Suci Tak Lagi Suci

Suci Tak Lagi Suci
Bab 130 ( Ngidam yang aneh aneh )


__ADS_3

Irwan dan Mama Maya diam mematung karena begitu terkejut mendengar perkataan Hesti.


"Mas Irwan sama Mama baik-baik saja kan? Kenapa kalian diam saja?" tanya Hesti sehingga menyadarkan keduanya.


"Sayang, ka_kamu tidak bercanda kan?" tanya Irwan dengan menangkup kedua pipi Hesti.


Hesti memberikan hasil tes kehamilannya kepada Irwan, dan mata Irwan terlihat berkaca-kaca ketika melihat dua garis merah pada testpack.


"Ma, Irwan akan menjadi Papa," ucap Irwan dengan menitikkan airmata bahagia.


"Selamat ya Nak, Mama sangat bahagia karena sebentar lagi Mama bakalan jadi Nenek," ucap Mama Maya dengan memeluk Irwan dan Hesti.


Mama Maya dan Irwan membantu Hesti untuk kembali berbaring, kemudian Mama Maya menanyakan kepada Hesti apa yang Hesti inginkan.


"Sayang, apa sekarang ada yang Hesti inginkan? Hesti mau makan apa biar Mama masakin? Kalau ada yang Hesti mau, Hesti tinggal bicara aja ya sama Mama," cerocos Mama Maya, dan Hesti tersenyum bahagia melihat perlakuan Irwan dan keluarganya yang terlihat menyayangi Hesti, karena sebelumnya Hesti tidak pernah merasakan kasih sayang sebuah keluarga.


"Terimakasih ya Ma," ucap Hesti dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sayang, Hesti adalah Putri Mama, jadi Hesti tidak perlu mengucapkan terimakasih."


Mama Maya menasehati Irwan supaya Irwan jangan dulu meminta hak nya sebagai Suami selama kehamilan di trimester pertama.


"Irwan, kamu jangan ngajak Putri Mama begadang ya, kehamilan pada trimester pertama masih rentan keguguran, jadi Hesti harus istirahat total," cerocos Mama Maya.


"Jadi Irwan harus puasa dulu Ma?" tanya Irwan yang langsung merasa lemas.


"Iya, kamu harus puasa dulu. Hesti sayang, Mama mau ke Pasar dulu ya beli mangga muda, biasanya perempuan lagi ngidam pengennya yang asem-asem."


"Iya Ma, makasih," ucap Hesti dengan tersenyum, kemudian Mama Maya melangkahkan kakinya ke luar dari dalam kamar Hesti dan Irwan.


Irwan mendekati Hesti, kemudian Irwan duduk di samping Hesti dan mengelus perut Hesti yang masih rata.


"Sayangnya Papa baik-baik di sini ya, jangan nyusahin Mama. Sayang, ternyata tidak sia-sia ya Mas ngajakin kamu begadang setiap malam," ujar Irwan dengan terkekeh, dan Hesti memutar malas bola matanya.


......................


Beberapa bulan pun kini telah berlalu. Usaha grosir Suci semakin hari semakin ramai, karena Suci tidak mengambil keuntungan yang besar, apalagi di Desa tempat tinggal Suci, baru grosir milik Suci yang memiliki berbagai macam barang dagangan lengkap.


"Alhamdulillahya Pa, grosir kita semakin hari semakin ramai," ucap Suci ketika menghitung uang hasil dagangannya hari ini.


"Iya Ma, Alhamdulillah. Siapa dulu dong yang punya ide cemerlang, istri Papa yang cantik ini," ujar Arya dengan memeluk tubuh Suci.


"Meski pun kita tidak mengambil keuntungan yang besar, tapi kalau banyak yang beli, Alhamdulillah keuntungannya lumayan banyak, jadi kita bisa menabung untuk masa depan Anak-anak."

__ADS_1


"Iya sayang, semoga saja kita selalu diberikan rezeki yang berkah. Oh iya, tadi Bu Inah bilang Keponakannya dari Kalimantan mau kerja juga bantu-bantu kita di grosir. Apa benar?" tanya Arya.


"Iya Pa, kasihan juga dengar cerita Bu Inah, katanya Keponakannya sudah Yatim Piatu, apalagi ke depannya kita memiliki rencana mau buka warung makan, jadi kita perlu menambah orang untuk bantu-bantu," jawab Suci.


"Memangnya kapan Keponakannya datang?"


"Katanya besok Pa. Ya sudah, kalau begitu sekarang kita tidur."


"Memangnya Mama gak mau_"


Ucapan Arya terpotong karena Suci langsung membungkamnya dengan ciuman, dan Suci tau betul apa yang dimaksud oleh Suaminya, sampai akhirnya keduanya melakukan olahraga malam dulu sebelum tidur.


......................


Irwan merasa heran karena semenjak hamil, Hesti jadi tidak mau dekat-dekat dengannya, bahkan Irwan harus menutupi kepalanya kalau masuk ke dalam kamar, karena Hesti tidak mau melihat wajahnya.


"Mas, ngapain sih deket-deket. Aku pengen muntah kalau deket-deket Mas terus," ujar Hesti dengan menutup hidungnya, karena Hesti selalu merasa mual apabila Irwan dekat dekat dengannya.


"Sayang, kapan sih kamu kembali normal kayak dulu lagi?"


"Jadi Mas pikir aku gak normal?" ujar Hesti, kemudian menangis.


