
Sebelum Arya berangkat ke Jakarta untuk menjemput Rizky, Arya terlebih dahulu pergi ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Suci, apalagi semalaman Arya tidak bisa tidur karena memikirkan kondisi Suci dan bayinya.
"Meski pun aku hanya bisa melihat Suci dari kejauhan, tapi aku sudah merasa bahagia karena sekarang Suci sudah terlihat baik-baik saja," gumam Arya yang mengintip dari depan pintu kamar perawatan Suci, karena Arya tidak berani masuk, apalagi di sana ada Rian yang saat ini sedang mengganti pakaian Arsyila.
Suci merasa heran ketika melihat Arya berdiri di depan pintu kamar perawatannya, tapi Suci ragu untuk memanggilnya, karena Suci takut salah orang.
Apa itu Mas Arya? Kenapa dia malah berdiri di luar ya? Apa dia ingin menjenguk aku dan Arsyila? Mungkin karena kemarin dia tidak sempat berpamitan kepadaku sebelum pulang, makanya dia ke sini lagi, Batin Suci kini bertanya-tanya.
Ketika Arya menyadari jika Suci melihat keberadaannya, Arya bergegas membalikan badannya untuk pergi dari Rumah Sakit, tapi tiba-tiba Suci memanggil namanya sehingga menghentikan langkah Arya.
"Mas Arya," teriak Suci, lalu sesaat kemudian Suci menutup mulutnya, karena tadinya Suci tidak berniat memanggil Arya.
Kenapa aku malah memanggil Mas Arya, dan rasanya aku tidak rela melihat dia pergi? ucap Suci dalam hati.
"Sayang, ada apa?" tanya Rian dengan menghampiri Suci.
"Yah, itu Mas Arya kan?" tunjuk Suci kepada laki-laki yang saat ini masih berdiri di depan pintu kamar perawatannya.
Rian melangkahkan kaki menuju pintu untuk melihat apa benar jika lelaki yang Suci panggil adalah Arya, tapi saat Rian membuka lebar pintu yang tadinya hanya sedikit terbuka, di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi, karena Arya memutuskan untuk bergegas pergi dari sana sebelum Rian memergokinya.
"Sayang, tapi di sini tidak ada siapa-siapa," ujar Rian.
"Yah, Bunda tidak mungkin salah lihat, tadi jelas jelas Bunda melihat Mas Arya berdiri di sana. Mungkin Mas Arya ingin melihat Bunda dan Arsyi."
Kenapa Suci terus saja memanggil nama Arya? Apa Suci mulai mengingat Arya lagi, bahkan sepertinya barusan Suci sampai berhalusinasi, karena jelas jelas tidak ada siapa pun di luar, batin Rian kini bertanya-tanya.
"Apa Ayah marah?" tanya Suci yang melihat Rian diam saja.
"Tidak sayang, untuk apa Ayah marah, hanya saja Ayah bingung karena tidak melihat keberadaan Arya, jadi Ayah pikir kalau Bunda hanya berhalusinasi," ujar Rian dengan mengusap lembut kepala Suci.
Suci merasa bersalah terhadap Rian, karena Suci terkesan memikirkan lelaki lain.
"Yah, Bunda tidak bermaksud memikirkan lelaki lain," ucap Suci dengan tertunduk sedih.
__ADS_1
"Sayang, Bunda jangan merasa bersalah, Ayah tidak mungkin berpikir seperti itu. Sekarang sebaiknya Bunda makan dulu," ujar Rian dengan menyuapi Suci, dan Rian mencoba untuk terlihat baik-baik saja di depan Suci, padahal hati Rian saat ini tengah terbakar api cemburu.
......................
Satu minggu kemudian..
Suci sudah ke luar dari Rumah Sakit, begitu juga dengan Arya yang sudah membawa Rizky pindah ke Jawa Timur.
"Sayang, hari ini kita akan bertemu dengan Mama," ujar Arya dengan menggendong Rizky, karena Arya akan membawa Rizky pindah ke rumah baru mereka.
Arya yang ingin Rizky dekat dengan Suci, sengaja membeli rumah yang bersebelahan dengan rumah Mama Linda, meski pun nanti status baru Arya dan Suci akan menjadi tetangga.
"Meski pun status baru kita hanya akan menjadi tetangga, yang penting kami bisa selalu dekat dengan kamu, Suci." gumam Arya dengan melajukan mobilnya menuju rumah baru.
