
Bu Inah terus saja mondar mandir karena mencemaskan Susi yang masih belum pulang juga, sampai akhirnya Bu Inah membangunkan Pak Maman.
"Pak, bangun Pak."
"Ada apa sih Bu, kenapa Ibu terlihat cemas seperti itu?" tanya Pak Maman.
"Pak, Susi masih belum pulang juga, padahal sekarang sudah jam sebelas malam," jawab Bu Inah.
"Astagfirullah, bener bener tuh Anak, padahal tadi siang Bapak sudah wanti wanti kalau dia jangan pulang malam-malam. Ya sudah, kalau begitu Bapak cari Susi dulu," ujar Pak Maman, kemudian mengajak Anak sulungnya yang bernama Ari untuk mencari Susi.
Pak Maman melewati Pos ronda yang tidak jauh dari rumahnya, dan beberapa orang yang berada di pos ronda bertanya kepada Pak Maman kenapa beliau ke luar malam-malam.
"Pak RT mau kemana? Sekarang kan bukan bagian Pak RT meronda."
"Saya mau cari Susi Keponakan saya Jang, soalnya dia belum pulang juga," jawab Pak Maman.
"Kalau begitu kami bantu cari Pak," ujar enam orang warga yang berada di pos ronda.
"Ari, kamu pulang saja Nak, kasihan besok kamu harus sekolah," ujar Pak Maman.
Setelah melihat Ari masuk ke dalam rumah, Pak Maman dibantu oleh Warga mencari keberadaan Susi.
"Susi, Susi, dimana kamu Nak?" teriak Pak Maman dan yang lainnya.
Pak Maman menemukan tas Susi yang tergeletak di pinggir jalan di sekitar kebun singkong.
"Ini sepertinya tas milik Susi, tapi dimana Anak itu?" gumam Pak Maman dengan perasaan yang sudah tidak menentu.
"Pak, sepertinya ada sandal di kebun singkong," ujar Ujang ketika mengarahkan senternya ke arah kebun singkong.
"Pak Maman dan yang lainnya mencoba memasuki kebun singkong, dan semuanya begitu terkejut ketika melihat ada seseorang yang tergeletak di gubuk yang berada di tengah kebun singkong.
Pak Maman mengajak yang lainnya untuk melihat orang yang tidak sadarkan diri tersebut, sampai akhirnya Pak Maman berteriak ketika melihat Susi yang tengah pingsan.
"Astagfirullah Susi, kenapa kamu Nak? Apa yang sudah terjadi sama Kamu? Maafin Mamang yang sudah lalai menjaga kamu," ujar Pak Maman dengan menitikkan airmata melihat kondisi Susi dengan pakaian yang sudah robek, apalagi terdapat darah pada bagian bawah pakaian Susi, dan Pak Maman sudah dapat menyimpulkan jika Susi sudah menjadi korban pemerkosaan.
"Pak, sebaiknya kita melaporkan kejadian ini kepada Pihak yang berwajib. Dulu saat Suci menjadi korban pemerkosaan kita tidak melaporkannya, sekarang kita harus bertindak, jangan sampai ada korban lain lagi yang mengalami hal sama," ujar Mang Ujang.
"Sekarang sebaiknya kita bawa Susi pulang dulu," ujar Pak Maman dengan memakaikan jaketnya untuk menutupi tubuh Susi.
Pak Maman juga mengambil sapu tangan yang dipakai untuk menyumpal mulut Susi, kemudian Pak Maman memasukan sapu tangan tersebut ke dalam celana yang beliau pakai.
Setelah semuanya sampai di rumah Pak Maman, Bu Inah menangis histeris ketika melihat Susi dalam keadaan pingsan, dan Bu Inah teringat dengan kejadian yang dulu menimpa Suci.
__ADS_1
"Pak, kenapa Susi bisa sampai seperti ini?" tanya Bu Inah.
"Ibu tenang dulu, Bapak juga tidak tau, karena saat kami menemukan Susi, dia sudah pingsan di gubuk yang berada di kebon singkong Pak Imron," ujar Pak Maman.
Suci dan Arya yang mendengar keributan di rumah Bu Inah, bergegas menuju rumah Bu Inah setelah sebelumnya menitipkan Anak-anaknya kepada Bi Sari.
"Bu, apa yang sudah terjadi?" tanya Suci dengan menghampiri Bu Inah yang masih menangis.
"Nak, Susi menjadi korban pemerkosaan," jawab Bu Inah.
Tubuh Suci terasa lemas mendengar perkataan Bu Inah, karena Suci teringat dengan kejadian yang dulu pernah menimpanya.
"Sayang, Mama tidak kenapa-napa kan?" tanya Arya dengan memeluk tubuh Suci yang hampir saja terjatuh.
Suci menghampiri Susi yang saat ini tengah diperiksa oleh Bidan.
"Bu, bagaimana keadaan Susi?" tanya Suci.
"Susi baru saja hilang keperawanannya. Semoga saja setelah kejadian ini Susi tidak mengalami trauma," ujar Bu Bidan.
