Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 116 ( Semakin merasa bersalah )


__ADS_3

Alina kembali menjerit kesakitan ketika sadar dari pingsannya, dan Bu Rita yang melihat semua itu hanya bisa menangis dengan mengintip dari depan pintu kamar perawatan Alina, karena Bu Rita tidak mau membuat Alina marah jika beliau menghampiri nya.


"Pa, Farel, kenapa pinggang dan perut ku sakit sekali? Sebenarnya apa penyakit yang aku derita?" tanya Alina dengan terus berteriak kesakitan.


"Alina, kamu menderita gagal ginjal," jawab Farel dengan memeluk tubuh Alina.


"Tidak, tidak mungkin aku menderita penyakit separah itu. Aku ingin sembuh Farel, aku tidak mau mati," teriak Alina.


"Sayang, kamu harus sabar, kami sudah melakukan serangkaian pemeriksaan supaya bisa melakukan donor ginjal untuk kamu," ujar Farel.


"Semua ini pasti gara-gara aku bertemu dengan si Narapidana, jadi aku terkena sial," ujar Alina dengan mengepalkan kedua tangannya, dan saat ini sorot mata Alina penuh dengan kebencian.


"Cukup Alina, kenapa kamu selalu menyalahkan Rita? Rita adalah Ibu kandung kamu, seharusnya kamu menyayangi serta menghormatinya, dan Papa yakin kalau sekarang penyakit yang kamu derita adalah karma karena kamu sudah menyakiti hati Mama kamu," ujar Papa Ferdi.


"Alina tidak percaya dengan karma, dia yang sudah menjadi Ibu durhaka karena dia yang membuat Alina mengalami nasib sial."


Bu Rita yang mendengar perkataan Alina, tidak sedikit pun menyimpan kebencian kepada Alina, bahkan Bu Rita terus melafalkan do'a untuk Alina.


"Alina sayang, kamu harus kuat Nak, Ibu akan selalu mendo'akan kesembuhan Alina," gumam Bu Rita dengan airmata yang terus mengalir pada pipinya.


Bu Rita rasanya ingin sekali memeluk tubuh Alina untuk memberikan dukungan serta kekuatan, apalagi Alina terus saja berteriak karena sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya.


"Pa, Farel, aku sudah tidak kuat lagi," ucap Alina dengan lirih, kemudian Alina kembali pingsan sehingga membuat semuanya merasa khawatir.


"Alina, bangun sayang," ujar Farel, kemudian bergegas menekan tombol untuk memanggil Dokter.


Bu Rita yang melihat Alina kembali pingsan, berlari ke dalam kamar perawatan Alina lalu memeluk tubuh Alina dengan erat.


"Alina, bangun Nak," ucap Bu Rita dengan menangis, dan beberapa saat kemudian Dokter masuk ke dalam perawatan Alina untuk memeriksa kondisinya.


Setelah memeriksa kondisi Alina, Dokter beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar sebelum angkat suara.


"Pasien mengalami koma, mungkin karena Pasien sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya," ujar Dokter.


"Dok, tolong selamatkan Anak saya, lakukan sesuatu supaya Anak saya bisa segera sembuh," ujar Bu Rita.

__ADS_1


"Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk pasien, sekarang saya akan mempercepat hasil tes kecocokan ginjal, semoga saja salah satu ginjal dari Anda bertiga memiliki kecocokan supaya kita bisa segera melakukan operasi," ujar Dokter, kemudian ke luar dari kamar perawatan Alina.


Papa Ferdi menghampiri Bu Rita yang saat ini terlihat rapuh, kemudian Papa Ferdi memberanikan diri memeluk tubuh Bu Rita.


"Semuanya pasti akan baik-baik saja, Alina pasti akan sembuh," ucap Papa Ferdi dengan mengelus lembut punggung Bu Rita.


"Kenapa harus Alina Mas? Kenapa bukan aku saja?" ujar Bu Rita dengan menumpahkan tangisannya dalam pelukan Papa Ferdi.


"Kamu tidak boleh berbicara seperti itu Rita, sekarang kita hanya bisa berdo'a untuk kesembuhan Anak kita."


......................


Arya dan Suci kini telah sampai di rumah mereka, dan Arya turun terlebih dahulu untuk membantu Suci membawa Anak-anak.


"Sayang, sini biar Rizky sama Papa saja," ujar Arya dengan mengambil Rizky dari pangkuan Suci, kemudian semuanya turun setelah Arya mengeluarkan kereta bayi dari dalam mobil.


