
Ayu dan Putri menangis ketika melihat Farel pingsan, karena mereka takut terjadi sesuatu yang buruk kepada Farel.
"Tuan, bangun Tuan," ujar Ayu dengan menggoyangkan tubuh Farel yang masih terbaring di atas pangkuannya.
"Teh, kenapa Daddy tidak bangun juga?" tanya Putri.
"Daddy pasti akan baik-baik saja, kita akan segera membawanya ke Rumah Sakit," ujar Ayu, karena Ayu tidak mau jika Putri terus-terusan merasa khawatir terhadap Farel.
Beberapa saat kemudian, mobil ambulance pun datang, dan Farel bergegas dibawa menuju Rumah Sakit.
Sepanjang perjalanan, Putri terus saja menangis, dan Ayu berusaha menenangkannya, meski pun saat ini Ayu juga sebenarnya tidak sanggup melihat kondisi Farel.
Saya berjanji akan selalu menjaga Putri dengan baik, tapi Tuan harus kuat, Tuan harus sembuh demi kami, ucap Ayu dalam hati dengan menggenggam erat tangan Farel.
......................
Semenjak Farel dan Alina resmi bercerai, kehidupan Alina semakin kacau, bahkan saat ini perusahaannya sudah berada di ujung kebangkrutan, karena ternyata selama ini Richard telah menipunya.
"Kenapa hidupku jadi seperti ini? Sekarang aku sudah kehilangan semuanya, aku juga sudah kehilangan Farel, padahal selama ini dia yang selalu mendukungku," gumam Alina dengan terus menitikkan airmata penyesalan.
Alina memutuskan untuk menemui Farel, karena Alina ingin meminta rujuk.
"Sekarang aku harus pergi ke rumah Farel, aku akan memohon supaya Farel mau rujuk denganku," gumam Alina, kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Farel.
Alina terkejut ketika di depan rumah Farel dipasang garis Polisi.
"Pak, apa yang sudah terjadi? Kenapa di rumah Farel dipasang garis Polisi?" tanya Alina kepada beberapa warga yang berkumpul di depan rumah Farel.
"Pak Farel terluka karena tertusuk pisau oleh seorang perempuan yang mencoba melakukan upaya pembunuhan terhadap Ayu," jawab salah satu Warga.
"Sekarang Farel dimana?" tanya Alina yang terlihat panik.
"Pak Farel pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit Sejahtera."
Alina bergegas menuju Rumah Sakit Sejahtera untuk melihat keadaan Farel.
"Sekarang kesempatan aku untuk mendekati Farel. Farel pasti akan bersedia rujuk denganku jika aku merawatnya selama dia sakit," gumam Alina dengan terus mengembangkan senyuman.
Alina saat ini telah sampai di Rumah Sakit, kemudian Alina menanyakan kamar perawatan Farel kepada bagian administrasi.
__ADS_1
Ketika menemukan nomor kamar perawatan Farel, Alina langsung menerobos masuk, dan di sana ternyata ada Suci, Arya dan Ayu, sedangkan Putri dibawa oleh Mama Erina pulang menuju kediaman Argadana.
"Farel, kamu baik-baik saja kan sayang? Kenapa kamu bisa sampai terluka seperti ini?" tanya Alina dengan memeluk tubuh Farel yang saat ini masih terbaring lemah.
Ayu yang melihat Farel dipeluk oleh Alina memutuskan untuk ke luar dari dalam kamar perawatan Farel, tapi Farel menahannya dengan menggenggam tangan Ayu.
"Aku baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu khawatir bahkan sampai memanggilku sayang, dan tolong lepaskan pelukan kamu, karena sekarang kita bukan muhrim," jawab Farel dengan tersenyum mengejek, karena sebelumnya saat masih menjadi Suami Alina, Alina tidak pernah memanggil Farel dengan sebutan sayang.
"Farel sampai seperti ini pasti karena kamu kan Ayu? Dasar Pembantu tidak tau diri," teriak Alina.
Untung saja luka tusuk pada perut Farel tidak terlalu dalam, jadi Farel hanya perlu dirawat beberapa hari saja untuk memulihkan kondisinya.
"Alina, tutup mulut kamu. Ayu bukan Pembantu, tapi Ayu adalah Istriku," ujar Farel dengan penuh penekanan.
"Tidak, tidak mungkin kalau Pembantu ini sudah menjadi Istri kamu. Farel, kamu hanya bercanda kan? Kita baru bercerai beberapa bulan saja, kenapa kamu dengan gampangnya melupakan cinta kita? Kamu pasti yang sudah menggoda Suamiku kan Ayu?" teriak Alina dengan menghampiri Ayu, tapi Suci bergegas menghalanginya.
"Alina, kamu dan Farel sudah bercerai, jadi sekarang Farel sudah bukan Suami kamu lagi. Bukannya selama ini kamu yang sudah menyia-nyiakan Farel dan Putri?" ujar Suci.