"Aduh kenapa jadi serba salah begini sih. Sayang, bukan begitu maksud Mas. Kapan Hesti mau deket deket lagi sama Mas, dulu kan Hesti selalu pengen nempel sama Mas," ujar Irwan dengan mendekati tubuh Hesti berniat untuk memeluknya.


"Udah, gak usah deket-deket. Kalau mau deket-deket pake ini dulu," ujar Hesti dengan memberikan kantong kresek hitam.


"Mas kalau mau deket-deket harus pakai itu," jawab Hesti.


"Sayang, apa kamu tidak kasihan, nanti Mas bisa kehabisan nafas."


"Hesti udah melubangi bagian mata, hidung dan mulutnya, jadi Mas tidak akan kehabisan nafas. Sekarang cepetan pake, Mas pasti lucu kalau pake itu."


Irwan terpaksa melakukan keinginan Hesti karena tidak mau anak yang dikandung Hesti nantinya ileran.


"Ternyata ide cemerlang ku berhasil, kalau Mas menutupi wajah Mas pake kantong kresek, Hesti jadi tidak merasa mual lagi kalau deket deket sama Mas," ujar Hesti dengan cekikikan.


Kenapa sih Anak dalam kandungan Hesti seneng banget ngerjain Bapaknya. Bagaimana kalau mereka sudah lahir, masih di dalam perut saja mereka sudah senang sekali mengerjai aku, ucap Irwan dalam hati.


"Mas, malam-malam begini kayaknya enak ya makan martabak, tapi Mas harus ke luar beli martabaknya pake daster."


"Apa? Sayang mau ditaruh dimana muka Mas yang tampan ini. Bagaimana kalau ada orang yang mengenali Mas?"


"Justru itu, kalau Mas pake daster, nanti orang bakalan mengira kalau Mas adalah perempuan, jadi tidak akan ada yang berani menggoda Suami Hesti yang tampan ini."

__ADS_1


"Sayang, Mas pake topeng saja ya? Seumur umur Mas gak pernah pake daster."


"Tapi ini keinginan si Kembar, Anak kita ingin lihat Papanya pake baju daster," ujar Hesti dengan mata yang berkaca-kaca, sehingga Irwan mau tidak mau menuruti kemauan Hesti.


Usia kandungan Hesti sudah memasuki enam bulan, dan setelah melakukan USG, Hesti ternyata hamil Anak kembar yang berjenis kelamin Laki-laki dan perempuan, sontak saja Kedua orangtua Irwan semakin memanjakan Hesti, meski pun Hesti sering ngidam yang aneh-aneh.


"Mas lucu sekali, makasih ya sayang," ucap Hesti ketika melihat Irwan berganti pakaian menggunakan daster.


"Tapi kantong kreseknya dibuka dulu ya," ujar Irwan, dan Hesti menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


Irwan ke luar dari dalam kamar dengan menahan malu, kemudian menghampiri kedua orangtuanya yang sedang nonton TV.


"Ma, punya kerudung gak?" tanya Irwan kepada Mama Maya.


"Astagfirullah, Irwan, kenapa kamu pake daster punya Hesti? Kamu masih normal kan Nak?"


"Mama yang seharusnya nanya gitu sama Menantu kesayangan Mama. Sejak Hesti hamil, dia selalu ngidam yang aneh-aneh. Masa sekarang Irwan harus beli martabak pake baju daster supaya tidak ada perempuan yang menggoda Irwan, ya udah Irwan pake kerudung aja sekalian biar gak ada yang kenal."


Kedua orangtua Irwan tertawa mendengar cerita Irwan.


"Ya sudah, kamu turuti saja keinginan Istri kamu, daripada nanti Anak kalian ileran. Kamu masih mending disuruh pake daster, dulu saat Mama hamil Irwan dan Erwin, Papa disuruh beli martabak pake kostum Putri duyung," ujar Papa Andi dengan terkekeh.


"Sepertinya Hesti ngidam yang aneh-aneh karena nurun dari Mama deh. Nasib nasib, punya Istri hamil kok gini amat ya," gerutu Irwan dengan melangkahkan kakinya ke luar rumah untuk membeli martabak pesanan Hesti setelah sebelumnya memakai kerudung punya Mama Maya.


......................


Keponakan Bu Inah dari Kalimantan sudah sampai di rumah Bu Inah dan Pak Maman, dan Bu Inah menyambut kedatangan Susi dengan gembira, karena terakhir kali Bu Inah bertemu dengan Susi, Susi masih berumur sepuluh tahun.


"Susi, sekarang kamu sudah besar Nak. Kamu juga tumbuh menjadi gadis yang cantik," ujar Bu Inah dengan memeluk tubuh Susi.


"Bibi bisa aja. Kalau Susi cantik, Susi pasti sudah menikah. Semoga saja di sini Susi bisa bertemu dengan jodoh Susi."


"Iya Amin. Yuk masuk Nak, kasihan kamu pasti capek," ujar Bu Inah dengan menggandeng Susi masuk ke dalam rumahnya.


Hari ini grosir tutup karena Suci dan Arya pergi berbelanja ke Kota.


"Pa, Sebaiknya sekarang kita ke rumah Bu Inah dulu buat jemput Anak-anak, nanti sekalian kita minta bantuan sama Pak Maman buat nurunin barang," ujar Suci kepada Arya ketika mereka pulang berbelanja.


Suci dan Arya bergandengan tangan menuju rumah Bu Inah, dan Suci terkejut ketika melihat sosok perempuan yang dia kenal berada di rumah Bu Inah.


"Susi, kenapa kamu bisa ada di sini?"


*

__ADS_1


*


Bersambung


__ADS_2