Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 13 ( Setiap pertemuan, pasti akan ada perpisahan )


__ADS_3

Hari ini para Tahanan sengaja memasak untuk acara syukuran empat bulanan Suci. Suci begitu terharu dan sedikit pun tidak pernah menyangka jika semua teman serta Penjaga penjara begitu peduli terhadap dirinya.


Setelah acara pembacaan do'a selesai, Suci mengucapkan terimakasih kepada semuanya.


"Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, karena semuanya sudah repot-repot mengadakan acara syukuran empat bulanan untuk saya," ucap Suci dengan menitikkan airmata.


"Suci, kamu adalah Malaikat tak bersayap yang dikirim Tuhan untuk kami. Semenjak kedatangan kamu, kami semua menjadi pribadi yang lebih baik lagi, karena kamu sudah mengajarkan kami arti dari kebaikan," ucap Hesti dengan memeluk tubuh Suci.


"Iya Suci, Hesti benar. Semua yang kami lakukan tidak sebanding dengan yang sudah Suci lakukan untuk kami," ucap Bu Rita dengan bergantian memeluk tubuh Suci, begitu juga dengan yang lainnya.


Semuanya mengucap do'a untuk Suci dan bayi yang saat ini berada dalam kandungannya, dan Suci tiada henti mengucap syukur karena telah dipertemukan dengan orang-orang baik yang sudah dia anggap seperti keluarganya sendiri.


......................


Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tidak terasa saat ini usia kandungan Suci sudah tujuh bulan.


Satu persatu teman satu sel Suci ke luar dari penjara, dan Suci selalu tersenyum bahagia ketika melepas kepergian mereka untuk menghirup kebebasan.


Hari ini giliran Hesti yang akan bebas, tapi Hesti terus saja menangis karena tidak ingin berpisah dengan Suci.


"Hesti, setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Seharusnya kamu bahagia karena sebentar lagi kamu bisa menghirup udara bebas," ucap Suci.


"Aku tidak mau ke luar dari penjara tanpa kamu Suci, Aku sudah tidak memiliki siapa pun di Dunia ini," ujar Hesti dengan terus menangis.


"Begitu juga dengan aku Hesti, bagiku kamu dan yang lainnya sudah seperti keluargaku sendiri. Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di rumah peninggalan orangtuaku. Meski pun rumahnya sudah tidak layak huni."


"Terimakasih Suci, kamu selalu baik kepadaku, dan aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu. Mungkin sebaiknya aku menerima tawaran dari temanku untuk bekerja di Jakarta, dan nanti setelah bayi kamu lahir, aku akan ke sini untuk menjenguk kalian."


"Hesti, jaga diri kamu baik-baik ya, jangan sampai kamu kembali mengulangi kesalahan yang sama seperti yang kamu lakukan di masa lalu, kamu juga harus mencari pekerjaan yang halal."


"Iya Suci, aku pasti akan selalu mengingat pesan mu," ujar Hesti dengan terus memeluk tubuh Suci.


Setelah Hesti berpamitan kepada semuanya, Hesti akhirnya ke luar dari dalam penjara, dan saat ini hanya Suci dan Bu Rita yang masih harus menjalani masa hukuman.

__ADS_1


"Sekarang tinggal kita bertiga di sini, karena masa tahanan kita masih lama Suci, tapi Ibu bersyukur karena masih ada kamu yang menemani hari-hari Ibu," ujar Bu Rita dengan memeluk tubuh Suci, dan mengelus lembut perut Suci yang sudah semakin membesar.


"Iya Bu, Alhamdulillah semua teman kita sudah bisa menghirup udara bebas. Semoga kita bisa segera menyusul mereka. Suci kasihan jika bayi yang saat ini berada di dalam kandungan Suci harus merasakan dinginnya tinggal di balik jeruji besi," ujar Suci yang di Amini oleh Bu Rita.


"Iya Amin Nak, Semoga saja kita bisa bebas secara bersamaan."


......................


Selama berada di dalam penjara, Suci tidak pernah mengeluh sedikit pun, begitu juga dengan Arya yang tidak pernah menyerah mencari keberadaan Suci, dan tidak terasa kehamilan Suci saat ini sudah sembilan bulan, bahkan hari ini bertepatan dengan tanggal taksiran persalinan.


"Suci, kamu dimana? kemana lagi aku harus mencari mu? Bagaimana kalau kamu sampai hamil Anakku? aku tidak bisa membayangkan bagaimana kamu menjalani hari-harimu dengan hidup sebatang kara," gumam Arya dengan terus menatap lekat lukisan wajah Suci yang pernah ia gambar.