Suci yang saat ini sedang mengajak Arsyila dan Rizky berjemur di halaman rumah, begitu terkejut ketika melihat Arya yang turun dari mobil dengan menggendong bayi laki laki.
"Bukannya itu Mas Arya? Tapi aku takut kalau aku salah lihat lagi. Tidak Suci, dia pasti bukan Mas Arya, mungkin aku hanya berhalusinasi lagi," gumam Suci dengan mencoba menutup matanya.
Beberapa saat kemudian, Suci mendengar suara seorang laki-laki yang menyapanya.
Arya sengaja menghampiri Suci, karena kebetulan saat ini sedang tidak ada Rian.
"Kenapa sekarang aku malah mendengar suara Mas Arya ya? Sepertinya aku benar benar kembali berhalusinasi," gumam Suci dengan menggelengkan kepalanya berusaha untuk menampik semuanya.
"Suci, aku memang Arya, dan kamu tidak sedang berhalusinasi," ujar Arya.
Secara perlahan Suci kembali membuka matanya, kemudian Suci mencubit tangannya sendiri supaya merasa lebih yakin.
"Awww, sakit. Jadi ternyata benar jika saat ini aku sedang tidak berhalusinasi?" gumam Suci dengan perasaan lega.
"Aku memang Arya. Maaf ya, kalau aku sudah mengganggu kamu. Oh iya, bagaimana kabar kamu dan keluarga?"
"Alhamdulillah kami baik Mas. Bagaimana kabar Mas Arya? Kenapa Mas Arya bisa berada di sini?"
__ADS_1
"Alhamdulillah aku juga baik. Mulai sekarang kita akan menjadi tetangga baru, karena kebetulan hari ini aku baru pindah ke rumah sebelah," jawab Arya.
Jantung Suci berdetak kencang ketika melihat Rizky yang saat ini berada dalam gendongan Arya, dan Suci langsung jatuh hati terhadap bayi tampan tersebut.
"Mas, apa bayi tampan ini adalah Anak Mas Arya?" tanya Suci dengan mata yang berbinar, entah kenapa Suci rasanya ingin sekali memeluk Rizky.
"Iya, bayi tampan ini adalah Anak kita," jawab Arya yang keceplosan.
Suci terlihat bingung, sampai akhirnya Arya meralat perkataannya.
"Eh maksudku, Rizky adalah Anakku."
"Jadi namanya Rizky juga? Berarti Anak kita memiliki nama yang sama," ujar Suci.
Rizky memang Anak kandung kita, Suci. Sedangkan Anak yang sekarang ada bersama kamu, aku tidak tau darimana Rian mengadopsi dan mengakuinya sebagai Anak kamu dan Rian, ucap Arya dalam hati.
Arya tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada Suci, karena Suci pasti akan merasa bingung, bahkan mungkin tidak percaya dengan perkataan Arya.
Kenapa rasanya aku ingin sekali memeluk Anak Mas Arya? Entah kenapa aku merasakan kerinduan yang mendalam kepadanya, bahkan aku langsung jatuh hati saat pertama kali melihat Rizky, ucap Suci dalam hati.
Suci terus menatap lekat wajah Rizky, dan Rizky yang melihat wajah Suci, tiba-tiba menangis dengan mengulurkan kedua tangannya karena ingin digendong oleh Suci.
"Ma_ma," ucap Rizky yang baru pertama kali belajar bicara, sehingga membuat Arya sampai menitikkan airmata.
"Rizky sayang mau Tante Suci gendong ya? Sini Nak?" ujar Suci, kemudian menggendong Rizky setelah sebelumnya memasukan Arsyila ke dalam kereta bayi.
Airmata Arya semakin menganak sungai ketika melihat Rizky memeluk tubuh Suci, apalagi saat ini Suci terus menghujani wajah Rizky dengan ciuman.
"Oh iya Mas, kemana Mamanya Rizky? Kenapa Mas dan Rizky hanya datang berdua saja?" tanya Suci yang merasa heran karena tidak melihat sosok perempuan yang datang bersama Arya dan Rizky.
Kamu adalah Ibu kandung Rizky, Suci. Maaf karena aku harus menganggap kamu sudah tiada, karena aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, tapi aku harus melakukan semua itu demi kamu, supaya kamu tidak merasa bingung dengan semuanya, ucap Arya dalam hati.
*
__ADS_1
*
Bersambung