
Arya saat ini tengah menyusun rencana supaya Suci mau tinggal bersama dengannya, dan Arya terbesit ide untuk menceritakan tentang kondisi Mama Erina kepada Suci.
Sebaiknya aku menceritakan tentang kondisi Mama kepada Suci, siapa tau dengan begitu Suci mau tinggal bersamaku, ucap Arya dalam hati.
Setelah selesai berbicara dengan Pengurus Pesantren, Arya kembali menghampiri Mama Erina dan Suci yang saat ini masih terlihat asyik mengobrol.
"Sekarang Mama ikut Mbak Suster dulu ya," ujar Arya yang ingin bicara berdua dengan Suci.
"Tapi Mama tidak ingin jauh-jauh dari Suci," rengek Mama Erina seperti Anak kecil.
"Mama mau ikut Arya pulang kan? Sekarang Mama ikut sama Suster dulu ya untuk beres-beres, nanti Mama bakalan tinggal sama Suci dan bertemu dengan Cucu cucu Mama," ujar Arya.
"Arya tidak bohong kan?" tanya Mama Erina dengan mata yang berbinar.
"Iya Ma, nanti kita bakalan ketemu juga sama Oma dan Papa, dan kita akan hidup bahagia," ujar Arya dengan mata yang berkaca-kaca, karena Arya selalu bermimpi bisa berkumpul kembali dengan keluarganya dan hidup bahagia bersama orang-orang yang dia sayangi.
Setelah Mama Erina dan Perawat pergi, Arya duduk di samping Suci.
"Sayang, ada yang ingin Mas bicarakan," ujar Arya dengan memegang tangan Suci.
"Aku juga ingin bertanya sama Mas Arya, kenapa Mama menganggap aku sebagai Anaknya?" tanya Suci yang terlihat heran.
Arya beberapa kali mengembuskan nafasnya secara kasar sebelum menceritakan semuanya kepada Suci.
"Sayang, sebenarnya saat mengetahui Istri Mas meninggal dunia, kondisi kejiwaan Mama terganggu, bahkan satu tahun ke belakang Mama sempat di rawat di Rumah Sakit Jiwa."
"Jadi Mama dimasukan ke dalam Pesantren ini untuk melakukan pengobatan?" tanya Suci.
"Iya, dan Alhamdulillah sekarang kondisi kejiwaan Mama sudah mulai stabil meski pun masih belum sembuh sepenuhnya."
"Kasihan sekali Mama, pasti Mama dan mendiang Istri Mas Arya sangat dekat, makanya Mama sampai terpukul seperti itu," ujar Suci.
"Mama sebenarnya merasa bersalah terhadap Suci, karena dulu Mama selalu bersikap jahat. Mas juga sebenarnya merasa heran, kenapa semenjak mengetahui Suci meninggal dunia, Mama sampai seperti itu, bahkan Mama selalu mengatakan jika Suci adalah Anak kandungnya. Sekarang Mas mau ngajak Mama pulang, tapi Mas bingung karena Mama mengira jika kamu adalah Suci Istrinya Mas. Bagaimana kalau kamu tinggal sama kami, dan berpura-pura menjadi Istri Mas?"
Suci terlihat berpikir, karena Suci tidak mungkin satu atap dengan lelaki yang bukan Suaminya, apalagi saat ini Suci masih mengira jika Rian lah yang Suaminya.
"Mas, Suci tidak mungkin melakukan semua itu, apa kata orang kalau kita tinggal satu atap, padahal Mas bukan Suami Suci? Mas Rian juga pasti tidak akan mengijinkannya."
__ADS_1
"Mas harap Suci mau berpura-pura menjadi Istri Mas di depan Mama, dan nanti Mas yang akan membicarakan semuanya dengan Rian, jadi sayang tidak perlu khawatir," ujar Arya yang sudah memiliki ide lain yaitu menggabung rumahnya dengan rumah Rian.
Setelah Mama Erina dan Perawat nya selesai berkemas, Arya mengajak keduanya supaya ikut pulang dengan Arya dan Suci.
"Mama seneng kan bisa ikut pulang sama kami?" tanya Arya.
"Iya Nak, Mama bahagia karena bakalan tinggal sama Putri Mama," ujar Mama Erina dengan tersenyum bahagia.
Arya sengaja masih mempekerjakan Perawat khusus untuk Mama Erina, karena Arya merasa takut jika sewaktu-waktu penyakit Mama Erina akan kambuh.
Untung saja rumahku dan rumah Rian bersebelahan, jadi aku bisa membuat pintu penghubung antara rumahku dan rumah Rian, ucap Arya dalam hati yang sebelumnya sudah menugaskan Irwan meminta ijin kepada Rian untuk membuat pintu hubung antara rumah milik Arya dan Rian dengan alasan supaya Mama Erina tidak merasa bingung jika dirinya dan Suci tinggal terpisah.
"Selamat datang di rumah kami Ma," ucap Arya dengan membuka pintu mobil untuk Mama Erina setelah sebelumnya membukakan pintu mobil untuk Suci.
