Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 125 ( Saling melengkapi )


__ADS_3

Setelah selesai makan, Suci dan keluarga pamit pulang ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah Pak Maman dan Bu Inah.


Sebelum pulang, Suci juga sudah membicarakan kepada Pak Maman dan Bu Inah tentang rencananya membangun usaha kecil-kecilan, tentu saja Bu Inah dan Pak Maman mendukung rencana Suci, dan mulai besok Pak Maman yang memang berprofesi sebagai tukang bangunan, akan mengajak beberapa tetangganya untuk merenovasi serta membuat toko di depan rumah Suci.


"Alhamdulillah ya Ma, kita memiliki tetangga yang baik seperti Pak Maman dan Bu Inah," ujar Arya ketika Suci dan Arya mengobrol sambil mengajak main ketiga Anaknya, sedangkan Bi Sari sudah mereka suruh untuk beristirahat.


"Iya Pa, Alhamdulillah. Pak Maman dan Bu Inah sudah seperti keluarga Mama sendiri. Kalau begitu sekarang kita tidur, Mama udah ngantuk, Anak-anak juga pasti sudah mengantuk," ujar Suci dengan menggendong Arsyila masuk ke dalam kamar, sedangkan Arya menggendong Rizky dan Iqbal.


Ketika Suci dan Anak-anaknya sudah terlelap, Arya masih belum bisa memejamkan matanya.


"Kasihan Suci, selama ini dia tidur di rumah yang bahkan hanya sebesar kamar di kediaman keluarga Argadana. Aku harus berusaha membahagiakan Anak dan Istriku dan aku akan bekerja keras supaya bisa memberikan rumah dan kehidupan yang layak untuk mereka," gumam Arya kemudian mencoba merebahkan tubuhnya, tapi Arya masih belum juga bisa tidur, karena saat ini tubuhnya merasa gerah, sehingga Arya menggunakan buku untuk mengipasi tubuhnya yang terus mengeluarkan keringat.


Arya baru bisa tidur jam sebelas malam, itu pun setelah membuka bajunya, karena Arya terus merasa kepanasan.


Suci yang terbangun karena ingin pergi ke kamar mandi, merasa kasihan melihat Arya yang saat ini tidur di atas lantai karena ketiga Anaknya tidur tidak beraturan sehingga Arya tidak kebagian tempat untuk tidur, bahkan saat ini Arya tidak menggunakan bantal.


Kasihan Mas Arya karena harus merasakan hidup susah, pasti semua ini tidak mudah untuknya, karena biasanya Mas Arya selalu tidur di kasur yang empuk dan dalam ruangan ber AC. Aku beruntung memiliki Suami seperti Mas Arya, meski pun manusia tidak ada yang sempurna, tapi Mas Arya adalah sosok yang sempurna untukku, dan aku harap, kami bisa selalu saling melengkapi kekurangan kami, ucap Suci dalam hati.


......................


Di tempat lain, Hesti merasa takut untuk ke luar dari dalam kamar mandi, karena Irwan selalu menanyakan kapan tamu bulanan Hesti selesai.


"Aku harus mencari alasan apa lagi kalau Mas Irwan menanyakan tamu bulananku selesai atau belum, padahal sebenarnya sudah dari kemarin aku bersih-bersih," gumam Hesti yang saat ini masih berada di dalam kamar mandi.


Tok tok tok


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Irwan dengan mengetuk pintu kamar mandi, karena Hesti masih belum ke luar juga.


"Iya Mas, tunggu sebentar, aku belum beres mandinya," teriak Hesti dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


Hesti melihat isi paper bag pemberian Mama Maya yang dia bawa masuk ke dalam kamar mandi, dan ternyata di dalamnya berisi beberapa gaun haram.


"Baju apaan ini, kenapa bahannya tipis dan menerawang? Masa aku harus memakai pakaian kurang bahan seperti ini? Mana aku gak bawa baju lain, tidak mungkin kan aku ke luar hanya memakai handuk," gumam Hesti yang merasa bingung.


Hesti akhirnya terpaksa menggunakan salah satu pakaian pemberian Mama Maya, meski pun saat ini Hesti merasa risih dan tidak nyaman menggunakannya.


Ceklek


Hesti membuka pintu kamar mandi, dan Irwan yang tengah memegang handphone sampai menjatuhkan handphonenya ketika melihat pemandangan indah yang saat ini berada di hadapannya.