Beberapa saat kemudian, Susi secara perlahan membuka matanya, dan Susi langsung menangis histeris ketika mengingat kejadian yang menimpanya.
"Susi, kamu harus tenang, semuanya akan baik-baik saja," ujar Suci dengan memeluk tubuh Susi.
"Bi, sekarang Susi sudah kotor," ujar Susi dengan menangis dalam pelukan Bu Inah.
"Susi, siapa yang sudah melakukannya Nak?" tanya Bu Inah.
"Mas Arya," ujar Susi dengan menunjuk Arya yang saat ini berada di samping Suci.
Suci tidak menyangka jika Susi akan menuduh Arya yang melakukannya, Suci yang sudah merasa geram pun akhirnya menampar pipi Susi.
Plak
Tamparan keras mendarat pada pipi Susi.
"Tutup mulut kamu Susi, tidak sepantasnya kamu menuduh Suamiku melakukan hal bejat seperti itu. Selama ini aku selalu menutupi kebusukan kamu dari Bu Inah, tapi ternyata kamu dengan teganya memfitnah Mas Arya," teriak Suci.
"Suci, kamu juga seorang perempuan, seharusnya kamu mengasihani nasibku yang malang karena sudah menjadi korban pemerkosaan oleh Suami kamu. Sekarang aku minta pertanggung jawaban dari Mas Arya, aku ingin malam ini juga Mas Arya menikahi ku," teriak Susi dengan lantang.
Bu Inah saat ini berada dalam dilema, Bu Inah serba salah harus membela siapa, karena Bu Inah tidak tahu mana yang salah dan yang benar.
"Sampai mati pun aku tidak sudi menikahi kamu, apalagi harus bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak aku lakukan," ujar Arya dengan tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Kalau Mas Arya tidak mau bertanggung jawab, lebih baik kita laporkan saja Mas Arya kepada pihak berwajib," teriak Susi.
"Silahkan saja kamu laporkan aku, sedikit pun aku tidak takut, dan aku lebih memilih mendekam di dalam Penjara dari pada harus menikahi ja*lang seperti kamu," teriak Arya.
Susi menangis supaya semua yang berada di sana merasa prihatin dengan nasib yang menimpanya.
"Bi, Bibi dengar sendiri kan kata Bu Bidan, kalau Susi baru saja kehilangan keperawanan? tapi Mas Arya dengan teganya sudah menuduh Susi sebagai seorang ja*lang."
Pak Maman akhirnya angkat suara supaya tidak terus terjadi keributan.
"Nak Arya, Susi, sebaiknya kalian berdua tenang dulu, kita harus mencari jalan ke luar dari masalah ini. Susi, sekarang Mamang tanya, apa benar jika Nak Arya adalah lelaki yang sudah memperkosa kamu?"
"Mang, Susi tidak mungkin berbohong. Selama ini Mas Arya selalu menggoda Susi saat Susi bekerja, tapi Susi selalu menolaknya, jadi Mas Arya nekad melakukan semua itu kepada Susi."
"Tutup mulut kamu Susi, karena sedikit pun aku tidak pernah tergoda oleh perempuan ja*lang seperti kamu. Selama ini kamu yang sudah berusaha menggodaku, makanya aku mempekerjakan Asep supaya kamu tidak bisa mendekatiku," ujar Arya.
"Pak, Suci berani bersumpah kalau bukan Mas Arya pelakunya, karena dari tadi Mas Arya tidak ke luar dari rumah," ujar Suci dengan menangis memeluk Arya.
"Sayang, semuanya pasti akan baik-baik saja, karena kebenaran pasti akan terungkap. Sekarang juga kita harus membawa Susi ke Rumah Sakit untuk melakukan visum," ujar Arya.
Susi sudah terlihat ketakutan karena dia tidak mau kalau kebohongannya terbongkar.
"Aku tidak mau melakukan visum," ujar Susi.
"Kenapa kamu tidak mau melakukan visum? Apa kamu takut kalau kebohongan mu terbongkar?" ujar Arya dengan tersenyum mengejek.
"Aku punya bukti kalau Mas Arya pelakunya," ujar Susi yang mengingat sapu tangan yang dipakai untuk membekapnya, karena sapu tangan tersebut sangat mirip dengan sapu tangan milik Arya.
"Apa buktinya? Silahkan kamu keluarkan !!" tantang Arya.
"Mang, apa Mamang melihat sapu tangan yang dipakai untuk menyumpal mulut Susi?"
"Iya, tadi Mamang menyimpannya," ujar Pak Maman dengan mengeluarkan sapu tangan dari dalam sakunya.
Susi tersenyum penuh kemenangan ketika melihat nama Arya tertulis pada sapu tangan tersebut.
"Sepertinya ini bisa menjadi bukti kalau Mas Arya yang sudah memperkosa Susi" ujar Susi dengan memperlihatkan sapu tangan bertuliskan nama Arya kepada semua orang.
*
*
Bersambung
__ADS_1