Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 86 ( Biarkan Suci dekat dengan Arya dan Rizky )


__ADS_3

Saat pulang kerja, Rian begitu terkejut karena melihat keberadaan Arya di rumahnya, bahkan saat ini Arya terlihat sedang mengobrol dengan Suci dan Mama Linda.


Ketika Rian mengucap Salam, ketiganya melihat ke arah Rian, bahkan Suci yang masih menggendong Rizky, bergegas menghampiri Rian untuk menyambut kedatangannya.


"Yah, tumben jam segini udah pulang? Yah, kenalin ini namanya Rizky, namanya seperti nama Anak kita ya. Anak Mas Arya juga lucu sekali kan?" ujar Suci dengan antusias mengenalkan Rizky, kemudian Suci mencium punggung tangan Rian.


Kenapa Arya sampai membawa Anaknya untuk menemui Suci? Apa Arya berniat untuk kembali merebut Suci dariku, batin Rian.


Rian yang merasa kesal dengan keberadaan Arya dan Anaknya, berlalu begitu saja ke dalam kamarnya tanpa menyapa Arya atau pun Mama Linda, sehingga membuat Suci merasa tak enak hati terhadap Arya.


Mas Rian sepertinya marah dengan keberadaan Mas Arya. Sebaiknya aku segera menyusulnya supaya Mas Rian tidak sampai salah faham, ucap Suci dalam hati.


"Mas Arya, Ma, sepertinya Mas Rian capek. Kalau begitu Suci menyusul Mas Rian dulu," ujar Suci yang hendak pergi menyusul Rian ke dalam kamar, tapi Mama Linda mencegahnya.


"Nak, sebaiknya Mama saja yang menyusul Rian, karena ada sesuatu yang harus Mama bicarakan dengan Rian," ujar Mama Linda.


Mama Linda di antar oleh Bi Sari menuju kamar Rian, kemudian Mama Linda mengetuk pintu kamar Rian terlebih dahulu sebelum masuk.


"Rian, kenapa kamu sampai seperti ini Nak?" tanya Mama Linda yang melihat Rian mengacak-acak barang dalam kamarnya.


"Rian tidak beritahu pun, Mama pasti sudah tau jawabannya kan?"


"Jadi kamu takut kalau Arya kembali mengambil Istrinya? Kamu harus tau kalau tadi Mama sudah menyuruh Arya untuk membawa Suci pergi dari sini, tapi Arya tidak mau melakukannya."


"Lalu apa maksud kedatangan Arya ke rumah ini kalau bukan untuk mengambil Suci? Bahkan Arya sampai membawa Anaknya. Pasti Arya memiliki harapan kalau Suci akan mengingat kembali kenangan indah bersama Arya dan Rizky."


"Rian, seharusnya kamu sadar, jika kamu yang sudah merebut Suci dari Arya. Seandainya kamu langsung menghubungi Arya saat Suci mengalami kecelakaan, mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti ini. Jadi, wajar saja jika sekarang Arya ingin dekat dengan Suci, apalagi Anak mereka juga membutuhkan kasih sayang dari Suci. Apa kamu tau, kalau Arya sampai berbohong kepada Suci dan mengatakan kalau Istrinya sudah meninggal dunia. Semua itu Arya lakukan supaya Suci tidak merasa bingung."


"Ma, harusnya Mama mendukung Rian, bukan malah mendukung Arya. Apa Mama tidak ingin melihat Rian bahagia?"

__ADS_1


"Nak, Mama sangat menyayangi Rian, Mama juga ingin melihat Rian bahagia, tapi tidak dengan merebut kebahagiaan oranglain. Sekarang Rian biarkan Arya dan Anaknya dekat dengan Suci, karena sekarang Arya sudah menjadi tetangga kita."


Rian terlihat berpikir, karena tidak mungkin jika Rian mengajak Suci pindah rumah, apalagi mengingat kondisi kesehatan Mama Linda yang sering memburuk.


"Nak, sekarang saatnya kamu dan Arya bersaing dengan sehat, jika memang suatu saat nanti ingatan Suci kembali, dan Suci lebih memilih untuk kembali kepada Arya, Mama harap Rian bisa mengikhlaskan Suci."


"Tapi Rian yakin kalau Suci tidak akan pernah mau kembali kepada Arya, apalagi Arya sudah menorehkan luka yang dalam dengan menghancurkan hidup Suci."


"Kalau begitu tidak ada yang perlu Rian takutkan meskipun sekarang Suci dekat dengan Arya, dan mulai sekarang Mama harap Rian membiarkan Suci berteman dengan Arya, supaya Suci juga bisa dekat dengan Rizky, dan memberikan kasih sayang kepada Anak kandungnya tersebut. Mungkin dengan seperti itu, saat ingatan Suci kembali, Suci tidak akan membenci kamu karena telah memisahkan Rizky darinya," ujar Mama Linda yang berusaha menyadarkan kesalahan Rian.


Rian terlihat berpikir, karena perkataan Mama Linda ada benarnya juga.


