dengan mencium pipi gembul Rizky.
Setelah selesai menyapu, Suci melanjutkannya dengan mengepel lantai, dan Suci terlihat mengelap keringat yang menetes pada dahinya.
"Sebaiknya sekarang kamu minum dulu, terus kita gantian, kamu yang ngajak main Rizky, biar aku yang mengepel," ujar Arya dengan memberikan sebotol minuman dingin pada Suci.
Suci menggendong Rizky yang sudah merentangkan kedua tangannya, kemudian Suci mengajak duduk Rizky karena saat ini Suci sudah merasa kehausan.
Setelah Suci menenggak habis minumannya, Suci membuka kue untuk Rizky.
"Sayang makan dulu ya," ujar Suci dengan memberikan kue kepada Rizky.
"Iya sebentar, aku belum beres ngepel nya," jawab Arya yang mengira jika Suci mengajak Arya makan.
"Memangnya siapa yang ngajak Mas Arya makan, Mas Arya kepedean banget sih. Aku barusan nyuruh Rizky makan kue nya," ujar Suci, dan Arya hanya nyengir kuda menanggapi perkataan Suci.
Suci yang merasa kelelahan sampai tertidur di atas sofa dengan memeluk Rizky yang saat ini terlelap dalam pelukannya, dan Arya yang melihat Anak dan Istrinya tertidur, tersenyum bahagia karena tidak menyangka jika dirinya akan kembali dipertemukan dengan Suci.
"Semua ini terasa seperti mimpi untukku, seandainya bisa, aku ingin waktu berhenti saat ini juga," gumam Arya dengan memeluk tubuh Suci dan Rizky.
Arya yang tidak ingin Suci terbangun, memindahkan Rizky ke dalam kamar, kemudian Arya kembali menghampiri Suci dan membantu Suci berbaring di atas bantal.
"Sayang, semoga saja saat ingatan kamu kembali, kamu tidak akan membenciku," ucap Arya yang secara perlahan mendekatkan bibirnya pada bibir Suci.
Arya rasanya ingin terus mendekap erat tubuh Suci, tapi Arya takut jika nanti Suci terbangun dan akan marah kepadanya, sampai akhirnya Arya memutuskan untuk menyelesaikan membersihkan rumah.
Satu jam kemudian, Secara perlahan Suci mulai membuka matanya, dan Suci duduk dengan melihat ke sekeliling.
"Kemana Rizky? Kenapa aku bisa sampai ketiduran," gumam Suci, kemudian mencoba mencari Arya ke dapur untuk menanyakan keberadaan Rizky.
"Mas, maaf ya aku malah ketiduran. Oh iya Rizky kemana?" tanya Suci yang melihat Arya sedang mengepel di dapur.
__ADS_1
"Rizky masih tidur di kamar, sebaiknya Mama tidur lagi saja, biar Papa yang menyelesaikan semuanya. Sedikit lagi juga selesai kok," ujar Arya yang lupa jika saat ini Suci sedang hilang ingatan.
"Apa maksud Mas Arya?" tanya Suci yang terlihat bingung mendengar perkataan Arya
Kenapa aku selalu keceplosan sih, batin Arya.
"Aku tadi hanya salah bicara," jawab Arya, karena aku lupa kalau Suci ku sudah melupakanku, lanjut Arya dalam hati.
"Sebaiknya aku saja yang lanjutin ngepel nya biar cepet selesai. Sini lap pel nya," ujar Suci dengan melangkah mendekati Arya untuk mengambil lap pel, tapi Suci tidak sengaja menginjak lantai yang basah, sampai akhirnya Suci menabrak tubuh Arya dan keduanya terjatuh di atas lantai dengan posisi Arya berada di bawah tubuh Suci.
Suci dan Arya kini saling memandang dengan jantung keduanya yang berdetak kencang.
Kenapa rasanya semua ini pernah terjadi di masalalu, batin Suci, tapi tiba-tiba kepala Suci terasa sakit saat berusaha untuk mengingat semuanya.
"Suci, kamu baik-baik saja kan?" tanya Arya dengan membantu Suci bangun.
"Aku baik-baik saja Mas, kalau begitu aku pulang dulu, kasihan Anak-anak pasti mereka mencari ku," ujar Suci dengan bergegas pergi dari rumah Arya, dan Arya hanya bisa menatap nanar kepergian Suci, karena Arya tidak mungkin bisa mencegahnya.
"Sayang, kapan kita akan kembali bersama?" gumam Arya.
......................
Keesokan paginya, Arya dikejutkan dengan kedatangan Hesti dan Irwan yang sudah tiba di depan rumahnya.
"Kenapa pagi-pagi begini kalian sudah menggangguku sih?" gumam Arya dengan mengucek kedua matanya yang masih ngantuk, karena sebelumnya Arya kembali tidur setelah melaksanakan Shalat Subuh.
