
Satu minggu kemudian..
Hari ini Suci sudah diperbolehkan pulang karena kondisi kesehatannya sudah mulai membaik, dan Rian begitu bahagia karena bisa segera membawa Suci dan Rizky untuk pergi meninggalkan Jakarta.
"Alhamdulillah, akhirnya kita sudah bisa pulang," ucap Rian, kemudian bergegas memasukan barang-barang milik Suci dan Rizky ke dalam tas setelah Dokter yang memeriksa Suci ke luar dari kamar perawatan Suci.
"Mas, Suci bantu beres-beres juga ya biar cepat selesai," ujar Suci yang hendak membantu Rian, tapi Rian langsung melarangnya.
"Tidak sayang, Mas tidak akan membiarkan Suci melakukan pekerjaan apa pun, apalagi saat ini kondisi kesehatan Suci masih belum benar-benar pulih. Sebaiknya sekarang Suci duduk manis saja, sebentar lagi juga beres-beresnya selesai," ujar Rian.
Suci tersenyum bahagia melihat Rian yang selalu memperlakukannya dengan baik, bahkan selama dirinya sakit, Rian yang selalu merawat Suci dan Rizky.
"Mas, makasih banyak ya," ucap Suci dengan melingkarkan tangannya pada pinggang Rian.
Rian membalikkan badannya untuk menghadap Suci, kemudian Rian memeluk tubuh Suci dengan erat.
"Mas hanya melakukan kewajiban sebagai seorang Suami, dan seharusnya Mas yang mengucapkan terimakasih, karena Suci sudah memberikan kebahagiaan dalam hidup Mas. Ya sudah, sebaiknya sekarang kita pulang ke rumah baru kita."
"Mas, apa tidak akan kenapa-napa kalau Rizky kita bawa naik pesawat?"
"Tidak apa-apa sayang, Mas juga sudah konsultasi sama Dokter, dan Dokter sudah memeriksa kondisi kesehatan Anak kita. Lagian kita naik jet pribadi milik teman Mas, jadi Suci tidak perlu khawatir."
Suci sebenarnya merasa takut, karena dirinya belum pernah naik pesawat.
"Ada apa lagi heum?" tanya Rian yang melihat Suci melamun.
"Sebenarnya Suci takut naik pesawat, Suci kan belum pernah naik pesawat."
"Kalau Suci takut, Suci tinggal meluk Mas," goda Rian dengan mencubit gemas hidung Suci.
Sebelum pulang, Rian menyimpan tas terlebih dahulu ke dalam mobil, kemudian Rian kembali ke kamar perawatan Suci untuk menjemput Suci dan Rizky, dan Rian terus mengembangkan senyuman, karena saat ini dirinya benar-benar merasa bahagia.
Rian mendorong kereta bayi Rizky ke luar dari kamar perawatan Suci, dengan sebelah tangan menggandeng Suci, tapi tiba-tiba perut Rian terasa sakit ketika mereka sudah hendak masuk ke dalam lift.
__ADS_1
"Sayang, Suci dan Rizky tunggu di sini dulu ya, ingat jangan kemana-mana, Mas mau ke kamar mandi dulu sebentar," ujar Rian dengan membantu Suci untuk duduk di bangku yang berada di lorong Rumah Sakit, kemudian Rian berlari mencari kamar mandi.
......................
Irwan yang baru sadar dari koma, sudah bisa dipindahkan dari ruang ICU.
Saat Perawat mendorong blangkar Irwan ke luar dari ruang ICU menuju kamar perawatan, Irwan melewati lorong tempat Suci duduk, dan Irwan begitu terkejut ketika melihat Suci yang saat ini tengah duduk dengan mengajak bermain seorang bayi.
Bukannya itu Suci? syukurlah ternyata Suci selamat setelah Erwin menabraknya, batin Irwan yang merasa lega karena melihat Suci masih hidup, dan Irwan belum mengetahui berita kematian Suci yang telah dipalsukan oleh Rian, begitu juga dengan kematian Erwin, karena kedua orangtuanya takut jika kondisi kesehatan Irwan akan memburuk, sehingga mereka masih merahasiakan tentang kematian Erwin kepada Irwan.
Irwan sebenarnya ingin menghampiri Suci untuk meminta maaf, tapi Irwan tidak memiliki keberanian untuk melakukan semua itu. Sampai akhirnya Irwan memutuskan untuk meminta maaf kepada Suci dengan meminta bantuan kepada Arya.