"Mas Irwan, kenapa melihatnya seperti itu? Tunggu sebentar ya Hesti ganti baju dulu. Rasanya aneh memakai pakaian seperti ini, ini pemberian Mama, Hesti pikir Mama bukan memberikan pakaian kurang bahan seperti ini_"


Perkataan Hesti terputus ketika Irwan membungkamnya dengan ciuman.


"Memakai apa pun Istri Mas tetap cantik. Apa tamu bulanannya udah selesai?" tanya Irwan dengan tatapan penuh arti.


Hesti sadar betul dengan kewajibannya sebagai seorang Istri yang harus melayani Suami nya, tapi Hesti masih saja merasa takut.


"Mas, maaf ya, kemarin Hesti sudah berbohong, padahal sebenarnya dari kemarin tamu bulanannya sudah selesai," ujar Hesti dengan tertunduk malu.


Irwan merasa kecewa terhadap Hesti, karena Irwan berpikir jika Hesti berbohong karena tidak mau melayaninya setelah mengetahui masalalu Irwan yang sudah pernah melakukan hubungan Suami Istri dengan beberapa mantan pacarnya.


Sebelumnya Irwan pernah mengaku kepada Hesti jika dirinya memiliki masalalu yang kelam, bahkan Irwan sering bergonta ganti pacar dan pernah melakukan hubungan Suami Istri dengan beberapa mantannya.


Saat itu Irwan selalu digoda oleh mantan pacarnya yang memang sudah tidak perawan lagi, tapi Irwan selalu memakai pengaman saat melakukan hubungan terlarang tersebut.


"Hesti, aku tau jika dulu aku adalah lelaki brengsek yang sudah banyak melakukan dosa, dan aku sudah mengakui semuanya terhadap kamu. Jika kamu memang merasa jijik terhadapku, aku bisa menerimanya," ujar Irwan kemudian memutuskan untuk tidur.


Kenapa Mas Irwan jadi salah paham sih? Padahal aku sebenarnya takut, bukan

__ADS_1


Merasa jijik kepadanya. Sekarang apa yang harus aku lakukan, batin Hesti.


Hesti memberanikan diri naik ke atas tempat tidur, dan Hesti tiba-tiba memeluk tubuh Irwan yang saat ini tidur membelakanginya.


"Mas, maafin Hesti ya. Hesti tidak pernah mempermasalahkan masalalu Mas, apalagi sampai merasa jijik terhadap Mas Irwan. Setiap orang pernah memiliki masalalu, dan kita semua memiliki kekurangan, tapi Suami dan Istri adalah dua orang yang bisa saling melengkapi kekurangan tersebut."


"Kalau bukan jijik, apa alasannya?" tanya Irwan.


"Hesti takut sakit, karena kata orang-orang malam pertama itu sakit," bisik Hesti pada telinga Irwan.


"Sudahlah, kamu tidak usah mencari alasan untuk menghiburku, kalau jijik ya jijik saja. Sekarang aku mau tidur, aku sudah mengantuk," ujar Irwan yang masih marah, kemudian Irwan mencoba memejamkan kedua matanya.


Hesti memikirkan cara untuk membujuk Irwan supaya tidak marah lagi, sampai akhirnya Hesti membuka seluruh pakaian yang ia kenakan.


"Mas masih marah ya? Apa Mas tidak mau melihat Hesti?" ujar Hesti dengan mencoba membalikan tubuh Irwan, tapi Irwan masih saja memejamkan matanya, sampai akhirnya Hesti berinisiatif mencium bibir Irwan.


Irwan terkejut ketika membuka matanya, karena saat ini Hesti tidak memakai sehelai benang pun.


"A_apa maksud semua ini?" tanya Irwan yang beberapa kali terlihat menelan ludahnya ketika melihat pemandangan indah yang berada di hadapannya.


"Sekarang Hesti sudah siap melaksanakan kewajiban sebagai seorang Istri, tapi Mas pelan-pelan ya," bisik Hesti yang merasa malu karena Irwan terus menatapnya dengan tatapan lapar.


"Mas pasti akan pelan-pelan," ujar Irwan kemudian membaca do'a sebelum memberikan nafkah batin untuk yang pertama kalinya.


Irwan mencium titik titik sensitif pada tubuh Hesti, setelah Hesti mengeluarkan suara indah yang meminta Irwan untuk terus melakukan aksinya, akhirnya Irwan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang Suami, meski pun Irwan merasa khawatir karena Hesti terus saja merintih kesakitan.


"Terimakasih untuk malam yang indah ini," ucap Irwan dengan membawa Hesti ke dalam pelukannya setelah mereka selesai melakukan permainan panas untuk yang pertama kalinya.


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2