
Alina menolak menikah dengan Farel, tapi keputusan Papa Ferdi sudah tidak dapat diganggu gugat, dan Papa Ferdi bergegas menghubungi Penghulu supaya segera datang ke rumahnya.
"Pa, Alina tidak mau menikah dengan Farel, Alina tidak mencintainya."
"Kamu bilang tidak mencintai Farel, tapi kenyataannya kalian sampai memiliki Anak. Alina, Papa cape dengan kelakuan kamu yang selalu membuat Papa kecewa, kamu juga sudah membuat Papa malu Alina. Kalau kamu tidak mau menikah dengan Farel, sebaiknya sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah ini," teriak Papa Ferdi.
Alina tidak bisa berkutik dengan keputusan Papa Ferdi, karena Alina tidak memiliki sanak saudara apabila Papa Ferdi mengusirnya, sampai akhirnya Alina terpaksa menerima untuk dinikahkan dengan Farel.
"Baiklah, kalau begitu Alina mau menikah dengan Farel, tapi Alina meminta ijin terlebih dahulu untuk berbicara berdua dengan Farel."
Farel dan Alina menuju Taman yang berada di belakang rumah supaya Alina bisa lebih leluasa untuk berbicara, karena Alina ingin membuat perjanjian pernikahan dengan Farel.
"Alina, apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Farel.
"Farel, aku ingin membuat perjanjian pernikahan dengan kamu."
"Baiklah, aku akan memenuhi semua keinginan kamu. Jadi kamu tidak perlu ragu untuk mengatakannya."
Alina terlihat berpikir, karena Alina menginginkan kebebasan, jadi Alina tidak mau mengurus Putri dan akan tetap memilih untuk bekerja.
"Setelah nanti kita menikah, Aku tidak mau ada oranglain yang tau tentang pernikahan kita, termasuk Arya, karena aku ingin tetap bekerja, dan aku tidak mau mengurus si Cacat. Jadi, biarkan Bi Rita yang tetap merawatnya, dan aku juga ingin tetap tinggal di sini, aku tidak mau jika harus tinggal di rumah kamu."
Farel sebenarnya merasa keberatan, tapi saat ini Farel tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui permintaan Alina.
"Baiklah, aku akan mengabulkan keinginan kamu, tapi aku harap, kamu berhenti memanggil Putri dengan panggilan si cacat."
Beberapa saat kemudian, Penghulu beserta para Saksi pun datang, dan Papa Ferdi menyuruh Alina dan Farel untuk duduk di depan Penghulu karena acara pernikahan dadakan akan segera dimulai.
Sebelum acara pernikahan digelar, Farel terlebih dahulu menelpon kedua orangtuanya untuk meminta ijin, karena kedua orangtua Farel tinggal di luar negeri.
Orangtua Farel meminta maaf karena tidak bisa hadir pada acara pernikahan dadakan tersebut, tapi kedua orangtua Farel sangat mendukung keputusan Farel, apalagi mereka sudah mengetahui kesalahan yang telah diperbuat oleh Farel, dan mereka bersyukur karena setelah memiliki Anak, Farel berubah menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, bahkan Farel sudah tidak terdengar main perempuan lagi.
Setelah Farel menjabat tangan Papa Ferdi, Farel mengucap lantang ijab kabul pernikahan, dan Alina merasa lemas ketika para Saksi mengesahkan pernikahannya dengan Farel.
__ADS_1
Meski pun aku sudah menjadi Istri Farel, aku akan tetap mengejar cinta Arya, batin Alina yang dari dulu sudah terobsesi untuk memiliki Arya.
Papa Ferdi menyuruh Alina mencium punggung tangan Farel, dan Alina terpaksa menuruti keinginan Papanya, tapi saat Farel ingin mencium kening Alina, Alina berusaha untuk menghindarinya.
Sekarang kamu bisa menolakku Alina, tapi lihat saja nanti, karena aku tidak akan melepaskanmu, batin Farel.
"Non Alina, Den Farel, Selamat ya atas pernikahan kalian, semoga pernikahannya langgeng," ucap Bu Rita.
"Makasih banyak Bi," ucap Farel, sedangkan Alina hanya diam tanpa mau menjawab perkataan Bu Rita.
"Farel, mulai sekarang Papa serahkan tanggung jawab Alina kepada kamu. Papa harap kamu bisa membimbingnya dengan baik," ucap Papa Ferdi.
"Farel pasti akan menjaga Alina dengan segenap jiwa dan raga Farel, karena sekarang Alina sudah menjadi tanggung jawab Dunia dan Akhirat Farel. Pa, sebenarnya Farel ingin membawa Alina dan Putri pindah dari sini, tapi Alina keberatan dengan usul Farel. Apa Papa mengijinkan jika Farel ikut tinggal di sini bersama Anak dan Istri Farel?"
Papa Ferdi merasa bahagia karena Alina dan Putri akan tetap tinggal dengannya, karena dengan begitu Papa Ferdi masih memiliki kesempatan untuk mendekati Bu Rita.