Aku ingin sekali mengajak Erwin untuk meminta maaf kepada Suci, tapi aku masih belum memiliki keberanian untuk melakukan semua itu, apalagi aku belum tau kondisi kesehatan Erwin sekarang, karena Mama dan Papa bilang kalau Erwin dibawa ke Singapura untuk melakukan operasi plastik pada luka bakar yang dia alami. Sebaiknya nanti aku meminta bantuan kepada Arya untuk meminta maaf kepada Suci jika Arya sudah mengakui kesalahannya, ucap Irwan dalam hati.
......................
Arya dan Farel yang mendapatkan kabar jika Irwan telah sadar dari koma, memutuskan untuk menjenguk Irwan, apalagi Arya ingin sekali mengetahui tentang tabrak lari yang terjadi kepada Suci, karena Arya yakin jika semua itu ada hubungannya dengan Irwan dan Erwin.
"Ya, kenapa sih sekarang kamu jadi irit bicara?" tanya Farel, karena semenjak Suci meninggal dunia, Arya lebih banyak melamun dan jarang sekali berbicara.
"Tidak aku jawab pun kamu pasti sudah tau jawaban nya Rel," ujar Arya.
Farel menghela nafas panjang, karena pasti tidak akan mudah menjadi Arya, apalagi semenjak Suci meninggal, Arya memutuskan untuk merawat Rizky dengan tangannya sendiri.
Pasti tidak mudah bagi Arya menjadi orangtua tunggal untuk Anaknya. Semoga saja Arya bisa segera bangkit dari keterpurukan dan bisa secepatnya melupakan Suci, batin Farel.
"Ya, kenapa sih kamu tidak menggunakan jasa baby suster untuk merawat Rizky? kamu lihat sendiri di kaca, mata kamu seperti mata panda," sindir Farel, tapi Arya hanya diam tanpa mau menanggapi perkataan Farel.
Arya tidak mempercayai oranglain untuk merawat Anaknya, jadi Arya selalu mengerjakan pekerjaan kantor di rumah sambil menjaga Rizky, tapi apabila ada meeting penting yang harus Arya hadiri, Arya akan menitipkan Rizky kepada Oma Rahma.
Arya dan Farel menaiki lift menuju lantai empat tempat Irwan dirawat, dan saat pintu lift yang dinaiki oleh Arya dan Farel terbuka, bersamaan dengan itu, Suci dan Rian masuk ke dalam lift.
Jantung Arya tiba-tiba berdetak kencang sehingga membuat Arya menghentikan langkahnya. Akan tetapi, saat Arya menoleh ke arah lift yang dinaiki Suci, pintu lift keburu tertutup, dan entah kenapa perasaan Arya tiba-tiba berubah menjadi hampa.
__ADS_1
Kenapa dengan hatiku? aku merasakan kehadiran Suci di sekitar sini, karena jantungku akan selalu berdetak kencang jika bertemu dengannya, batin Arya.
"Ya, kamu baik-baik saja kan?" tanya Farel yang melihat Arya diam mematung.
"Aku baik-baik saja Rel," ujar Arya, kemudian kembali mensejajarkan langkahnya dengan Farel.
Farel mengetuk pintu kamar perawatan Irwan, dan Irwan tersenyum ketika melihat kedua sahabatnya datang menjenguk.
"Mas Bro, bagaimana kabar kamu sekarang?" tanya Farel dengan melakukan tos kepada Irwan yang masih terbaring lemah.
"Kondisiku sudah mulai membaik, tapi aku belum tau kondisi Erwin saat ini. Kasihan dia karena mengalami luka bakar yang parah," ujar Irwan dengan tertunduk sedih.
Arya dan Irwan yang sebelumnya sudah diberitahu oleh kedua orangtua Irwan supaya terlebih dahulu merahasiakan tentang kematian Erwin sampai kondisi Irwan stabil, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Kamu jangan terlalu banyak pikiran, sekarang kamu harus memikirkan kesehatan kamu supaya kamu bisa segera sembuh," ujar Farel.
Irwan merasa heran karena dari tadi Arya terus saja melamun, bahkan wajah Arya sama sekali tidak terlihat ceria seperti biasanya.
"Kenapa dengan Bos kita? sepertinya dia sedang ada masalah?" tanya Irwan.
"Kamu pasti belum tau kalau Suci meninggal dunia bertepatan dengan kecelakaan kamu dan Erwin," jawab Farel.
Degg
Rasanya jantung Irwan berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Farel, karena tadi sangat jelas sekali jika Irwan melihat Suci.
"Tidak mungkin Suci meninggal dunia, karena tadi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
*
*
Bersambung
__ADS_1