
Arya heran mendengar teriakan Suci dan Rian, karena Arya belum menyadari jika dirinya sudah keceplosan.
"Kenapa kalian berdua berteriak seperti itu? aku sudah susah payah menenangkan Rizky, sekarang Rizky jadi nangis lagi kan?" ujar Arya dengan berdiri, kemudian mengayun ayun Rizky yang saat ini berada dalam gendongannya.
"Arya, kenapa kamu lancang sekali mengaku-ngaku sebagai Papa Rizky?" tanya Rian yang tidak terima ketika mendengar Arya menyebut dirinya Papa terhadap Rizky.
Kenapa aku bisa sampai keceplosan sih? apa alasan yang harus aku buat supaya Rian dan Suci percaya dengan perkataan ku? batin Arya.
"Oh itu, maaf Suci kalau aku sudah lancang, entah kenapa ketika menggendong Rizky, aku merasa menjadi seorang Ayah. Rian, kenapa juga kamu harus keberatan dengan perkataanku? lagian Suci juga belum memiliki Suami, jadi aku bisa menjadi Ayah untuk Rizky, karena kami sama-sama masih lajang," ujar Arya, karena Arya tidak mau jika Rian kembali mendekati Suci.
"Suci hanya akan menjadi istriku, dan aku akan menyayangi Rizky seperti Anak kandungku sendiri," ujar Rian, sehingga terjadi perdebatan sengit antara Rian dan Arya.
"Kamu tidak seharusnya berbicara seperti itu, kamu sudah mempunyai istri, bahkan sebentar lagi Alina akan melahirkan," ujar Arya.
"Aku sangat yakin jika bayi dalam kandungan Alina bukanlah Anakku. Atau jangan-jangan bayi dalam kandungan Alina adalah Anak kamu, karena dari dulu Alina sudah tergila-gila sama kamu," ujar Rian.
"Kamu jangan asal bicara kalau tidak ada bukti. Enak saja kamu nuduh sembarangan, ketemu sama Alina saja gak pernah. Lagian aku gak pernah suka sama Alina, karena sudah ada perempuan lain di hati aku," ujar Arya yang berusaha menampik tuduhan Rian.
"Jangan bilang perempuan itu adalah Suci, karena aku tidak akan membiarkan kamu mendekati Suci," ujar Rian dengan berapi api.
"Memangnya kamu siapa nya Suci? kamu sekarang bukan siapa siapa Suci kan? jadi kamu tidak bisa melarang aku untuk mendekati Suci," ujar Arya yang tidak mau kalah.
Suci yang sudah merasa pusing mendengar perdebatan antara Rian dan Arya akhirnya memasukan makanan ke dalam mulut kedua lelaki tersebut.
"Sebaiknya kalian berdua makan supaya tidak terus berdebat. Kalau kalian masih mau berdebat, sebaiknya sekarang juga kalian ke luar dari rumah ini, dan jangan pernah datang ke sini lagi," ujar Suci dengan mengambil Rizky dari gendongan Arya, tapi Rizky tiba-tiba menangis, karena tidak mau lepas dari Arya.
"Suci, maaf jika kami telah membuat keributan. Aku dan Rian tidak akan berdebat lagi, sebaiknya kamu kasih Rizky sama aku, kasihan dia nangis terus," ujar Arya dengan mengambil kembali Rizky dari gendongan Suci, dan anehnya Rizky langsung diam ketika Arya kembali menggendongnya.
Sayang, jangan nangis lagi ya, Papa gak bakalan ninggalin Rizky, ucap Arya dalam hati.
"Kenapa Rizky berhenti menangis ya saat Tuan Arya yang menggendongnya?" tanya Suci.
__ADS_1
"Karena Rizky tau jika aku tulus menyayanginya. Suci, sudah berapa kali aku bilang, kalau kamu tidak perlu memanggilku memakai embel-embel Tuan. Apa susahnya sing tinggal panggil Arya saja."
"Maaf Tuan, saya tidak bisa melakukan apa yang Tuan minta."
"Bagaimana kalau kamu panggil aku Papanya Rizky saja," goda Arya dengan menaik turunkan alisnya.
"Gak usah ngarep," celetuk Rian, dengan memasukan makanan ke dalam mulutnya, karena perdebatan dengan Arya membuat Rian merasa lapar.
"Suci, apa kamu tidak kasihan melihat aku kelaparan?" ujar Arya.