Semuanya sudah terlihat menyambut kedatangan Suci di teras depan rumah, dan Suci yang saat ini terus dipegangi oleh Mama Erina, berhambur memeluk tubuh orang-orang yang disayanginya.
"Alhamdulillah Nak, Ibu tidak menyangka jika kita akan bertemu lagi," ucap Bu Rita dengan memeluk tubuh Suci.
"Iya Bu, Alhamdulillah," ucap Suci yang tidak terlalu banyak bicara, karena saat ini ada Mama Erina di sampingnya.
Mama Erina yang melihat Rizky digendong oleh Hesti, langsung berhambur memeluk Cucunya tersebut.
"Iya Ma," jawab Arya dengan tersenyum.
Mama Erina juga terkejut ketika melihat bayi cantik yang tengah terlelap di dalam kereta bayi.
"Sayang, apa bayi cantik ini Anak Suci dan Arya juga? Siapa namanya?" tanya Mama Erina.
"Iya Ma, namanya Arsyila," jawab Suci, yang sebenarnya sudah merasa deg degan jika Rian sampai mendengarnya.
"Arsyila mirip sekali dengan Suci dan Arya. Ternyata sekarang Oma sudah memiliki dua Cucu," ujar Mama Erina dengan menciumi wajah Arsyila.
Ketika Mama Erina melihat Anak angkat Rian, Mama Erina kembali bertanya.
"Nak, bayi laki-laki ini Anak siapa? Sepertinya dia seumuran dengan Rizky?" tanya Mama Erina ketika melihat Bu Rita menggendong Rizky Anak angkatnya Rian, sedangkan Putri saat ini sedang tertidur.
Semuanya diam karena tidak tau harus menjawab apa, sampai akhirnya Rian ke luar dari dalam rumah.
__ADS_1
"Namanya Iqbal, dan Iqbal adalah Anak saya," ujar Rian dengan tersenyum.
"Kamu siapa? Kenapa bisa berada di rumah Arya dan Suci?" tanya Mama Erina karena belum pernah bertemu dengan Rian.
"Rian teman Arya Ma, jadi Rian tinggal bersama kami," ujar Arya.
"Memangnya Istri Rian kemana?"
"Istri saya sudah meninggal dunia Tante," ujar Rian.
Sepertinya Mas Arya sudah meminta ijin kepada Mas Rian supaya aku diperbolehkan menjadi Istri pura-pura nya. Maafkan aku Mas Rian, karena entah kenapa aku merasa bahagia meski pun hanya bisa menjadi Istri pura-pura Mas Arya. Maafin Mama juga ya Rizky, Mama tidak bisa mengakui Rizky sebagai Anak, apalagi Mas Rian sampai mengganti nama Rizky menjadi Iqbal supaya Mama Erina tidak merasa curiga, ucap Suci dalam hati.
Mama Erina sebenarnya merasa keberatan ketika melihat Rian satu rumah dengan Arya dan Suci, sampai akhirnya Mama Erina mengajak Arya dan Suci untuk berbicara.
"Arya, Suci, Mama ingin berbicara dengan kalian."
Arya mengajak Mama Erina masuk ke dalam rumahnya, dan Suci terlihat heran karena di dalam rumah Arya sudah banyak terpajang fhoto Suci dan Arya.
Sepertinya Mas Arya sudah mempersiapkan semuanya ketika kami dalam perjalanan pulang, bahkan sekarang banyak fhoto aku dan Mas Arya terpajang di rumahnya. Fhoto fhotonya bagus tidak terlihat seperti editan, ucap Suci dalam hati.
Setelah sampai di ruang keluarga, Arya mengajak Suci dan Mama Erina untuk duduk.
"Ada apa Mama mengajak kami berbicara?" tanya Arya.
"Nak, seharusnya kalian tidak mengajak Rian tinggal di sini, bagaimanapun juga Rian tidak memiliki Istri. Mama takut kalau nanti Rian merebut Suci dari Arya."
"Ma, Rian tidak mungkin seperti itu, kami sudah berteman lama, lagi pula Rian tinggal di rumah yang sebelah, hanya saja ada pintu penghubung antara rumah Arya dan Rian, karena kebetulan Arya membeli rumah ini dari Rian, jadi kami belum sempat menutup pintu penghubungnya," ujar Arya yang mencoba mencari alasan.
Arya akhirnya menjelaskan kepada Mama Erina tentang Mama Linda yang baru saja meninggal dunia satu minggu yang lalu, makanya Teman-teman Arya bisa berada di rumahnya juga.
"Kalian tenang saja, karena sekarang ada Mama di sini, dan Mama akan mengawasi Rian supaya tidak merebut Suci," ujar Mama Erina dengan tersenyum.
Maafin Arya Ma, Arya terpaksa berbohong. Kalau Arya tidak memakai pintu penghubung antara rumah Arya dan Rian, pasti Suci tidak akan mau tinggal bersama kita. Arya juga belum bisa menceritakan tentang kondisi Suci yang hilang ingatan, karena Arya takut penyakit Mama akan kambuh, ucap Arya dalam hati.
*
*
__ADS_1
Bersambung