
Asep sebenarnya merasa bersalah karena sudah melakukan kewajibannya sebagai Suami secara diam-diam saat Susi tertidur, tapi semua itu Asep lakukan supaya Susi bisa segera hamil dan bisa menerimanya sebagai Suami.
"Seharusnya aku meminta ijin dulu sama Neng Susi. Kok aku merasa seperti maling ya? Maaf ya Neng, Aa khilaf," ujar Asep dengan mengelus lembut kepala Susi, kemudian Asep mencium keningnya dengan sayang.
Asep membenarkan pakaian Susi yang sebelumnya telah ia buka, kemudian Asep berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Susi membuka matanya setelah Asep masuk ke dalam kamar mandi, kemudian Susi tersenyum bahagia ketika mengingat semua yang telah Asep perbuat kepada dirinya.
"Gak apa-apa A khilaf nya setiap malam juga," gumam Susi dengan menutup wajahnya yang merasa malu, kemudian Susi pura-pura tidur lagi ketika mendengar Asep membuka pintu kamar mandi.
Asep yang sudah mengantuk akhirnya tertidur dengan memeluk tubuh Susi.
......................
Keesokan paginya, Asep bangun sebelum Adzan Subuh berkumandang, kemudian Asep melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk melakukan mandi wajib.
Asep sebenarnya merasa ragu untuk membangunkan Susi yang masih terlelap, tapi sebagai seorang Suami, Asep harus mengingatkan Istrinya supaya melakukan kewajiban sebagai Umat Muslim.
"Aku harus membangunkan Neng Susi, aku juga harus menyuruh Neng Susi buat mandi besar, dia marah gak ya kalau aku mengakui kesalahanku yang sudah melakukan sesuatu kepadanya tanpa ijin?" gumam Asep yang saat ini berada dalam dilema.
"Neng bangun Neng, sebentar lagi Adzan Subuh. Neng sekarang mandi dulu, jangan lupa mandi wajib juga ya," ujar Asep dengan menggoyangkan tubuh Susi.
Susi pura-pura tidak mendengar perkataan Asep, karena Susi masih merasa malu sekaligus mengantuk.
"Apaan sih? Iya bentar lagi aku bangun," ujar Susi dengan ketus.
Asep memutuskan untuk memasak nasi terlebih dahulu, karena semalam Asep menyempatkan diri pergi ke warung untuk belanja beras dan sembako.
"Sebaiknya aku masak nasi dulu mumpung masih belum Adzan, nanti kalau udah Shalat, aku tinggal masak lauknya," gumam Asep.
Asep sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah setelah kedua orangtuanya meninggal dunia, jadi Asep tidak perlu bergantung kepada Susi untuk memasak dan membersihkan rumah.
Setelah suara Adzan berkumandang, Asep melakukan kewajibannya sebagai Umat Muslim di Mushala yang berada di samping rumah, dan Asep menghela nafas panjang ketika kembali ke dalam kamarnya, karena Susi masih belum bangun juga.
"Neng, bangun Neng, ayo mandi sama Shalat dulu," ujar Asep dengan menggoyangkan tubuh Susi.
__ADS_1
Susi yang memang jarang melakukan kewajibannya sebagai Umat Muslim, masih enggan untuk bangun, sampai akhirnya Asep menggendong Susi ke dalam kamar mandi.
Byur
Susi langsung terbangun ketika Asep memasukannya ke dalam bathub yang sebelumnya sudah Asep isi dengan air hangat.
"Asep, kamu apa-apaan sih? Kamu tidak tau apa kalau aku masih ngantuk," gerutu Susi.
"Neng, dari tadi Aa sudah beberapa kali bangunin Neng, tapi Neng gak bangun juga. Sekarang Neng sudah menjadi tanggung jawab Aa di Dunia dan Akhirat, jadi sudah kewajiban Aa mengingatkan Neng untuk beribadah."
Susi diam mematung mendengar perkataan Asep, karena sebelumnya Susi memang sangat jarang beribadah.
"Neng, kenapa atuh malah melamun? Apa Neng mau Aa mandiin juga?" goda Asep, dan Susi langsung mencipratkan air pada tubuh Asep.
"Udah sana ke luar, aku bukan Anak kecil lagi, aku bisa mandi sendiri," ujar Susi yang selalu bersikap ketus terhadap Asep, dan semua itu Susi lakukan untuk menutupi perasaannya yang sudah mulai tumbuh rasa sayang terhadap sosok Asep.
