
Nanda merasa bahagia karena ternyata dirinya masih bisa melihat, tapi ada keraguan pada hati Nanda, karena jika Arsyi mengetahui Nanda masih bisa melihat, Nanda takut Arsyi akan kembali menjauhinya.
Apa sebaiknya aku pura-pura buta saja supaya bisa terus dekat dengan Arsyi? Apalagi kaki aku juga akan segera sembuh, ucap Nanda dalam hati.
"Nanda, kamu masih bisa melihat kan?" tanya Arsyila.
"A_aku tidak bisa melihat apa-apa," jawab Nanda dengan tergagap.
Arsyi langsung menangis dengan memeluk tubuh Suci yang berada di sebelahnya, karena Arsyi semakin merasa bersalah terhadap Nanda.
Maaf Arsyi, aku terpaksa membohongi kamu supaya bisa selalu dekat dengan kamu, tapi aku akan jujur setelah kamu jatuh cinta sama aku, batin Nanda.
"Dok, tolong lakukan sesuatu, tidak mungkin mata Anak saya sampai tidak bisa melihat," ujar Hesti dengan menangis.
"Tenang dulu Bu, saya akan kembali memeriksanya," ujar Dokter.
Dokter kembali memeriksa mata Nanda, tapi semuanya terlihat baik-baik saja.
"Padahal semuanya terlihat baik-baik saja, seharusnya Nanda masih bisa melihat," gumam Dokter.
"Dok, saya masih bisa sembuh kan?" tanya Nanda supaya Dokter tidak merasa curiga.
"Sebelumnya kami memang sudah menduga jika cidera pada otak Anda akan menyebabkan gangguan penglihatan. Semoga saja ini hanya bersifat sementara, dan masih bisa disembuhkan," jawab Dokter.
Nanda sebenarnya merasa bersalah ketika melihat Arsyi dan yang lainnya menangis, tapi Nanda sudah terlanjur berbohong.
"Arsyi, kamu jangan nangis ya, aku pasti akan segera sembuh. Sekarang kamu mau membantu aku jalan-jalan ke Taman kan? Bukannya kamu sudah bilang akan menjadi mata dan kaki untuk ku," ujar Nanda.
"Dok, apa boleh Nanda jalan-jalan ke luar?" tanya Irwan.
"Tentu saja boleh, siapa tau dengan menghirup udara segar, akan mempercepat proses penyembuhan Nanda. Besok Nanda juga sudah bisa pulang dan melakukan rawat jalan saja," jawab Dokter.
Arsyi dan Dinda mendorong kursi roda Nanda ke luar dari kamar perawatannya, dan ketiganya kini telah sampai di Taman yang berada di depan Rumah Sakit.
"Nanda, Dinda, aku beli jus dulu ya. Kalian mau rasa apa?" tanya Arsyi.
"Aku jus mangga aja," jawab Dinda.
"Kalau aku samain aja sama kamu," jawab Nanda.
Setelah Arsyi meninggalkan Nanda dan Dinda, tiba-tiba Dinda menyentil dahi Nanda.
Pletak
"Aww, sakit Dinda, kamu apa-apaan sih?" ujar Nanda yang merasa kesal.
__ADS_1
"Kamu yang apa-apaan, apa kamu pikir aku tidak tau kalau kamu sudah membohongi kami?" ujar Dinda.
"A_apa maksud kamu?" tanya Nanda yang terlihat gugup.
"Kamu sebenarnya hanya pura-pura buta kan supaya bisa selalu dekat dengan Arsyi," jawab Dinda.
"Kamu tau darimana?"
"Nanda, kita itu saudara kembar. Mungkin kamu bisa membohongi semua orang, tapi kamu tidak akan pernah bisa membohongi aku, karena kita memiliki ikatan batin yang kuat," ujar Dinda.
"Dinda, aku mohon tolong rahasiakan semua ini ya, aku pasti akan jujur, tapi setelah aku berhasil membuat Arsyi jatuh cinta kepadaku," ujar Nanda dengan tatapan mengiba.
"Nanda, apa kamu tau jika kebohongan kamu sudah melukai semuanya? Kamu lihat Arsyi, dia semakin merasa bersalah sama kamu. Apa kamu tega melihat Arsyi dan semuanya terus terusan merasa sedih? Apa kamu tidak memikirkan perasaan kami?" cerocos Dinda.
Nanda menghela nafas panjang, karena kali ini kebohongannya memang sudah benar-benar keterlaluan.
"Aku tau aku salah, tapi aku minta kesempatan satu bulan saja supaya bisa selalu berada di dekat Arsyi. Kamu tau sendiri kan kalau aku sembuh, Arsyi mana mau dekat sama aku," ujar Nanda.
Nanda terus memohon kepada Dinda, sehingga membuat Dinda merasa tidak tega.
"Aku tidak mau berbohong, Bunda selalu menasehati kita supaya tidak berbohong dan merugikan orang lain. Kamu juga pasti tau bagaimana persahabatan Bunda dan Tante Suci, aku tidak mau membuat mereka kecewa karena telah berusaha menutupi kebohongan yang kamu buat."
"Dinda, aku mohon, kali ini saja kamu bantu aku," ujar Nanda.
Dinda terlihat berpikir, sampai akhirnya Dinda memutuskan untuk membantu Nanda menyembunyikan semua kebohongannya.
"Berarti waktunya cuma dua minggu dong? Mana mungkin Arsyi jatuh cinta sama aku kalau kami bisa dekat hanya dalam waktu dua minggu," ujar Nanda yang terus saja mengeluh.