"Terus apa yang bisa saya lakukan?"
"Kenapa sih kamu gak ada inisiatif buat menyuapi aku," ujar Arya yang sengaja bersikap manja di depan Rian.
"Sebaiknya sekarang Rizky kamu berikan padaku, supaya kamu gak modus terus sama Suci," ujar Rian dengan mengambil Rizky dari gendongan Arya, dan lagi-lagi Rizky menangis saat dirinya dipisahkan dari Arya.
Kenapa sih dengan Rizky? giliran Arya aja yang gendong Rizky langsung diam. Jangan-jangan benar lagi kalau si Arya adalah Ayah kandung Rizky, aku perhatikan wajah Rizky dan Arya juga sangat mirip, batin Rian.
Kamu harus sabar Rian, kalau aku pergi sekarang, keenakan sekali si Arya bisa berduaan sama Suci, batin Rian yang merasakan sesak dalam dadanya karena harus menahan api cemburu.
Arya begitu bahagia karena Rizky sudah membuat dirinya dan Suci semakin dekat.
Makasih banyak sayang, Rizky memang Anak Papa yang baik. Semoga Mama bisa segera menerima Papa, supaya kita bertiga bisa selalu bersama, ucap Arya dalam hati.
Saat ini jam sudah menunjukan pukul dua siang, tapi Arya masih enggan untuk melepaskan Rizky dari dekapannya.
"Tuan, memangnya Anda tidak kembali ke Perusahaan? sekarang sudah pukul dua siang," ujar Suci.
"Aku hari ini gak ada meeting, jadi aku ingin menghabiskan waktu bersama Rizky," ujar Arya dengan terus menciumi pipi Rizky yang selalu membuatnya merasa gemas.
Kenapa sih aku harus memiliki saingan? apalagi Arya adalah saingan yang sangat berat, karena sepertinya Arya bukan orang sembarangan. Tapi kenapa Arya menyukai Suci yang sudah jelas-jelas memiliki Anak ya? dan Arya juga terlihat tulus menyayangi Rizky. Aku jadi semakin curiga terhadap Arya, sebaiknya aku menyelidikinya, batin Rian.
__ADS_1
......................
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul lima sore, tapi baik Arya mau pun Rian masih enggan untuk beranjak dari rumah kontrakan Suci.
"Maaf ya Tuan tuan, sebentar lagi sudah mau Maghrib, apa kalian masih ingin tetap di sini?" tanya Suci.
"Suci, kamu tau sendiri kan kalau dari tadi Rizky tidak mau lepas dari gendonganku? jadi sebaiknya kamu suruh saja Rian yang pulang," ujar Arya dengan entengnya.
"Jangan mimpi kamu bisa ngusir aku. Aku tidak akan membiarkan kamu berduaan dengan Suci, jadi aku tidak akan pulang sebelum Hesti dan Bu Rita pulang," ujar Rian dengan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Beberapa saat kemudian terdengar ucapan Salam, dan ternyata Bu Rita dan Hesti yang datang.
"Hesti, Bu, kenapa pulangnya bisa barengan?" tanya Suci.
"Tadi kami ketemu di depan Nak. Suci, maaf ya kalau Ibu baru pulang sekarang, tadi pulang dari Pasar Ibu ketemu sama teman lama, dan teman Ibu mengajak main dulu ke rumahnya. Kamu pasti repot ya gak ada yang bantu jaga Rizky saat mau Shalat dan ke kamar mandi?" ujar Bu Rita.
"Gak apa-apa kok Bu, dari tadi juga Rizky ada yang jagain, tuh Ibu lihat sendiri, dari tadi Rizky nempel terus sama Tuan Arya," ujar Suci.
"Mungkin Rizky merasa nyaman dengan Nak Arya. Eh ternyata ada Nak Rian juga," ujar Bu Rita, dan Rian yang awalnya sedang tiduran, langsung terbangun saat mendengar suara Bu Rita dan Hesti.
"Gimana kabarnya Bu, Hesti, sehat?" tanya Rian dengan menyalami Hesti dan Bu Rita.
"Alhamdulillah kami baik Nak," jawab Bu Rita dengan tersenyum.
Arya yang mengingat perkataan Rian yang akan pulang setelah Hesti dan Bu Rita pulang, akhirnya angkat suara.
"Sekarang Hesti sama Bu Rita sudah pulang, kenapa kamu masih belum pulang juga?"
*
*
__ADS_1
Bersambung