Arya selalu merasa berdosa terhadap Suci, tapi sekarang Arya sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan itu semua Arya lakukan demi menebus kesalahan yang telah ia perbuat terhadap Suci.


Saat ini Arya sudah menjabat sebagai Presiden Direktur, karena kinerja Arya yang bagus, serta sikap nya yang sudah berubah, akhirnya Papa Fadil mempercayakan Arya untuk memegang Perusahaan.


Arya merasa heran, karena tiba-tiba perutnya terasa mulas, dan keringat dingin membasahi tubuhnya.


"Kenapa dengan perutku? aku merasa mulas, tapi aku tidak ingin ke kamar mandi," ujar Arya yang terlihat gelisah, sehingga membuat Arya terus mondar mandir di dalam ruang kerjanya.


"Gak tau Rel, tiba-tiba perut ku mules, tapi mulesnya bukan ingin pergi ke kamar mandi."


"Memangnya tadi kamu makan apa?"


"Justru itu, seingat aku, aku cuma makan nasi goreng sama ayam goreng aja. Kamu tau sendiri kan kalau aku gak bisa makan makanan pedas," jawab Arya dengan mengelap keringat yang sudah membanjiri tubuhnya.


"Aku jadi ingat sama Suami Tante ku, saat dulu istrinya mau melahirkan. Dia bersikap persis seperti kamu, karena tiba-tiba perutnya terasa mulas," ujar Farel dengan terkekeh.


Degg


Jantung Arya rasanya berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Farel , dan Arya langsung teringat dengan Suci.


"Rel, apa mungkin kalau saat ini Suci akan melahirkan Anak ku, makanya aku merasakan mulas juga," ujar Arya.

__ADS_1


"Kamu sepertinya berharap sekali Suci hamil dan melahirkan Anak kamu?" goda Farel.


"Rel, bisa saja kan kejadian malam itu membuat Suci hamil dan melahirkan Anak ku, karena saat itu aku tidak memakai pengaman."


Farel terlihat berpikir, karena perkataan Arya ada benarnya juga.


"Kamu benar juga Ya, yang memakai alat pengaman saja bisa hamil, apalagi kamu yang tidak memakai apa pun. Tapi, semoga saja Suci gak sampai hamil, karena orangtua kamu pasti bakalan murka jika mengetahui kamu sampai menghamili Anak orang, apalagi Tante Erina pasti tidak akan menerima Suci sebagai Menantunya. Secara Tante Erina menginginkan Menantu yang sepadan dengan keluarga Argadana."


"Rel, meski pun nanti Mama bakalan menentang hubunganku dengan Suci, aku akan tetap menikahi Suci, apalagi kalau sampai kami memiliki bayi, karena aku tidak mau menjadi lelaki bejat untuk yang kedua kalinya."


"Aku turut bahagia, karena akhirnya seorang Arya bisa berubah demi seorang perempuan. Aku iri sama kamu Ya, entah kapan aku menemukan seseorang yang bisa membuatku berubah," ujar Farel dengan tertawa.


"Rel, aku tau kalau kamu mencintai Alina kan? dan diam-diam kalian selalu menghabiskan malam bersama?" ujar Arya, dan Farel begitu terkejut karena Arya mengetahui tentang rahasianya selama ini.


"Ya, loe tau dari mana?" tanya Farel dengan gugup.


"Aku pernah beberapa kali melihat kalian jalan bersama dan masuk ke dalam Hotel, kalau kalian tidak menghabiskan malam bersama, kalian mau ngapain masuk ke dalam Hotel?" jawab Arya.


"Ya, kamu janji ya tidak akan mengatakan semua rahasia ku kepada siapa pun juga? karena Alina takut kalau sampai Rian mengetahui perselingkuhan kami," ujar Farel.


"Rel, kapan kamu akan sadar jika kamu dan Alina telah melakukan dosa besar? aku tidak akan membocorkan rahasia mu kepada siapa pun juga, tapi dengan satu syarat," ujar Arya.


"Apa syaratnya?"


"Kamu harus melepaskan Alina untuk hidup bersama Rian, karena aku tidak mau saat nanti ingatan Rian pulih, Rian akan kembali mengejar cinta Suci."


"Tapi Ya, aku tidak bisa melepaskan Alina begitu saja. Meski pun saat ini Alina berstatus Istri dari Rian, tapi aku sangat yakin jika bayi yang berada dalam kandungan Alina adalah Anakku," ujar Farel sehingga membuat Arya merasa terkejut.


"Apa?"


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2