Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 128 ( Acara Syukuran )


__ADS_3

Hesti dan Irwan yang sudah mengetahui alamat Suci, memutuskan untuk berkunjung ke rumah Suci, apalagi Hesti ingat jika hari ini adalah ulang tahun Iqbal dan Rizky.


"Mas, kadonya gak ketinggalan kan?" tanya Hesti kepada Irwan ketika mereka hendak berangkat.


"Enggak sayang, tadi Mas udah masukin ke dalam mobil," jawab Irwan dengan menggandeng tangan Hesti ke luar dari dalam kamar.


Setelah Irwan dan Hesti berpamitan kepada kedua orangtuanya, keduanya memutuskan untuk segera berangkat, apalagi Hesti sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Anak-anak Suci yang sudah sangat ia rindukan.


Hesti dan Irwan hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan untuk sampai di rumah Suci, dan Hesti terlihat antusias ketika melihat ketiga Anak Suci yang sedang bermain di depan rumah dengan dijaga oleh Bi Sari dan kedua Anak Pak Maman.


"Assalamu'alaikum," ucap Hesti dan Irwan secara bersamaan, kemudian Hesti mencium ketiga Anak Suci.


"Wa'alaikumsalam. Nak Hesti, Nak Irwan, apa kabar?" tanya Bi Sari dengan menyalami keduanya.


"Alhamdulillah baik Bi. Suci dimana?" tanya Hesti yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Suci.


"Nyonya lagi masak buat syukuran ulang tahun Si Kembar, sedangkan Tuan sedang beres-beres di toko," jawab Bi Sari.


"Mas, aku masuk dulu ke dalam ya, Mas mau ikut atau mau langsung menemui Arya?" tanya Hesti.


"Mas langsung ke depan saja menemui Arya, siapa tau ada yang bisa Mas bantu," ujar Irwan, kemudian melangkahkan kaki menuju toko yang berada di depan rumah Suci, sedangkan Hesti langsung masuk ke dalam rumah.


Hesti langsung memeluk tubuh Suci yang saat ini tengah memasak.


"Suci, kenapa kamu tega sekali sama aku? Kenapa kamu pergi begitu saja?" tanya Hesti dengan menangis.


"Hesti, kapan kamu datang? Kenapa kamu gak ngasih kabar dulu?"


"Aku baru saja datang kok. Gimana mau ngasih kabar, nomor kamu juga sudah gak aktif," jawab Hesti dengan cemberut.


"Maaf ya aku tidak sempat berpamitan, aku sudah ganti nomor, dan semua nomor yang ada di handphoneku ke hapus. Aku juga belum sempat bicara sama Mas Arya supaya meminta nomor kamu sama Mas Irwan."


"Apa kamu segitu sibuknya sampai melupakan kembaran kamu yang cantik ini?" ujar Hesti dengan cemberut.


"Akhir-akhir ini kami sibuk renovasi rumah sama bangun toko yang di depan. Rencananya kami mau buka usaha kecil kecilan. Oh iya, Bu kenalin ini Hesti, teman sekaligus saudara Suci," ujar Suci memperkenalkan Hesti kepada Bu Inah.


Hesti dan Bu Inah berjabat tangan, kemudian Bu Inah pamit pulang ke rumahnya dulu untuk membersihkan diri setelah selesai membantu Suci memasak.


"Nak, masaknya kan sudah beres, jadi Ibu mau mandi dulu ya, nanti Ibu ke sini lagi," ujar Bu Inah.


"Iya Bu, makanannya juga masih panas, nanti kalau udah dingin tinggal dibungkus. Makasih banyak ya Bu," ucap Suci.


"Ibu sampai bosen denger kamu bilang makasih. Ya sudah, kalau begitu sekarang Ibu pulang dulu, mari Nak Hesti," ujar Bu Inah dengan tersenyum kemudian melangkahkan kaki menuju rumahnya.

__ADS_1


Setelah Bu Inah pulang, Hesti memberanikan diri bertanya kepada Suci tentang alasan Suci kembali ke kampung halamannya.


"Suci, memangnya ada masalah apa sampai kamu dan keluarga pindah ke sini, apalagi aku dengar Arya ke luar dari perusahaan?" tanya Hesti.


Suci terlihat melamun, dan beberapa saat kemudian Suci menangis.


"Suci, apa kamu ada masalah dengan keluarga Arya? Kalau ada masalah coba kamu cerita sama aku, bukannya kamu sudah menganggap aku sebagai saudara?"


Suci beberapa kali mengembuskan napasnya secara kasar sebelum menceritakan semuanya kepada Hesti.


"Hesti, sebenarnya kedua orangtua Mas Arya adalah orangtua kandungku," ujar Suci, dan Hesti begitu terkejut mendengarnya.


"Ke_kenapa bisa begitu?" tanya Hesti dengan tergagap.


"Kamu masih ingat kan kalau aku pernah bercerita tentang Ibu kandungku yang sudah tega menukar aku dengan bayi laki-laki ketika aku baru dilahirkan ke Dunia ini? Dan ternyata bayi laki-laki yang ditukar denganku adalah Mas Arya," ujar Suci dengan tertunduk sedih, kemudian menceritakan secara detail kejadian saat Suci mengetahui semua kebenarannya.