Beberapa saat kemudian, Suci datang dengan membawa rantang makanan untuk Arya, Suci juga merasa heran, entah kenapa hari ini dia begitu bersemangat untuk memasak, padahal biasanya Suci jarang sekali memasak karena sibuk mengurus Anak-anaknya.
"Assalamu'alaikum," ucap Suci, kemudian Arya, Irwan dan Hesti menjawab Salam Suci.
Hesti yang melihat Suci, langsung berhambur memeluk tubuh Suci, kemudian Hesti menangis dalam pelukan Suci.
"Suci, ternyata kamu masih hidup," ucap Hesti, sehingga membuat Suci merasa bingung, sedangkan Arya dan Irwan menepuk jidatnya secara bersamaan, ketika mendengar perkataan Hesti yang sudah keceplosan.
"Maaf, Mbak sepertinya salah orang," ucap Suci yang tidak mengingat Hesti.
"Maaf Mbak Suci, calon Istri saya memang agak sedikit rabun," ujar Irwan dengan menarik lembut tangan Hesti yang masih saja memeluk tubuh Suci.
"Irwan, aku tidak rabun, aku sangat merindukan Suci ku_" ucapan Hesti terhenti ketika Irwan mencoba mengingatkan Hesti dengan mengedipkan matanya.
"Eh iya Mbak maaf, saya sepertinya salah orang, saya pikir tadi Mbak adalah Suci mendiang Istrinya Mas Arya sekaligus sahabat karib saya," ujar Hesti dengan cengengesan.
"Tidak apa-apa Mbak, pasti Mbak kangen sekali ya sama Temannya. Mas Arya, ini makanan untuk sarapan, kebetulan tadi aku masak banyak," ujar Suci dengan memberikan rantang makanan kepada Arya.
__ADS_1
"Makasih banyak ya, maaf sudah ngerepotin," ucap Arya dengan terus menatap lekat wajah Suci.
"Kalau begitu, saya pamit dulu," ujar Suci dengan kembali melangkahkan Kaki menuju rumahnya.
Irwan menepuk bahu Arya untuk memberikan dukungan.
"Ya, yang sabar ya, semoga secepatnya ingatan Suci kembali," ucap Irwan.
"Justru aku takut jika ingatan Suci kembali, bagaimana kalau dia membenci aku setelah mengingat jika aku adalah lelaki bejat yang telah menghancurkan hidupnya?" ujar Arya.
"Aku yakin kalau Suci bukan orang yang pendendam, tapi aku kesal sama Si Rian, aku harus memberikan pelajaran karena dia sudah membuat kita semua menangis ketika mengira jika Suci telah meninggal dunia," ujar Hesti dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Sayang, kamu jangan terlalu emosi, bagaimana kalau nanti kamu sampai darah tinggi, padahal sebentar lagi kita bakalan menikah," ujar Irwan.
Arya yang baru menyadari jika Irwan dan Hesti memiliki hubungan, merasa terkejut mendengar kabar Irwan yang akan segera menikah dengan Hesti.
"Sejak kapan kalian pacaran? Kenapa tau tau udah mau nikah aja?" tanya Arya.
"Kami sudah beberapa bulan ini menjalin hubungan, dan aku ingin segera menyusul kamu membuat Bayi," celetuk Irwan, sehingga Hesti mencubit perutnya.
"Sayang sakit, galak amat sih," ujar Irwan dengan meringis kesakitan.
"Makanya jangan bicara macam-macam."
"Aku cuma satu macam kok, aku hanya mencintai kamu," gombal Irwan.
"Sekarang sudah mulai pintar gombal ya," ujar Hesti dengan mendelikkan matanya.
Arya yang merasa kesal melihat kebucinan Irwan dan Hesti, berlalu begitu saja ke dalam rumah.
"Arya, kenapa ada tamu malah gak disuruh masuk?" teriak Irwan.
"Kalian punya kaki kan? Masuk saja sendiri, aku mau makan dulu masakan Istri ku," ujar Arya dengan berjalan menuju meja makan.
"Pak Bos, aku mau dong dibagi makanannya, aku udah lama gak makan masakan Suci," ujar Hesti dengan menarik tangan Irwan untuk menyusul Arya.
"Enak saja, masakan Suci hanya untuk aku, dan aku tidak mau membaginya dengan kalian," ujar Arya dengan memeluk rantang makanan pemberian Suci.
"Pak Bos, bagi dong, sedikit aja," ujar Hesti dengan tatapan memohon.
"Hesti, sebaiknya kamu jangan berebut makanan dengan Mas Arya, aku masak yang banyak buat kalian. Dari dulu kamu itu selalu saja berebut masakan ku. Aku masih ingat kalau hampir setiap hari kamu berebut masakan buatanku dengan Bu Rita," ujar Suci yang tiba-tiba berada di sana dengan kembali membawa rantang makanan, tapi yang membuat Arya, Hesti dan Irwan terkejut adalah karena Suci sudah mengingat Hesti dan Bu Rita.
*
__ADS_1
*
Bersambung