"Nanda, kamu salah, sebenarnya mencintai itu gampang makanya bisa ada kata 'jatuh cinta pada pandangan pertama' karena perasaaan jatuh cinta bisa datang dalam waktu satu bulan, satu minggu, satu hari, satu menit, bahkan satu detik. Yang susah itu adalah melupakan, karena melupakan tidak akan bisa dalam waktu satu hari, satu bulan, satu tahun, bahkan dalam seumur hidup, makanya ada kata 'Cinta sejati' ," jelas Dinda dengan panjang lebar, dan Nanda sampai tertegun mendengarnya.
"Nanda, kamu sayang kan sama Arsyi?" tanya Dinda.
"Tentu saja aku sangat menyayanginya, makanya aku sampai rela mengorbankan diriku sendiri demi menyelamatkannya," jawab Nanda.
"Nanda, kamu pasti tidak ingin kan kalau Oma sama Opa menyalahkan Arsyi ketika melihat kondisi kamu yang seperti ini? Kamu seharusnya menyadari akibat yang akan kamu timbulkan karena kebohongan kamu," jelas Dinda.
Nanda menyesal karena telah berbohong, tapi Nanda tidak memiliki pilihan lain supaya bisa selalu dekat dengan Arsyi.
"Nanda, jodoh itu tidak akan lari kemana, jika Arsyi memang diciptakan untuk kamu, apa pun halangannya pasti suatu saat nanti kalian akan bisa hidup bersama," ujar Dinda.
"Tapi aku takut jika Iqbal kembali dari luar negeri, Iqbal akan merebut Arsyi lagi."
"Apa kamu lupa kalau Iqbal adalah Kakak kandung Arsyi? Jadi mereka tidak akan pernah bisa menikah. Aku yakin, jika kita sudah dewasa nanti, Arsyi akan jatuh cinta sama kamu apabila kamu terus memperjuangkannya," ujar Dinda.
Nanda merasa heran karena tiba-tiba Dinda berubah menjadi lebih dewasa.
__ADS_1
"Dinda, sejak kapan kamu berubah menjadi bijak dan bersikap dewasa? Padahal seingat aku, kemarin-kemarin kamu dan Ratu masih terus memperebutkan Kak Rizky?" tanya Nanda.
"Sebenarnya Bunda selalu menasehati aku supaya jadi perempuan itu harus tahan harga, karena laki-laki akan lebih suka perempuan seperti itu," jawab Dinda.
"Akhirnya Adikku yang genit ini insyaf juga," ujar Nanda dengan tertawa.
"Kita masih kecil, jangan ngurusin cinta cintaan dulu, tapi aku selalu berharap suatu saat nanti Kak Rizky bisa menjadi imam aku," ujar Dinda dengan mata yang berbinar.
Ratu yang baru datang dan mendengar perkataan Dinda, langsung terlihat sewot.
"Kamu gak usah kebanyakan mimpi, karena nanti Kak Rizky akan menjadi imam aku," ujar Ratu dengan tersenyum mengejek.
"Aku males meladeni kamu, lagian kamu ngapain ke sini? Kayak jelangkung saja, datang tidak di undang, pulang tidak di antar," sindir Dinda.
"Aku ke sini nganter Daddy terapi, jadi gak usah ke GR-an," ujar Ratu.
Beberapa saat kemudian, Farel, Ayu dan Putri menghampiri Nanda untuk menanyakan keadaannya, begitu juga dengan Arsyi yang sudah selesai membeli minuman.
"Nanda, bagaimana sekarang kabarnya? Maaf ya Om baru bisa menjenguk kamu," ucap Farel yang masih duduk di atas kursi roda.
Semenjak Farel stroke, Ayu memutuskan untuk membantu keuangan Farel dengan jualan online, supaya Ayu bisa bekerja sambil mengurus Suaminya.
Selama ini Arya dan Irwan selalu memberikan bantuan biaya pengobatan untuk Farel, tapi Ayu dan Farel merasa tidak enak jika terus terusan mengandalkan kedua sahabatnya tersebut.
"Alhamdulillah baik Om, hanya saja penglihatan Nanda jadi terganggu," jawab Nanda.
"Jadi sekarang kamu buta dong?" sindir Ratu.
"Ratu, kamu tidak boleh berkata seperti itu Nak," ujar Ayu yang mencoba memberi pengertian terhadap Ratu.
Ratu yang memang keras kepala, tidak pernah mau mendengarkan nasehat orang lain.
"Gak usah ceramah, kalau kamu mau ceramah, sana pergi ke Mesjid," ujar Ratu kepada Ayu.
"Cukup Ratu, seharusnya kamu bersikap sopan kepada Orangtua," ujar Farel.
Arsyi yang merasa tidak rela mendengar perkataan Ratu terhadap Nanda, akhirnya ikut bicara juga.
"Nanda pasti sembuh, karena Arsyi akan selalu merawatnya, Arsyi juga akan menjadi mata untuk Nanda."
"Kamu memang sudah seharusnya merawat Nanda, karena kamu adalah penyebab Nanda menjadi seperti ini. Sekalian saja kamu nikah sama Nanda yang buta, karena aku rasa tidak akan ada perempuan yang mau menikah dengannya," ujar Ratu dengan tertawa kencang.
"Kamu tidak perlu mengingatkan aku, karena aku pasti akan menikah dengan Nanda jika kami berdua sudah keluar SMA nanti," ujar Arsyi sehingga membuat semuanya merasa terkejut.
*
__ADS_1
*
Bersambung