"Tentu saja kamu boleh tinggal di sini, karena sekarang kamu sudah menjadi Anak Papa juga. Papa malah bahagia jika kalian tetap tinggal di sini, padahal tadinya Papa sudah merasa sedih kalau kamu sampai membawa Alina dan Putri pindah, karena Papa pasti akan merasa kesepian," ujar Papa Ferdi.
Alina yang merasa kesal karena semua orang mendo'akan pernikahan nya dengan Farel langgeng, memutuskan untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu, dan Alina begitu terkejut ketika masuk ke dalam kamarnya, karena saat ini kamarnya sudah dihias begitu Indah seperti kamar pengantin.
Alina yang saat ini tengah membuka pakaiannya, dikejutkan oleh tangan kekar yang tiba-tiba melingkar pada pinggangnya.
"Farel, kenapa kamu lancang sekali masuk ke dalam kamarku?" teriak Alina, tapi Farel langsung membungkamnya dengan ciuman.
Setelah keduanya kehabisan pasokan oksigen, Farel baru melepas ciumannya kepada Alina, kemudian Farel angkat suara untuk mengingatkan Alina.
"Sayang, kalau bicara jangan kencang-kencang. Apa kamu lupa kalau kita sudah menjadi Suami Istri?" tanya Farel dengan mencium tengkuk leher Alina.
Aku tidak boleh terbuai oleh permainan Farel. Sadar Alina, jangan sampai kamu tergoda oleh Farel, batin Alina dengan berusaha melepaskan diri dari pelukan Farel.
"Farel lepaskan aku, kamu jangan berani menyentuhku," ujar Alina.
"Kalau aku tidak mau menuruti kemauan kamu, memangnya kamu mau apa? sekarang kamu sudah menjadi istriku, dan aku berhak meminta hak ku sebagai seorang Suami."
__ADS_1
"Sebaiknya sekarang kamu ke luar dari dalam kamarku, karena aku tidak mau satu kamar dengan kamu," tegas Alina.
"Kamu sendiri yang meminta supaya kita tetap tinggal di rumah ini. Lalu apa yang harus aku jelaskan kepada Papa apabila Papa bertanya kenapa kita tidak tidur dalam satu kamar, apalagi malam ini adalah malam pertama kita?"
Alina terlihat berpikir, karena Alina tidak mau jika sampai Papa Ferdi memarahinya.
"Kamu pasti sudah bersekongkol dengan Papa kan menyiapkan semua ini?"
"Tadi siang aku hanya berbicara jika aku berniat untuk menikahi kamu, tapi ternyata Papa menyiapkan kejutan untuk kita, Papa memang sangat pengertian."
"Aku tidak mau satu ranjang dengan kamu, sebaiknya sekarang kamu tidur di sofa," ujar Alina dengan melemparkan bantal pada Farel.
"Sekarang kamar ini sudah menjadi kamarku juga, jadi aku berhak tidur di kasur yang sama dengan kamu. Kalau kamu mau, kamu sendiri saja yang tidur di sofa," ujar Farel dengan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Dasar tidak tau malu, kalau begitu terserah kamu saja, yang penting kamu tidak boleh melewati batas yang aku buat," ujar Alina dengan memakai guling sebagai pembatas antara dirinya dan Farel, kemudian Alina ikut berbaring di atas kasur.
Farel hanya tersenyum melihat kelakuan Alina, karena malam ini Farel tidak akan melepaskan Alina begitu saja.
"Apa kamu yakin tidak mau melewati malam pertama kita dengan bertukar keringat?" tanya Farel dengan mendekatkan wajahnya.
"Farel, jangan dekat-dekat, aku sudah bilang kamu jangan melewati batas," ujar Alina, tapi Farel malah melemparkan guling yang menghalangi dirinya untuk lebih dekat dengan Alina.
"Bukannya saat kamu masih menjadi istri Rian, kamu selalu ingin dekat denganku? kenapa sekarang setelah menjadi istriku, kamu tidak mau memenuhi tanggung jawab sebagai seorang istri?"
"Farel, kalau kamu masih mendekat, aku akan berteriak," ancam Alina.
"Silahkan saja kamu berteriak, sekarang kamu adalah istriku, jadi tidak akan ada orang yang mau menolong kamu. Mereka juga pasti mengerti kalau ini adalah malam pertama kita," ujar Farel.
Alina terus saja berdebat dengan Farel, tapi saat Farel melancarkan aksinya dengan mencium titik titik sensitif pada tubuh Alina, akhirnya Alina diam tidak berkutik, dan Farel tersenyum penuh kemenangan ketika dia berhasil menaklukan Alina.
Mulai sekarang aku harus lebih tegas terhadap Alina, dan aku pasti akan membuat Alina jatuh cinta kepadaku. Semoga Alina kembali hamil supaya dia tidak banyak bertingkah, karena dari awal aku sudah tau jika tujuan Alina bekerja adalah untuk mendapatkan Arya, batin Farel.
*
__ADS_1
*
Bersambung