Alina menjatuhkan tubuhnya di atas lantai, karena saat ini dirinya sudah benar-benar hancur.
"Tidak, aku tidak mau kehilangan Farel. Farel, maafkan aku, aku sangat mencintai kamu. Sekarang aku sadar jika selama ini hanya kamu yang benar-benar tulus mencintaiku," ujar Alina dengan menangis.
"Alina, aku minta maaf, karena sekarang semuanya sudah terlambat. Aku sudah mencintai perempuan lain, dan aku akan membuka lembaran baru dengan Anak dan Istriku."
"Alina, Semoga kamu bisa menemukan lelaki yang lebih segala-galanya dibandingkan denganku. Kamu jangan khawatir mengenai Anak-anak, karena aku pasti akan bertanggung jawab untuk menafkahi serta merawat Putri dan Ratu," ujar Farel.
Alina yang sudah tidak kuat menerima semuanya, memutuskan untuk pergi dari Rumah Sakit, apalagi Alina tidak rela ketika melihat Farel yang terus menggenggam tangan Ayu.
"Sayang, sebaiknya sekarang kita pulang juga, kita tidak boleh mengganggu pasangan pengantin baru," ujar Arya kepada Suci sehingga membuat Ayu dan Farel tersipu malu.
"Ayu, Farel, sekali lagi kami ucapkan selamat ya untuk pernikahan dadakan kalian. Semoga kalian selalu bahagia, juga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warohmah," ucap Suci yang di Amini oleh semuanya.
"Teh Suci, Mas Arya, terimakasih banyak ya atas semuanya. Maaf kalau kami sudah merepotkan karena harus menitipkan Putri," ucap Ayu yang merasa tidak enak.
"Kita adalah keluarga, jadi kamu tidak perlu merasa sungkan. Kami pasti akan menjaga Putri dengan baik, jadi sekarang Ayu bisa fokus merawat Farel," ujar Suci.
Arya mendekati Farel, kemudian berbisik di telinganya.
"Ingat Bro, kamu harus cepat sembuh supaya bisa segera belah duren," ujar Arya, dan Farel terlihat salah tingkah mendengar perkataan Arya.
__ADS_1
"Kalau begitu kami pamit dulu ya. Pa, udah jangan godain Farel terus, kasihan wajahnya
sudah merah seperti kepiting rebus," ujar Suci dengan menarik lembut tangan Arya ke luar dari kamar perawatan Farel, setelah sebelumnya Suci dan Arya mengucapkan salam.
Ayu merasa deg degan, karena saat ini Ayu hanya berdua dengan Farel.
"Sayang, kamu duduknya jangan jauh-jauh dong," ujar Farel dengan menarik tangan Ayu supaya duduk di sampingnya.
"Apa Tuan memerlukan sesuatu?" tanya Ayu dengan menundukkan kepalanya, karena Ayu masih merasa malu dengan Farel.
"Sekarang kamu sudah menjadi Istriku, jadi jangan terus memanggilku dengan sebutan Tuan," ujar Farel dengan menarik tangan Ayu hingga Ayu terbaring di sampingnya.
Jantung keduanya kini berdetak kencang, dan Ayu terlihat gugup ketika Farel mengangkat dagunya.
"Bukankah sekarang kita sudah menjadi muhrim? Kenapa kamu tidak mau melihat wajahku?" tanya Farel dengan menatap lekat wajah Ayu.
"M_mas, jangan seperti ini, saya takut kalau luka Mas Farel kembali terbuka," ujar Ayu dengan gugup.
"Ayu, makasih banyak ya, karena kamu sudah bersedia menjadi Istri dan Ibu dari Anak-anakku. Maaf kalau tadi aku sudah memaksamu untuk menikah denganku," ucap Farel yang takut jika Ayu merasa terpaksa.
"Saya tidak terpaksa, karena sebenarnya saya juga mencintai Mas Farel," ucap Ayu dengan lirih.
Farel mendekatkan bibirnya, kemudian mencium bibir Ayu dengan lembut, dan Ayu begitu terkejut, karena itu adalah ciuman pertamanya.
"Kenapa kamu sampai terkejut seperti itu? Apa kamu belum pernah ciuman?" tanya Farel.
"Itu adalah ciuman pertama saya," jawab Ayu dengan tertunduk malu.
Meski pun Ayu berstatus Janda, tapi Suami Ayu yang pertama mengalami kecelakaan setelah mengucap ijab kabul, jadi Ayu sama sekali belum pernah merasakan sentuhan dari seorang laki-laki.
......................
Alina menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat ini Alina terus saja menangis karena tidak percaya dengan takdir hidup yang dia alami. Alina rasanya seperti terjatuh lalu tertimpa tangga pula.
"Sekarang Farel sudah menikah dengan perempuan lain, dan aku sudah kehilangan segalanya," gumam Alina.
Alina yang tidak fokus menyetir sampai menabrak pembatas jalan, kemudian mobil yang Alina tumpangi masuk ke dalam jurang.
*
__ADS_1
*
Bersambung