"Mama benar, semoga saja dengan begitu Suci akan memaafkan kebohongan Rian," ujar Rian yang sudah merasa lebih baik.


......................


Di tempat lain, saat ini Serli mantan Irwan tersenyum bahagia setelah mengetahui tentang masalalu Hesti yang ternyata pernah menjadi Narapidana.


......................


Saat ini Irwan membawa Hesti ke sebuah salon, karena Irwan mengatakan akan membawa Hesti untuk bertemu dengan keluarganya.


"Irwan, kenapa sih kamu harus repot-repot membawaku ke salon," gerutu Hesti.


"Sayang, sebenarnya hari ini adalah hari ulang tahunku, dan kedua orangtuaku sudah mempersiapkan pesta ulang tahun untukku. Untuk hari ini saja aku minta kamu mengabulkan permintaanku. Anggap saja itu sebagai kado ulang tahun ku," ujar Irwan dengan tatapan memohon.


"Kenapa sih udah tua juga masih saja ngerayain ulang tahun? Kamu itu cuma hambur-hamburin uang saja. Kalau kamu banyak uang, sebaiknya kasih fakir miskin sama Anak yatim, bukan dibuang-buang untuk pesta," cerocos Hesti, tapi Irwan tidak merasa tersinggung sama sekali, karena perkataan Hesti ada benarnya juga.


"Perkataan Calon Istriku memang selalu benar. Tahun depan aku tidak akan membiarkan Mama sama Papa membuatkan acara pesta ulang tahunku lagi, tapi kita akan merayakannya dengan acara amal. Mungkin juga tahun depan aku sudah menjadi Ayah," ujar Irwan dengan menatap lekat wajah Hesti.

__ADS_1


"Sudahlah Irwan, kamu jangan pernah memberikan harapan palsu untukku. Aku sadar diri kalau kita berasal dari Dunia yang berbeda, dan mungkin kedua orangtua kamu tidak akan pernah merestui hubungan kita jika mengetahui kalau aku hanyalah orang miskin, bahkan aku sudah Yatim Piatu. Apalagi jika mereka sampai mengetahui tentang masalaluku yang kelam_"


Ucapan Hesti terhenti ketika Irwan menempelkan telunjuknya pada bibir Hesti.


"Cukup, aku tidak pernah peduli dengan masalalu kamu. Kita itu tidak akan pernah kembali ke masalalu, karena yang ada di hadapan kita adalah masa depan. Hesti, aku ingin kamu menjadi masa depanku, meski pun kamu bukan yang pertama untukku, tapi aku ingin kamu menjadi yang terakhir dalam hidupku," ucap Irwan dengan berlutut dan memegangi tangan Hesti yang saat ini sedang duduk di sofa, sampai akhirnya Hesti tersadar ketika ada Karyawan Salon yang menghampirinya, dan Hesti bergegas melepaskan pegangan tangan Irwan.


"Tuan, sekarang sudah giliran Nona untuk kami rias," ujar Karyawan Salon


Hesti sudah menggelengkan kepalanya, apalagi sebelumnya Hesti belum pernah dirias.


"Irwan, sebaiknya aku tampil apa adanya saja ya, nanti bagaimana kalau wajahku malah terlihat seperti badut?"


"Sayang, kamu itu cantik, kalau kamu dirias, kamu pasti akan lebih cantik lagi. Untuk kali ini saja, aku harap kamu tidak menolak permintaanku," ucap Irwan dengan menelungkupkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda permohonan.


"Baiklah, aku akan menuruti kemauan kamu, tapi hanya untuk kali ini saja," ujar Hesti, kemudian mengikuti Karyawan salon.


Irwan menunggu Hesti dengan mengerjakan laporan yang akan dia kirim kepada Arya, dan satu jam kemudian, Irwan membulatkan matanya ketika melihat sosok Hesti yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Tadi sudah aku bilang, kalau aku pasti akan seperti badut kalau didandani, kalau begitu aku masuk lagi untuk mengganti baju dan menghapus make up nya. Itik buruk rupa memang tidak akan pernah bisa berubah menjadi angsa," ujar Hesti dengan membalikan badannya untuk kembali masuk ke ruang ganti, tapi langkah Hesti tiba-tiba terhenti ketika Irwan memeluk tubuhnya dari belakang.


"Kamu sempurna, dan aku sangat menyukainya. Kamu lihat di cermin, kalau calon Istriku sangat cantik kan?" ujar Irwan dengan menunjuk cermin yang berada di hadapan Hesti.


"Calon Istri kamu memang cantik Irwan, dia pantas bersanding denganmu, tidak seperti aku yang kucel dan dekil," ujar Hesti dengan tertunduk sedih. Hesti masih belum menyadari jika yang saat ini berada di dalam cermin adalah dirinya.


"Hesti, apa kamu tidak sadar jika perempuan yang berada di dalam cermin itu adalah kamu?" ujar Irwan sehingga Hesti membulatkan matanya, karena Hesti merasa pangling melihat wajahnya, bahkan Hesti sampai tidak bisa mengenali dirinya sendiri.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2