"Dunia ini ternyata sempit sekali. Kalian yang sabar ya, aku tau semua ini pasti tidak akan mudah untuk kalian berdua, semoga dengan seiring waktu, luka yang kamu rasakan akan segera sembuh," ujar Hesti dengan memeluk tubuh Suci.


"Iya Hesti, aku juga tidak pernah mengira jika perempuan yang aku anggap sebagai Ibu Mertuaku adalah Ibu kandungku sendiri," ujar Suci dengan menumpahkan tangisannya dalam pelukan Hesti.


Kasihan Suci, padahal Suci baru saja merasakan kebahagiaan, tapi selalu ada saja cobaan dalam hidupnya, batin Hesti dengan mengusap lembut punggung Suci.


......................


"Arya, bagaimana kabarnya Bro?" tanya Irwan, kemudian menepuk bahu Arya.


"Alhamdulillah kabar baik Bro, kamu apa kabar? Kenapa gak bilang-bilang kalau mau main ke sini?"


"Alhamdulillah aku juga baik. Aku sebenarnya tidak berencana main ke sini, tapi Hesti maksa pengen ke sini, apalagi katanya Rizky sama Iqbal hari ini ulang tahun. Ya, kenapa kamu memilih pindah dan meninggalkan semua yang kamu miliki?" tanya Irwan yang belum mengetahui kebenaran tentang Arya dan Suci yang sudah ditukar.


"Semua harta yang selama ini aku nikmati bukanlah milik aku Wan," jawab Arya.


"Kenapa bisa seperti itu? Bukannya kamu Anak tunggal Om Fadil dan Tante Erina?"


"Aku hanyalah Anak angkat yang sudah mereka tukar sejak bayi."


"Lalu siapa Anak kandung mereka?" tanya Irwan yang merasa penasaran.


"Suci. Ternyata perempuan yang sudah aku hancurkan kehidupannya, adalah pemilik sebenarnya semua harta yang sudah aku nikmati selama berpuluh puluh tahun."


Irwan begitu terkejut mendengar cerita Arya, dan Irwan tidak pernah menyangka jika Suci adalah Putri dari keluarga Argadana.


"Jadi Suci tidak mau menerima sepeser pun harta keluarga Argadana?" tanya Irwan.

__ADS_1


"Iya, karena Suci sangat kecewa dengan apa yang telah Mama lakukan," jawab Arya.


"Wajar saja sih Suci merasa kecewa dengan mereka, kalau aku jadi Suci, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama, karena rasa kecewa tidak akan bisa diganti dengan apa pun, meski pun dengan harta kekayaan yang banyak."


"Sampai sekarang aku masih merasa bersalah terhadap Suci, karena aku sudah merebut semua yang Suci miliki, termasuk kehormatan dan kebahagiaannya," ujar Arya dengan menitikkan airmata.


"Ya, sekarang kamu masih memiliki kesempatan untuk menebus semuanya."


"Iya Wan, aku akan selalu membahagiakan Suci dalam seumur hidupku. Kalau begitu sekarang kita masuk, sebentar lagi acara syukuran toko sama ulang tahun Iqbal dan Rizky akan segera dimulai, aku juga harus mandi dulu," ujar Arya.


Setelah masuk ke dalam rumah, Arya bergegas menuju kamarnya, karena sekarang di dalam kamar Arya dan Suci sudah terdapat kamar mandi.


Irwan yang melihat Suci dan Hesti memasukan makanan ke dalam box, membantu menata box yang sudah terisi makanan, dan beberapa saat kemudian, Ustadz, tetangga Suci, dan Anak Yatim sudah terlihat berdatangan.


"Suci, apa kalian mau mengadakan santunan untuk Anak Yatim?" tanya Hesti yang melihat Suci memasukan uang sebesar lima puluh ribuan ke dalam amplop.


"Iya Hesti, kebetulan di sini ada sepuluh Anak Yatim. Meski pun kami hanya bisa memberi sedikit rezeki untuk mereka."


Hesti melihat Irwan, dan Irwan yang mengetahui arti dari tatapan Hesti, menganggukkan kepalanya.


"Suci, apa boleh kalau aku menambah uang untuk santunan?" tanya Hesti.


Suci tersenyum mendengar perkataan Hesti.


"Aku tidak mungkin melarang saudaraku untuk bersedekah, aku justru bangga karena kamu sudah mau berbagi," jawab Suci.


Hesti tadinya ingin memberikan uang sebesar dua juta rupiah untuk menambah uang santunan, tapi Hesti tidak mau Suci dan Arya merasa tersinggung, jadi Hesti mengeluarkan uang sebesar lima ratus ribu untuk menambah uang santunan, dan akhirnya Suci mengisi setiap amplopnya sebesar seratus ribu rupiah.


"Terimakasih ya Hesti, semoga rezekinya tambah banyak dan berkah," ucap Hesti yang di Amini semuanya.


Setelah semuanya berkumpul di depan rumah Suci, acara Syukuran pun dimulai, dan Ustadz membuka acara dengan bacaan Basmalah.


Acara berjalan dengan lancar, kemudian acara ditutup dengan acara amal.


Mama Erina, Papa Fadil dan Oma Rahma menangis ketika melihat Suci dan keluarganya, meski pun mereka hanya bisa melihat dari kejauhan, dan ketiganya selalu berdo'a untuk kebahagiaan Suci dan keluarga.


"Semoga kalian selalu hidup bahagia Nak."


*


*


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2