"Neng, jangan lupa keramas sama niat mandi wajib ya," ujar Asep yang sebenarnya merasa takut untuk mengatakannya, tapi Susi pura-pura tidak mendengar perkataan Asep.
Asep memutuskan untuk berlari ke luar dari dalam kamar mandi sebelum Susi marah, dan Susi tersenyum melihat tingkah Asep yang terlihat lucu di matanya.
Susi terkejut ketika ke luar dari dalam kamar mandi, karena ternyata Asep sudah menyediakan sajadah dan mukena untuk Susi Shalat.
"Asep, kamu dimana?" tanya Susi setelah melaksanakan Shalat Subuh.
"Aa di dapur Neng," jawab Asep yang saat ini sedang terlihat memasak.
Susi terkejut ketika melihat sekeliling rumah yang sudah terlihat bersih dan rapi.
"Ka_kamu lagi ngapain?" tanya Susi yang sebenarnya merasa malu ketika melihat Asep memasak.
"Aa lagi masak, tapi di warung hanya ada ikan sarden sama telor, nanti pulang dari Restoran, Aa bawain makanan yang enak buat Neng Susi, sekarang kita makan sama ikan sarden saja ya," ujar Asep dengan membawa ikan sarden yang sudah ia masak ke atas meja makan.
Asep menarik lembut tangan Susi, kemudian menarik kursi untuk Susi duduk.
"Kalau Neng Susi sudah lapar, Neng makan duluan saja, Aa mau ganti baju dulu," ujar Asep kemudian berlalu ke dalam kamar.
__ADS_1
Susi menitikkan airmata melihat perlakuan Asep kepadanya, karena baru kali ini Susi diperlakukan spesial oleh seseorang.
"Padahal aku selalu bersikap ketus dan marah marah sama Asep, tapi dia masih saja perhatian kepadaku. Seharusnya sebagai seorang Istri, aku yang melayani Suamiku, tapi ini malah sebaliknya," gumam Susi.
Beberapa saat kemudian, Asep kembali menghampiri Susi, dan Susi diam mematung melihat penampilan Asep yang menggunakan kemeja dan dasi, apalagi Asep terlihat membawa jas yang akan dia pakai untuk bekerja.
Susi menelan saliva nya ketika melihat Asep yang terlihat semakin tampan.
"Neng kenapa air liur nya sampai netes gitu?" goda Asep, dan Susi secara tidak sadar langsung mengelap bibirnya.
"E_enggak ada kok," ujar Susi dengan tersenyum malu.
"Aa cuma bercanda kok. Kenapa Neng belum makan? Apa masakan Aa tidak enak?"
"A_aku masih belum lapar," jawab Susi dengan tergagap, karena Susi masih merasa gugup.
Asep mengisi piring milik Susi dengan nasi dan ikan sarden, kemudian Asep menyimpannya di hadapan Susi yang terus saja menatap lekat wajah Asep.
"Neng, dimakan atuh nasinya. Maaf ya, Aa belum bisa membahagiakan Neng Susi, tapi Aa pasti akan berusaha membahagiakan Neng Susi dan Anak-anak kita," ujar Asep dengan memegang tangan Susi.
Susi yang merasa terhipnotis oleh ketampanan Asep, hanya diam mematung dan tidak menepis tangan Asep yang terus menggenggam tangannya selama makan.
"Neng, kalau begitu Aa berangkat dulu ya, Neng jaga diri baik-baik. Neng tidak usah mengerjakan pekerjaan rumah, biar Aa saja yang nanti mengerjakan semuanya setelah pulang kerja," ujar Asep dengan memberikan tangannya kepada Susi, dan Susi mencium punggung tangan Asep, bahkan Susi hanya diam saja ketika Asep mencium keningnya sebelum berangkat kerja.
Arya menyuruh Asep menggunakan semua fasilitas yang Arya miliki di Jawa timur, termasuk mobil. Meski pun pada awalnya Asep menolak semua itu karena merasa malu dengan kebaikan Arya dan Suci, tapi Arya dan Suci terus memaksa Asep untuk menerima semuanya.
Susi melambaikan tangannya ketika mobil yang Asep kendarai meninggalkan halaman rumah, dan Susi merasa sedih ketika Asep tidak ada di sampingnya.
"Kenapa hatiku terasa hampa setelah Aa Asep pergi? Apa sekarang pertahananku sudah mulai runtuh? Aa Asep selalu tulus mencintaiku, dan seharusnya sebagai seorang Istri, aku melakukan hal yang sama," gumam Susi.
*
*
Bersambung.
__ADS_1