Arya memanggil Asisten rumah tangganya terlebih dahulu supaya bisa membantu membawa Putri, karena Bi Sari harus menggendong Iqbal.


Suci tersenyum bahagia ketika melihat Arya yang sibuk mengatur Anak-anak, apalagi Rizky dan Iqbal sudah mulai belajar berjalan.


"Sebaiknya kita mengadakan acara syukuran ulang tahun si Kembar di rumah saja ya, dan nanti kita sekalian mengadakan acara amal dengan mengundang Anak Yatim Piatu," jawab Arya, tentu saja Suci menyetujui usul Arya tersebut.


Suci dan Arya berniat untuk mengajarkan ketiga Anak mereka berbagi dengan sesama sejak usia mereka masih kecil, apalagi Suci tau bagaimana rasanya hidup serba kekurangan.


"Kenapa Mama terlihat sedih?" tanya Arya dengan memeluk tubuh Suci.


"Sejak kecil Mama sudah merasakan bagaimana rasanya hidup kekurangan, jadi Mama bahagia karena Papa sudah memiliki niat untuk berbagi dengan orang yang membutuhkan," jawab Suci.


Arya yang mendengar perkataan Suci semakin merasa bersalah.


Maaf Suci, tidak seharusnya kamu mengalami semua penderitaan itu, karena seharusnya aku yang dulu berada di posisi kamu, batin Arya.


"Mulai sekarang Mama bisa melakukan apa pun yang Mama mau, karena semua yang Papa punya adalah milik Mama," ujar Arya.


"Seandainya saja Ibu dan Bapak masih hidup, mungkin sekarang Mama bisa membahagiakan mereka dengan memenuhi semua keinginan mereka, apalagi mereka selalu bercita-cita ingin naik Haji," ujar Suci.

__ADS_1


Degg


Jantung Arya rasanya berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Suci tentang kedua orangtuanya, karena orangtua angkat Suci adalah orangtua kandung Arya.


"Sayang, kita bisa mewujudkan keinginan mendiang Ibu dan Bapak dengan melakukan Haji Badal, supaya nanti Ibu sama Bapak bisa mendapatkan sertifikat Haji," ujar Arya, tentu saja Suci tersenyum bahagia mendengar perkataan Arya.


"Terimakasih banyak Pa, Papa selalu membuat Mama bahagia," ucap Suci dengan memeluk tubuh Arya.


Seharusnya aku yang mengucapkan terimakasih terhadap kamu, karena semua harta yang aku miliki saat ini adalah milik kamu Suci, ucap Arya dalam hati.


"Mama tidak perlu mengucapkan terimakasih, karena seharusnya Papa yang mengucapkan terimakasih sama Mama."


"Kenapa seperti itu?" tanya Suci yang merasa heran.


"Karena Mama sudah memberikan Papa Anak yang lucu-lucu, dan kalian adalah sumber kebahagiaan Papa," ucap Arya dengan mengeratkan pelukannya.


"Ya sudah, kalau begitu Mama beres-beres dulu."


Suci mengeluarkan barang-barang dari dalam tas miliknya yang dulu ia bawa dari rumah Hesti, dan Suci langsung mengembangkan senyuman ketika melihat fhoto Bu Asih dan Pak Iman yang selalu ia bawa.


"Pa lihat deh, ini fhoto Ibu sama Bapak. Meski pun Ibu dan Bapak bukan orangtua kandung Mama, tapi mereka adalah orang yang sudah membesarkan Mama dengan penuh cinta dan kasih sayang, dan Mama sangat menyayangi mereka," ujar Suci dengan memperlihatkan fhoto kedua orangtua angkatnya kepada Arya.


Arya menitikkan airmata ketika melihat sosok mendiang orangtua kandungnya di dalam foto, hati Arya rasanya sakit karena sudah tidak bisa membahagiakan kedua orangtua kandungnya, jangankan membahagiakan mereka, bahkan untuk bertemu saja Arya sudah tidak bisa.


Bu, Pak, maafin Arya karena baru mengetahuinya semuanya sekarang, ucap Arya dalam hati.


Arya tiba-tiba merasakan sakit kepala ketika teringat dengan penyebab kematian Bu Asih.


"Aku adalah seorang pembunuh, aku sudah menjadi penyebab kematian Ibu kandungku sendiri," gumam Arya dengan terus memegangi kepalanya, sampai akhirnya Arya pingsan.


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2